3

Romance Series 6215

Dira mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja dengan perasaan yang bercampur-baur.

Fikirannya menerawang kepada peristiwa dua hari yang lalu. Tepatnya kejadian di kolam renang. Juga mengingat kembali perbualannya dengan Renna.

"Dee itu tunangan Jayden. Namanya, Putri Medina Almyra Audhisty. Dia princess di sekolah ini. Semua orang memperlakukan dia beda. Atau bisa dibilang dia itu disanjung."

"She's nice. Tapi dia juga bisa sangat jahat kalau lo nyentuh apa yang jadi milik dia. Terutama sekali Jayden. So you better be careful, Dira. Lagian dia juga udah bilang untuk jangan muncul di depan Jayden lagi kan?"

"Sebaiknya lo ikut kemahuan Dee. Gue takut lo diapa-apain sama dia. She's sweet, but psycho."

Helaan nafas berat keluar dari bibirnya apabila mengingat segala yang diberitahu Renna tentang cewek cantik bernama Dee itu.

Padahal, dia belum sempat mengembalikan seragam Jayden kerana terjadi sesuatu kemarin-kemarin.

"Dira! Oi, Dira!" Tepukan kuat di bahunya lantas menyedarkan Dira dari ingatannya itu.

"Ya? Kenapa?"

Bang Remy, satu-satunya pekerja di warung keluarganya Dira menggelengkan kepala melihat kelakuan anak majikannya yang malah mengelamun di siang-siang bolong.

"Ck! Dasar bocah! Itu ada orang mau bayar." Tunjuk Remy kepada seorang anak SD yang berdiri di depannya dengan memegang uang di tangan.

Sadar dengan kesilapannya, Dira cepat-cepat melayani anak kecil itu.

"Banyak fikiran banget ya Dir sejak pindah ke sekolah mahal itu. Kenapa sih?" Soal Remy sedikit hairan dengan Dira yang dua hari ini sangat senang mengelamun.

Kemarin, cewek itu tanpa sadar malah menambah garam ke dalam air minuman pelanggan. Terus, hampir menumpahkan satu periuk besar sup bakso. Semuanya kerana terlalu banyak mengelamun.

Entah apa saja yang difikirkannya.

"Iya, bang. Lagi banyak mikir nih." Keluh Dira lelah. "Kirain bisa masuk ke sekolah mahal itu fikiran aku bakal lebih lapang. Tapi malah menambah beban aja. Jadi nyesal deh pindah ke sana."

Remy terkekeh pelan mendengar rungutan Dira. "Itu mah biasa. Itu namanya kalau dalam bahasa Inggerisnya, culture shock." Pria berusia 30-an itu ketawa kecil setelahnya.

"Wah, pintar juga lo bang bahasa inggeris. Gak nyangka."

"Ck. Gue kayak gini juga sekolahnya sampai SMP juga kali. Gak bodoh-bodoh amat Dira." Remy tetap melayani Dira walau tangannya bergerak menyuci mangkuk bakso yang sudah digunakan.

Keluarga Dira memiliki warung bakso yang bisa dibilang terkenal juga di kawasan perumahan mereka ini. Warung kecil yang tidak terlalu mewah ini dibuka oleh Om Bara pasca kecelakaan yang membuatnya harus kehilangan kedua belah kaki.

Remy adalah pekerja pertamanya dan kekal seperti itu sejak 7 tahun yang lalu.

Bara tidak lagi mempekerjakan pekerja lain. Lagipula Remy juga tidak pernah meminta untuk ditambah pekerja. Dia masih bisa mengurus warung ini sendirian.

Toh dia juga tidak punya kesibukan lain. Dia masih bujang, pacar juga tidak punya dan seorang anak yatim. Ibu bapanya sudah meninggal. Jadi, gaji yang ia dapat dari sini sudah cukup dan memadai.

Walaupun warung ini tidak besar dan Om Bara juga tidak punya niat untuk memperbesar perniagaan baksonya, hasil yang didapati dari sini cukup untuk menampung kehidupan Bara sekeluarga.

"Bang, apa pendapat lo tentang orang kaya? Lo pernah gak ketemu atau ada kenalan yang datangnya dari golongan kayak gitu?" Soal Dira kepada Remy yang masih sibuk dengan pekerjaannya.

"Pernah sih, waktu SMP. Teman sekelas gue ada yang anak pengusaha. Lumayan kayalah." Jawab Remy mengingat kembali memori masa sekolahnya. "Kamu tanya gitu kenapa?"

"Sekolah barunya pasti banyak orang kaya ya?" Tebak pria itu asalan yang mana langsung diangguki oleh Dira.

"Iya bang. Ramai banget." Entah kenapa, wajah keempat ahli The Heroez terus muncul di depan matanya. Dan juga Dee.

"Oh jadi ini nih alasan anak ceweknya Om Bara ngelamun mulu? Kamu ada kesem-sem sama anak orang kaya ya?" Tuduh Remy lagi yang langsung membuat Dira melotot tajam.

"Ya enggaklah!"

Remy ketawa renyah. Walau sebenarnya ia bisa memahami sedikit perasaan yang dialami Dira. Ayolah, dia sudah hidup selama 30 tahun. Urusan seperti itu dia sudah pernah melihat.

"Ih, bang Remy. Udah dong ketawanya!"

"Okay, tenang." Remy berhenti ketawa. Mengeringkan tangannya dengan handuk dan mengambil tempat di sebelah Dira.

"Gue gak tau ya, masalah apa yang sedang mengganggu kamu sejak di sekolah baru. Tapi, sebaiknya, jangan sampai kamu terjebak urusan tidak penting ya sama mereka."

Dira diam. Menunggu sehingga Remy menghabiskan perkataannya.

"Fikiran mereka, sama fikiran kita gak sama Dee. Kebolehan mereka juga gak sama dengan kita. Gue kasih nasihat ini sebagai orang yang lebih dewasa. Kerana gue gak mau kamu ngelakuin kesilapan yang kemudiannya bisa musnahin hidup kamu dan keluargamu."

Dira mengangguk mengerti. Perkataan Bang Remy memang ada benarnya. Dia menerima biasiswa untuk masuk ke D'Vision kerana dia mahu mengurangkan beban bapak.

Dan jangan sampai dia malah mendapat masalah.

????????

"Lo beneran mau pergi begini aja? Nggak ngabarin Dee sama sekali?"

Alfa mengangguk. Sebelah tangannya menarik koper besar miliknya ke kawasan menunggu VVIP. Jam di tangan kanannya dikerling.

Ketika ini, ia sudah berada di bandara. Dalam masa setengah jam lagi, ia akan melakukan penerbangan ke Australia.

"Lo yakin?" Soal Theo lagi.

Ketika ini, cowok itu datang bersama Dirga untuk menghantar kepergian Alfa.

"Berisik sih bocah!" Ketus Alfa.

"Yakin? Bisa menghadapi konsenkuesinya kalau sampai Dee tahu lo ninggalin dia tanpa pamit kayak gini?"

Alfa hanya diam. Malas ingin bertengkar dengan Theo. Dirinya sudah benar-benar yakin dengan keputusannya untuk pergi secara diam-diam begini.

Ya, walaupun dia tahu, tindakannya ini akan berakibat fatal.

Dee bisa saja akan membencinya.

Tapi, dia juga tidak bisa membatalkan rencananya yang udah disusun jauh-jauh hari ini.

"Hah, gue sebenarnya gak habis fikir sih sama hubungan kalian bertiga." Dengus Theo mula merasa lelah dengan hubungan rumit yang terjadi antara Jayden, Dee dan Alfa.

"Kalian bertiga udah sahabatan dari TK. Tapi, bisa-bisanya kalian terjebak sama yang namanya cinta? Nonsense banget di fikiran gue." Sambung Theo lagi sementara Dirga hanya diam saja.

Cowok itu memang tidak banyak bicara. Tapi ia tahu persis maksud Theo.

Alfa memang sudah berteman dengan Dee dan Jayden sejak kecil. Mulanya persahabatan mereka mulus-mulus saja sampai dua tahun kebelakangan ini, tepatnya setelah perjodohan antara Dee dan Jayden.

Rupanya, Alfa sudah lama menyukai Dee tapi cowok itu terlalu takut untuk berterus-terang kerana ia takut Dee akan menjauhinya. Dan tanpa diketahui, rupanya, Dee sudah lama menyimpan perasaan pada Jayden hingga cewek itu menerima saat mereka dijodohkan.

Alfa yang mengetahui kalau Jayden tidak pernah menyukai Dee menentang keras keputusan Dee. Tapi ia diamkan kerana dia mementingkan kebahagiaan Dee.

Cowok itu juga yakin, kalau Jayden pasti akan belajar mencintai Dee.

Sehinggalah satu hari, Alfa mendapati kalau Jayden sedang menjalin hubungan dengan cewek lain di luar pengetahuan Dee. Atau lebih ringkasnya lagi, Jayden selingkuh.

Sejak itu, hubungan mereka jadi berantakan.

Kerana Alfa bersikeras memaksa Dee memutuskan pertunangan dengan Jayden. Kerana Dee yang kukuh mempertahankan Jayden dengan mengatakan kalau cowok itu hanya bermain-main.

Dan kerana Jayden yang masih belum bisa menerima perjodohannya dengan Dee.

Lihat, bagaimana sebuah hubungan bisa rusak kerana yang namanya cinta.

"Ya, I left, because I love her." Alfa bersuara setelahnya. "Gue terlalu sayang sama Dee sampai gue takut, kalau rasa sayang gue ini, bakal merubah gue menjadi seorang yang jahat."

"Gue takut kalau gue akan semakin menginginkan Dee sampai sisi gelap gue muncul dan memilih untuk merampas Dee dari Jayden."

Theo menatap Alfa yang seperti orang gila. Dia memahami gejolak perasaan Alfa. Walaupun dia baru bergabung dengan mereka sejak SMP, Theo tahu sebesar mana rasa sayang Alfa kepada Dee.

"Biarpun gue bisa melakukan itu dengan mudah, gue gak mau." Katanya menoleh pada Dirga yang hanya diam sejak tadi.

"Her happiness is Jayden, so how can I took her from him. Itu, sama saja dengan gue merampas kebahagiaan Dee." Sambungnya penuh arti.

Hanya Dirga yang memahami perkataan cowok itu. Dua hari yang lalu, setelah pergaduhannya dengan Jayden di pinggir kolam, Dirga adalah orang pertama yang mengetahui tentang keputusan Alfa untuk pergi.

Cowok itu juga sempat bertanya kenapa Alfa sama sekali tidak berniat untuk mengambil Dee dari Jayden. Kalau cowok itu tahu Jayden tidak pernah berniat untuk mencintai Dee.

Alfa meninggalkan soalan Dirga tanpa jawapan. Baru hari ini, ia mengungkapkan alasannya.

Pengumuman penerbangan NWT127 berbunyi nyaring menandakan waktunya untuk Alfa berlepas sudah tiba.

"Ya udah deh. Kalau lo udah bilang gitu. Gue gak bisa apa-apa lagi. I respect your decision." Dengan berat hati, Theo melepaskan kepergian Alfa.

Walaupun sebenarnya ia merasa paling sedih sekali. Sejujurnya dia benar-benar tidak menyangka kalau Alfa akan benar-benar pergi. Dia juga baru tahu mengenai ini saat Dirga memberitahunya melalui telefon tadi pagi.

Mereka berpelukan seketika sebelum benar-benar melepaskan kepergian Alfa.

"Jagain Dee buat gue." Pesan cowok itu sambil menatap Dirga dan Theo dalam. Tapi tatapannya lebih lama berlabuh pada Dirga.

Yang ditatap hanya terpaku sebelum kemudian mengangguk kecil.

Setelah itu, barulah Alfa bisa tenang. Dengan langkah yang lebih yakin, cowok itu mula melangkah menyeret bersama kopernya.

Punggung lebar Alfa yang berjalan menuju ke balai perlepasan dipandang sayu oleh Theo dan Dirga.

Mungkin ini bisa jadi kesempatan untuk Alfa melupakan perasaannya terhadap Dee. Siapa tahu, di Australia nanti, cowok itu akan menemui cintanya sendiri?

"Bye, bye Alfa!" Theo berteriak nyaring, melambaikan tangannya kepada Alfa yang sudah hilang dari sebalik pintu balai berlepas.

Cowok itu sedang menahan air mata. Tanpa aba-aba, Theo langsung berpaling dan mendekap Dirga kuat.

"Huwaa!! Gue sedih banget Alfa pergi! The Heroez jadi kurang dong! Siapa yang bakal ngehack CCTV setelah ini kalau gue mau bolos?! Huwaa!!"

Dirga yang dipeluk kuat oleh Theo mendengus kasar. Tubuh besar Theo yang lebih bongsor darinya ditolak-tolak agar melepaskan dekapannya.

Dia malu dengan kelakuan random Theo. Mana mereka sudah menjadi tatapan-tatapan orang lagi.

"Lepasin anjing! Gue gak mau dituduh gay gara-gara pelukan sama lo!" Marah Dirga tapi Theo masih tidak berganjak.

Pedulikan dengan orang-orang yang menahan ketawa melihat dirinya dan Dirga yang sudah seperti sepasang 'kekasih'.

"Gue geli bangsat!" Hish, memikirkannya saja Dirga sudah geli sendiri.

Keduanya kekal dalam posisi begitu sebelum dengan tiba-tiba mata Dirga menangkap satu sosok familiar yang baru memasuki pintu bandara dalam keadaan berlari-lari kecil.

"Alfa mana?!" Dee langsung menerjang Dirga dan Theo dengan soalan sebaik saja sampai di depan keduanya.

Nafas cewek itu terengah-engah seakan-akan baru saja mengikuti lomba lari. Kedua teman cowoknya itu hanya diam saja tanpa mahu memberitahunya jawapan.

Detik kemudian, Jayden muncul dari belakang juga dengan nafas terengah.

"Damn!" Jayden mengumpat kasar dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku. Menyalakan layar dan menekan-nekan sesuatu.

"Penerbangan NWC127."

Mendengar saja perkataan Jayden, Dee langsung berlari menuju ke arah balai berlepas. Meninggalkan ketiga cowok itu di sana.

"How did you know?" Theo bertanya kepada Jayden yang sedang berbicara di dalam telefon.

"He must be crazy right?" Sinis Jayden. "Harusnya dia gak milih maskapal keluarga gue kalau mau pergi mendadak kayak gini kan?"

Theo baru ngeh setelah mendengar kata-kata Jayden. Benar, kok dia sendiri juga tidak sadar sih kalau bangunan ini adalah milik keluarga Jayden. Tentu saja Jayden akan tahu dan memberitahu Dee mengenai ini.

"Dia memang sengaja supaya Dee ngejar dia!"

Jayden langsung berlari menyusul Dee yang sudah memasuki balai berlepas. Jangan tanya bagaimana mereka bisa masuk ke dalam. Jawapannya sudah ada.

"Anjirlah itu si Mafia. Katanya gak mau kasih tau Dee."

Dirga automatis meremat saku celananya. Mengeluarkan ponsel hitam yang sengaja Alfa tinggalkan padanya.

"Tolong kasih ke Dee nanti."

Pantas saja Alfa berpesan seperti itu. Rupanya dia tahu kalau Dee pasti akan menyusulnya ke sini.

Ternyata, Alfa tidak sebaik itu. Dia masih berharap Dee akan mengejar dan menghalangnya pergi.

Apa cowok itu berharap kalau Dee akan meninggalkan Jayden dan memilihnya?

Tapi sayangnya, jika Dee tadi sempat mengejar pun, belum tentu cewek itu akan memilih Alfa ketika Jaydenlah orang yang membawa Dee ke sini.

????????

Dengan nafas terengah, Dee berlari menembusi kerumunan orang ramai yang berada di balai berlepas. Matanya meliar mencari kelibat Alfa berharap agar dia sempat mengejar cowok itu sebelum berlepas.

Dia sungguh terkejut saat Jayden mendadak datang ke rumahnya tadi mengatakan kalau Alfa akan pergi ke Australia hari ini.

Indera yang disoal siasat secara paksa memberitahu kalau Alfa pindah ke Australia untuk tinggal bersama orang tuanya. Sekaligus sebagai persediaan untuk kenaikan takhta sebagai Don.

Tahu apa maksudnya itu? Maksudnya, kalau Dee terlambat menemui Alfa, dia tidak akan punya peluang lagi.

Kerana salah satu syarat di keluarga mafia Ritzie, seorang pewaris harus bersembunyi selama sekurang-kurangnya sepuluh tahun sebagai salah satu syarat pewarisan takhta.

Gila bukan?

Dee melajukan langkahnya, menuju ke arah gate bernombor 27, berharap Alfa masih ada di sana.

Hingga akhirnya sepasang kakinya yang hanya beralas sendal jepit berhenti benar-benar di hadapan pintu gate yang sayangnya sudah kosong. Semua penumpang sudah menaiki pesawat yang sudah bersedia untuk lepas landas.

Sontak, kedua kaki Dee melemah. Tangannya bertopang pada kaca yang terarah lurus pada landasan pesawat.

"Alfa..." Panggilnya hampa. Suaranya terdengar sayu dan hampir menangis tapi tiada satu pun air matanya jatuh.

"Alfa..."

Nama cowok itu diulang berkali-kali tanpa mempedulikan tatapan-tatapan menghakimi dari orang-orang yang lalu lalang di sana.

Melihat seorang cewek yang hanya dibaluti pijama merah jambu kotak-kotak dan kardigan panjang yang melapisi luarannya. Rambutnya yang berwarna perang dibiarkan tergerai dengan wajah polos tanpa polesan make-up.

Dia terlambat. Alfa sudah terlebih dahulu pergi.

Alfa...juga meninggalkannya. Seperti papa dan Kak Megan.

Jayden yang baru sampai di sana bersama beberapa orang pria dewasa berpakaian serba hitam memerhatikan dengan saksama keadaan Dee yang mengenaskan.

Perlahan, kakinya melangkah mendekat sambil mencuba menetralkan nafasnya yang memburu.

"Dee?" Cewek itu menoleh sekilas, tersenyum getir pada Jayden.

"Alfa udah pergi. Aku telat, Jay. Alfa udah pergi." Adunya seperti anak kecil. Suaranya jelas sekali sedang menahan tangis.

Jayden menghela nafas berat. Iya, dia tahu Alfa sudah pergi. Bahkan dirinya pun sempat mengarahkan pekerja di bandara untuk menangguhkan penerbangan. Seenggaknya sehingga Dee sempat bertemu Alfa.

Tapi nasib tidak menyebelahi mereka, pesawat Alfa sudah lima menit berada di awan. Tepat saat mereka masuk ke dalam.

Tanpa suara, Jayden menarik kedua bahu Dee perlahan. Memaksa memalingkan tubuh cewek itu untuk menghadapnya.

Dee langsung membaur ke dalam pelukan Jayden. Dan seperti suis automatis, Dee menumpahkan tangisannya di dada bidang Jayden.

"I know Dee, I know." Bisiknya pelan, mengecup puncak kepala Dee sambil menepuk lembut belakang cewek itu.

"He left me Jay. Alfa juga udah pergi. Kayak papa, kayak Kak Megan. He left me." Ngongoi cewek itu masih menyembunyikan wajahnya di dada Jayden.

Cowok itu terdiam, pelukannya dieratkan saat dirasakan tubuh Dee yang bergetar.

Alfa bajingan. Padahal mereka belum menyelesaikan kesalahfahaman yang berlaku dua hari yang lalu di kolam renang. Sedangkan dia sudah bersedia untuk bertemu sahabatnya itu hari ini.

Salah seorang pekerjanya yang memberitahu kalau Alfa akan pergi hari ini. Kerana itu Jayden bergegas pergi ke rumah Dee dan membawa cewek itu ke sini.

Berharap bisa sempat bertemu Alfa.

"Kamu gak bakalan ninggalin aku juga kan Jay?" Soal Dee sebaik saja pelukan keduanya terlepas. Iris coklat gadis itu menikam tajam ke dalam mata Jayden.

Jayden diam. Kedua tangannya naik menyisir surai halus Dee yang beralun lembut.

Tatapan ini, tatapan ini yang selalu membuat dia kalah. Keadaan Dee yang seperti ini selalu membuat Jayden tidak sanggup.

Tanpa jawapan, tubuh rentan itu kembali ditarik ke dalam pelukan hangat.

'You're so bastard, Alfa. Padahal lo udah janji untuk gak ninggalin Dee. Lo jadi orang yang paling marah kalau gue bikin Dee sedih. But now, look at you.'

Jayden merutuki tindakan Alfa di dalam hati.

'You left her, Alfa. And you left me too.'

Tiba-tiba, tangan Dee yang melingkari pinggangnya terasa longgar. Nafasnya yang masih terisak tadi juga mendadak berhenti membuat Jayden cemas bukan kepalang. Lalu tanpa amaran, tubuh ringkih itu memberat.

"Dee! Dee!"

Untung saja ia sempat menahan pinggang cewek itu sebelum Dee tidak sadarkan diri.

Dee pingsan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience