D'Vision High School lagi-lagi mencetak sejarah sebagai sekolah swasta pertama di dunia yang memiliki permohonan kemasukan sebanyak satu trilion setiap minggu.
Bukan itu sahaja, ini menjadikan mereka satu-satunya sekolah yang menawarkan biasiswa kepada ribuan anak kurang bernasib baik. Dengan jaminan masa depan yang lebih cerah.
Ini menjadikan sekolah itu sebagai sekolah dengan segudang prestasi yang melahirkan graduan-graduan hebat yang mendominasi pelbagai bidang seperti politik, pembangunan, sukan, kesihatan, pelancongan dan lain-lain.
Selain itu...
"Lah buset! Ini apaan dah. Alay banget anjir promosinya!" Theo berdecak kesal melihat poster berwarna hijau hitam yang ditampal pada dinding markasnya.
Sepantas kilat, kertas itu dirobek dan dibuang ke dalam tong sampah.
"Ini ngapain lagi ke sini?" Atensinya kemudian tertuju pada seorang gadis dengan kucir satu berdiri di tengah-tengah pintu markas mereka dengan menjijit satu bekal makanan yang isinya sudah bisa ditebak.
"Oh, nganterin makanan toh, mbak? Mumpung gue juga lagi laper ini."
"Jayden ke mana?" Tanpa mempedulikan kehadiran Theo yang umpama lalat terbang, gadis itu langsung menanyakan keberadaan seseorang. Matanya menjenguk ke dalam mencari-cari jika ada sosok itu di dalam sana.
"Gak ada dia. Lagi basket kali. Ngapain cari Jayden? Ada perlu apa?"
"Suka-suka gue dong. Tunang gue juga." Ketus gadis itu mula jengah dengan Theo yang tidak bisa serius sedikit pun.
Kemudian, cowok itu berdecih sinis, "Nah itu kata tunang. Masa nggak tau tunangan sendiri ke mana?"
Baiklah, kali ini Theo benar-benar sudah berjaya menamparnya dengan kenyataan. Cowok itu ditatap datar sebelum menghembuskan nafas berat. Tangannya terhulur, mengunjuk beg kertas yang diisi dengan kotak bekal jernih.
"Nah, tolong kasih ke Jay."
Beg kertas itu dipandang kosong.
Lagi-lagi, satu keluhan terdengar dari bibir Theo. Wajahnya tampak serius kali ini seakan-akan gadis di depannya ini melakukan kesalahan.
"Gak kapok ya Dee. Tuh liat sana." Jarinya menunjuk ke arah satu bekas sampah besar berwarna hijau.
"Lo intip aja dikit, di dalam itu banyak banget bekas kayak gini."
Gadis itu, Medina Almyra memandang ke arah yang ditunjukkan Theo lama. "Jay nggak pernah makan bekal yang lo kasih. Semua dia buang ke sana."
Kata-kata itu membuat Dee terperangah. Dadanya bagai diremat kasar. Tapi, dia sudah biasa hingga rasa sakit itu akhirnya tenggelam ke dasar hatinya tanpa sempat terekpresi lewat wajah.
Tampilannya kini, Dee hanya kelihatan datar. Seolah-olah hal itu sama sekali tidak mengganggunya.
"Lo aja yang makan."
Wajah Theo berubah cerah mendengar kata-kata Dee. Kedua telapak tangannya digosokkan antara satu sama lain dengan antusias.
"Benar Dee? Ya ampun gue bersyukur banget punya sahabat kayak lo! Yuk sini masuk dulu duduk manis di dalam."
Ajakan Theo bagai angin lalu yang sama sekali tidak mempengaruhi Dee. Tanpa bicara sepatah pun, gadis dalam boots hitam itu berpaling dan melenggang pergi dari sana. Meninggalkan Theo terpinga-pinga sendiri di ambang pintu.
"Buset tuh cewek. Kayaknya mens dah. Buruk banget moodnya kayak nenek lampir. Theo don't like itu." Cibir Theo sarkastik lalu masuk ke dalam markas dengan beg kertas di tangannya.
Ingin melihat apa yang dimasak oleh cewek itu. Dari kemarin-kemarin, Theo sudah sangat teringin sekali memakan bekal yang dibuat oleh Dee. Tapi selalu terhalang kerana Jay yang selalu boro-boro membuangnya ke dalam tong sampah.
Lihat aja belum udah dibuang dulu.
Dasar anak holkay gak tau syukur.
"Wah! Jago juga si Dee masak." Pujinya melihat ada beberapa ketul nugget sayur, telor gulung yang diberikan sos dan nasi goreng.
Theo berdecak kesal mengingat Jayden yang suka sekali membuang makanan yang diberikan oleh Dee. Orang kelihatan enak kayak gini.
Tanpa berlengah, satu suapan diambil dan dimasukkan ke dalam mulut.
Baru satu gigitan kemudian...
"Pftttttt!!" Theo tersedak. Nasi yang sudah ada di dalam mulutnya dikeluarkan kembali ke dalam bekal dengan wajah masam.
"Ini si Dee niatan masak mau kasih makan apa bunuh orang nih? Pantas aja selalu dibuang sama Jayden. Orang nasinya masin kayak gini!"
Dan lagi, bekal yang disediakan Dee, berakhir di tong sampah seperti hari-hari sebelumnya.
________________________________________________
Dee menatap kanvas putih yang ada di depannya dengan tatapan kosong. Otaknya sesekali meliar mencari idea untuk ditumpahkan pada kanvas putih itu melalui warna-warna yang ada di tangannya.
Tapi hari ini, tidak ada satu pun yang muncul di fikirannya. Seolah-olah mindanya sedang diselubungi awan-awan gelap.
Awan gelap?
Dee menjentikkan jarinya. Akhirya idea yang ia inginkan muncul juga. Melukis awan gelap sepertinya bukan idea yang buruk.
Dengan cekatan, tangannya menyingkirkan platlet yang berisi pewarna pelbagai warna dan mengambil satu platlet baru. Tiub warna putih, hitam dan abu-abu diambil sebelum ditekan pada permukaan platlet.
Berus dengan hujung paling besar dicapai, dicelup sedikit ke dalam air dan detik kemudian digunakan untuk mengaduk warna.
Dalam hitungan menit, kanvas yang semula putih kini sudah dipenuhi dengan lukisan abstrak campuran tiga warna yang digabungkan menjadi satu. Membentuk potret awan bergerak yang terlihat indah dan unik.
Berpuas hati dengan hasil karyanya, Dee mengangkat kanvas kosong itu, dibawa keluar dari payung besar tempat dirinya sedang duduk dan disandarkan pada pembatas.
Cuaca hari ini cukup terik hingga Dee memilih untuk kembali ke bawah tenda. Merasa malas ingin berlama-lama dibawah matahari.
Sebotol aqua yang terletak di atas meja dicapai. Penutupnya dibuka sebelum diteguk beberapa kali.
Kawasan rooftop ini memang sunyi. Berbanding berada di atas tempat yang panas begini, anak-anak sekolahnya lebih senang memilih untuk berada di kelas yang dilengkapi dengan penghawa dingin. Ataupun duduk di kantin sekolah, menikmati makanan dan minuman yang disediakan.
Lebih selesa dan nyaman.
Tapi tidak bagi Dee. Di sini, rooftop ini adalah comfort place nya di sekolah ini jika waktu istirahat tiba.
Bukan ruangan dengan penghawa dingin ataupun kantin yang penuh dengan makanan.
Di sini, dirinya bisa sendirian melakukan hal yang ia sukai. Melukis, dan kadang-kadang, hanya sekedar mengambil angin sudah menjadi satu bentuk hiburan untuk Dee.
"Gue kirain siapa, rupanya lo Almyra."
Satu suara familiar menusuk indra pendengaran Dee. Pantas ia menoleh hanya untuk mendapati seorang Dirga Mahenzra. Dengan wajah sehabis bangun tidur, butang atas yang tidak dikancingkan dan rambut acak-acakan.
Tapi sialnya, sama sekali tidak menganggu gugat ketampanannya.
Benar kata orang kalau udah goodlooking walau gimanapun rupanya tetap gak burik. Sama seperti Dirga.
"Lo ngapain di sini?" Dee menelek-nelek wajah Dirga. Memandang pintu stor rooftop yang tertutup.
"Lo tidur di dalam stor itu, Ga?" Soalnya seakan tidak percaya. "Kenapa nggak di markas aja? Theo ada di sana."
Mengabaikan soalan Dee, Dirga melangkah maju. Mendekati kanvas yang dijemur gadis itu sebelum duduk bertinggung di sana. Pergerakannya hanya dipandang oleh Dee.
"Call me Dirga please. Gue gak suka nama gue dipendekkan kayak gitu." Sahut pria itu masih dengan menatap lukisan di depannya. "Lo yang lukis ini?"
"Menurut lo?"
Dirga mengangguk kagum beberapa kali. Kembali berdiri sebelum berjalan menuju ke arah Dee dibawah tenda. Satu kerusi kosong ditarik untuknya duduk di sebelah Dee.
"Gue gak tau kalau lo bisa lukis, Almyra. Tapi lukisan lo cantik. But, there's hidden message from your painting right?"
Kening Dee terangkat. Merasa aneh dengan kata-kata Dirga yang terlanjur puitis. Seperti yang diharapkan dari seorang Dirga.
"Emangnya lo bisa baca apa aja dari lukisan gue?"
Senyum singkat Dirga ukirkan. Adakah gadis di depannya ini ingin menguji sejauh mana pengetahuan yang ia miliki tentang lukisan? Kalau benar, sepertinya Dee memilih orang yang salah.
"There's so many things I can get from your painting, Almyra." Dirga menatap sekilas ke arah lukisan itu. "Kayak buku terbuka, bisa ketebak langsung."
"Your sadness. I don't know for what but I guess, you're already so tired right? Or should I say, you start to give up?" Jedanya menguji pertahanan Dee yang sama sekali tidak bereaksi apa-apa. Dia hanya diam dengan tangan memainkan penutup botol.
"Tapi disebalik warna hitam dan abu-abu yang lo tampilkan di depan, masih ada warna putih yang lo harapkan bisa mengobati luka lo. Kan, Almyra?"
"...."
"But I can't deny it. Lukisan lo cantik untuk seorang yang bukan ahli dalam bidangnya."
Dirga mengakhiri percakapannya. Walaupun sebenarnya ia masih ingin bicara lanjut, tapi melihat wajah mendung gadis yang ia panggil Almyra membuat dirinya tidak tega.
Mungkin Dee butuh waktu sendiri.
"Gue ke markas dulu. Mau sambung tidur di sana. Bye Almyra."
"Ga..."
Dirga sudah ingin berganjak sebelum namanya diseru perlahan. Membuatnya menghentikan langkah tanpa berpaling.
"Kenapa lo panggil gue Almyra? Sedangkan orang lain lebih senang manggil Dee."
Dirga tersenyum tipis, "because I like calling you like that. It's sound so special."
___________________________________________
"Kamu ke mana aja seharian ini? Aku cariin kamu ke mana-mana. Ke kelas, ke markas tapi kamu gak ada."
Satu soalan itu langsung menerpa telinga Jayden. Membuat cowok yang sedang menyetir itu menghempaskan nafas malas.
Selalu seperti ini. Setiap hari, Dee selalu ingin tahu kegiatannya di sekolah. Dia di mana, ke mana dan sama siapa. Garis bawahi, setiap hari! Jayden jadi malas ingin berbicara dengan Dee.
"Bisa nggak sih, Dee. Kamu gak usah kepo tentang urusan aku? Just, keep quiet please."
Mendengar itu, Dee terdiam beberapa detik sebelum kembali menjawab.
"Fine."
Begitu seterusnya hingga mobil yang dipandu Devan sudah mula memasuki gerbang rumah Dee. Di hadapan pintu rumah itu, sudah ada Sophia, mamanya Dee menunggu kepulangan anaknya.
"Mama Fia ada di rumah? Sejak kapan? Kok aku nggak tau?" Soal Jayden panasaran yang hanya didiami Dee.
Kan cowok itu sendiri yang menyuruhnya untuk diam. Jadi sekarang dia sedang melaksanakan seperti apa yang dikehendaki Jayden.
Diam.
Mobil berhenti di hadapan pintu rumah Dee. Gadis itu sudah ingin keluar dari mobil sebelum lengan panjang Jayden terjulur menghadangi pergerakan gadis itu.
"Kenapa lagi, Jay? Aku capek, pengen istirahat." Ketusnya seraya menghempaskan diri semula ke tempat duduk.
Jayden hanya menatap Dee lamat-lamat. Mencuba mencari senyum di sebalik wajah datar itu. Tapi ia gagal menemui senyuman tercantik Dee.
Menghela nafas, akhirnya Jay menarik kembali tangannya. Membuka kunci mobil sebelum kedengaran Dee yang membuka sabuk pengaman.
"Istirahat aja gak usah ke mana-mana. Nanti aku bilangin ke mama aku kalau kamu gak sihat." Tanpa meminta pendapat, Jayden membuat keputusan.
Membiarkan Dee membuka pintu mobilnya. Jayden menunggu sehingga Dee benar-benar masuk ke rumah sebelum menjalankan mobilnya.
Sebelum itu, ia sempat menelefon Sebastian, pembantunya untuk melakukan sesuatu untuknya.
"Baru pulang, Dee? Yuk kita makan bareng." Tegur Sophia melihat anaknya yang kelihatan lesu sekali hari ini.
"Maaf ma tapi Dee lagi nggak enak badan. Dee masuk istirahat dulu."
Anak itu langsung berpamitan menaiki anak tangga setelah menyalami tangan mamanya. Walaupun Dee merasa janggal melihat kehadiran mamanya di rumah, ia tetap menghormati insan yang bergelar ibu itu.
"Mau mama buatin teh anget gak Dee?"
Soalan Sophia hanya umpama angin lalu kerana Dee sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya. Bukan tidak berniat hanya saja Dee sudah malas ingin mengulang hal sama setiap kali.
Hasilnya sama saja. Mamanya tidak akan pernah tahu hal yang ia sukai dan hal yang Dee benci.
Salah satunya adalah teh. Mamanya tidak tahu kalau dia alergik dengan minuman itu.
Daripada harus berdebat panjang dan hujungnya merasa sakit hati, Dee lebih memilih untuk diam. Dan tidur.
Drtt...
Satu pesan Line masuk ke ponselnya. Dengan malas tangannya mencapai benda pipih itu dan membuka pesan yang diterima.
Alfa
|Jayden bawa Adira ke race malam ini
|Lo gak tau kan?
Ah! Satu lagi beban fikiran yang harus ia tangani secepatnya sebelum ketahuan dan tiada jalan kembali.
Tangannya mengetikkan balasan kepada Alfa. Entah kenapa, Alfa selalu tidak miss untuk melaporkan hal ini kepadanya. Padahal sama sekali tidak ada kaitannya dengan cowok itu. Tapi, Dee juga harus bersyukur sih kerana sikap Alfa yang satu ini, Dee selalu bisa mengubur lobang yang sudah digali Jayden sebelum ketahuan sama nyokap cowok itu.
|Gak usah ribut
|Clear kayak biasa, as always harus
|CLEAN
|Jangan sampai Mama Jessica tahu
Dan bodohnya lagi, Dee selalu meminta pertolongan Alfa untuk menyelesaikannya.
Selesai menghantar pesan itu, Dee memejamkan mata. Dia membutuhkan asupan tidur petang ini.
Share this novel