4

Romance Series 6215

"She's too shocked. Her tension is so high." Dokter Harlin, ibu saudara Dirga memberitahu sambil mengemas semua peralatan medisnya.

Dua pasang mata yang berada di ruangan itu terlihat shock mendengar berita itu.

"But she's okay right? Gak ada yang serius kan?" Sophia yang berdiri di hujung ranjang bertanya, menatap khawatir pada anak satu-satunya itu.

Sedangkan Jayden, cowok itu duduk di sisi ranjang Dee. Menatap nanar pada kulit wajah Dee yang terlihat pucat. Sesekali, ia mengusap hujung pelipis tunangannya itu perlahan.

"Yah, nothing serious. Setelah dia bangun, kasih air mineral sama obat pereda demam. She'll feel good after that." Ujar Dokter Harlin, menenangkan Sophia yang terlihat sangat khawatir.

Tidak lupa, dokter itu memberikan emergency leave selama dua hari kepada Dee.

"Kamu tahu kan, Dee punya trauma?" Dokter Harlin bicara lembut dengan Sophia yang langsung diangguki oleh wanita itu.

Sudah tentu dia tahu.

Dee trauma dengan yang namanya ditinggalkan. Kondisinya bisa drop sehingga seperti ini andai rasa trauma itu kembali.

"Kalau bisa, selama dua hari ini, jangan tinggalin Dee sendirian. Stay by her side. Yakini dia, kalau nggak ada yang bakalan ninggalin dia. Spent some time for her." Nasihat Dokter Harlin penuh makna.

Dia tahu kalau temannya, Sophia ini seorang pekerja keras setelah kematian suami dan anak laki-lakinya. Tapi kali ini saja, dia berharap kalau temannya itu lebih memperhatikan keadaan Dee.

Sophia sangat berterima kasih atas nasihat Dokter Harlin padanya. Ia mengiringi dokter itu ke pintu keluar, meninggalkan Jayden sendirian di kamar itu.

Jayden tidak henti-henti menyumpahi Alfa di dalam hatinya. Semua ini gara-gara si brengsek itu.

Trauma Dee kembali kerana ditinggalkan oleh Alfa. Padahal cowok memainkan peranan penting buat Dee.

Mereka bertiga sudah berjanji untuk selalu bersama dan tidak meninggalkan satu sama lain. Namun hari ini, dengan kejamnya, Alfa mengingkari janji mereka.

Atau... sebenarnya ini terjadi kerananya?

Jayden tahu kalau Alfa mencintai Dee lebih dari seorang sahabat. Alfa mencintai Dee, sama seperti Dee mencintainya. Hanya dia saja yang tidak bisa mencintai Dee, juga tidak bisa melepaskan Dee.

Ah, sungguh dia juga jadi bingung sendiri dengan apa yang baru terjadi.

Inilah salah satu alasan kenapa ia begitu menentang perjodohannya dengan Dee. Dirinya tahu, hal seperti ini akan terjadi. Mereka pasti terluka.

"Nak Jayden."

Panggilan lembut Sophia membuat Jayden menoleh. Menatap ke arah wanita seumuran mamanya yang bakal menjadi ibu mertuanya satu hari nanti.

Sophia melangkah masuk. Tersenyum senang melihat tangan Jayden yang menggengam telapak tangan Dee erat.

"Bisa kita bicara sebentar? Mumpung Dee masih tidur?" Tanya Sophia.

Jayden mengangguk. Tautan tangannya dengan Dee dilepaskan perlahan. Punggungnya diangkat perlahan dari kasur agar tidak mengganggu tidur Dee.

Ia mengelus pelipis Dee lembut sebelum mengikuti langkah Sophia yang sedang menuruni anak tangga.

"Sudah lama ya kita nggak ngobrol seperti ini?" Sophia memulakan perbualan setelah sebelumnya menyodorkan segelas jus oren pada Jayden.

Mereka sedang berada di dapur. Keduanya duduk di stool kitchen tinggi sambil berhadapan.

"Iya ma. Maaf, Jay selalu sibuk dan jarang punya masa buat dateng ke sini." Jayden bicara lembut dengan Sophia yang lebih mesra ia panggil Mama Fia itu.

"Nggak papa. Mama ngerti kok. Lagian, mama juga nggak selalu ada di rumah. Perusahaan lagi sibuk. Banyak projek."

Jayden tersenyum biarpun dalam hatinya, ia sedikit aneh dengan pemikiran yang dimiliki calon mertuanya ini.

Naevis.Co bukanlah perusahaan kecil yang baru merangkak naik. Perusahaan itu sudah melebarkan sayap sehingga ke luar negeri. Bahkan bisa setanding dengan NeWOrld.

Bukankah seharusnya, Sophia tidak lagi terlalu terlibat dengan hal perusahaan yang harus memaksanya ke sana dan ke sini?

"Kamu pasti melihat mama sebagai seorang ibu yang jahat kan? Kerana gak punya waktu untuk anak sendiri?" Tebakan asalan Sophia tepat mengenai jantung Jayden.

Ia tersenyum payah. Sedikit merasa bersalah kerana berfikiran buruk pada wanita di depannya ini. Apalagi, Sophia yang hanya tersenyum manis padanya semakin membuatnya serba salah.

"Mama gak salahin kamu kok. I am used to hear that many time before. Dan mama juga gak akan menyangkal, kalau mama memang bukan seorang ibu yang baik buat Dee."

Sophia meneguk air putih di dalam gelasnya perlahan.

"Mama punya alasan tersendiri untuk itu. Alasannya yang bahkan Dee juga gak akan bisa ngerti."

Jayden masih tidak mengerti ke mana arah perbicaraan mereka ini. Cowok itu masih setia mendengar curahan hati seorang wanita bergelar ibu di depannya ini.

"I am very thankful that Dee have you and Alfa. Yah, walaupun Alfa sudah pergi tinggalin Dee. Sangat disayangkan, padahal kalian bertiga dekat banget."

Mengingat tentang Alfa, membuat Jayden kefikiran lagi dengan tindakan mendadak Alfa yang meninggalkan mereka tanpa sebarang pesan begini.

"Melihat Dee yang kayak gitu, mama jadi ingat pas papa Dee dan Megan meninggal." Helaan berat terbit dari bibir Sophia. "Saat itu, mama gak ada di sisi Dee untuk bertindak sebagai seorang ibu buat dia."

Iya, kedua mereka mengingat saat itu.

Ketika Raymond Pramudya meninggal, Sophia harus berkejar ke Amerika kerana untuk menguruskan perusahaan yang terancam bankrupt. Ditambah lagi dengan ulah orang dalam yang hampir membuat Naevis.Co direbut dari keluarga mereka.

Ketika itu, Dee yang masih bersedih dengan kehilangan papanya terpaksa ditinggalkan sendiri. Megan ketika itu sedang kuliah di luar negeri dan sibuk dengan skripsi sehingga tidak membolehkannya pulang tepat waktu.

Beberapa tahun kemudian, setelah tragedi Megan yang bunuh diri kerana depresi, Dee juga sendirian menguruskan pemakaman kakaknya.

Sophia lagi-lagi terpaksa meninggalkan Dee dalam gelombang kesedihannya deni perusahaan yang terumbang-ambing akibat kematian Megan.

Di dua momen itu, yang setia berada di sisi Dee adalah Jayden. Cowok itu yang menemani Dee agar tidak terpengaruh dengan kesedihannya yang bisa saja membuat Dee melakukan hal di luar nalar.

"I am so thankful that you were there for Dee." Sophia kembali memandang Jayden.

Anak laki-laki di depannya inilah yang setia berada di sisi anaknya saat dirinya tidak bisa melakukan itu. Sophia sungguh bersyukur dan berterima kasih.

Setidaknya, Dee tidak sendirian menghadapi masa-masa sulit itu.

Makanya, saat temannya, Jessica Sanchez memajukan idea perjodohan antara Dee dan Jayden, Sophia tidak perlu berfikir dua kali untuk menerima tawaran sahabatnya itu.

Biarpun dia tidak bisa menjadi seorang ibu yang baik, dia tahu, Dee mencintai Jayden. Setidaknya, inilah yang bisa ia lakukan untuk Dee.

"Mama gak tau kedepannya bagaimana tapi..." Sophia menggantungkan ayatnya, menyatukan kedua tangannya dan mencondongkan tubuh ke hadapannya.

"Can you stay by her side? Don't leave her." Ucapnya dengan tatapan penuh harap pada Jayden di depannya.

"......"

"She will really really need you, Jay. Tolong, jangan tinggalin Dee. Ya?"

Jayden tidak tahu bagaimana mahu merespon itu. Iya, dia akui, sejak dulu, dia ingin selalu berada di sisi Dee. Hatinya selalu mengatakan untuk melindungi Dee. Menjadi alasan untuk cewek itu kembali ketawa.

Seperti tadi, entah kenapa mengetahui Alfa yang akan pergi meninggalkan Dee, dia refleks mencuba menghalang Alfa pergi tanpa mengira kalau mereka sedang tidak dekat lagi.

Tapi di satu sisi lain, Jayden juga sudah lelah dengan perjodohan dan pertunangan yang baginya sangat bullshit ini. Kerana baginya, Dee tidak lebih dari seorang sahabat.

Iya, dia hanya menganggap Dee tidak lebih dari seorang sahabat.

Dan di saat permintaan Sophia beberapa saat tadi, Jayden merasakan bahunya seolah dihempap dengan batu besar. Terasa berat dan menyesakkan.

Perasaannya untuk lepas dari Dee...semakin kuat.

????????

Berita kepergian Alfa yang mendadak langsung tersebar luas ke seisi D'Vision. Tidak hanya anak-anak, bahkan para guru dan pekerja di sekolah juga ikut merasa kehilangan dengan keluarnya salah satu simbol kebanggaan warga Vissioner itu.

Tidak terkecuali Theo, Dirga dan Jayden. Ruang di markas mereka yang selalunya dipenuhi dengan wajah Alfa terasa kosong.

Ya, keluasan markas mereka tidak bisa dikatakan sempit juga sih. Ruangannya memang sangat besar dan dilengkapi dengan perabot rumah mula dari sofa, televisyen, almari pendingin dan aircond.

Bahkan wilayahnya sengaja dibahagi menjadi empat agar masing-masing dari mereka, mempunyai ruang sendiri untuk bersantai.

Maklum saja, mereka berempat itu karakternya sungguh berbeda-beda.

Tapi sungguh keabsenan Alfa sangat dirasai.

"Bosen juga ya nggak ada Alfa." Gumam Theo, memandang ke arah ruang milik Theo yang sudah kosong kerana barang-barang cowok itu sudah dikemas oleh Indera.

Dulu, Alfa meletakkan empat monitor screen bersaiz besar yang sering cowok itu gunakan untuk hobi hackingnya. Kadang-kadang, Theo dengan iseng akan selalu menempeli Alfa jika dia ingin bolos.

Lalu Alfa yang sangat risih dengan sikap Theo itu akan mengikuti saja kemahuan Theo. Memberi jalan untuknya supaya bisa bolos tanpa ketahuan mamanya, Alice.

"Dirgaaaaa....Theo kangen sama Alfa!" Tiba-tiba, Theo yang sedang duduk berselonjor di sofanya berdiri dan meluru ke arah Dirga yang hampir terlelap di tempatnya.

"Apaan sih anjing! Jangan gila!" Buru-buru, Dirga bangun dari posisinya yang berbaring dan menolak-nolak Theo yang mula mengambil tempat di sebelahnya.

"Aaaa Dirga jangan jahatin Theo dong!"

"Geli bangsat!" Dirga mengerenyitkan keningnya merasa risih dengan Theo yang tiba-tiba menempelinya dan bersikap manja seperti banci.

Jangan bilang, kerana Alfa udah nggak ada, dia yang akan menjadi mangsa sikap random Theo.

"Alfa kan udah gak ada tuh, jadi gue mau sama lo aja deh!" Nah kan benar ternyata dugaannya. Theo akan menjadikannya sebagai pengganti Alfa.

Sudah tentu ia tidak akan mau melayani anak random seperti Theo yang bisa berubah menjadi orang gila.

Dengan sedaya-upaya, Dirga mendorong-dorong tubuh bongsor Theo untuk melepaskan lengannya. Tapi cowok itu mana peduli kalau randomnya sudah kambuh. Berapa kalipun Dirga menolak, Theo tetap kembali menempel.

Tok! Tok! Tok!

Ketukan pada pintu markas Dirga gunakan untuk melepaskan diri dari Theo. Cepat-cepat ia mendorong Theo hingga terjungkal ke belakang sofa dan berjalan menuju pintu.

Matanya sempat melirik ke arah arlojinya. Sekarang waktu istirahat. Siapa yang kira-kira mengetuk markas mereka.

Mustahil Jayden kerana cowok itu akan terus masuk saja.

Saat dibuka, Dirga sama sekali tidak menyangka untuk melihat Adira di depannya ketika ini. Wajahnya kembali dingin dan dengan tidak santai, dia bertanya kepada cewek itu. "Ngapain ke sini?"

Dira yang ditegur dingin begitu refleks menggaruk keningnya. Pegangannya pada beg kertas dieratkan. "Err...ini, aku mau balikin seragam Jayden."

Takut-takut, ia menyodorkan beg kertas yang di dalamnya ada baju Jayden yang tidak sempat ia kembalikan semasa di kolam renang tempoh hari. Jujur, ia takut dengan Dirga.

Cowok itu sangat dingin dan tidak mudah tersenyum. Bahkan Dira merasakan kalau Dirga seperti akan memarahinya.

"Tolong kasih ke Jayden ya." Ujarnya takut-takut agar Dirga tidak marah. "Terima kasih, aku pamit dulu."

"Stop."

Dira memejamkan matanya erat. Kedua tangannya terkepal erat saat Dirga tiba-tiba menyuruhnya berhenti. Dengan langkah terpaksa, ia menoleh kembali ke arah Dirga.

"Ya?"

"Berhenti di sana." Suruh Dirga sebelum ia keluar dari pintu markasnya untuk mendekati Dira. Pintu markas ditutup agar Theo tidak mendengar perbualan mereka.

"Ada apa ya?" Soal Dira sebaik saja Dirga berdiri di hadapan mereka.

"Gue gak suka bertele-tele dan biar gue berterus-terang saja." Dirga mula berbicara tanpa mengurangkan sedikit pun tatapan intensnya.

Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa ramai orang takut dengan Dirga. Ketika berbicara, cowok itu akan menatap lawan bicaranya dengan tatapan intimidasi seperti ini.

"Rasanya, lo pasti udah tau siapa Jayden dan siapa Dee. Jadi, gue mau, lo berhenti cari cara untuk ketemu sama Jayden lagi. Never show up in front of him again." Teguran Dirga yang terdengar agak kasar itu membuat Dira sedikit marah.

"Sebentar. Jadi lo mau bilang kalau gue sengaja mau godain Jayden gitu?"

"Gue gak ngomong apa-apa, but I guess you get the point." Balas Dirga lagi.

"Hey, lo ini sudah salah faham ya. Gue gak berniat sama sekali buat mengganggu hubungan Jayden sama Dee." Bela Dira merasa panas dengan tuduhan Dirga.

"Baguslah kalau lo masih bisa berfikir waras. Dan gue tau lo bijak untuk gak melakukan hal yang pada akhirnya akan merugikan diri lo sendiri. Don't try to play with Jayden or Dee. Mereka bisa menghancurkan hidup lo dengan hujung jari. Semudah itu." Sambung Dirga lagi.

Sebenarnya, dia juga tidak pasti kenapa dia berbicara seperti ini. Tapi, firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang terjadi. Dan dia merasakan hal ini semenjak kejadian Dira menentang Jayden di kantin.

Juga jangan lupakan, kejadian misteri yang berlaku di kolam renang yang kebenarannya hanya diketahui oleh Jayden, Dira dan Alfa.

"Kata-kata gue ini mungkin terdengar kasar tapi Dira, lo berada di dunia yang jauh berbeda dengan kehidupan di sekolah lama lo. This is a whole new world yang bukan lo lagi pameran utamanya. So, gue berharap, lo nggak bawa-bawa sikap lama lo ke sini. Ini benar-benar tips yang bisa membantu lo ke depannya."

Dira sudah tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun untuk membalas perkataan Dirga. Mulutnya yang selalu tidak pernah kehabisan idea untuk melawan kembali sesiapa saja yang berani menuduhnya terkunci rapat.

Begitu sekali penangan seorang Dirga Mahenzra.

Dira menggelengkan kepalanya kuat. Ia mendongak ingin membalas perkataan Dirga namun belum sempat berbicara langsung, tangannya sudah ditarik oleh seseorang.

"J-jayden?"

Dengan pantas, Jayden yang baru saja sampai di depan pintu markas itu menarik pergelangan tangan Dira dan cepat-cepat membawa gadis itu pergi dari sana.

????????

Nafas Jayden memburu dengan langkah yang tergesa-gesa mengheret Dira untuk ikut dengannya. Tujuannya adalah gudang buruk yang terletak di belakang bangunan kelas 10.

Entah kenapa dia membawa Dira ke sini dia pun tidak tahu. Tindakannya refleks begitu saja saat melihat Dira yang sedang berbicara dengan Dirga di depan markas.

Brukk!!

Pintu gudang yang ditutup kuat membuat bahu Dira terhenjut sedikit. Dadanya berdebar-debar. Kenapa Jayden membawanya ke sini?

"Lo ngapain datang ke markas?"

Belum juga debaran di dadanya menghilang, Dira kembali menahan nafas saat Jayden tiba-tiba memojokkannya rak.

"J-jay...Jayden." Kedudukan keduanya terlalu dekat hingga Dira bisa merasakan nafas Jayden yang menampar lembut di telinga kanannya.

"Gue tanya, lo ngapain ke markas gue?"

"G-gue...mau balikin seragam lo. Kan...kan kemarin, gak sempat. Soalnya..." Rasanya Dira bisa gila sekarang juga kerana posisi mereka yang sebegini.

Matanya melirik ke arah pintu, takut seandainya ada yang melihat mereka dalam posisi seperti ini. Serta merta ia teringat pesanan Dirga.

Ah, bakal gawat kalau ada yang memergoki mereka di gudang begini.

"Terus seragamnya mana?"

"A-ada di Dirga. Gue titipin ke dia." Jawabnya kali ini sedikit lebih berani. Huh, dia tidak boleh gugup di hadapan Jayden. Dia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Jayden dan kembali menjalani hidup normal.

Jayden kedengaran berdecak mendengar alasan yang diberikan Dira. "Tapi perjanjian kita gak kayak gitu, Dira."

"Perjanjian? Perjanjian apa?"

"Di kolam kemarin. Lo nggak ingat?" Jayden menyeringai tipis melihat Dira yang seperti berpura-pura tidak ingat dengan kejadian di kolam renang itu.

"Or should I make you remember it?" Goda Jayden membuat Dira semakin membeku.

"Okay, fine. Remember, you fall. I save you. Dan sebagai gantinya, lo janji untuk..." Sengaja cowok itu menggantungkan kalimatnya memberi peluang kepada Dira untuk mengingatnya.

Cewek itu berkerut bingung. Sudah tentu dia ingat dengan kejadian di kolam kemarin. Tapi, seingatnya lagi, dia tidak pernah menjanjikan apa-apa.

"Oh, okay, kayaknya ada yang gue skip kan."

Jayden menipiskan bibirnya sesaat sebelum kembali menatap Dira yang berada di kungkungannya. "Gue bakal ikutin permintaan lo kalau lo selamatin gue. And right after that, we k-"

"Okay! Okay gue ingat!"

Dira berteriak kesal dan langsung membekap mulut Jayden agar cowok sinting itu tidak meneruskan kata-katanya.

Jayden terkekeh pelan kemudian melepaskan bekapan di mulutnya. Matanya kembali menatap ke arah Dira yang wajahnya sudah memerah seperti udang rebus.

Di kolam hari itu juga, riak wajah Dira seperti ini. Terlihat menggemaskan.

Entah kenapa, Jayden jadi ingin mengusili Dira lagi dan lagi agar bisa melihat reaksi seperti itu lagi.

"Okay, so our agreement start today. Hari ini, setelah pulang sekolah, tunggu gue di sini. Ada tugas buat lo." Putus Jayden kemudian menjauhkan diri daripada Dira.

Memberi ruang kepada cewek itu untuk membenahkan rok seragamnya yang sedikit kotor kerana dipojokkan ke rak yang lumayan berdebu itu.

Tanpa menunggu jawapan Dira, Jayden terlebih dahulu keluar dari gudang tersebut. Dia harus mengangkat ponselnya yang sedari tadi bergetar di dalam celana sekolahnya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience