bab 4 Di atas tempat tidur, sosok wanita

Romance Series 27

Di atas tempat tidur, sosok wanita setengah baya itu berbaring tenang di balik selimut tebal bertotol biru. Wajahnya yang biasa terlihat tegang dan dipenuhi gurat kecemasan akibat tekanan masalah keluarga kini tampak lebih rileks dalam lelapnya. Suara napasnya teratur, menyatu dengan keheningan malam yang membungkus rumah sederhana itu. Maya mendekat tanpa suara, mendudukkan tubuhnya perlahan di tepi kasur busa yang terasa dingin.

Tangan Maya terulur, membetulkan letak selimut ibunya hingga mencapai dada agar terpaan angin malam Wonosobo tidak meresap masuk. Jemari halus Maya kemudian mengusap dahi ibunya yang mulai dipenuhi kerutan halus jejak-jejak beban hidup yang harus wanita tua itu tanggung seorang diri sejak kepergian almarhum ayahnya. Maya masih ingat betul bagaimana beberapa minggu terakhir ibunya selalu terbangun di tengah malam, menangis sesenggukan sembari memegang dada karena takut rumah dan sisa usaha mereka disita oleh Davin.

"Ibu tenang aja ya..." bisik Maya sangat pelan, hampir tak bersuara agar tidak membangunkan ibunya dari tidur nyenyak yang sangat langka ini. "Rian udah balik, Bu. Rian yang dulu... dia udah kembali jadi pria yang hebat. Kita enggak sendirian lagi hadapi ini semua."

Air mata haru menyelinap dari sudut mata Maya, menetes pelan mengenai punggung tangannya sendiri. Namun kali ini, itu bukan air mata keputusasaan atau ketakutan akan ancaman masa depan. Ia mengingat kembali bagaimana Rian berdiri pasang badan di halaman rumah tadi, menatap Davin tanpa rasa gentar sedikit pun. Bayangan Rian yang dahulu hanyalah seorang remaja 18 tahun yang rapuh dan terpaksa pergi kini telah tergantikan oleh sosok pria dewasa yang begitu tegar, matang, dan berani. Kehadiran Rian malam ini bagaikan lampu suar yang membelah badai pekat yang selama bertahun-tahun mengurung hidupnya.

Setelah memastikan kondisi ibunya benar-benar stabil dan lelap, Maya berdiri menyelimuti ibunya sekali lagi, lalu melangkah keluar kamar dan menutup pintunya tanpa menimbulkan suara. Ia menyusuri lorong menuju kamarnya sendiri di ujung rumah. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan selot kunci terpasang, Maya berjalan menuju meja belajar tua dari kayu jati yang terletak di sudut ruangan.

Tangan Maya terulur membuka laci paling bawah yang sudah bertahun-tahun jarang ia sentuh karena selalu menimbulkan rasa sakit di dadanya. Di balik tumpukan buku-buku catatan masa SMA yang berdebu, terdapat sebuah amplop cokelat lusuh yang mulai menguning di bagian sudut-sudutnya.

Itu adalah surat perpisahan singkat dari Rian tujuh tahun lalu.

Maya mengambil surat itu, meresapi tekstur kertasnya yang terasa kasar di bawah jemarinya. Ia membuka lipatan kertas tersebut dan membaca kembali tulisan tangan Rian yang amat ia kenal. Selama bertahun-tahun, setiap kata di lembaran kertas ini terasa seperti sembilu yang menusuk hatinya, menyisakan pertanyaan tanpa jawaban atas kepergian pria itu. Namun malam ini, saat membaca ulang kalimat demi kalimat di dalamnya, rasa kecewa dan dendam itu telah lenyap sepenuhnya. Yang tersisa hanyalah bukti ketulusan janji seorang pria yang tak pernah berhenti memperjuangkan jalannya untuk kembali.

Sebuah getaran halus dari ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur membuyarkan lamunan Maya. Ia meletakkan kembali surat itu di atas meja dan berjalan mengambil ponselnya. Sebuah pesan singkat dari nomor baru terpampang jelas di layar:

*Aku udah sampai di rumah sewaan. Kamu jangan lupa kunci semua jendela dan langsung istirahat ya, May. Besok pagi jam delapan aku jemput kamu sebelum kita berangkat bareng ke kantor Davin. Good night.*

Ulasan senyum manis yang sangat tulus akhirnya terbit di bibir Maya. Kehangatan merayap di seluruh dada dan tangannya saat menjangkau papan ketik di layar ponsel:

Makasih ya, Yan... buat keberanian kamu malam ini. Hati-hati di sana. Selamat malam juga.

Maya menempelkan ponsel itu di dadanya, meresapi desir hangat yang kian membuncah memusnahkan rasa dingin yang tersisa. Ia mematikan lampu kamar, menyibak sedikit tirai jendela untuk menatap langit malam Wonosobo. Di kejauhan, siluet hutan pinus berdiri tenang di bawah rembulan. Tempat perpisahan mereka dulu kini resmi berubah menjadi tempat lahirnya harapan baru. Maya memejamkan mata di atas kasurnya, siap menyambut esok hari bersama Rian di sisinya.

Malam berlalu dengan tenang, membawa serta seluruh ketakutan yang selama bertahun-tahun selalu menghantuinya setiap kali memikirkan masa depan. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, Maya tertidur pulas tanpa harus terbangun di tengah malam akibat mimpi buruk tentang ancaman eksekusi aset atau perjodohan paksa yang dirancang oleh Davin. Kehadiran Rian yang nyata semalam telah bekerja seperti penawar racun bagi jiwanya yang terancam.

Ketika tirai kamar mulai menyerap pendar fajar berwarna keemasan, Maya terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Suara kucuran air dan aroma harum teh melati hangat dari arah dapur menandakan bahwa sang ibu juga sudah bangun. Maya segera beranjak dari kasur, merapikan selimut, dan melangkah keluar kamar dengan senyuman yang sudah lama hilang dari wajahnya.

"Ibu... kok udah bangun jam segini?" sapa Maya lembut sambil mendekati ibunya yang sedang membelakangi meja makan.

Ibu berbalik, menatap Maya dengan raut wajah yang jauh lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya. "Maya... semalam Ibu dengar suara mobil di depan. Ibu sempat intip dari jendela sebentar sebelum tertidur lagi. Pria yang berdiri di sampingmu itu... benar-benar Rian, kan?"

Maya menahan napas sejenak, lalu mendekati ibunya dan menggenggam kedua tangan wanita tua itu. "Iya, Bu. Itu Rian. Dia udah kembali ke Wonosobo. Dan dia janji bakal bantu kita selesaikan semua masalah utang sama Davin."

Mata Ibu seketika berkaca-kaca. Ada helaan napas lega yang keluar dari bibirnya yang pucat. Rasa bersalah yang selama ini menggerogoti hati sang ibu karena merasa telah mengorbankan masa depan putrinya perlahan mulai terangkat. Maya memeluk ibunya erat-erat, menyalurkan kekuatan baru yang ia dapatkan dari Rian semalam.

Tepat pukul setengah delapan pagi, suara deru mesin mobil yang halus terdengar berhenti di seberang jalan depan rumah. Maya yang sudah mengenakan pakaian rapi—sebuah kemeja putih dipadu celana kain hitam khas pakaian formal kantor—segera menoleh ke arah jendela. Mobil sedan milik Rian sudah terparkir di sana. Tak lama kemudian, sosok Rian keluar dengan setelan jas rapi berwarna biru gelap, memancarkan aura profesionalisme dan ketegasan yang sangat kuat.

Rian melangkah masuk melewati teras rumah setelah mengetuk pintu pelan. Saat pintu dibuka oleh Maya, kedua mata mereka saling bertemu, menyalurkan rasa percaya diri yang tak terucapkan.

"Selamat pagi, May," sapa Rian dengan suara beratnya yang hangat. Ia kemudian menunduk sopan saat melihat ibu Maya berjalan mendekat dari arah ruang tamu. "Selamat pagi, Bu. Maaf Rian baru sempat sowan pagi ini."

