2

Romance Series 6215

"Lo gila ya, Dir? Lo mau balikin baju Jayden? Gak mikir lo?" Renna memekik kesal dengan jalan pemikiran Dira yang baginya sangat diluar nalar seorang manusia biasa.

Oh, tidak sampai segitunya sekali sih.

Tapi tetap saja, Renna bisa mengkonfirmasi kalau Dira memang kurang waras.

"Ini gue emang udah habis mikir tauk, Ren. Kepala gue tuh hampir pecah aja mikirin ini doang." Hela Dira lelah. "Ngapain coba, gue malah pusing mikirin nih baju cowok sinting. Gak berfaedah banget ini."

Yang benar saja. Sepanjang 17 tahun hidup seorang Adira Mikayla, baru pertama kali dia mikirin hal yang sangat sepele di luar daripada urusan warung, pengobatan bapak dan kelangsungan hidup adik-adiknya.

Lagian, jika difikirkan dengan akal fikiran seorang manusia biasa, kan baju cowok itu hanya kotor terkena noda spagetti doang. Masa perlu sampai diganti sama pakaian baru sih?

Padahal kan bisa aja tuh pakaian dicuci dan dipake lagi.

"Terus, ini lo benar-benar beli kemeja baru gitu? Uang dari mana? Harga pakaian merek Prada ini gak murah loh. Gimana lo sama adik-adik lo bisa makan kalau uangnya udah dipake beli ini?"

Dira tersenyum mendengar soalan Renna. Ayolah, dia juga tidak terlalu gila untuk berhabis uang semata-mata untuk hal-hal tidak berguna seperti ini.

"Itu lo tenang aja. Gue gak beli baju baru kok."

"Terus?"

"Ini tuh kemejanya yang kemarin dia lempar ke muka gue. Gue cuci, terus gue kasih softlan ya udah. Balikin lagi ke orangnya."

Sudah dikatakan bukan, kalau tidak suka berhabis uang untuk orang lain. Think smart not think hard.

"Ini beg kertas gue dapet dari tetangga gue yang pramugari itu. Dia baru pulang dari London, terus gue minta deh beg nya. Biar si cowok sinting percaya kalau gue beliin yang baru."

Renna ber-oh ria mendengar idea brilliant Dira. Ternyata fikirannya boleh juga. Pantas aja dia ditawarin biasiswa.

Tapi seketika kemudian, wajah Renna berubah sayu. "Jujur ya, gue tuh merasa bersalah banget sama lo Dir."

"Loh? Kenapa?"

"Ya gara-gara gue yang cuai, lo malah harus berurusan sama Jayden. Kan harusnya yang tanggungjawab tuh gue ya kan?"

Dira berdecak kuat. "Gak papalah Ren. Ini gak seberapa kok. Masih bisa gue ngurusinnya."

"Tetap aja." Kesal Renna. "Hmm, gimana kalau gue aja yang kembaliin bajunya ke Jayden. Sebagai tanda maaf gue ke elo kerana udah libatin lo dalam masalah ini. Ya?"

Dira langsung bersikukuh menggeleng dengan kedua tangannya yang digerakkan di hadapan Renna. "Gak papa, Ren. Gue bisa kok."

"Benar nih? Tapi gue tetap rasa bersalah sama lo."

Dira berfikir sejenak, kemudian ia mendapat idea bagaimana untuk membantu Renna menghilangkan rasa bersalahnya.

"Gini aja deh. Entar pas pulang sekolah, lo harus traktir gue makan di toko ttebokki di depan gerbang. Gimana? Bisa kan?" Soalnya antusias sembari menanti jawaban Renna.

Yang ditanyai malah bengong dan menatap Dira lama. "Sebenarnya..."

"Bisa kan, Ren?"

"Ermm, ya udah deh terserah lo. Entar kita jalan ya?"

Mendengar itu, Dira tidak bisa menyembunyikan senyumannya. "OKAY!!" Sahutnya gembira sebelum mencapai kembali beg kertas Prada di tangannya.

"Kalau gitu, gue urusin ini dulu ya Ren? Gedeg juga gue kalau harus lama-lama megang pakaian si cowok sinting. Bisa-bisa gue ketularan sinting juga." Candanya seraya berdiri.

Meninggalkan Renna di bangku kelas mereka, kakinya mula melangkah menuju ke arah markas The Heroes yang ada di tingkat empat bangunan kelas 11.

Bagaimana dia tahu, ya tentu saja dari Renna. Temannya itu sudah memberitahu segala detail mengenai kegiatan mahupun habitat dari pemegang takhta tertinggi di D'Vision ini kemarin.

Seperti kata Renna, ini penting supaya dia gak salah bertindak lagi kayak kemarin.

Jujurnya, Dira sudah mula suka bersekolah di sekolah berprestij seperti D'Vision ini.

Bukan hanya kerana pangkatnya, tapi juga kerana fasilitas yang ada di sekolah ini benar-benar di another level yang tidak pernah dia bayangkan. Dan satu lagi mungkin kerana ia mendapat teman seperti Renna.

Gadis bernama penuh Renna Amelda itu merupakan anak seorang jaksa. Yang mana bisa dibilang kalau keluarganya Renna itu juga ada di level-level orang kaya. Bahkan Renna saja setiap hari dihantar oleh supir keluarga.

Tapi walaupun begitu, Renna tidak sombong. Gadis itu tetap mahu berteman dengannya, yang notabene-nya hanya orang biasa-biasa saja.

Jika diumpamakan di sekolah ini, Jayden cs seperti level raja-raja, sementara Renna bisa dianggap seperti pegawai tinggi di istana. Lalu dirinya, tidak lebih dari pangkat rakyat jelata atau yang lebih buruk lagi, mungkin tahap babu-babu di istana.

Dira yakin dia akan betah bersekolah di sini biarpun ada golongan diktator seperti si cowok sinting di sekolah ini.

Harap-harap saja, ia tidak akan terlibat masalah dengan Jayden lagi setelah ini. Jujur, dia kapok.

????????

"Akhirnya kita sampai juga di segmen yang sangat dinanti-nantikan oleh seluruh warga Vissioner yang tercinta iaitu, Piano by Me. Baiklah, di segmen ini, kita akan bersama dengan, our favourite pianist, SecretRosie yang akan memainkan piano nya."

"Dan, seperti biasa, kerana SecretRosie kita ini orangnya sangat-sangat mysterious, kita gak akan ada wawancara. Lets invite her to play her piano."

"Katanya, lagu ini ditujukan khas untuk mereka-mereka yang gak bisa melupakan cinta pertama mereka walaupun berdepan dengan macam-macam halangan. Gak kira, halangannya kerana cinta terhalang genre, or one-sided love or anything that, mari dengarkan, Romeo and Juliet, by SecretRosie."

Sebaik saja Kay, si juruhebah siaran radio D'Vision menghabiskan ayatnya, alunan piano lembut langsung berkumandang, membuai pendengaran seisi warga sekolah.

Alunan piano lembut itu tidak pernah gagal membuat mereka tersentuh. Sangat tenang, membuai dan terasa mendayu. Mesej dari lagu itu juga tersampaikan dengan tulus sekali.

Bahkan dari mendengar saja, kita bisa tahu kalau pemainnya menekan not-not muzik itu dengan penuh penghayatan.

Sementara itu, ruangan besar berwarna putih, Dee sedang menghayati permainannya. Jari jemari lentiknya menekan satu demi satu not pada piano, menghantarkan melodi-melodi indah kepada warga sekolah.

Ya, SecretRosie yang disebut oleh Kay tadi adalah Dee.

Setiap hari, Dee tidak pernah melewatkan peluang untuk datang ke bilik siaran hanya untuk bermain satu lagu.

Berbeza dengan melukis, ia hanya akan melakukan jika dia sedang banyak fikiran yang tidak bisa ia ungkapkan kepada sesiapa pun. Melukis menjadi salah satu media untuk melepaskan tekanan bagi Dee.

Jika bermain piano, sepertinya itu sudah menjadi kebiasaannya.

Sejak kecil, Dee suka bermain piano. Minatnya terhadap alat muzik moden ini muncul kerana dua orang yang paling bererti dalam hidupnya.

Tapi setelah mereka pergi, Dee hilang minat kepada piano. Dia trauma. Dua alasan terbesarnya bermain piano sudah pergi untuk selamanya.

Sehinggalah seseorang berjaya membuatnya kembali berminat bermain piano. Seseorang yang sedang ia dedikasikan lagu ini untuknya biarpun seseorang itu tidak akan pernah tahu.

Dee terlalu larut dalam permainannya hingga tanpa sedar, lagu yang dimainkan sudah sampai ke penamatnya.

"Itu dia, sekian permainan yang tidak pernah mengecewakan dari our favourite pianist, SecretRosie. I am almost crying just now. Persembahan yang sangat mengharukanSemoga anda semua terhibur dengan persembahan itu tadi."

"Sejujurnya, saya selaku peminat nombor satu SecretRosie sangat berharap bisa mendengar suaranya suatu hari nanti. Yah, even its almost impossible but nvm. Maybe someday, miracle happen and we can hear SecretRosie's voice?"

Maka dengan itu, berakhirlah sudah siaran kita pada hari ini. Semoga bertemu kembali besok bersama saya, Kay. Bye guys, belajar yang benar."

Dee sudah bangun dari tempatnya dan berjalan menuju ke arah Kay. Satu beg kertas yang berisi perfume mahal keluaran terbaru dari Dior dihulurkan kepada Kay.

"Wah! Apa nih?" Kay berseru senang menerima sodoran hadiah dari Dee.

Tanpa menunggu lama, Kay membuka beg kertas itu dan menemukan satu box yang di dalamnya berisi lima botol perfume berjenama Dior. Garis bawahi, bukan satu tapi lima botol.

"Ya ampun, Dee. Lo tau kan lo gak harus susah-susah kayak gini sama gue. Ya Tuhan padahal ini tuh perfume incaran gue loh Dee." Katanya masih dengan keterujaan yang tidak memudar sama sekali.

"Gak usah kayak gitu. Elo sendiri yang minta ke gue." Jawab Dee dengan wajah seriusnya.

Kay terkekeh pelan dengan tampang tanpa dosa. Wajah datar Dee ditatap dengan riak wajah yang bercahaya. "Iya tau, tapi gak sampai lima botol juga kali."

"Oh iya btw, dress Dior yang lo kasih ke gue bulan lalu, sumpah cantik banget Dee. Thanks banget ya." Ucapnya lagi saat mengingat dress labuh yang Dee hadiahkan kepadanya bulan lalu.

Setiap bulan, Kay memang sering menerima hadiah dari Dee. Semua itu dilakukan Dee kepada Kay kerana sudah sudi membantu merahsiakan identitinya sebagai SecretRosie.

Sebenarnya, Kay tidak pernah meminta tapi Dee sendiri yang sukarela ingin memberikan. Sebagai tanda terima kasih mungkin.

Mulanya, Dee sering menghadiahkan sepatu dan tas untuk Kay. Tapi mulai bulan lalu, Kay mulai meminta apa yang diinginkannya kepada Dee.

Manakan tidak, hadiah tas dan sepatu yang sering Kay dapatkan kerap mengundang kecurigaan mamanya Kay. Wanita itu mengira kalau anaknya menjadi sugar baby kepada lelaki-lelaki tua.

Walaupun Kay tidak menafikan sih. Tapi yang bedanya sekarang, dia mendapatkan semua barang-barang itu dari Sugar Mommy kaya seperti Dee.

Haha. Fikiran konyol Kay itu kadang-kadang membuat Dee geli sendiri.

"Untuk next month, gak usah dulu ya Dee hadiahnya. Soalnya gue gak kepengen apa-apa." Beritahu Kay dengan senyuman manisnya. "Lagian, kerana lo juga siaran radio gue disukai sama orang. It's really make me happy, Dee. Thanks ya."

"Hmm." Dee hanya menggumam sebelum melangkah ke pintu keluar rahsia miliknya.

Saking berahsianya Dee dengan identitasnya sebagai SecretRosie, dia bahkan meminta orang untuk membina pintu rahsia untuknya. Pintu berwarna senada dengan dinding ruang siaran itu menghubungkan Dee dengan kawasan rooftop.

Setelah bermain, Dee akan naik ke rooftop dan terus ke kelas dari sana. Dengan begitu, tidak ada yang akan curiga dengannya.

Dan mengenai rooftop, kawasan itu tidak bisa sembarangan diakses oleh orang lain kecuali The Heroez. Dee yang mahu begitu.

Sebaik saja melangkahkan kaki ke kawasan rooftop, hal pertama yang Dee lihat adalah sosok Dirga yang sedang bertopang tubuh di pembatas.

Refleks, sepasang kaki yang disarungi sneaker hitam itu mendekat ke arah Dirga.

"Lo ngapain di sini, Ga?" Sapanya membuta Dirga yang sedang termenung menoleh sekilas.

Cowok itu sama sekali tidak membalas. Dee yang menerima respons seperti itu, langsung tidak mengambil hati. Baginya itu adalah reaksi biasa yang bisa ia dapatkan dari seorang Dirga Mahenzra.

Beda lagi kalau itu seorang Theovan Aditya.

"Gue suka di sini." Dirga bersuara tanpa memandang ke arah Dee yang ikuti menopangkan tangan pada pembatas sama sepertinya. "Gue bebas ngeliat orang lain, dari atas sini."

Dee mengalihkan pandangannya kepada gelanggang yang tepat berada di bawahnya. Ramai sekali anak laki-laki yang sedang bermain basket.

"Kayak hiburan tersendiri buat gue. They look so free. Kayak, nggak ada beban fikiran. Gue suka liatnya."

"Ck! Hobi lo aneh." Decih Dee.

Matanya menatap ke langit biru. Di mana sekumpulan burung sedang terbang bersama.

Kadang-kadang, dia selalu berfikir, bila dia bisa terbang bebas seperti burung. Meninggalkan segala beban fikirannya dan menikmati hidup.

"Almyra..." Panggil Dirga. Dia mengubah posisinya dan kini menatap Dee yang sedang terpejam. "Lo percaya sama yang namanya, cinta pandang pertama?"

Dee yang menerima soalan seperti itu menatap Dirga nyalang. "Maksudnya? Nanya kayak gitu kenapa?"

"Gak." Dirga menghela nafas beratnya. "Gue cuman panasaran aja. Apa pandangan seorang cewek kayak lo tentang love at the first sight."

Dee terdiam. Entahlah. Dia sendiri tidak mengerti bagaimana mahu mendeskripsikan pandangannya terhadap cinta.

"Kalau lo sendiri? Bagi lo bagaimana?" Soalnya memulangkan kembali pertanyaan kepada Dirga. Huh, emangnya cowok itu saja yang bisa bertanya tentang cinta padanya?

Dia juga bisalah pasti.

"I don't know yet."

Dirga kembali ke posisi asalnya. Di tangannya kini ada sebatang bunga ros merah yang kelopaknya sudah hampir layu. Entah dari mana saja cowok itu mendapatkan bunga.

"Gue, masih mencuba memahami perasaan gue sekarang. Samada apa yang gue rasain tentang dia, adalah cinta. Atau sekedar rasa kagum."

Jawapan Dirga langsung membuat Dee membulatkan mata. What? Seorang Dirga Mahenzra jatuh cinta?

"Wow! I can't believe what I heard just now." Entah kenapa ia tersenyum.

"Seorang Aldari jatuh cinta? I guess that girl is very special. Right?" Usilnya jahil, telunjuknya dengan sengaja menyucuk-nyucuk kecil lengan Dirga.

"Yah, gue juga sama sekali nggak menyangka kalau gue bakalan ada perasaan kayak gini. That's why, I am asking your opinion about love at the first sight."

Jujur, Dirga bukanlah seorang yang mudah galau. Walaupun peribadinya sangat tertutup dan pendiam, kecuali bersama The Heroez, dia masih bisa berfikir waras.

Namun, beberapa minggu ini, ada satu wajah yang sering mengganggu ketenangan hatinya.

"Sejujurnya, gue nggak percaya sama yang namanya cinta pandang pertama."

Kembali kepada Dee, cewek itu mula menanggapi soalan Dirga.

"I've heard about it. But still, gue gak bisa ngerti. Gimana seseorang bisa jatuh cinta hanya dengan memandang sekali. Sedangkan gue, butuh waktu bertahun-tahun untuk gue mengerti dengan perasaan gue sendiri." Ucapnya penuh arti yang diam-diam ditekuni oleh Dirga.

"But, love is flexible. Mungkin bagi lo, its work. But for someone else, its doesn't."

Dee menyuarakan pendapatnya dengan jujur. Dirga yang mendengarkan hanya mengangguk beberapa kali.

"Emangnya lo lagi jatuh cinta Ga? Who's the luckiest girl?" Soal Dee kemudian membuat pergerakan tangan Dirga yang sedari tadi memainkan kelopak ros di tangannya.

Dirga menoleh, menatap Dee buat beberapa detik sebelum menggedikkan bahunya.

Tiada percakapan lagi antara keduanya sehinggalah ponsel Dirga berdering. Mahu tak mahu, ia mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya.

Nama Theo muncul di layar. "Hello?"

"....."

"Seriously?!" Suara Dirga yang sedikit meninggi membuat Dee mahu tak mahu ikut menoleh ke arah pria itu.

"Di mana?" Dirga memandang Dee. Seakan-akan menghantarkan isyarat kalau ada sesuatu yang terjadi.

"...."

"Okay. Gue sama Dee ke sana sekarang." Putus Dirga sebelum mematikan panggilan dan menyimpan semula ponselnya ke dalam saku. Jelas sekali kalau cowok itu sedang cemas.

"Ada apa?"

????????

Meskipun bersekolah di sekolah berprestasi tinggi seperti D'Vision, tetap saja mereka masih lagi anak-anak remaja yang baru menginjak alam dewasa.

Maka yang namanya perkelahian tidak akan dapat dielakkan sama sekali.

Seperti yang terjadi sekarang, kolam renang tengah dikerumuni oleh anak-anal D'Vision yang sedang menyaksikan baku hantam yang terjadi antara dua orang ahli The Heroez yang sudah terkenal sebagai musuh bebuyutan.

"Hajar lagi Jay! Jangan kasih kendor!"

"Balas dong Alfa! Ayo bangun, jangan mau kalah sama Jay!"

"Tendang aja Jay! Tendang! Jangan berhenti!"

Bukannya menghentikan, mereka malah menambah perisa dalam pertengkaran antara Alfa dan Jayden. Masing-masing tidak mahu kalah. Memberi dan menerima bogeman tanpa berhenti.

"Hey, stop! Jangan rekam!" Theo yang sedari tadi berada di sana kelimpungan sendiri bingung bagaimana mahu menghentikan kedua temannya.

Belum lagi dengan pelajar cewek yang mula merekam 'pertunjukan' anak pemilik sekolah dan anak Mafia Ritzie.

Beberapa kali juga Theo menerima hentaman di wajah saat ingin menghentikan. Baik dari Jayden ataupun Alfa.

Sehinggalah dua orang yang sedang ditunggu tiba di lokasi. Dee dan Dirga sama-sama menerobos kerumunan.

Kedua orang itu baru bisa dileraikan setelah Theo dan Dirga bersama-sama menarik Alfa untuk menjauhi Jayden yang sudah babak belur menerima hentaman Alfa.

Wajar saja, kerana Alfa itu anak seorang mafia. Makanya, dia bisa memonopoli pertengkaran dengan Jayden ini.

"Jay!" Dee duduk bertinggung di sebelah Jayden. Membantu cowok itu untuk bangun dari posisi terbaringnya. "Are you okay?!"

Jayden mengangguk getir. Mengelap hujung bibirnya yang berdarah dengan mata menatap tajam ke arah Alfa.

"Lo apa-apaan sih, Alfa?! Kenapa lagi ini?!" Bukannya ikut mengkhawatirkan keadaan Alfa, Dee malah memekik memarahi cowok itu.

Alfa yang melihat itu hanya menyeringai sinis. Ia tahu ini akan terjadi. Dee tidak akan pernah menyebelahinya. Bahkan tanpa mendengar alasan sebenarnya melakukan ini, cewek itu malah meneriakinya.

"Lo tanya aja sendiri sama cowok lo itu." Ketus Alfa menghempaskan tangan Theo dan Dirga yang menahannya. "Tanya sama dia, apa yang dia lakuin sama cewek ini di kolam renang ini." Sambungnya menunjuk pada seorang cewek yang duduk bersimpuh di sisi kolam.

Dee menoleh hanya untuk mendapati Adira yang menunduk dengan pakaian basah kuyup. Di bahu cewek itu, jaket hitam milik Jayden tergantung di sana.

Sontak Dee melayangkan tatapannya pada Jayden.

"Ch! Emang lo gak pernah berubah, Alfa. Selalu aja menghakimi without knowing the truth." Bela Jayden menyeka ke belakang rambutnya yang masih basah.

"Yah, just like you. Bastard!" Setelah mengatakan itu, Alfa berlalu dari sana setelah sebelumnya memungut almameter miliknya yang terjerumpuk di hujung kolam.

Jayden mendengus kasar mendengar hinaan yang keluar dari bibir Alfa. Tanpa mempedulikan Dee yang masih menatapnya dengan tatapan tertanya-tanya.

"Jay, tell me what happen." Dee bersuara, menahan gejolak perasaannya sendiri. Hatinya mendadak tidak enak apalagi melihat kehadiran Adira di sini.

Pasti ada sesuatu yang terjadi antara keduanya sehingga Alfa marah besar seperti tadi.

"Leave me alone." Desis Jayden dan ikut berlalu dari sana. Jaketnya yang berada di tubuh Dira dibiarkan.

Dirga lantas menyuruh anak-anak lain untuk segera berlalu dari sana. Sebelumnya, ia sempat memberi amaran untuk tidak menyebutkan ini kepada sesiapa pun apalagi sampai ke pendengaran guru-guru.

Alfa dan Jayden bisa di-skors jika sampai ada yang tau.

"Jayden, gue..." Dira yang merasa bersalah dengan apa yang terjadi pantas berdiri ingin mengejar langkah Jayden.

Baru satu langkah diambil, satu tangan mencengkeram lengannya kuat sehingga ia mengerang kesakitan. Kepalanya menoleh ke arah sang pemilik tangan hanya untuk mendapatkan tatapan tajam dari Dee.

"Never ever showed up near Jayden anymore." Desis Dee dengan suara tajam khas miliknya. "Or I will make you regret all of your life."

Dengan kasar, Dee merampas kasar jaket Jayden di bahu Dira sampai gadis itu sedikit terhuyung ke kanan dan hampir mencebur semula ke dalam kolam. Untung kakinya bisa menstabilkan diri.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience