Series
27
Sensasi dingin udara Wonosobo selalu punya cara tersendiri untuk merayap masuk ke balik pakaian, menusuk hingga ke sela-sela tulang tanpa peduli seberapa tebal jaket atau sweater yang dikenakan. Sore itu, kabut tipis mulai turun perlahan dari puncak perbukitan, menyelimuti deretan pohon pinus tinggi yang berdiri tegak bak raksasa penjaga malam. Sinar matahari yang tersisa di penghujung hari hanya berupa sepuhan warna jingga keemasan, menerobos samar di antara celah-celah dedaunan yang bergesek pelan dihantam angin.
Maya berdiri di sana, tepat di atas jalan setapak berbatu yang meliuk-liuk di tengah taman. Kedua tangannya yang dingin saling bertautan erat di dalam saku sweater rajut berwarna oranye bata pakaian favorit yang selalu ia kenakan setiap kali hatinya sedang merasa tidak tenang. Napasnya mengembun setiap kali ia membuang napas, meninggalkan jejak uap putih tipis yang dengan cepat menghilang disapu udara dingin yang membeku.
Di depannya, berdiri seorang pria.
Rian.
Nama itu... sebuah nama yang selama tujuh tahun terakhir hanya berani Maya bisikkan dalam doa-doa malamnya yang paling sunyi. Nama yang menjadi alasan utama mengapa dadanya kerap terasa sesak setiap kali gerimis turun di bulan November. Rian berdiri diam di sana, mengenakan kemeja luar berwarna hijau zaitun yang melapisi kaus putih polosnya. Pria itu tampak jauh lebih jangkung, matang, dan dewasa dibanding ingatan Maya tentangnya di masa-masa sekolah dulu. Bahunya lebih lebar, garis rahangnya lebih tegas, dan tatapan matanya menyimpan kedalaman emosi yang sulit diartikan.
"Kamu... beneran Rian?" suara Maya bergetar, begitu pelan hingga hampir tertelan oleh desir angin sore yang menggoyangkan dahan-dahan pinus di atas kepala mereka.
Rian tak langsung menjawab. Matanya yang teduh menatap Maya tanpa berkedip sedikit pun, seolah-olah jika ia memalingkan wajah walau hanya sekejap, sosok wanita di depannya ini akan menguap menjadi ilusi belaka. Rian melangkah maju. Satu langkah lambat, dua langkah penuh keyakinan, hingga jarak yang memisahkan mereka berdua terkikis habis tanpa sisa.
Tanpa mampu membendung perasaannya lagi, Maya memajukan tubuhnya dan melingkarkan kedua lengannya di leher Rian. Ia tidak peduli lagi pada rasa gengsi, tidak peduli pada tumpukan rasa kecewa yang bertahun-tahun ia simpan, dan tidak peduli pada ribuan pertanyaan yang memekakkan kepalanya. Yang ia tahu saat ini, tubuhnya membutuhkan kepastian bahwa pria yang ia peluk erat ini nyata bukan sekadar bayangan yang diciptakan oleh rasa rindu yang kelewat batas.
Rian tertegun sejenak, membeku dalam hitungan detik, sebelum akhirnya tangannya yang kokoh merengkuh pinggang Maya. Ia menarik tubuh wanita itu makin erat ke dalam dekapannya. Rian menyandarkan dagunya di atas bahu Maya, menghirup dalam-dalam aroma wangi samar sampo dan tanah basah yang selalu identik dengan Maya sejak dulu.
"Aku pulang, May," bisik Rian pelan. Suaranya terdengar parau dan berat di dekat telinga Maya. "Aku beneran pulang."
Maya memejamkan mata erat-erat, membiarkan sudut matanya meneteskan sedikit air mata hangat yang mengalir menyusuri pipinya. Kehangatan dada Rian merembes keluar melalui pakaian mereka, mengusir rasa dingin ekstrem yang sempat membekukan seluruh tubuh Maya. Di bawah naungan pohon pinus dan jalan setapak batu ini, waktu seakan-akan dipaksa berhenti berputar.
Dulu, di tempat yang sama persis seperti ini, mereka berdua pernah saling melepaskan genggaman tangan dengan derai air mata yang tak tertahankan. Dulu, jalan setapak ini menjadi saksi bisu sebuah perpisahan paling menyakitkan dalam hidup mereka. Namun sore ini, di bawah langit yang sama, jalan setapak itu pulalah yang mempertemukan mereka kembali.
Pikiran Maya melayang mundur ke masa tujuh tahun lalu. Masa di mana mereka berdua masih mengenakan seragam abu-abu, tertawa tanpa beban di bawah rindangnya pohon yang sama. Rian adalah tempatnya berteduh dari segala masalah remaja, seseorang yang selalu ada hanya untuk mendengarkan keluh kesahnya. Rian adalah pria yang mengajarinya bagaimana rasanya dicintai dengan tulus dan sederhana.
Namun, semua kenangan indah itu berganti menjadi mimpi buruk saat perpisahan itu terjadi. Rian pergi meninggalkan kota ini tanpa memberikan alasan yang jelas atau kesempatan bagi Maya untuk bicara. Yang Maya ingat hanyalah sebuah surat singkat yang ditinggalkan di atas meja belajarnya sebuah lembaran kertas lusuh berisi ucapan terima kasih, permintaan maaf yang tulus, serta janji samar bahwa Rian akan kembali jika waktunya sudah benar-benar tepat.
Saat itu, dunia Maya serasa hancur berkeping-keping. Rasa kecewa dan bingung mencabik-cabik hatinya. Berhari-hari ia mengurung diri di kamar, mempertanyakan di mana letak kesalahannya hingga Rian memilih untuk menghilang. Hari-hari setelahnya berjalan bagaikan episode panjang yang hampa. Maya belajar menyusun kembali sisa-sisa hatinya yang rusak, berpura-pura di hadapan semua orang bahwa ia telah sepenuhnya *move on*, dan sibuk menata karirnya sebagai wanita mandiri demi melupakan rasa sakit itu.
Ia menjejakkan kaki di berbagai tempat, bertemu dengan banyak orang baru, namun tidak ada satu pun tempat atau sosok yang mampu memberikan rasa hangat seperti yang pernah ia rasakan bersama Rian. Cinta pertamanya itu seperti jejak akar yang tertanam terlalu dalam; meski batangnya dipangkas, akarnya tetap mengikat hatinya di tempat yang sama.
"Kenapa baru sekarang, Yan?" Maya melepaskan pelukannya perlahan. Namun, kedua tangannya masih bertahan di dada bidang Rian, merasakan detak jantung pria itu yang berdegup kencang sama kencangnya dengan detak jantungnya sendiri.
Rian menatap wajah Maya yang berada tepat di depan dadanya. Ia memperhatikan setiap detail perubahan pada wajah wanita itu. Pipi yang dulu sedikit *chubby* kini terlihat lebih tirus, menekankan garis rahangnya yang tegas, namun mata bulat yang jernih itu masih sama persis seperti Maya yang selalu ia rindukan setiap kali malam datang menghampiri.
"Banyak hal yang harus aku beresin dulu, May. Hal-hal rumit yang kalau aku cerita dulu, cuma bakal bikin kamu ikut tersiksa," Rian meraih salah satu tangan Maya, menggenggam jemari wanita itu yang terasa dingin, lalu menyelipkannya ke dalam saku jaketnya sendiri untuk menyalurkan kehangatan. "Aku udah janji sama diri aku sendiri, aku nggak bakal berani nemuin kamu sebelum aku benar-benar bebas dari semua beban itu."
"Bebas dari apa, Rian?" tanya Maya lirih, dahinya berkerut penuh tanda tanya yang semakin menumpuk
Masalah keluarga, May. Sesuatu yang terikat sejak almarhum Ayah masih ada," Rian menghembuskan napas panjang, uap putih tebal keluar dari mulutnya saat memandang lurus ke celah-celah pohon pinus. "Dulu aku cuma remaja delapan belas tahun yang nggak punya kekuatan atau pilihan apa-apa. Saat keluarga besar maksa aku buat pergi dan nyelesaiin utang serta tanggung jawab yang ditinggalin Ayah di luar kota, aku tahu aku nggak boleh seret kamu ke dalam lumpur masalahku."
"Tapi kamu bisa bilang, Rian!" potong Maya, suaranya sedikit meninggi namun terdengar bergetar menahan tangis. Air mata yang tadi sempat tertahan kini menetes, membasahi pipinya yang kemerahan akibat terpaan angin dingin. "Kamu hilang gitu aja selama tujuh tahun! Kamu pikir gampang buat aku menjalani hari-hari tanpa kepastian? Tiap kali aku lewat hutan pinus ini, tiap kali hujan turun, aku selalu mikir... apa aku ada salah? Apa aku yang bikin kamu pergi?"
Rian memejamkan mata erat-erat, merasakan kepedihan yang nyata dan menusuk dari setiap kata yang diucapkan Maya. Ia merengkuh kedua pipi Maya dengan jemarinya yang hangat, menyapu air mata wanita itu menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut.
"Maafin aku... tolong maafin aku, May. Nggak ada satu detik pun dalam tujuh tahun itu aku nggak nyesel karena udah ninggalin kamu dengan cara konyol kayak gitu," suara Rian bergetar menahan emosi yang membuncah. "Tapi percaya sama aku, tiap hari yang aku lalui di luar sana cuma buat satu tujuan: buru-buru nyelesaiin semuanya biar aku bisa berdiri tegak di depan kamu lagi. Tanpa bayang-bayang utang masa lalu, tanpa beban, dan tanpa perlu takut membahayakan kamu."
Maya menatap dalam-dalam ke sepasang mata Rian, mencari celah kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan dan kejujuran yang sama persis seperti tujuh tahun lalu. Perasaan yang dulu sempat ia kira sudah mati dan terkubur di bawah tumpukan rasa kecewa, kini mendadak berkobar kembali. Cinta pertamanya tidak pernah benar-benar padam; rasa itu hanya tertidur, menunggu pemiliknya datang untuk menyalakannya kembali.
Namun, kehangatan yang baru saja tercipta di antara mereka tak bertahan lama.
Klek.
Suara derak ranting kayu yang terinjak keras dari arah semak-semak tak jauh dari jalan setapak membuat mereka berdua refleks menoleh. Langkah kaki yang teratur, berat, dan tegas terdengar makin dekat melangkahi susunan batu bata.
Dari balik bayangan pohon pinus yang kian gelap diselimuti remang malam, seorang pria muncul. Pria itu mengenakan setelan jas hitam mahal yang terpotong rapi sangat kontras dan terasa asing di tengah latar belakang alam terbuka hutan pinus. Wajahnya memiliki garis rahang yang keras, dengan sisiran rambut klimis dan tatapan mata yang dingin bagaikan es. Di bibirnya, terukir sebuah senyuman tipis yang sarat akan nada meremehkan.
Davin.
Jantung Maya seketika mencelos. Rasa hangat yang baru saja melingkupi dadanya mendadak lenyap tanpa sisa, berganti menjadi hawa dingin mencekam yang jauh lebih membekukan daripada angin sore Wonosobo. Jemari Maya yang berada di dalam saku Rian gemetar hebat.
"Sebuah pemandangan yang sangat menyentuh," suara Davin terdengar tenang dan halus, namun menyimpan intimidasi tajam yang menusuk telinga. Pria itu melangkah santai mendekat, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahannya. "Ternyata benar dugaanku. Kamu lari ke tempat ini cuma buat nemuin kenangan lama kamu, Maya?"
Rian merapatkan posisinya, secara refleks pasang badan dan menarik Maya ke belakang punggungnya. Mata Rian menajam, menatap Davin dengan garis permusuhan yang mendalam dan dingin.
"Mau apa kamu ke sini, Davin?" suara Rian terdengar dalam dan mengancam.
Davin terkekeh pelan sebuah tawa dingin tanpa rasa humor yang membuat bulu kuduk Maya meremang. "Mau apa? Pertanyaan yang sangat aneh dari seorang asing. Tentu saja aku datang buat jemput calon istriku," Davin mengalihkan pandangan tajamnya dari Rian, menembus langsung ke mata Maya yang bersembunyi di balik bahu Rian. "Ayo pulang, Maya. Ibumu sudah menunggu di rumah. Dan ingat, kelanjutan kerja sama bisnis serta nasib perusahaan keluargamu sangat tergantung pada sikapmu sore ini."
Maya meremas bagian belakang kemeja Rian erat-erat hingga kainnya kusut. Tembok kenyataan seolah runtuh menimpanya seketika, menghancurkan momen indahnya bersama Rian. Maya lupa bahwa hidupnya saat ini tidak lagi sepenuhnya milik dirinya sendiri. Ada benang rumit yang mengikatnya dengan Davin seorang pria berkuasa yang memanfaatkan kesulitan finansial keluarga Maya untuk memaksakan sebuah perjodohan.
"Dia nggak bakal kemana-mana sama kamu," tegas Rian, suaranya mantap tanpa ada keraguan sedikit pun.
Davin menyeringai sinis. Ia melangkah makin dekat hingga berhadapan langsung dengan Rian, hanya berjarak beberapa sentimeter. "Rian, Rian... kamu masih saja naif seperti tujuh tahun lalu. Kamu pikir setelah kamu menghilang begitu saja tanpa kejelasan, kamu bisa datang begitu saja dan mengambil apa yang sudah menjadi milik saya? Kamu nggak punya apa-apa buat melawan saya."
"Aku punya cinta yang nggak pernah padam buat Maya," jawab Rian pelan, namun setiap katanya sarat akan penekanan yang menantang. "Dan kali ini, aku nggak bakal lari lagi."
Davin terkekeh meremehkan, matanya berkilat penuh amarah yang terselubung. "Cinta? Di dunia nyata, cinta konyolmu itu nggak bisa melunasi utang ratusan juta keluarga Maya. Cinta juga nggak bisa nyelamatin usaha ibunya yang hampir bangkrut minggu depan. Kamu cuma pria dari masa lalu yang nggak punya masa depan di sini, Rian."
Maya merasakan cengkeraman tangannya di kemeja Rian makin kuat, dadanya terasa sesak. Kalimat Davin menghantam ilusi indahnya tanpa ampun. Ia sangat mencintai Rian, namun beban utang dan ancaman kebangkrutan yang menimpa ibunya terlalu nyata untuk diabaikan begitu saja.
Rian merespons ucapan Davin dengan tatapan tenang namun memancarkan kekuatan yang tak tergoyahkan. "Kita lihat saja nanti, Davin. Apapun permainan berengsek yang kamu mainkan, aku nggak bakal biarkan kamu memanfaatkan dan menyakiti Maya lagi."
Davin tidak menjawab lagi. Ia hanya menatap Maya dengan pandangan dingin selama beberapa detik sebuah sinyal peringatan bahaya yang tak terucap sebelum akhirnya berbalik arah dan melangkah pergi menembus remang kabut hutan pinus yang kian pekat.
Suara langkah sepatu Davin perlahan menghilang di kejauhan, menyisakan kesunyian yang mencekam di antara Rian dan Maya. Angin malam bertiup lebih kencang, menggoyangkan dahan-dahan pinus tinggi dan menghempaskan beberapa daun kering ke jalan setapak batu di bawah kaki mereka.
Maya menunduk dalam-dalam, matanya tak sanggup menatap wajah Rian. "Rian... kamu harusnya nggak usah balik," bisiknya lirih dengan suara yang pecah oleh isak tangis. "Keadaan sekarang udah terlalu rumit. Aku nggak mau kamu terseret ke dalam masalah keluargaku yang hancur ini."
Rian berbalik, memegang kedua bahu Maya dengan lembut namun
Makasih udah baca Bab 1! Gimana menurut kalian sama kemunculan Davin? Geregetan banget gak sih sama sikapnya? ? Kalau kalian di posisi Maya, kalian bakal milih jujur sama Rian atau milih ngalah demi keluarga? Yuk, tulis pendapat kalian di kolom komentar! Jangan lupa klik Love dan masukin ke Library kalian ya biar gak ketinggalan Bab 2!
Share this novel