Bab 3

Romance Series 24

SKETSA DI ATAS KERTAS KANVAS

Cahaya matahari pagi menembus celah-celah tirai sutra tebal di kamar sayap timur, membiaskan garis-garis keemasan di atas lantai marmer. Mentari Kirana terbangun dengan tubuh yang terasa sangat pegal. Ia menghabiskan malamnya dengan tertidur di atas karpet tebal di samping tempat tidur, memeluk lututnya hingga matanya bengkak dan sembap karena tak henti meneteskan air mata.

Rasa dingin lantai merambat ke kulitnya, mempertegas kenyataan pahit yang harus ia hadapi: semalam bukan sekadar mimpi buruk. Ia benar-benar berada di Mansion Moretti, menjadi tawanan seorang Don mafia yang ditakuti seluruh kota.

Gedoran pelan pada pintu kayu mahoni mengejutkan Mentari. Pintu itu terbuka, menampilkan sosok Maria yang berdiri tegak bersama dua pelayan muda yang membawa nampan berisi pakaian bersih dan perlengkapan mandi.

"Selamat pagi, Nona Mentari," sapa Maria dengan nada datar tanpa ekspresi. "Tuan Vincenzo menyuruh Anda untuk bersiap-siap. Pakaian bersih dan sarapan sudah disiapkan. Anda diharapkan hadir di ruang kerja beliau dalam waktu tiga puluh menit."

Mentari bergeming di lantai, memeluk dadanya sendiri. "Kalau saya tidak mau turun?"

"Saya sarankan Anda tidak membuat Tuan menunggu," balas Maria tenang, namun ada ketegasan tersembunyi dalam intonasinya. "Beliau memiliki tingkat kesabaran yang sangat tipis untuk penolakan."

Setelah para pelayan meletakkan pakaian di atas tempat tidur dan keluar ruangan, Mentari terpaksa bangkit. Ia melangkah ragu ke kamar mandi berlapis pualam. Di sana, ia membersihkan sisa-sisa trauma dan noda tanah dari tubuhnya. Ketika mengenakan pakaian yang disiapkan—sebuah gaun rajut bertangan panjang berwarna krem yang lembut—Mentari sedikit tertegun. Pakaian itu pas di tubuhnya yang chubby, sama sekali tidak sempit atau membuat lipatan lemak di perut dan lengannya terasa sesak.

Bagaimana bisa mereka tahu ukuran tubuhku sejeli ini? batinnya heran.

Tepat tiga puluh menit kemudian, Maria mengetuk pintu dan menuntun Mentari menyusuri lorong mansion yang megah namun kaku. Mereka menuju ke lantai dasar, melewati ruang tengah beratap tinggi sebelum berhenti di depan sebuah pintu ganda dari kayu ek tebal bernuansa gelap.

Maria mengetuk pintu dua kali. "Tuan, Nona Mentari sudah tiba."

"Masuk," suara berat dan dalam menggema dari balik pintu.

Maria membuka pintu dan memberikan isyarat agar Mentari melangkah masuk sendirian. Pintu di belakangnya tertutup rapat dengan bunyi klek yang berat.

Ruang kerja Vincenzo Moretti lebih mirip perpustakaan pribadi bangsawan abad pertengahan. Dinding-dindingnya dilapisi rak kayu tinggi berisi ribuan buku ber-cover kulit, sementara aroma kayu cendana dan tembakau mahal memenuhi udara. Di ujung ruangan, di balik meja kayu mahoni yang besar, duduk Vincenzo Moretti.

Pria itu mengenakan kemeja putih kustom dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Dasi hitamnya agak dilonggarkan, memberikan kesan berbahaya namun teramat elegan. Di sebelahnya berdiri Marco, tangan kanannya yang berwajah dingin dengan bekas luka tipis di dagu.

Mata abu-abu Vincenzo terangkat dari berkas di mejanya, mengunci pandangannya langsung pada Mentari. Tatapannya menelusuri gaun krem yang membungkus tubuh berisi Mentari, meneliti pipinya yang masih agak bengkak bekas menangis semalam.

"Duduklah, Mentari," ujar Vincenzo pendek sambil menunjuk sebuah kursi berbusa empuk di depan mejanya.

Mentari melangkah dengan ragu, menyilangkan jemari tangannya yang gemetar sebelum akhirnya duduk di pinggir kursi. Ia menjaga jarak sejauh mungkin, tidak berani menatap langsung mata abu-abu sang Don.

"Bagaimana tidurmu?" tanya Vincenzo datar.

Mentari menggigit bibir bawahnya, keberanian kecil menyembul dari rasa frustrasinya. "Bagaimana bisa seseorang tidur nyenyak setelah diculik dan dituduh menghilang oleh seorang pembunuh?"

Marco di samping meja bergerak menggeser tangannya secara refleks ke arah jasnya, seolah hendak menegur ketidaksopanan Mentari. Namun Vincenzo mengangkat sebelah tangannya, menghentikan tindakan Marco. Sebuah senyum tipis yang tak terlihat menggaris di sudut bibir Vincenzo.

"Lidahmu cukup tajam untuk seseorang yang nyawanya berada di genggamanku," kata Vincenzo dingin, walau matanya menunjukkan ketertarikan. Ia menggeser sebuah blok sketsa tebal dan beberapa pensil lukis berbagai ukuran ke hadapan Mentari. "Tapi kita di sini bukan untuk berbincang kosong."

Mentari menatap pensil dan kertas di depannya dengan bingung. "Apa ini?"

"Kemampuanmu," jawab Vincenzo. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kulit tingginya, menautkan jemari tangannya di atas meja. "Semalam aku melihat catatan penjualan kuemu di tasmu. Kau sendiri yang merancang dan menggambar sketsa hiasan kue-kue rumit itu dengan sangat detail. Artinya, jemarimu terbiasa memindahkan bayangan visual ke atas kertas."

Mentari tertegun. Ia memang hobi menggambar sejak kecil di panti asuhan, dan keahlian itu ia gunakan untuk merancang bentuk fondant serta hiasan kue pesanan pelanggan. Namun ia tidak pernah menyangka detail kecil itu diperhatikan oleh pria di hadapannya.

"Dua pria berjas cokelat dari kartel Bratislava yang ada di sudut gudang semalam," lanjut Vincenzo, suaranya berubah sangat serius. "Aku membutuhkan wajah mereka. Intelijenku gagal mendapatkan dokumentasi visual mereka karena mereka sangat tertutup. Tapi kau ... matamu melihat mereka."

Mentari menggeleng cepat, rasa takut kembali merayapi dadanya. "S-saya cuma melihat mereka sebentar! Keadaan sangat gelap dan saya sangat takut!"

"Pikiran manusia mengingat lebih banyak dari yang disadarinya saat dalam keadaan terancam," potong Vincenzo. Pria itu membungkukkan badannya ke depan, memangkas jarak di antara mereka di atas meja mahoni. Mata abu-abunya menatap lurus ke dalam netra bulat Mentari. "Gambar wajah mereka, Mentari. Setiap detail kecil yang kau ingat. Bentuk rahang, garis mata, tato mawar berduri di tangan mereka, atau gaya rambut mereka."

"Bagaimana kalau saya tidak bisa?" suara Mentari mencicit.

"Maka kau tidak memiliki nilai bagiku," sahut Vincenzo dingin tanpa ragu. "Dan barang yang tidak bernilai di mansion ini tidak akan bertahan lama."

Ancaman terselubung itu membuat tenggorokan Mentari tercekat. Pilihan yang diberikan Vincenzo sangat jelas: berguna atau melayang nyawa.

Dengan tangan gemetar, Mentari meraih salah satu pensil 2B. Telapak tangannya terasa basah oleh keringat dingin. Ia membuka lembar pertama kertas sketsa yang masih putih bersih.

"Fokus," bisik Vincenzo pelan. Pria itu berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja hingga kini berdiri tepat di belakang kursi Mentari.

Presence Vincenzo yang begitu besar dan aroma maskulin campuran kayu cendana yang menyeruak dari tubuhnya membuat Mentari makin tegang. Ia bisa merasakan napas hangat pria itu di dekat pucuk kepalanya.

"Tutup matamu sejenak," perintah Vincenzo, suaranya kini terdengar rendah dan berbisik di dekat telinga Mentari. "Bayangkan sudut gelap gudang itu. Abaikan suara letupan senjata, abaikan ketakutanmu. Lihat dua pria yang berdiri di dekat peti besi."

Mentari memejamkan matanya rapat-rapat. Awannya dipenuhi kepanikan, namun bayangan malam itu perlahan memutar kembali. Di sudut remang-remang, cahaya lampu halogen mengenai separuh wajah pria pertama—pria berdahi lebar dengan tulang pipi menonjol dan bekas jahitan di atas alis kirinya. Pria kedua lebih muda, berambut tipis dipotong pendek, dengan tato mawar berduri yang merayap dari buku-buku jarinya hingga ke pergelangan tangan.

Sensasi visual itu mendadak terbayang sangat jelas di benaknya, bagaikan foto yang baru dicetak.

Mentari membuka matanya secara tiba-tiba. Tangannya mulai bergerak di atas kertas. Awalnya goresan pensilnya ragu-ragu dan samar, namun perlahan-lahan gerakan jarinya makin cepat dan pasti. Garis demi garis terbentuk di atas kanvas putih. Bentuk dahi, lekukan mata yang tajam, hingga proporsi hidung dan bibir.

Vincenzo memperhatikan gerakan tangan Mentari dari atas. Pria itu tidak hanya melihat gambar yang mulai terbentuk, tetapi juga mengamati jemari Mentari yang pendek dan agak berisi, serta konsentrasi penuh yang terpancar dari wajah gadis itu. Pipi tembamnya sedikit menggembung saat ia fokus, dan sesekali Mentari menggigit bibir bawahnya—sebuah kebiasaan kecil yang secara tak sadar terlihat sangat menggemaskan bagi Vincenzo.

Satu jam berlalu dalam kesunyian yang intens di ruang kerja itu. Hanya ada suara gesekan pensil pada kertas dan hembusan napas mereka.

"Selesai ..." gumam Mentari halus. Ia menyapu sisa-sisa remah pensil dari kertas dengan punggung tangannya, lalu menarik napas panjang seolah baru saja menyelesaikan ujian hidup dan mati.

Di atas kertas tebal itu, kini terlukis dua potret wajah pria dengan tingkat kemiripan dan detail yang luar biasa. Bahkan struktur tato mawar berduri di jemari tangan pria kedua tergambar dengan sangat presisi.

Marco melangkah mendekat untuk melihat hasil gambar tersebut. Matanya membelalak kaget. "Demi Tuhan ... ini luar biasa. Ini benar-benar sosok pimpinan eksekutif kartel Bratislava yang selama ini bersembunyi di Eropa Timur."

Vincenzo mengambil kertas sketsa itu, menelitinya dengan cermat selama beberapa saat. Kepuasan dingin terpancar di matanya. Ingatan fotografis Mentari bukan sekadar kebetulan; itu adalah aset bernilai tinggi yang baru saja menyelamatkan ribuan rencana strategis organisasinya.

"Kerja bagus, Mentari," puji Vincenzo pelan, matanya beralih dari kertas sketsa menatap wajah Mentari.

Mentari mendongak, menatap Vincenzo dengan sisa-sisa harapan di matanya. "Saya ... saya sudah memberikan apa yang Anda minta. Gambar itu sangat jelas, bukan? Sekarang ... tolong tepati janji Anda. Biarkan saya pulang."

Ruang kerja itu mendadak kembali hening. Marco menundukkan kepalanya, menyadari betapa polosnya pertanyaan gadis di hadapan mereka.

Vincenzo meletakkan kertas sketsa itu kembali ke meja. Ia menatap Mentari dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara dominasi mutlak dan rasa kepemilikan yang makin memikat.

"Aku bilang kita lihat nanti, Mentari. Aku tidak pernah berjanji akan melepasmu hari ini," kata Vincenzo dengan intonasi datar yang menghancurkan seluruh harapan Mentari.

Airmata kekecewaan kembali mengumpul di sudut mata bulat Mentari. "Tapi Anda bilang gambar ini yang Anda butuhkan! Saya sudah memberikannya!"

"Dan gambar ini mengonfirmasi bahwa kau telah melihat rahasia paling berbahaya dari Aliansi Bratislava," Vincenzo membungkuk, menumpukan kedua tangannya di sandaran tangan kursi Mentari, mengurung gadis chubby itu di antara tubuhnya. "Musuh-musuhku sangat cerdik, Mentari. Jika mereka tahu ada seorang saksi di luar sana yang mampu mengenali wajah pimpinan mereka dengan sekali pandang, kau akan diburu dan dibunuh dalam kurun waktu kurang dari empat puluh delapan jam."

"Saya bisa bersembunyi! Saya bisa pergi ke luar kota!" seru Mentari memohon, suaranya bergetar hebat.

"Kau tidak akan bertahan satu hari pun di luar sana tanpa perlindunganku," bisik Vincenzo tepat di depan wajah Mentari. Napas hangatnya yang beraroma kayu cendana mengusap kulit pipi Mentari yang merona tegang. "Dunia di luar sana terlalu kejam untuk gadis polos beraroma vanila sepertimu."

"Anda yang kejam!" jerit Mentari, kemarahannya akhirnya pecah mengatasi rasa takutnya. Tangannya terangkat memukul dada bidang Vincenzo secara impulsif. "Anda yang menahan saya di sini! Anda penjahatnya!"

Pukulan kecil dari tangan Mentari sama sekali tidak menggoyahkan tubuh kokoh Vincenzo. Pria itu justru mengepal jemari Mentari yang mendarat di dadanya, menggenggamnya dengan hangat dan kuat.

"Panggil aku apa saja yang kau mau, Mentari," kata Vincenzo, mata abu-abunya berkilat penuh ketegasan yang tak tergoyahkan. "Tapi tempat paling aman di seluruh kota ini untuk tetap membuat jantungmu berdetak ... adalah di bawah atapku. Di dalam jarak jangkauanku."

Vincenzo melepaskan genggaman tangannya dan berdiri tegak kembali. Ia menoleh ke arah Marco. "Bawa sketsa ini ke tim intelijen. Lakukan verifikasi dan lacak lokasi persembunyian mereka di sektor utara."

"Baik, Don," jawab Marco seraya mengambil kertas itu dan melangkah keluar dari ruangan dengan cepat.
Mentari bersandar di kursinya, meremas gaun kremnya dengan perasaan hancur. Harapan kebebasannya baru saja dipadamkan tanpa ampun.

Vincenzo berjalan kembali ke balik mejanya. "Kau boleh kembali ke kamarmu, Mentari. Mulai hari ini, kau bebas bergerak di lantai dua dan area taman dalam mansion, tapi tidak di luar batas gerbang utama."

Mentari tidak menjawab. Ia berdiri dengan kaki yang lemas, membelakangi Vincenzo tanpa mengcapkan sepatah kata pun. Namun sebelum ia menyentuh gagang pintu, suara Vincenzo kembali menghentikan langkahnya.
"Mentari."

Gadis itu terhenti, namun tidak menoleh.

"Gambar sketsamu luar biasa," kata Vincenzo pelan. "Tapi kebiasaanmu menggigit bibir saat fokus ... jauh lebih menarik."

Wajah Mentari memerah panas mendengar godaan dingin yang keluar dari mulut sang Don. Tanpa menoleh lagi, ia mendorong pintu kayu ek itu dan berlari keluar menuju koridor, meninggalkan Vincenzo yang menatap kepergiannya dengan senyuman tipis yang tak tertahankan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience