0

Romance Series 6215

Bersekolah di sekolah elit seperti D'Vision High School, harusnya Adira Mikayla sudah bisa menebak semewah apa hidup di sana. Dan dia juga harusnya mengerti, segila apa hidup di kalangan anak-anak orang kaya yang sejak lahirnya tidak tahu bagaimana rasanya main di sawah apalagi berpanas terik.

Tapi, sepertinya dirinya terlalu hanyut dalam rasa kagumnya hingga ia melupakan satu fakta itu.

D'Vision High School bukan seperti sekolah biasa yang isinya anak-anak random yang kerjaan cuman datang ke sekolah, berteman dengan semua orang, ribut sesekali paling-paling cuman dibawa ke ruang BK dan selesai sampai sana.

"Lo bisa lakuin apa pun di sekolah ini dan lo bisa menikmati semua fasilitas yang ada sepuasnya. Gak akan ada yang larang lo kerana semua udah dibayar sekaligus sama yuran masuk. Dan elo, melalui biasiswa ya kan?"

Begitu kata Mella yang kebetulan kawan seangkatan dan satu bangku dengan Adira. Dan gadis itu, hanya mampu menyimak sambil makan telur gulung.

Biarpun sebenarnya ia sama sekali tidak berminat sih untuk tahu itu semuanya.

Tujuannya menerima tawaran biasiswa dan masuk ke sini juga semata-mata kerana jaminan masa depan yang lebih terjamin kalau dia sekolah di sini.

Selebihnya, ia hanya mahu datang ke sekolah, mengekalkan status low profile-nya, cepat-cepat lulus dan masuk perguruan tinggi. Habis itu dia mahu kerja dan menikmati hasil titik peluhnya dan membahagiakan ayah dan adik-adiknya.

"Tau nggak kenapa sekolah ini jadi incaran orang-orang buat masuk ke sini? Ya selain dari jaminan itu sih."

"Ya mana gue tau, Ren. Gue juga baru dengar soal sekolah ini kerana guru di sekolah lama gue." Acuh Adira.

Mella menghela nafas berat. Kenapa dirinya harus mempunyai teman pertama seperti Adira yang taunya cuman makan doang. Padahal kan ini juga demi kepentingan mereka bersama.

"Dira! Lo harus peka sama sekeliling juga dong. Ini demi kebaikan lo juga!" Decaknya kesal. "Lo pasti belum tau The Heroez kan?"

"Kebaikan apalagi sih Mel? Gue ini udah cukup peka tauk tentang sekolah ini. Udah ada semuanya ditulis di brosur."

Suara gadis itu sedikit tenggelam di hujung kerana tidak semena-mena, berlaku keributan di sisi kanan kantin.

"Nah, nah itu dia Ra. Itu lihat sana!"

Mella tiba-tiba bersuara heboh, menepuk bahu Adira beberapa kali dengan kuat saking excitednya melihat empat orang cowok yang baru masuk ke kawasan kantin.

"Apaan sih Mel! Gue lagi makan juga!"

Walaupun mulutnya misuh-misuh mendengar kehebohan Mella, netranya tetap memandang ke arah yang ditunjuk Rena.

Matanya membulat sempurna melihat ketampanan paripurna empat sekawan yang sedang menuju ke meja mereka yang terletak berseberangan dengan meja miliknya dan Mella.

Mulutnya ternganga tanpa sedar.

Jujur saja, biarpun tampangnya biasa-biasa, Adira masih tetap mengagumi pemandangan di hadapannya.

Dari gaya empat lelaki itu, Adira seolah-olah melihat drama Korea Boys Before Flower. Mereka berempat memiliki vibe seperti itu. Bahkan di otak Adira sendiri sudah berputar lagu Almost Paradise yang menjadi soundtrack drama populer itu.

"Anjirlah ini, kayak drama Korea aja!" Tanpa sedar ia berseru sedikit nyaring namun masih tenggelam kerana suara heboh yang masih mendominasi.

Mella yang melihat Adira melongo tersenyum kecil dan menepuk bahu temannya itu kuat.

"Gak usah gitu juga deh liatnya. Yang santai aja!"

Adira yang menyedari keterlanjurannya lekas-lekas menepuk pipi. "Kalau boleh tahu mereka siapa ya?" Tetap saja, rasa panasarannya tetap ada. Ingin tahu siapa sosok-sosok tampan yang bisa membuat satu kantin heboh.

Dan ini, satu soalan yang sangat disukai Mella. Suka untuk dia dengar dan lebih suka untuk ia jawab.

"Sini gue kenalin ke elo. Supaya lo bisa jaga-jaga. Jangan sampai lo terjebak urusan sama mereka. Hidup lo dijamin gak bakalan aman deh."

Adira agak sedikit ngeri bila mendengarnya tapi tetap pasang telinga untuk tahu dengan lebih lanjut.

"Itu, yang lagi pesan makanan. Kelakuannya absurd banget, gak sombong, mudah berbaur dan tukang ngelawak. Namanya, Theovan Aditya Mayenes. Di antara mereka dia yang lebih mudah berbaur sama lingkungan. Soalnya ganteng plus pecicilan."

Tumpuan Adira melekat pada cowok tinggi berparas cantik. Iya, Theo bisa dikatakan cantik kerana emang tampilannya begitu. Proporsi tubuhnya cocok buat jadi model.

"Tapi jangan khilaf. Rupanya emang songklak pecicilan gitu. Tapi dia anak kepada ZeusFood. Lo tau kan, itu yang ngurusin service food delivery. Walaupun tampilan si Theo sendiri kayak orang gak pernah makan setahun."

Mella terkikih kecil di hujung ayatnya. Semua juga tau, kalau Theo itu orangnya asik dan mudah bergaul.

"Okay, done. Now look at that anime-look boys." Seterusnya Mella menunjuk Alfa yang sedang duduk di hujung meja empat segi. Jauh dari dua yang lainnya.

"Dia, Alfa Hakim Ritzie. Ayahnya keturunan mafia dari Jepang."

"Apaan dah. Mukanya galak banget. Untung ganteng anjir. Jadi takut gue liatnya." Respon Adira sudah tidak asing lagi di telinga Mella. Kerana bukan saja gadis itu. Dia juga pernah merasakan hal yang sama saat pertama kali melihat Alfa.

Siapa saja yang tidak akan takut melihat Alfa yang wajahnya sempurna dari segenap sudut. Seperti watak anime yang dicopy-paste ke wajah Alfa.

"Sebagai keluarga Mafia, kayaknya gue gak perlu menerangkan secara jelas dan terperinci lah ya gimana kekayaan yang Alfa punya. Kuasa keluarganya itu bahkan bisa bikin presiden ketar ketir kalau berani cari masalah. Tapi bedanya family Alfa sama mafia lainnya, mereka gak suka menonjol."

"Si Alfa ini juga gak menye-menye ya. Dia anak IT. Dia bisa dengan mudah ngehapus jejak digital hanya satu ketik aja. Aka dia Hacker. Makanya, si Alfa ini sering banget ngebantuin teman-temannya yang bikin masalah di sekolah ini terlepas."

Adira hanya mengangguk mengerti. Agak sedikit pusing sih mendengarnya. Merasa agak sia-sia mendengar biodata orang-orang seperti mereka. Padahal kalau mengingat biodata dari bekas-bekas Presiden Indonesia tampaknya lebih bagus.

Yah, dia sih hanya menghormati Mella sebagai teman pertamanya di sekolah ini.

"Next, kita ada Dirga Mahenzra Argaris. Tuh yang lagi nguap itu." Mata Adira tertuju pada seorang pria berwajah serius yang sedang membuka mulutnya lebar. Matanya kelihatan sekali tidak cukup tidur.

Tapi mau mulutnya ternganga lebar juga, Dirga tetap gak kelihatan jelek. Malah lebih kelihatan kayak bocil yang pengen di puk-puk supaya tidur lagi.

"Dari mereka semua, Dirga ini yang paling pendiam. Alfa juga pendiam sih tapi si Dirga ini lebih diam lagi. Dia gak akan bicara sama orang lain lebih dari lima patah perkataan."

"Orang tuanya yang punya SMCU.Health. Tapi oleh korang tuanya meninggal kerana kecelakaan saat jadi relawan ke Palestin, sekarang SMCU harus diwariskan ke Dirga. Kerana dia pewaris tunggal. Tapi dari kelakuan Dirga yang sering bolos kelas, gue sendiri gak yakin tuh SMCU bakal terus ada atau nggak. Soalnya si Dirga ini juga gak kelihatan pengen ngikutin jejak orang tuanya. Jadi dokter kek, relawan kek."

Oh, mendengar cerita tentang Dirga, Adira masih bersyukur kerana dia masih punya ayah. Walaupun ibunya udah terlebih dahulu meninggal, setidaknya ia masih punya ayah sebagai tempat berlindung.

Walaupun, ayahnya sekarang sudah tidak bisa jalan setelah kehilangan dua kaki akibat kemalangan di Puncak dulu. Waktu ayahnya masih jadi supir trak.

Tetap saja, itu satu anugerah yang harus Adira syukuri. Dia tidak sendirian membesarkan adik-adiknya.

"Now, our main character, Jayden Adrian Wiraguna. Kalau lo gak tau siapa dia, Dira. Gue pasti elo ini sebenarnya mata-mata dari negara asing. Gak mungkin lo gak kenal sama anak pemilik NewTech. Penaung terbesar sekolah kita ini."

Lamunan Adira bunyar saat Rena kembali bersuara. And guess what, this time, dia tertarik untuk tahu dengan orangnya.

Bukan kerana apa, tapi Adira juga panasaran dengan pewaris NewTech yang udah berbaik hati memberikan dirinya biasiswa untuk masuk ke sekolah berprestij seperti D'Vision ini.

Matanya memandang ke arah pria dengan lesung pipi yang kebetulan duduk menghadap ke arahnya. Langsung tiada senyuman tapi sepasang bibirnya yang bergerak-gerak samar itu masih bisa membuat lesung pipinya kentara.

"Di sekolah ini, dia orang yang lo nggak seharusnya berurusan. Paling bahaya ini mah kalau lo sampai terlibat sama dia. Gue jamin hidup lo dan hidup keluarga lo nggak bakalan selamat. Kerana apa? Kerana dia anak pemilik sekolah. Nama lo bisa aja tinggal nama di sekolah ini."

Entah apa yang ada di fikiran Adira. Dia sama sekali tidak menggubris kata-kata Rena kerana dirinya sedang hanyut bertatapan dengan sepasang mata yang kebetulan sedang memandangnya.

Sepasang mata milik, Jayden!

"Dira. Ini gue mau pesan. Sekalian, lo mau apa. Gue beliin."

Tepukan Mella di bahu Dira sama sekali tidak diendahkan kerana gadis itu sedang sibuk bertatapan dengan Jayden.

Entah kenapa, seakan-akan ada sesuatu yang membuatnya tetap lancang memandang ke arah pria itu. Mungkin kerana dimple yang ada pada pipi cowok itu. Mungkin?

"Woi! Dira!"

"H-hah?"

Hinggalah akhirnya satu tepukan kuat pada bahunya membuat Dira memutuskan acara adu pandangnya dengan Jayden. "Lo bilang apa tadi?"

"Nah, elo mah bengong kan nggak sadar kan." Renna berdecak kesal. Mengulang kembali pertanyaannya.

"Beliin gue spagetti aja deh kalau gitu." Putus Adira kemudian dan saat ia kembali memandang ke hadapan, Jayden sudah tidak ada di tempatnya.

Ah, bodoh banget Dir. Ngapain coba tadi? Ingat kata Renna. Jangan berurusan dengan mereka lagi-lagi Jayden. Rutuk Adira di dalam hati mengenang betapa ia dengan lancang beradu pandang dengan Jayden tadi.

Tapi, tatapannya itu. Arghh! Gak bisa move on gue kayak gini!

Dira terus-terusan hanyut dalam fikirannya sendiri sebelum satu suara kuat mengganggu atensinya. Begitu juga dengan seisi pengunjung kantin lainnya.

Automatis, Dira menoleh ke sisi, hanya untuk mendapati Mella yang sudah terduduk di atas lantai kantin. Tepat di hadapan gadis itu, ada seorang lelaki yang berdiri menjulang.

Jayden!

????????

"Are you blind?! Gak liat ya gue di sini?!" Jayden berteriak kesal, memandang nyalang terhadap seorang gadis baru yang sedang terduduk dengan wajah pucat pasi. "Emang lo punya uang buat ganti baju gue yang udah lo kotorin ini?! Hah?!!"

Amarahnya tidak lagi mampu terbendung dan terlepas begitu saja tanpa peduli dengan status dirinya yang harus sentiasa menjaga kelakuannya di sekolah.

"Ma-maaf, Jay. Aku gak sengaja. Maaf banget." Mella tertatih-tatih berdiri. Mengabaikan lututnya yang luka kerana terjatuh ke lantai tadi.

Dia tanpa sengaja melanggar Jayden yang kebetulan berada di belakangnya tadi. Akibatnya satu pinggan spagetti yang ada di tangannya terjatuh dan tumpah di seragam sekolah Jayden. Tepat di bahagian dada.

Habis sudah seragam mahal cowok itu dikotori noda berwarna kuning.

"Maaf lo gak bakalan cukup anjing!" Marahnya lagi dengan umpatan kasarnya.

"Kalau gitu, a-aku ganti baju kamu. Kamu bisa kasih nombor kamu ke aku. Biar aku transfer nanti." Pinta Mella masih dengan suara gemetaran kerana takut dengan wajah Jayden yang sudah berubah merah.

Perkataan cewek itu tentu saja mengundang cibiran dari anak-anak yang lain.

Tiada satu pun dari mereka yang berniat membantu kerana jika itu sudah melibatkan Jayden, tiada siapa yang akan mahu mengambil resiko. Mengingat betapa gilanya seorang Jayden Adrian.

Pendek kata, berurusan dengan Jayden, artinya kalian menempah maut.

"You must be crazy right?!" Jayden berkerut samar. Tidak percaya dengan apa yang keluar dari bibir gadis di depannya ini.

Tanpa aba-aba, Mella kembali berlutut. Gentar dengan suara Jayden yang membentaknya.

"Atau lo sebenarnya cuman modus biar bisa godain gue." Satu tuduhan ia lemparkan kemudian ia berdecih. "Asal lo tau ya, trik kayak gini tuh udah basi di mata gue! Gue gak bakalan sudi dideketin sama cewek murahan kayak lo!"

"Heyy!!"

Tiba-tiba, satu suara menyampuk dari belakang. Seorang gadis berjalan laju dengan riak wajah yang tidak santai.

"Mel, lo gak papa?!"

Gadis itu, Adira Mikayla, ikut bertinggung di hadapan Mella. Memeriksa keadaan temannya yang dia yakin sedang terluka.

"Ayo, Mel lo berdiri!" Seakan-akan tidak peduli dengan kehadiran Jayden, Dira membantu memegang lengan Mella memaksanya berdiri biarpun gadis itu berkali-kali melarangnya.

"Kita obatin luka di kaki lo." Sesaat ia menatap ke arah Jayden tajam dan kembali bersuara, "Gak usah ladenin cowok sinting kayak dia ini."

"What?!! Lo bilang gue sinting?!!"

Mereka yang berada di sana terperangah dengan jawapan berani mati yang dilemparkan oleh anak baru seperti Adira.

Bagaimana bisa? Seorang anak penerima biasiswa seperti Adira membentak putra tunggal Neo.Worlds?

Dan dengan selambanya, mereka berlalu dari sana, mengabaikan Jayden yang masih kedengaran marah.

"Heh! Lo mau ke mana?! Sini lo!"

Langkah yang diambil Adira dan Mella terhenti kerana Jayden yang kembali berteriak. Adira mahu tak mahu berhenti dan dengan nafas tertahan, ia melepaskan lengan Mella dan berpaling. Masih dengan wajah angkuhnya.

Kakinya kembali mendekat sehingga keduanya hanya berjarak tiga langkah. "Lo mau apa?"

What? Rsanya anak-anak D'Vision sudah hampir pengsan mendengar pertanyaan bodoh Adira yang jelas-jelas menantang Jayden. Dan tentu saja tidak akan dibiarkan oleh Jayden.

"Heh, anak miskin. Kalian tuh udah ngelakuin kesalahan sama gue! Sadar nggak?"

"Oh ya? Emang salah kita apa ya? Setahu aku, nggak ada tuh. Lo aja yang perasan."

"Ini!" Telunjuk Jayden terarah pada seragamnya yang kotor. "Baju gue jadi kotor gara-gara teman lo itu!"

"Ya udah. Kan teman gue juga udah minta maaf kan? Jadi segalanya selesai!" Jawab Adira lagi tanpa rasa gentar.

Ayolah. Memang sih dia anak baru di sekolah ini. Tapi sejak dulu, di sekolah lamanya, Dira sangat membenci yang namanya perundungan. Dia tidak akan pernah membiarkan itu terjadi di hadapan matanya.

Dia tetap Adira Mikayla, si penegak keadilan.

"Lagian, lo aja sih yang lebay. Kan bisa aja baju lo dicuci. Gak akan susah kok." Sindirnya kerana merasa tindakan Jayden yang marah-marah hanya kerana pakaian kotor itu sangat konyol.

"Kata orang kaya. Kok baju kayak gitu aja masih hitungan. Gak akan mengurangi harta lo juga kali!"

Mata Jayden membulat sempurna dengan sindiran pedas anak baru di hadapannya ini. Seakan-akan tidak takut dengan statusnya yang bisa saja menghancurkan nama seseorang.

Tapi dari cara Adira berbicara sekarang, seolah-olah dirinya terlalu mementingkan seragamnya ini.

Kerana tidak terima maruahnya diinjak begitu saja, Jayden mengeluarkan ponselnya. Benda pipih itu dilekapkan ke telinganya saat panggilannya tersambung.

"Hello, Bas." Matanya melirik seketika ke arah gadis di depannya. Terbit senyuman sinis dari bibirnya. "Sebulan ini, bilang ke pemilik kantinnya, gue yang bakal bayarin makan di sini. Gratis!"

Mereka yang berada di kantin sontak bersorak senang kerana mendengar kata-kata Jayden.

"Mulai hari ini, kalian bisa makan free di sini. Gue yang bayar. Makan sepuasnya berapa kali pun yang kalian suka!" Umumnya lagi membuat keramaian semakin heboh.

Kemudian, sepasang matanya memandang ke arah Adira yang ikut melongo melihat Jayden mengumbar kekayaan dengan santai. Seolah-olah yang dikatakannya tadi tidak ada apa-apanya.

Padahal harga makanan di kantin ini mahal-mahal loh. Diulangi, sangat mahal.

Tapi, ia semakin melongo dengan apa yang seterusnya dilakukan cowok itu. Dengan selamba, Jayden membuka kancing seragamnya dan melepas pakaian putih itu dari tubuhnya.

Hanya menyisakan singlet putih yang menutupi tubuh kekarnya.

Dugg!!

Pakaian itu dilontar ke wajah Adira kuat. "Gue bahkan bisa beli satu kantin ini. Kalau sekedar seragam kayak gini, ckk..." Jayden berdecih sarkas. "...gue bisa beli sama pabriknya!"

Dira mengambil seragam putih yang melekat di wajahnya. Tangannya membelek label brand yang ada di bahagian kerah.

Prada?! Wah, ini brand fashion mahal.

"Oh iya sebelum gue lupa, sebagai balasan untuk cewek kurang ajar kayak lo. Lo yang akan ganti pakaian gue sebagai ganti teman lo itu!"

Selesai mengatakan itu, Jayden berlalu meninggalkan kantin begitu saja. Meninggalkan Dira yang sudah menjadi mangsa cibiran dari orang-orang yang ada di kantin kerana tindakan gilanya.

Theo, Alfa, Dirga dan Dee, yang kebetulan berada di sana hanya menatap apa yang terjadi dari jauh.

"Guys, nih gue bilangin." Theo menggamit mereka untuk mendekat padanya. "That's girl is special. And things will get really interesting after this!" Ucapnya yang langsung mendapat toyoran dari Alfa.

"Kok malah gue yang ditoyor sih? Kan gue bilang yang benar! Tuh cewek pasti gak bakalan mudah hilang dari fikiran si Jayden. Percaya deh!"

Theo mengelak apabila kali ini, Dirga juga hampir bergerak ingin menoyor kepalanya juga.

"Kalian kenapa sih? Kan gue bilang yang seben-"

Srettt

Suara kerusi yang ditolak kasar ke belakang menghentikan Theo yang ingin sambung berbicara. Matanya terpahat pada belakang tubuh Dee yang sudah bangun dan bergerak menyusul langkah Jayden.

Melihat itu, Theo automatis menekup mulutnya. Ia mengerti sekarang apa maksud dari Alfa dan Dirga. "Mulut lo gak bisa dijaga ya? Think before you talk, bangsat!!" Marah Alfa sembari bangun dari duduknya. Ia akan menyusul Dee.

Tinggal Dirga dan Theo yang masih ada di meja itu. Dan tidak bisa dipungkiri, Dirga sedang memandang kesal pada Theo yang mulutnya emang kadang-kadang suka lemes.

Tanpa bersuara, ia juga ikut berlalu dari sana. Sudah tidak mood.

"Loh?! Ini gue ditinggal ini?! Dirga!! Alfa!!" Panggilnya melihat kesemua rekan satu gengnya yang sudah bertebaran ke mana-mana. Ia ingin ikut melangkah pergi tapi kedatangan pelayan yang membawa bakso pesanannya membuatnya urung.
"Yah bodoh amat dah! Yang penting gue makan!"

Seperti tidak terjadi apa-apa, Theo malah menyantap bakso miliknya. Tidak hairan jika dirinya sering disebut seperti orang kebuluran padahal orang tuanya pengusaha bisnes makanan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience