|Temenin aku jalan yuk.
12:02
Seen
Jayden
|Gak bisa
|Ada latihan basket sore ini
12:15
Dee menghela nafas saat pesanan Jayden ia terima. Cowok itu tidak bisa menemaninya hari ini.
Hari ini, Dee masih bercuti tapi dia sudah bosan berada di rumah. Dia ingin menonton bersama Jayden tapi cowok itu berhalangan.
Selalunya, jika tiada Jayden, dia akan menelefon Alfa. Tapi sekarang cowok itu sudah pergi meninggalkannya tanpa pamit.
At the end, everyone will go, Dee.
Yah, lagi-lagi, Dee harus menelan kenyataan itu. Kalau gak semua akan kekal hingga ke akhir. Lambat-laun, dia akan sendirian juga. Ini hanya masalah waktu, kan?
Ah, Dee jadi stres lagi. Dan itu sama sekali tidak baik untuk kesehatannya.
Akhirnya, Dee kembali mengambil ponselnya. Mencari-cari di daftar contact nya. Melihat siapa-siapa saja yang bisa ia ajak hang-out.
Tapi jujur saja, hampir 90 peratus isi contactnya adalah anak-anak teman bisnes mamanya. Dee memang tidak menyimpan banyak nombor orang lain.
Kecuali Kay, untuk menanyakan keadaan di ruang siaran.
Jayden, ya sudah tentu cowok itu harus ada. Theo, Dirga dan Alfa. Ingin menelefon Theo, cowok itu juga pasti sedang latihan bareng Jayden.
Kalau Dirga, ah mereka tidak terlalu dekat sampai Dee berani mengajak cowok itu untuk menemaninya.
Untuk teman cewek sendiri, jujur saja, di D'Vision, Dee tidak punya teman perempuan yang bisa ia gelar sahabat. Dia memang lebih senang sendirian atau jalan bareng The Heroez.
Jika di kelas, ada Angel. Anak perdana menteri yang sering menemaninya tapi cewek itu juga tidak bebas untuk pergi ke sana ke sini.
Soalnya dia dijaga ketat. Makanya selain di kelas, Angel juga tidak bisa bebas untuk berbaur bersama Dee.
Aneh-aneh emang kelakuan anak-anak di D'Vision. Tapi bagi Dee, itu wajar.
Akhirnya, kerana tidak tahu lagi mahu mengajak siapa, Dee hanya menelefon Indera untuk menunggunya di carport. Dee berniat untuk mengunjungi Panti Asuhan Yang Kasih. Kebetulan ia sudah lama tidak ke sana.
Mungkin bisa sedikit menenangkan fikiran.
Tanpa berfikir panjang, Dee segera mandi dan berganti pakaian. Ia mengenakan blouse kuning selutut dengan tali di pinggang. Dipadankan dengan celana jeans yang mencapai ke buku lali. Rambutnya diikat ekor kuda.
"Mau ke mana Dee?" Langkah Dee yang sudah ingin sampai ke pintu rumahnya terhenti saat mendengar teguran mamanya dari arah dapur.
Sepasang kakinya mengubah tujuan ke dapur.
"Eh, mama di rumah? Kok Dee gak tau?" Tanyanya sebaik saja melihat mamanya yang sedang berdiri di dapur dengan mengenakan apron.
Tangan wanita itu sedang memegang balang dan mixer. Juga ada beberapa pek tepung, serbuk coklat dan bahan membuat kek lainnya.
"Iya. Mama sengaja gak ke kantor dua hari ini pengen temenin kamu. Nih, liat." Sophia menunjukkan balang yang ada di tangannya.
"Mama mau bikin kek coklat buat kamu. Suka kan?"
Jujur saja, Dee masih terkejut dengan kehadiran mamanya di rumah pada hari Senin begini. Selalunya mamanya itu akan berada di kantor.
"Oh iya, kamu cantik-cantik begini emangnya mau ke mana? Jalan ya? Sama Jayden?"
"Oh, enggak kok ma." Cewek itu mula berdiri di sebelah Sophia, mengintip ke dalam balang untuk melihat adunan mamanya yang berwarna coklat kental.
"Aku mau ke panti. Kirain mama gak ada di rumah tadi. Kalau aku tau, aku pasti bantuin mama bikin kek. Udah lama juga kan kita nggak spent time bareng."
Sophia tersenyum hangat melihat putrinya yang kelihatan antusias ingin meluangkan masa bersamanya. Sudah lama ia tidak merasakan suasana hangat begini.
Rasanya bahkan lebih bahagia daripada saat dirinya mendapatkan projek luar negeri yang berjuta-juta itu.
"Ya nggak papa. Kamu pergi aja sana. Nanti-nanti juga kita bisa jalan bareng kan?" Suruh Sophia. Ia sama sekali tidak mahu mengongkong pergerakan anaknya.
Dee berfikir seketika. Sebenarnya ia mahu meluangkan masa bersama mamanya tapi dia juga sudah menelefon Bunda Fati kalau dia akan berkunjung ke sana pagi ini.
"Gini deh. Hari ini, Dee ke panti dulu. Terus besok, seharian Dee spent time sama mama. Gimana?"
"Boleh juga tuh." Sophia dengan mudahnya bersetuju. "Untuk besok, mama bakal ikut ke mana aja yang Dee suka. Mau nonton, mau belanja, mau jalan-jalan, mama ikut aja. Terus, malamnya kita makan di luar aja."
Sepertinya hari ini, Dee benar-benar mendapatkan jackpot setelah mendengar kata-kata mamanya. Tidak biasanya mamanya yang selalu sibuk mempunyai masa luang seperti ini.
"Okay. Kalau gitu, Dee pergi dulu ya ma. Bye ma. I love you." Dee kemudian berpamitan.
Ia mengecup pelan pipi Sophia yang mana lagi-lagi membuat wanita itu tersenyum senang.
Ternyata, sebahagia ini rasanya mendapat perlakuan hangat dari putrinya sendiri. Kenapa ia baru menyedarinya saat semuanya sudah seperti ini.
????????
Dee berjalan-jalan menuju ke rak-rak yang ada di supermarket. Indera dengan patuh mengikut di belakang sembari menyorong troli yang di dalamnya sudah terisi dengan pelbagai jenis makanan ringan.
Ketika ini, kedua orang itu singgah sebentar di supermarket untuk membeli oleh-oleh untuk anak-anak di panti.
"Non Dee. Sepertinya, saya harus ke toilet sebentar. Bisa kan?" Indera yang sedari tadi sudah kebelet pipis meminta kebenaran dari Dee untuk ke toilet.
"Ya udah, pergi aja. Tapi jangan lama ya."
"Baik, non."
Setelah kepergian Indera, Dee mengambil alih menyorong troli. Omong-omong, Indera merupakan pengawal peribadi Alfa yang sengaja diberikan kepada Dee.
Dulu, Indera selalu mengiringi Alfa ke mana-mana sebelum Alfa bertindak memindahkan Indera untuk menjadi pengawal Dee.
Bahkan setelah Alfa pindah pun, Indera tetap kekal di sini untuk mengawasi cowok itu.
Orangnya tinggi. Berusia pertengahan 30-an dan merupakan salah satu kepercayaan Alfa. Indera juga dilengkapi dengan kemampuan bela diri dan bersenjata kerana pernah bekerja di agensi perisikan.
Sedar tidak sedar, hampir lima menit Dee memutari kawasan supermarket dan troli yang disorongnya juga sudah mula penuh.
Sepertinya sudah cukup dan Dee berniat untuk membayar ke kasir terlebih dahulu.
Sehingga matanya secara tidak sengaja melihat dua sosok yang familiar selang 5 rak dari tempatnya berdiri.
"Dirga? Loh itu bukannya Theo? Kok dianya di sini? Bukannya harusnya ada latihan basket ya?" Kerana terlanjur panasaran, kakinya terseret untuk mendekati dua orang itu.
"Dirga?"
Yang dipanggil terus berpaling sebaik saja namanya diseru seseorang. Riak wajahnya juga ikut terkejut melihat Dee yang berada di sini.
"Dee?"
"Lah, beneran lo." Kemudian Dee mengintip ke belakang Dirga dengan tatapan tercari-cari membuat cowok itu juga ikut menoleh ke belakang. "Cari apa Dee?"
"Tadi gue kayak nampak Theo. Terus mau nanyain kenapa dia di sini. Bukannya dia sama Jayden ada latihan basket ya?"
"Latihan basket?" Bingung Dirga padahal tadi ia melihat sendiri dengan matanya mobil Jayden meninggalkan perkarangan sekolah sebelum mereka.
Dee mengeluarkan ponselnya, menunjukkan chat nya dengan Jayden tadi yang langsung membuat Dirga melotot.
Kenapa Jayden bohong? Tim basket mereka padahal sedang direhatkan dari latihan minggu ini kata Theo. Dan pertanyaan yang lebih menarik lagi, ke mana cowok itu pergi.
"Dirga?" Dee melambaikan tangannya di hadapan wajah Dirga beberapa kali.
"Oh. Ah, iya. Emang ada kok latihannya. Iya ada tadi Theo bilang." Kata cowok itu tiba-tiba terdengar sangat gugup.
"Gue juga sendiri kok di sini. Beli keperluan untuk stok dapur, Dee. Gue kan tinggal sendiri." Sambung Dirga.
"Masa sih?" Dee tidak percaya lalu ia berjalan ke belakang rak tempat dia Theo berjalan dan mengintip di sana.
Ketika itulah, Theo datang dari arah yang sama tempat Dee datang tadi.
Cepat-cepat Dirga menyuruh cowok itu untuk bersembunyi. Theo yang pada mulanya kebingungan hanya mengangkat bahu dengan langkah yang masih maju mendekati Dirga.
Cowok itu juga bisa melihat kehadiran Dee di sana. Dan ia berniat untuk menyapa.
Kerana tak urung difahami, cepat-cepat Dirga menghantar pesanan kepada Theo.
|Sembunyi bangsat
1:30
Seen
Theo
|Salah apa lagi gue njing
1:30
|Jayden berulah lagi
|Dia bilang ada latihan basket
|Sembunyi aja bacot
1:31
Seen
Usai memahami pesan keramat Dirga, Theo buru-buru bersembunyi di sebalik rak pembalut yang kebetulan berada paling dekat dengan posisinya.
Tanpa bertanya lebih lanjut pun, Theo tahu kalau Dee pasti akan menyiasatnya tentang Jayden kalau mereka sampai ketemu. Apatah lagi kalau Dee tahu mereka tidak ada latihan basket.
Jika sudah ditanya, Theo tidak akan pernah berani berbohong kepada Dee.
Jayden sialan. Selalu saja seperti ini. Jika cowok itu mula berulah, dia pasti akan membawa Theo terseret-seret sekali. Padahal cowok itu sendiri tahu, kalau Theo tidak akan pernah bisa berbohong dengan Dee.
Dan sekarang, Dirga juga sudah ikut terseret sama.
"Lah, emang gak ada Theo-nya. Gue salah lihat kali ya?"
"Iya Dee. Kayaknya lo salah lihat deh." Sambut Dirga menggaruk keningnya dengan tangan yang sudah berpeluh.
Dia harus membawa Dee keluar dari sini sebelum Theo ketahuan, makanya, Dirga melihat ke arah troli milik Dee yang barangnya jauh lebih banyak dari miliknya.
"Lo sendiri ngapain Dee? Banyak banget belanjaannya."
Soalan Dirga langsung membuat Dee mengalihkan perhatiannya."Oh, ini." Ia kembali memegang trolinya, "ini gue mau ke panti asuhan. Makanya beli-beli makanan dikit buat anak-anak."
Bibirnya tersenyum senang membayangkan bagaimana reaksi anak-anak itu saat dia datang bersama makanan ini.
Tiba-tiba ia teringat, "oh iya. Ini Indera ke mana ya? Lama banget ke toiletnya." Cewek itu menjengukkan kepala ke arah pintu masuk untuk melihat sosok pengawal peribadinya yang katanya tadi pergi ke toilet sebentar.
"Lo sama Indera?" Anggukan pelan dia dapatkan sebagai jawapan. Membuat Dirga tiba-tiba mempunyai akal untuk segera membawa Dee pergi dari sana.
"Ya udah, kalau gitu gue bantuin sama belanjaannya. Biar Indera nunggu di mobil aja." Suruh Dirga seraya mendorong trolinya dengan tangan kanan dan sebelahnya lagi mengambil alih troli milik Dee.
Akan sangat gawat kalau Indera datang ke sini. Pria dingin bermata tajam bak elang itu pasti bisa menemukan Theo sekaligus membongkar kebohongan mereka.
Cowok itu seperti Alfa dalam wujud yang lebih membunuh. Instingnya bekerja sangat kuat menangkap musuh. Mungkin kerana itulah Alfa sangat mempercayai Indera untuk menjaga dan melindungi Dee.
Dee yang merasa agak bingung dengan tindakan tiba-tiba Dirga tidak mampu membantah trolinya sudah dibawa menuju ke kasir.
"Ayo, Dee. Atau ada barang lain yang harus lo beli lagi?" Cowok itu berpaling sekejap, menggamit Dee untuk membuntutinya.
Akhirnya, walaupun sedikit bingung Dee membuka langkahnya dan mula mengikuti Dirga.
Tanpa banyak bicara, Dirga membantu Dee menyusun barang-barang beliannya di atas kaunter. Sementara cewek itu tidak mampu berkata apa-apa lagi selain membenarkan tindakan Dirga.
Dirga hampir ingin membayar semua belanjaan Dee namun kedahuluan dengan tangan cewek itu yang terlebih dahulu menghulurkan kad debitnya kepada kasir.
Jangan berharap akan ada acara adu bacot antara keduanya kerana itu sangat mustahil berlaku.
Dee tidak biasa dengan Dirga dan cowok itu juga bukan tipe-tipe yang suka memaksa atau menunjukkan sifat gentlemannya.
"Gue bantuin angkat ke mobil ya?" Tegur Dirga saat mereka sudah berada di luar supermarket.
Tawaran itu keluar begitu saja dari bibir Dirga saat melihat Dee yang celingak-celinguk mencari keberadaan Indera yang seperti ghaib ditelan bumi. Di tangan cewek itu, ada tiga kantong kresek yang penuh dengan makanan.
Sementara Dirga sendiri, memegang satu kresek yang berisi barang-barang milik Theo yang terpaksa ia bayar demi tidak menimbulkan kecurigaan Dee.
"Lo suruh Indera nunggu di mobil aja." Saran Dirga lagi saat melihat Dee yang kelihatan sangat keberatan.
"Haih, ya udah deh." Putus cewek itu kemudian mula melangkah dengan langkah payah kerana memegang tiga kantong kresek di tangannya.
Jujur saja ini berat tapi Dee gengsi untuk meminta bantuan Dirga. Sampailah akhirnya cowok itu sendiri berinisiatif menarik satu kresek yang menurutnya kelihatan paling berat.
Dee yang sama sekali tidak bersedia dengan pergerakan Dirga itu hampir terhuyung ke belakang. Wajahnya menoleh ke sisi, mendongakkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Dirga dari samping.
Tidak ada perkataan apa pun yang keluar dari bibir cowok itu namun dengan yakin dan pasti, kresek yang dipegang Dee berpindah tangan.
Ya, lagi dan lagi, keduanya diam tidak bersuara.
Hanya derap langkah kaki mereka yang kedengaran, hingga tanpa sadar, keduanya sudah berada di parkiran.
"Mobil lo di mana Ga?" Soal Dee yang sontak membuat sekeping jantung Dirga terasa ingin meledak lagi.
Ah, dirinya sangat bodoh. Bagaimana dia bisa lupa kalau tadi datang ke sini menaiki mobil Theo bersama cowok itu? Sedangkan pemiliknya sudah ia tinggalkan di supermarket di atas.
Dan lagi, tanpa sedar, Dirga membuat penawaran yang mengejutkan Dee.
"Kalau gue ikut lo ke panti asuhannya bisa nggak?"
????????
Jayden menyibukkan dirinya dengan sengaja fokus pada joystick PS5 di tangannya. Bermain segala jenis game yang ada sambil memakan cemilan yang sisanya bahkan sudah melimpah ke lantai.
Sesekali, cowok itu berteriak kesal sampai menghempaskan joystick nya saat ia gagal mencetak skor.
Tak urung, toples berisi kacang di atas meja juga terjatuh ke lantai hingga bunyi pecahannya mahu tak mahu menarik perhatian Dira yang sedang berada di dapur.
Cewek itu masuk ke ruang tamu, bercekak pinggang dengan apron terpasang di tubuhnya. Lalu....
"YA AMPUN!! LO NGAPAIN LAGI SIH?!!"
Teriakan Dira menggelegar di ruang tamu Jayden membuat cowok itu refleks menutup telinga dengan kedua belah telapak tangannya.
Setelah teriakan panjang itu berakhir, Dira langsung berjalan terhentak-hentak mendekati Jayden yang hanya berselonjor santai di sofa.
"Lo ini sebenarnya kenapa sih, hah?!" Ketus cewek itu frustasi, melihat pada kepingan kaca dan kacang yang bertaburan di lantai.
"Gue capek tau nggak? Gue mau cepat-cepat pulang!"
"Ya udah. Kerjain tugas lo terus pulang. Gak susah kan?"
Dira memijit pangkal hidungnya. Bagaimana ia bisa cepat pulang kalau Jayden seperti ini.
Sejak tadi saja, sudah berapa kali Dira mundar-mandir di dalam apartment ini. Membersihkan segala kekotoran dan kekacauan yang berlaku.
Dari piring dan cawan yang tidak bercuci, bantal sofa berselerakan, oh tidak lupa mereka juga berbelanja barang dapur. Jayden yang memaksanya melakukan ini semua sebagai bentuk perjanjian mereka yang berlaku tanpa sengaja saat di kolam renang.
Seketika, Dira jadi menyesal kerana telah membuat perjanjian begitu dengan Jayden.
Pada akhirnya, ia juga yang menderita dijadikan babu cowok itu seperti sekarang.
"Ish, nyebelin banget sih jadi orang!" Dira mengutuk Jayden dalam diam. Tanpa banyak bicara, ia tunduk dan mula membersihkan bekas pecahan kaca.
Mulutnya tidak henti-henti mendumel kesal dengan Jayden yang masih enakan berselonjor di sofa. Sekarang ia sedang menonton televisyen. Membiarkan dirinya sendirian melakukan semuanya.
Kerjaan cowok itu dari tadi tidak lebih dari hanya menambah kekacauan.
"Awww!"
Kerana terlalu sibuk mendumel kepada cowok itu, Dira tanpa sengaja melukai tangannya dengan kaca hingga titisan darahnya menitis di karpet.
Cepat-cepat, cewek itu bangun dan menuju ke wastafel untuk membasuh tangannya yang berdarah.
Jayden yang melihat kejadian itu refleks bangun dari tempatnya dan membuntuti langkah Dira ke dapur. Matanya membulat saat melihat luka sayat yang agak dalam pada telunjuk Dira.
"Aww! Lo ngapain sih?!"
Tindakan Jayden yang menarik tangannya tanpa amaran membuat Dira memekik. Ia memberontak mencuba melepaskan pergelangan tangannya namun ditahan Jayden.
"Shut up!" Perintah Jayden mutlak sebelum menarik gadis itu ke meja dapur, mendudukkannya pada kerusi sebelum cowok itu berlalu ke dalam.
"Si sinting itu kenapa lagi sih?"
Beberapa menit kemudian, Jayden kembali dengan kotak p3k di tangan.
"Diam!" Perintah cowok itu lagi saat Dira ingin mengambil kotak p3k yang dibawanya.
Tanpa banyak bicara, Jayden membuka kotak p3k nya dan mengeluarkan antiseptik, kapas serta plaster dari dalam sana. Kemudian, cowok itu menarik jari telunjuk Dira yang sudah berhenti mengeluarkan darah.
Bisa Jayden lihat luka sayat yang memanjang di jari cewek itu.
Hal yang dilakukan Jayden seterusnya semakin membuat Dira terperangah. Jayden mengubati luka di tangannya. Membersihkan dengan antiseptik yang dititiskan pada kapas. Kemudian, menampalkan plaster.
Sepanjang momen yang mendebarkan itu, yang mampu Dira lakukan hanyalah diam di tempat, memerhatikan puncak kepala cowok itu yang sedang tunduk memegang telunjuknya. Kedudukan Jayden yang sangat dekat dengannya membuatnya bisa menghirup aroma perfume cowok itu.
Satu kata yang bisa Dira katakan saat ini, jantungnya tidak aman.
Seakan ada getaran listrik yang mengenai kulitnya saat bersentuhan dengan jemari kasar Jayden.
"Gih sana lo pulang aja."
Jayden mengemas peralatan p3k yang sudah digunakannya dan menyuruh cewek itu pulang. Rasanya, sudah cukup ia membuli Dira hari ini.
"Ermm..." Dira duduk tanpa bergeming. Duduknya tidak selesa kerana Jayden sudah membantunya. Muncul rasa bersalah pada hatinya saat mengatai cowok itu sinting dan tidak waras.
Padahal...Jayden sebenarnya baik.
"Jayden..."
"Apa lagi?" Jawabnya dingin.
"Mau makan apa? Gue masakin."
Jayden menoleh, menatap Dira lama tidak terbaca. Tatapannya membuat Dira gelisah sendiri. Seolah-olah cowok itu sedang menghakimi pertanyaannya.
"Ya...sebagai tanda terima kasih. Mungkin?"
Dan akhirnya, Jayden menggedikkan bahu sebagai tanda terserah. Ia mula melangkah kembali ke ruang tamu sambil memegang kotak p3k. Tapi, langkahnya terhenti saat teringat sesuatu saat melihat scrutchie berwarna merah jambu di atas rak.
Tangannya mengambil benda pengikat rambut dengan inisial huruf D itu dan berjalan kembali ke arah Dira.
"Ikat rambut lo pakai ini. Rimas gue liatnya." Ucapnya dingin, meletakkan scrutchie itu di telapak tangan Dira dan berpaling kembali.
Meninggalkan cewek itu yang masih shock dengan perubahan sikap Jayden yang mendadak.
????????
Renna
|Dira, lo ke mana
|Katanya mau jalan bareng
2:34
|Sorry Ren
|Gue ada urusan sama Jayden
2:36
Seen
|Hah?
|Lo
|Nggak diapa-apain Jayden kan?
2:37
|Nggak kok
|Gue disuruh ngemas apartmennya
2:38
Seen
Share this novel