Bab 2

Romance Series 24

SANGKAR EMAS DAN SANG CAPO

Dunia di balik kaca mobil sedan hitam berlapis kedap suara ini tampak seperti bayangan samar yang kabur. Mentari Kirana meringkuk di sudut jok kulit bagian belakang, memeluk erat kedua lututnya ke dada. Ia berusaha membuat tubuhnya yang berisi tampak semungkin kecil, seolah-olah dengan cara itu ia bisa melenyapkan keberadaannya dari pandangan dua pria berbadan tegap yang duduk membisu di jok depan.

Sensasi dingin dari pendingin udara mobil menusuk hingga ke tulang, tetapi rasa dingin yang melingkupi benak Mentari jauh lebih membekukan. Setiap kali matanya terpejam, bayangan wajah berdarah pria bernama Paolo dan bunyi dentang blunt force berdaging di gudang tadi kembali berputar bagaikan mimpi buruk yang berulang.

Mobil melaju membelah kegelapan malam, meninggalkan kawasan pelabuhan yang kumuh dan bau menuju daerah perbukitan eksklusif di pinggir kota. Setelah perjalanan menegangkan selama hampir empat puluh lima menit, laju kendaraan melambat sewaktu melewati gerbang besi tempa berukuran raksasa yang dijaga ketat oleh pria-pria bersenjata lengkap.

Gerbang itu terbuka secara otomatis, menyambut mereka masuk ke dalam area privat yang sangat luas. Dinding beton setinggi empat meter yang dilapisi kawat bertegangan tinggi melingkupi seluruh batas properti. Di tengah padang rumput yang tertata rapi, berdiri sebuah bangunan megah bergaya arsitektur klasik Eropa—Mansion Moretti.

Mansion itu tampak anggun sekaligus mengintimidasi. pilar-pilar batu granit yang kokoh menjulang tinggi menopang atap, sementara lampu-lampu taman bernuansa emas menyinari dinding batu berwarna gading. Namun bagi Mentari, tempat ini sama sekali tidak terlihat seperti kediaman mewah. Tempat ini memancarkan aura penjara yang dilapisi emas.

Mobil berhenti tepat di bawah kanopi pintu utama yang luas. Pintu mobil di samping Mentari dibuka dari luar oleh salah seorang pengawal.

"Turun," perintah pria itu pendek, suaranya datar tanpa nada.

Mentari menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering, bagaikan ditaburi pasir. Kakinya yang gemetar dipaksa melangkah keluar dari mobil. Begitu menapakkan kaki di atas lantai marmer di luar, lututnya nyaris lemas jika ia tidak berpegangan pada pinggiran pintu mobil.

Di depan pintu kayu jati berukuran ganda yang terbuka lebar, berdiri seorang wanita paruh baya berambut menyanggul rapi. Wanita itu mengenakan gaun pelayan bernuansa hitam-putih yang sangat kaku dan bersih. Wajahnya tegas, tidak menunjukkan emosi sedikit pun saat matanya yang tajam meneliti penampilan Mentari dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Jaket abu-abu Mentari yang kebesaran kini ternoda tanah dan sedikit darah kering di bagian siku, celana jinsnya robek di bagian lutut akibat jatuh di aspal, dan rambut hitam bergelombangnya tampak kusut tak beraturan.

"Saya Maria, kepala rumah tangga mansion ini," ucap wanita itu dengan nada dingin yang terlatih. "Ikut saya."

Mentari tidak memiliki pilihan lain. Ia mengekor di belakang Maria, disusul oleh dua pengawal berjas hitam yang berjalan tidak jauh di belakang mereka.

Langkah kaki mereka bergema di atas lantai marmer berkilat yang begitu bersih hingga Mentari bisa melihat pantulan bayangannya sendiri di sana. Karpet merah membentang di sepanjang tangga utama yang melengkung elegan menuju lantai dua. Lampu kristal gantung yang bernilai ratusan ribu dolar menggantung tinggi di langit-langit, memancarkan cahaya silau yang justru membuat kepala Mentari makin pening.

Di sepanjang koridor lantai dua, terpajang lukisan-lukisan klasik berbingkai emas tebal dan vas-vas keramik antik. Namun, di balik segala kemewahan yang menyilaukan mata tersebut, suasana di dalam mansion ini terasa begitu sunyi dan kaku. Tidak ada kehangatan rumah tangga, tidak ada alunan musik, hanya ada ketegangan yang merayap di setiap sudut ruangan.

Maria berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna mahoni berukir indah di koridor sayap timur. Ia memutar gagang pintu kuningan dan mendorongnya hingga terbuka.

"Ini kamar Anda selama berada di sini," ujar Maria sambil berdiri di samping pintu.

Mentari melangkah ragu melewati ambang pintu. Matanya membelalak seketika. Kamar itu memiliki ukuran yang hampir tiga kali lebih besar dari keseluruhan rumah kontrakan kecil tempat tinggalnya. Sebuah tempat tidur berukuran king-size dengan kanopi kain sutra putih berdiri anggun di tengah ruangan. Di sudut kamar terdapat area duduk berkursi sofa empuk, kulkas kecil, meja rias berukuran besar, dan pintu yang terhubung langsung ke kamar mandi pribadi berlapis batu pualam.

Di ujung ruangan, jendela kaca setinggi langit-langit mengarah langsung ke pemandangan kebun belakang dan benteng pembatas mansion.

"T-tempat apa ini?" bisik Mentari, suaranya sangat serak. Ia berbalik menatap Maria dengan tatapan penuh kebingungan dan keputusasaan. "Kenapa kalian membawa saya ke sini? Tolong ... lepaskan saya. Saya janji tidak akan pernah menceritakan apa yang saya lihat pada siapapun. Demi Tuhan ...."

Maria tidak menunjukkan belas kasihan sedikit pun. Wajahnya tetap kaku seperti patung. "Segala kebutuhan pakaian dan makanan Anda akan disiapkan. Jangan pernah mencoba meninggalkan kamar ini tanpa izin, dan jangan pernah menyentuh jendela atau pintu balkon. Pengawal berjaga di bawah dua puluh empat jam."

"Tapi saya bukan penjahat!" jerit Mentari, air matanya kembali menetes membasahi pipinya yang tembam. "Saya cuma mau pulang! Saya punya pesanan kue yang harus diantar, saya punya kehidupan sendiri!"

"Kehidupan Anda yang lama sudah dianggap selesai sejak Anda menginjakkan kaki di gudang pelabuhan malam ini," potong sebuah suara dingin dari arah koridor.

Mentari membeku. Suara itu.

Langkah kaki yang teratur dan berbobot terdengar makin dekat. Maria segera mengundurkan diri dan membungkuk hormat saat sosok pria tegap melangkah masuk ke dalam kamar.

Vincenzo Moretti telah melepas jas luarnya. Kini ia hanya mengenakan kemeja hitam yang digulung rapi hingga ke pertengahan lengan bawah, menampakkan otot-otot lengannya yang padat dan urat-urat yang bertaut tegas. Dua kancing teratas kemejanya terbuka, memperlihatkan sedikit bagian dada dan pangkal bekas luka di leher kirinya.

Aura dominasi yang dibawa Vincenzo begitu kuat hingga membuat udara di dalam kamar yang luas itu terasa mendadak menyempit.

Vincenzo memberi isyarat kecil dengan dagunya. Maria dan para pengawal segera mundur keluar ruangan, membiarkan pintu mahoni itu tertutup rapat dengan bunyi klik yang mengunci.

Mentari mundur perlahan sampai punggungnya membentur pinggiran tempat tidur yang empuk. Ia menatap Vincenzo dengan matanya yang bulat besar, penuh dengan rasa takut dan kewaspadaan murni. Pria di hadapannya ini adalah seorang pembunuh. Seorang Don mafia yang beberapa jam lalu mengeksekusi seorang pria tanpa mengedipkan mata.

Vincenzo berjalan mendekati Mentari. Langkahnya tenang, seperti seekor pemangsa yang mengamati mangsanya yang terpojok di sudut ruangan. Mata abu-abu dinginnya menelusuri seluruh wajah dan tubuh Mentari—menatap pipi tembamnya yang merona merah karena tangisan, bibirnya yang bergetar, dan postur tubuhnya yang chubby yang kini gemetaran hebat.

"Kau menangis lagi, Mentari Kirana," ujar Vincenzo dengan suara intonasi rendah yang berat. Pria itu berhenti tepat dua langkah di depan Mentari.

"A-apa yang mau Anda lakukan pada saya?" cicit Mentari, suaranya nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri yang berpacu liar. "Kenapa Anda tidak melepaskan saya saja? Kalau Anda takut saya melapor ke polisi, saya ... saya bisa bersumpah ...."

"Polisi tidak ada artinya di duniaku, gadis kecil," potong Vincenzo pendek. Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menatap Mentari dari ketinggian. "Dan janji seorang saksi yang ketakutan tidak bernilai apa-apa bagiku."

"Lalu kenapa Anda membawa saya ke sini?!" jerit Mentari dengan sisa-sisa keberaniannya. Tangannya meremas kain sprei di belakang tubuhnya. "Kalau Anda mau membunuh saya, lakukan sekarang! Jangan siksa saya seperti ini!"

Vincenzo memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah kilatan ketertarikan yang sangat tipis berkelebat di netra abu-abunya. Gadis ini ketakutan setengah mati hingga tubuhnya gemetar, tetapi ada sedikit percikan keberanian tak terduga yang menyembul dari matanya.

"Bicara tentang kematian begitu mudah dari mulutmu," kata Vincenzo tenang. Ia melangkah satu tapak lebih dekat, membuat jarak di antara mereka makin terkikis. "Jika aku ingin membunuhmu, kau tidak akan berada di atas kasur empuk ini dengan pakaian utuh. Tubuhmu sudah mengapung di dasar laut pelabuhan bersama motor matik murahanmu itu."

Mentari tersentak. "Motor saya ...."

"Sudah dihancurkan," jawab Vincenzo tanpa beban. "Sama seperti identitasmu di luar sana. Mulai malam ini, orang-orang di kotamu akan menganggap Mentari Kirana hilang atau tenggelam. Kau tidak lagi memiliki tempat di dunia luar."

Kata-kata itu menghantam dada Mentari bagaikan pukulan benda tumpul. Hilang? Dianggap tenggelam? Panti asuhan tempat ia tumbuh besar, teman-teman pelanggannya, toko kue impian yang sedang ia tabung sedikit demi sedikit ... semuanya lenyap dalam semalam hanya karena ia salah memutar stang motor?

Rasa sesak yang luar biasa membakar tenggorokannya. Air mata kebingungan dan duka mengalir makin deras membasahi pipinya. Mentari menundukkan kepalanya, tidak sanggup lagi menatap mata abu-abu pria yang telah merenggut seluruh kehidupannya.

"Kenapa ...?" bisik Mentari di antara isak tangisnya. "Kenapa harus saya? Saya cuma orang biasa ... Saya tidak punya uang, saya tidak punya kekuasaan ... Tubuh saya bahkan tidak menarik untuk dijadikan sandera ...."

Vincenzo memperhatikan cara Mentari menyebut dirinya sendiri. Pria itu tidak buta. Ia bisa membaca keraguan mendalam dan rasa tidak percaya diri yang terpancar dari gesture tubuh gadis itu. Selama ini, wanita-wanita yang berputar di sekitar dunianya adalah wanita yang sangat terobsesi pada penampilan—model-model bertubuh ramping, putri-putri pengusaha yang memoles diri dengan kosmetik tebal dan pakaian terbuka demi menarik perhatiannya atau mengincar harta Moretti.

Namun gadis di hadapannya ini sama sekali berbeda. Mentari tidak memiliki kepalsuan itu. Bentuk tubuhnya yang berisi dan empuk, pipi tembamnya yang alami, serta aroma vanila yang masih samar-samar tercium dari kulitnya justru memancarkan keaslian yang tidak pernah Vincenzo temui sebelumnya. Bagi mata Vincenzo yang sudah muak dengan segala keteraturan buatan dan kemolekan palsu, wujud Mentari memancarkan ketenangan yang aneh.

Vincenzo mengulurkan tangannya. Dengan gerakan yang sangat perlahan namun tidak bisa ditolak, jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh dagu Mentari, mengangkat wajah gadis itu agar kembali menatapnya.

"Kau berada di sini karena ingatanmu," ucap Vincenzo dengan nada yang tidak lagi sekeras tadi, meski tetap tegas dan dominan. "Mata bulatmu merekam wajah dua pria yang sangat kubutuhkan untuk menghancurkan musuh-musuhku. Sebelum aku mendapatkan sketsa lengkap dari wajah mereka melalui ingatanmu, kau tidak akan pergi ke mana pun."

"Dan ... kalau saya sudah memberikan sketsa itu?" tanya Mentari dengan tatapan penuh harapan yang polos. "Apakah Anda akan melepaskan saya?"

Vincenzo tidak langsung menjawab. Ibu jarinya mengusap setetes air mata yang mengalir di Pipi tembam Mentari. Kulit pipi gadis itu terasa sangat lembut dan hangat di bawah sentuhan jemarinya yang kasar.

Sebuah jawaban jujur berbisik di dalam benak Vincenzo: Tidak. Sekali seorang wanita masuk ke dalam wilayah kekuasaan sang Don dan memancing ketertarikannya, pintu keluar tidak akan pernah terbuka lagi.

"Kita lihat nanti," jawab Vincenzo ambigu. Pria itu menarik tangannya kembali. "Sekarang, bersihkan dirimu dan beristirahatlah. Maria akan membawa makanan untukmu."

Vincenzo berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun sebelum ia menekan gagang pintu mahoni tersebut, ia menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit ke arah Mentari.

"Satu hal lagi, Mentari Kirana," ujar Vincenzo, matanya mengunci pandangan gadis itu sekali lagi. "Di mansion ini, aturanku adalah hukum. Jangan mencoba melarikan diri, jangan mencoba membodohiku, dan yang paling penting ... jangan pernah berpikir bahwa tubuhmu tidak menarik. Aku tidak menyukai kebohongan, dan penampilanmu malam ini adalah hal paling jujur yang kupandang seharian ini."

Setelah mengucapkan kalimat yang membuat jantung Mentari mencelos itu, Vincenzo melangkah keluar kamar dan menutup pintu mahoni rapat-rapat. Suara kunci pintu yang diputar dari luar terdengar begitu menyedihkan di telinga Mentari.

Gadis itu berdiri membeku di samping tempat tidur. Kata-kata terakhir sang Don terus berputar di dalam kepalanya, meninggalkan rasa hangat yang membingungkan sekaligus ketakutan yang makin mendalam.

Di luar sana, suara deru angin malam yang menghantam kaca jendela mansion menambah kesunyian ruangan. Mentari perlahan merosot duduk di atas karpet tebal, memeluk kedua kakinya dan menangis dalam diam. Ia terperangkap di dalam sangkar emas milik seorang iblis paling berbahaya di kota—seorang pria yang tidak hanya mengancam kebebasannya, tetapi juga mulai mengusik dinding pertahanan hatinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience