Series
24
PERTUTURAN DI BALIK GERBANG
Suara deru angin malam yang berhembus dingin dari perbukitan menghantam kaca jendela kamar sayap timur dengan irama kaku yang konstan. Mentari duduk meringkuk di atas kursi sofa berbusa empuk, memeluk kedua kakinya yang terbungkus kaos kaki tebal. Di pangkuannya, sebuah buku resep klasik milik perpustakaan mansion tergeletak terbuka, namun tak sepatah kata pun dari cetakan tinta di sana yang berhasil masuk ke dalam benaknya.
Dua hari telah berlalu sejak rentetan aturan ketat dijatuhkan oleh Vincenzo di balik pintu mahoni ruang kerjanya. Dua hari pula Mentari bergerak bagaikan bayangan di mansion megah ini—berpindah dari kamar ke dapur, meremas adonan kue dengan kepasrahan yang makin menggerogoti jiwanya, lalu kembali terkurung di kamar saat malam tiba.
Namun malam ini, rasa sesak di dadanya telah mencapai ambang batas.
Rasa rindu akan kehidupannya yang lama—suara riuh rendah gerobak penjual makanan di depan rumah kontrakannya, tawa anak-anak panti asuhan saat menyambutnya membawa sisa cake sore hari, hingga kebebasan sederhana untuk melangkah ke mana pun ia suka—terasa menekan dadanya bagaikan lempengan batu berbobot ton.
Aku tidak bisa cuma berdiam diri di sini sampai gila, batin Mentari, matanya menatap tajam ke arah pintu kayu mahoni kamarnya.
Mentari bangkit dari sofa. Ia melepas kaos kakinya, menggantinya dengan sepatu kain tipis yang tidak menimbulkan suara hentakan. Ia meraih kardigan cokelat susunya, membungkus tubuh chubby-nya dengan rapi, lalu perlahan mendekati pintu.
Ia memutar gagang pintu dengan sangat hati-hati. Klek. Pintu tidak dikunci dari luar.
NMentari mengintip ke luar lorong. Suasana koridor lantai dua tampak remang-remang. Ini sudah pukul dua dini hari. Dua pengawal yang biasanya berdiri tegap di sudut lorong tampak sedang berbincang pelan di dekat ujung tangga utama, membelakangi arah kamarnya.
Menghirup napas panjang untuk memberanikan diri, Mentari menyelinap keluar. Langkah kakinya sangat ringan, memanfaatkan karpet tebal marun untuk meredam tiap pijakan. Bukannya menuju tangga utama yang dijaga ketat, Mentari memilih melangkah menuju lorong belakang yang terhubung dengan tangga servis—jalur yang biasa digunakan para pelayan untuk membawa perlengkapan kebersihan.
Mentari menuruni tangga melingkar yang sempit itu dengan jantung yang berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh liar. Tangannya yang basah oleh keringat dingin berpegangan erat pada railing besi.
Begitu berhasil mencapai lantai dasar tanpa terdeteksi, Mentari menyusuri area belakang dapur utama. Sebuah pintu kaca tebal yang menghubungkan dapur dengan area taman dalam berada di depannya. Pintu itu terkunci, tetapi kuncinya masih menggantung di selot. Dengan jemari gemetar, Mentari memutar kunci tersebut pelan-pelan.
Klik.
Pintu terbuka. Udara malam yang sangat dingin langsung menyergap kulit wajah dan leher Mentari, membawa aroma tanah basah dan embun pagi. Mentari menyelinap keluar, menyembunyikan tubuh berisinya di balik rimbunnya semak-semak hias yang memagari sepanjang jalan setapak taman.
Tujuannya hanya satu: Gerbang Utama.
Ia tahu betul bahwa gerbang besi tempa raksasa itu dipagari benteng beton setinggi empat meter dan dijaga oleh pria-pria bersenjata. Namun dalam pusaran keputusasaannya, otak logis Mentari tidak lagi berfungsi dengan jernih. Yang ada di pikirannya hanyalah dorongan gila untuk menemukan celah kecil—sebuah pintu darurat, saluran pembuangan, atau apa pun yang bisa mengembalikannya ke dunia nyata.
Mentari bergerak cepat memutar melewati area kebun mawar dan rumah kaca, memanfaatkan bayangan pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi untuk menutupi pergerakannya.
Setelah lima belas menit merayap di antara kegelapan taman, bangunan gerbang utama akhirnya terlihat di depan mata. Cahaya lampu halogen raksasa menyinari area gerbang besi tempa yang berdiri kokoh. Dua pos penjagaan berdiri di masing-masing sisi, lengkap dengan kamera pengawas bertingkat yang berputar secara otomatis.
Mentari bersembunyi di balik batang pohon pinus yang besar, napasnya memburu terengah-engah. Dari jarak sekitar tiga puluh meter, ia bisa melihat celah kecil di bawah gerbang besi yang tampak cukup besar jika ia mencoba merangkak.
Itu dia ... pikir Mentari, matanya berbinar dalam kegelapan malam. Kalau aku bisa mencapai celah itu saat kamera berputar ke arah kiri ...
Mentari menegakkan tubuhnya, bersiap untuk berlari cepat menyeberangi area terbuka menuju pinggiran gerbang. Namun baru saja ia mengayunkan kaki pertamanya keluar dari balik pohon pinus—
SRRRK!
Sebuah pijakan ceroboh membuat sepatu kainnya menginjak tumpukan ranting kering yang tersembunyi di bawah dedaunan. Suara keretakan kayu yang nyaring membelah kesunyian malam di taman.
"Siapa di sana?!"
Suara bentakan keras melengking dari arah pos penjagaan. Dalam hitungan detik, sorotan lampu tembak berdaya tinggi bergerak cepat dari pos utama, menyapu area pepohonan pinus dan langsung mengunci posisi Mentari.
Cahaya menyilaukan itu membuat Mentari membuta seketika. Ia menyilangkan lengan di depan wajahnya, panik luar biasa.
"Jangan bergerak! Angkat tanganmu!"
Suara derap langkah kaki boots berat berhamburan dari berbagai penjuru. Empat pengawal berjas hitam dengan senjata otomatis terkokoh di tangan melompat keluar dari balik semak-semak, mengepung Mentari dari seluruh penjuru.
Mentari mundur ketakutan hingga punggungnya membentur kasar batang pohon pinus yang keras. Tangannya terangkat gemetar di udara. "T-tolong ... jangan tembak! Saya ... saya cuma ...."
"Nona Mentari?!" salah satu pengawal senior yang mengenakan earpiece terbelalak kaget saat mengenali wajah gadis di balik sorotan lampu. Pria itu seketika menurunkannya moncong senjatanya, namun raut wajahnya tampak sangat pucat. "Bagaimana bisa Anda berada di sini?!"
Belum sempat Mentari menjawab atau mengarang alasan, suara deru mesin mobil sedan hitam berkecepatan tinggi terdengar mendekat dari arah jalan masuk mansion. Mobil itu berhenti mendadak di dekat area taman dengan bunyi decit ban yang memekilkan telinga.
Pintu penumpang depan dan belakang terbuka secara bersamaan. Marco melompat keluar lebih dulu, disusul oleh sosok pria yang paling ditakuti di seluruh komplek properti ini.
Vincenzo Moretti melangkah keluar dari mobil.
Pria itu tidak mengenakan jasnya. Ia hanya memakai kemeja hitam yang dibiarkan terbuka di bagian kerah dan celana bahan gelap. Namun aura amarah murni yang terpancar dari tubuhnya begitu pekat dan pekat, hingga membuat udara dingin malam terasa makin membekukan.
Para pengawal yang mengepung Mentari seketika mundur tiga langkah dan menundukkan kepala mereka dalam-dalam. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani bernapas keras.
Mata abu-abu Vincenzo mengunci pandangannya langsung pada Mentari. Cahaya lampu tembak yang memantul di matanya membuat iris matanya tampak bagaikan kilatan es mematikan. Pria itu melangkah mendekati Mentari dengan gerakan lambat namun sangat berbahaya—seperti seekor macan tutul yang sedang mendatangi mangsanya yang terpojok.
"Mentari Kirana," panggil Vincenzo. Suaranya tidak melengking atau berteriak, melainkan berupa bisikan rendah yang sarat dengan ancaman mutlak yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.
Mentari menyandarkan tubuh berisinya ke batang pohon, gemetaran hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Air mata ketakutan yang menumpuk di matanya akhirnya pecah, mengalir deras membasahi pipi tembamnya. "V-Vincenzo ...."
Vincenzo berhenti tepat satu tapak di depan Mentari. Pria itu menatap penampilan Mentari—sepatu kainnya yang kotor berlumur tanah, kardigan cokelat susunya yang tersangkut ranting, dan tubuhnya yang menggigil ketakutan di balik pepohonan.
"Apa yang kaulakukan di dekat gerbang utama pada pukul dua dini hari?" tanya Vincenzo, intonasinya begitu datar dan kaku.
Mentari menundukkan kepalanya dalam-dalam, terisak pelan tanpa sanggup menjawab.
Vincenzo cengkeram rahang Mentari secara mendadak dengan jemarinya yang besar dan hangat, memaksa gadis itu mendongak secara kasar untuk menatap matanya. Cengkeraman itu tidak sampai menyakiti tulang rahangnya, namun begitu mengunci dan tak terbantahkan.
"Jawab aku, Mentari!" geram Vincenzo, kilatan amarah murni akhirnya memercik tajam di matanya. "Kau mencoba melarikan diri?!"
"IYA!" jerit Mentari histeris, rasa frustrasi dan keputusasaannya akhirnya meledak di depan wajah sang Don. "Iya! Aku mencoba kabur! Aku tidak mau terkurung di sini! Aku bukan penjahat, aku bukan bagian dari dunia berdarahmu! Aku cuma mau pulang ke hidupku yang dulu!"
Isak tangis Mentari makin pecah, dadanya naik turun dengan cepat dalam cengkeraman tangan Vincenzo. "Aku benci tempat ini! Aku benci ditatap seperti tawanan! Dan aku benci kamu yang mengaturnya seolah-olah kamu memiliki hidupku!"
Para pengawal dan Marco yang berdiri di sekitar mereka menahan napas. Belum pernah ada satu orang pun di dunia bawah tanah ini yang berani berteriak dan memaki Vincenzo Moretti secara langsung di depan wajahnya—terlebih lagi seorang gadis sipil tanpa senjata.
Mata abu-abu Vincenzo menyempit tajam mendengarkan jeritan hati Mentari. Cengkeramannya pada rahang gadis itu perlahan melonggar, namun tidak sepenuhnya melepaskan. Ibu jarinya mengusap air mata yang terus mengalir melintasi Pipi tembam Mentari.
"Kau pikir kau bisa bertahan lima menit di luar sana jika berhasil melewati gerbang itu, Mentari?" bisik Vincenzo, suaranya kini terdengar sangat dalam dan dingin. "Di luar gerbang ini, ada belasan anak buah Volkov yang sedang menyisir setiap sudut kota untuk menemukan siapa pun yang terkait dengan eksekusi Paolo. Kau melangkah keluar dari tanah Moretti tanpa perlindunganku sama saja dengan menyerahkan lehermu untuk digorok!"
"Lebih baik aku mati daripada harus tinggal di tempat dingin ini selamanya!" tembak Mentari asal, dibutakan oleh rasa emosi.
Kata 'mati' yang meluncur dari mulut Mentari seketika menyulut sesuatu yang liar di dalam diri Vincenzo.
Tanpa peringatan, Vincenzo menyambar pinggang Mentari dengan satu tangannya yang kekar, menarik tubuh berisi gadis itu secara tiba-tiba hingga menempel erat pada dada bidangnya. Mentari pekikan kaget saat tubuhnya terangkat sedikit dari tanah.
"Jangan pernah di depan mukaku panggil kata mati itu lagi, Mentari!" bisik Vincenzo tepat di samping telinga Mentari, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan. "Nyawamu milikku sejak aku memutuskan untuk tidak menembakmu di gudang itu! Kau tidak punya hak untuk membuangnya!"
Vincenzo menoleh ke arah Marco yang berdiri kaku di dekat mobil. "Bawa mobil kembali ke pekarangan depan. Dan kosongkan seluruh lorong lantai dua sekarang juga."
"Baik, Don!" jawab Marco cepat.
Sebelum Mentari sempat memprotes atau melepaskan diri, Vincenzo sudah menyelipkan tangan satunya di balik lipatan lutut Mentari dan mengangkat tubuh gadis chubby itu sepenuhnya ke dalam garapannya dalam posisi bridal style.
"Lepaskan aku! Vincenzo, lepaskan!" teriak Mentari sambil memukul-mukul dada bidang Vincenzo dengan kepalan tangannya yang kecil.
Namun pukulan-pukulan itu sama sekali tidak menggoyahkan langkah tegap sang Don. Vincenzo berjalan menggendong Mentari menyeberangi taman menuju bangunan utama mansion dengan langkah yang begitu cepat dan mantap. Otot-otot lengannya yang kekar menahan bobot tubuh Mentari dengan sangat mudah, mengunci gadis itu tanpa celah untuk meloloskan diri.
Mereka melintasi pintu utama mansion, menyusuri tangga besar yang megah, dan melangkah sepanjang koridor lantai dua yang kini telah sepenuhnya dikosongkan dari para pengawal sesuai perintah Vincenzo.
Vincenzo menendang pintu kayu mahoni kamar sayap timur hingga terbuka lebar, melangkah masuk ke dalam ruangan, lalu menghempaskan tubuh Mentari secara perlahan—namun tegas—ke atas tempat tidur empuk berukuran king-size.
Mentari dengan cepat merangkak mundur hingga punggungnya membentur papan kepala tempat tidur, menatap Vincenzo dengan napas memburu dan mata bulat yang membelalak lebar.
Vincenzo tidak langsung pergi. Pria itu berdiri di tepi tempat tidur, menatap Mentari dari ketinggian. Ia melepas dua kancing kemeja hitamnya yang tersisa, memperlihatkan dadanya yang naik turun oleh emosi.
"Aksi bodohmu malam ini berakhir di sini, Mentari," kata Vincenzo dengan intonasi rendah yang tidak lagi menerima kompromi. "Aku sudah memberimu kebebasan bergerak di taman dan dapur, tapi kau menyalahgunakannya."
"Vincenzo, tolong ..." bisik Mentari, kemarahannya mendadak sirna digantikan oleh rasa takut akan hukuman yang akan diterimanya.
"Mulai detik ini," lanjut Vincenzo, melangkah mendekat hingga lututnya menekan pinggiran kasur. "Aturanmu diperketat. Kau tidak diizinkan meninggalkan kamar ini tanpa pengawalan langsung dariku atau Maria. Dan pintu ini ... akan dikunci dari luar dua puluh empat jam."
Mentari menggelengkan kepala dengan cepat, rasa panik melingkupi dadanya. "Tidak! Tolong jangan kurung aku! Aku bisa gila kalau cuma di dalam kamar ini!"
Vincenzo membungkukkan tubuhnya ke depan, menumpukan kedua tangannya di kiri dan kanan tubuh Mentari, menatap lurus ke dalam mata bulat gadis itu yang kembali tergenang air mata.
"Kau sendiri yang memilih jalur ini, Mentari," bisik Vincenzo, suaranya terdengar begitu dekat dan mendominasi. "Aku mencoba menjadi tempat paling aman untukmu, tapi kau justru berlari menuju bahaya. Jika mengurungmu di dalam kamar ini adalah satu-satunya cara untuk memastikan kau tetap bernapas dan berada di bawah jangkauanku ... maka akan kulakukan tanpa ragu."
Vincenzo mengulurkan tangannya, menyapu helai rambut bergelombang Mentari yang menempel di pipinya akibat air mata. Tangannya berdiam di sana sejenak, merasakan kehangatan dan kelembutan kulit Pipi tembam Mentari yang selalu berhasil mengusik rasionalitas dinginnya.
"Kau milikku, Mentari Kirana," bisik Vincenzo sekali lagi, sebuah janji mutlak yang terpatri kaku. "Dan tidak ada seorang pun—termasuk dirimu sendiri—yang bisa mengambilmu dariku."
Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, berbalik tanpa memandang Mentari lagi, dan melangkah keluar ruangan.
Share this novel