Ibu menatap Rian dengan pandangan haru. Anak laki-laki yang dulu sering bermain di rumah mereka kini telah berdiri sebagai pria dewasa yang tangguh. "Rian... terima kasih ya, Nak. Terima kasih sudah mau kembali."

Rian tersenyum tulus, menggenggam tangan ibu Maya dengan penuh rasa hormat. "Ibu tidak perlu cemas lagi. Masalah dokumen dan utang keluarga yang dipegang Davin bakal Rian urus sampai tuntas hari ini. Ibu cukup istirahat di rumah dan doakan kami."

Setelah pamit dan memastikan kondisi ibu aman di rumah, Maya dan Rian berjalan menuju mobil. Langkah Maya kini terasa mantap. Tidak ada lagi keraguan atau rasa inferior yang biasanya menyelimuti dadanya setiap kali harus berhadapan dengan nama Davin. Di sampingnya, Rian berjalan dengan penuh keyakinan, menjadi benteng kokoh yang siap melindunginya dari segala badai.

Saat Rian melajukan mobil membelah jalanan kota Wonosobo yang mulai ramai oleh aktivitas pagi hari, suasana di dalam kabin terasa begitu fokus. Di jok belakang, terlihat sebuah tas dokumen kulit milik Rian yang berisi berkas-berkas legalitas penjaminan dan akuisisi aset.

"Kamu siap, May?" tanya Rian singkat seraya menoleh sekilas ke arah Maya saat berhenti di lampu merah.

Maya menatap lurus ke arah gedung perkantoran Davin yang mulai terlihat di ujung jalan. Ia mengangguk pelan namun tegas, mengulas senyum tipis yang penuh keberanian. "Aku siap, Yan. Ayo kita selesaikan semuanya hari ini."

Mobil sedan biru gelap milik Rian bergerak perlahan memasuki area parkir Gedung Graha Mahardika—gedung lima lantai milik perusahaan Davin yang berdiri megah di pusat kota Wonosobo. Bangunan berdinding kaca gelap itu tampak angkuh, persis seperti pemiliknya. Bagi Maya, tempat ini dulu selalu menjadi neraka kecil. Setiap kali ia melangkahkan kaki menembus pintu kaca otomatis gedung ini, dadanya selalu berdebar kencang oleh rasa cemas dan ketakutan akan intimidasi Davin.

Namun pagi ini, atmosfer di sekitarnya terasa jauh berbeda.

Begitu mesin mobil dimatikan, Rian berbalik ke jok belakang untuk mengambil tas dokumen kulit hitamnya. Ia mengeluarkan beberapa bundel kertas tebal dengan cap legalitas resmi, memastikannya sekali lagi sebelum memandang Maya.

"Tim pengacaraku, Pak Wisnu dan rekannya, sudah menunggu di dalam lobby," kata Rian dengan suara tenang yang memancarkan kendali penuh. "Kamu cukup berdiri di sampingku, May. Kalau Davin mulai pakai bahasa manipulasi atau menekan secara emosional, biar aku dan tim hukum yang bicara."

Maya menatap jemari Rian yang memegang erat tali tasnya. Keberanian yang terpancar dari mata pria itu seolah merembes masuk ke dalam dirinya. Maya mengangguk mantap. "Aku mengerti, Yan. Aku percaya penuh sama kamu."

Mereka berdua keluar dari mobil, melangkah bersisian memasuki pintu utama gedung. Di dalam lobby berlantai marmer yang dingin, dua pria berjas rapi dengan kacamata bingkai tipis langsung berdiri menyambut kedatangan mereka. Pak Wisnu, pengacara senior yang disewa Rian, memberikan anggukan hormat.

"Semua dokumen klausal jebakan dan opsi pelunasan tunai sudah siap, Pak Rian," lapor Pak Wisnu singkat namun tegas. "Secara hukum perdata, posisi kita sangat kuat untuk membatalkan klausal sepihak yang dibuat oleh pihak Pak Davin."

"Bagus. Kita naik sekarang," balas Rian.

Mereka berempat melangkah menuju lift, naik langsung menuju lantai empat tempat kantor pribadi Davin berada. Sepanjang perjalanan di dalam lift yang bergerak naik, Maya dapat merasakan bagaimana detak jantungnya berangsur stabil. Rasa takut yang biasanya melumpuhkan kini telah sepenuhnya tergantikan oleh tekad untuk memperjuangkan kebebasan keluarganya.

Begitu pintu lift terbuka, sekretaris Davin yang berada di meja depan tampak sudah bersiap. Wanita muda itu memandang rombongan Rian dengan raut wajah sedikit tegang, seolah sudah diperintahkan untuk mengantisipasi kedatangan mereka.

"Pak Davin sudah menunggu di ruang rapat utama, Pak Rian. Mari saya antarkan," ujar sang sekretaris sopan namun kaku.

Pintu ganda berbahan kayu jati tebal di ujung lorong dibuka. Ruang rapat besar bernuansa modern minimalis itu menyambut mereka. Di ujung meja rapat yang panjang, Davin sudah duduk membelakangi jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota Wonosobo di bawahnya. Pria itu mengenakan kemeja abu-abu gelap yang digulung hingga siku, memegang secangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul.

Saat mendengar langkah kaki rombongan Rian masuk, Davin memutar kursi roda mewahnya. Matanya yang tajam menatap Rian, Maya, serta dua pengacara di belakang mereka secara bergantian. Sunggingan senyum sinis yang biasa terukir di bibirnya kembali hadir, walau ada sedikit ketegangan yang tertahan di sudut matanya.

"Tepat waktu, seperti yang saya duga," suara Davin menggema dingin di dalam ruang rapat yang luas itu. Ia meletakkan cangkir kopinya ke atas piring kecil dengan denting halus. "Saya hargai niat baikmu yang membawa tim hukum, Rian. Tapi seperti yang saya katakan semalam, urusan utang piutang dan aset keluarga Maya tidak sesederhana yang kamu bayangkan."

Rian tidak membalas dengan senyuman atau gertakan emosional. Ia melangkah menuju meja rapat, menarik sebuah kursi di hadapan Davin, lalu mempersilakan Maya duduk di sampingnya sebelum ia sendiri menduduki kursi tersebut. Pak Wisnu dan rekannya langsung meletakkan bundel dokumen tebal di atas meja kayu yang mengilap.

"Kita di sini bukan untuk berdebat soal persepsi, Davin," sahut Rian penuh penekanan, menatap lurus ke dalam manik mata lawannya. "Kita di sini untuk menyelesaikan transaksi dan menghentikan seluruh bentuk intimidasi hukum yang kamu lakukan pada keluarga Maya."

Davin terkekeh sinis, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulitnya yang megah. "Intimidasi? Jangan gunakan kata-kata berlebihan, Rian. Saya hanya menagih hak saya atas investasi dan pinjaman yang dulu disepakati oleh almarhum ayah Maya. Kalau keluarga mereka tidak sanggup bayar, sah-sah saja saya mengambil alih aset penjaminnya."

Pak Wisnu, pengacara senior Rian, meletakkan bundel dokumen tebal tepat di tengah meja rapat dengan bunyi gemertak pelan yang tegas. "Maaf memotong, Pak Davin," potong Pak Wisnu dingin. "Setelah kami meninjau ulang seluruh perjanjian perdata nomor 404 yang Anda buat tiga tahun lalu bersama almarhum, ada setidaknya tiga klausul yang secara nyata melanggar Pasal 1320 dan Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata."

Raut wajah Davin sedikit berubah. Alis tebalnya bertautan rapat saat Pak Wisnu membuka halaman demi halaman berkas di atas meja.

"Pertama," lanjut Pak Wisnu tegas, "penetapan bunga berjalan sebesar lima belas persen per

ceritanya makin menarik

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience