Series
27
"Malam ini adalah malam terakhir kamu merasa takut sama pria itu," bisik Rian dengan tatapan yang mengunci pandangan Maya. "Aku nggak bakal biarkan dia mengintimidasi kamu atau Ibu lagi."
Maya menatap wajah Rian yang kini tampak sangat dewasa dan penuh keyakinan. Rasa cemas yang sempat menggebu-gebu di dalam dadanya perlahan terkikis, berganti dengan kehangatan yang amat menenangkan. Ia mengangguk pelan, meremas jemari Rian untuk terakhir kalinya sebelum melepaskan genggaman itu dan membuka pintu mobil.
Udara malam Wonosobo yang membeku langsung menyambut mereka begitu kedua kaki mereka menapak di atas aspal basah. Lampu sorot dari sedan mewah milik Davin tampak sangat menyilaukan, seolah-olah memang disengaja untuk menyambut kedatangan mereka dengan cara yang intimidatif.
Pintu mobil hitam itu terbuka. Davin keluar dengan gerakan lambat yang penuh perhitungan. Ia merapikan lengan jas hitamnya, lalu menyandarkan tubuh pada kap mobilnya sambil bersedekap dada. Sunggingan senyum sinis kembali terukir di wajahnya yang tampan namun dingin.
"Akhirnya pulang juga," ujar Davin dengan nada suara datar yang memancarkan dominasi. "Saya kira kamu lupa jalan pulang karena keasyikan bernostalgia dengan pria masa lalu ini, Maya."
Maya mengambil napas dalam-dalam, melangkah maju menyusuri halaman rumahnya sendiri. Kali ini, ia tidak menundukkan kepala seperti biasanya. Kehadiran Rian yang berjalan berdampingan di sisinya memberikan dorongan keberanian yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
"Ada perlu apa lagi kamu ke rumahku malam-malam begini, Davin?" tanya Maya, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar tenang walau dadanya masih berdebar kencang. "Ibu butuh istirahat. Tolong jangan bikin kegaduhan di sini."
Davin terkekeh meremehkan, matanya beralih menatap Rian dari atas sampai bawah dengan pandangan penuh penilaian yang tajam. "Kegaduhan? Saya cuma datang untuk memastikan calon istri saya sampai di rumah dengan selamat. Dan tampaknya... ada tamu tak diundang yang berniat mencampuri urusan keluarga kita."
Rian melangkah satu sentimeter lebih maju, berdiri pasang badan untuk melindungi Maya dari tatapan menusuk Davin. "Urusan keluarga? Setahuku, belum ada ikatan resmi apa pun antara kamu dan Maya, Davin. Jangan bertindak seolah-olah kamu sudah memiliki hidupnya."
Suasana di halaman rumah yang sepi itu seketika berubah tegang. Hanya terdengar suara gemerisik angin malam yang menggoyangkan dedaunan tanaman hias milik ibu Maya. Dua pria itu saling melempar tatapan dingin, memancarkan aura persaingan yang tak terelakkan.
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi selama tujuh tahun kamu menghilang, Rian," sahut Davin dingin, melangkah mendekat hingga berjarak hanya dua meter dari tempat Rian dan Maya berdiri. "Kamu tidak tahu berapa besar dana yang sudah saya kucurkan untuk menopang perusahaan almarhum ayah Maya. Kamu tidak tahu berapa banyak surat utang yang sekarang ada di atas meja kerja saya. Jadi, jangan bersikap seolah kamu seorang pahlawan di sini."
"Aku tahu persis permainanmu, Davin," potong Rian dengan suara berat yang sangat tenang, sama sekali tidak terpancing oleh emosi yang sengaja dipancing lawan. "Kamu memanfaatkan kesulitan finansial keluarga Maya untuk memaksakan kehendakmu. Kamu menggunakan manipulasi hukum dan bisnis untuk menyudutkan wanita yang tidak punya pilihan."
Davin menyeringai tipis, merasa berada di atas angin. "Lalu kenapa? Itu yang dinamakan dunia bisnis. Jika kamu memang pria sejati, lunasi semua utang itu malam ini juga. Kalau tidak bisa, sebaiknya kamu angkat kaki dari sini dan biarkan saya menyelesaikan urusan saya dengan calon mertua saya."
Rian tidak membalas dengan kemarahan. Ia justru merogoh saku dalam kemeja hijaunya, mengeluarkan sebuah kartu nama berdesain elegan dengan cetakan huruf emas, lalu menyodorkannya ke arah Davin.
"Perusahaan investasi yang aku pimpin sudah menyiapkan berkas pengambilalihan seluruh beban utang keluarga Maya," kata Rian penuh penekanan pada setiap kata. "Besok pagi, tim hukumku akan mendatangi kantormu untuk meninjau ulang seluruh perjanjian kerja sama yang kamu klaim. Kita akan selesaikan semuanya secara legal di meja perundingan, bukan dengan intimidasi di halaman rumah orang."
Davin menerima kartu nama itu dengan gerakan lambat. Saat membaca nama perusahaan yang tertera di sana, alisnya seketika bertautan erat. Senyum sinis yang tadinya menghiasi wajahnya perlahan luntur, berganti dengan raut terkejut yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat.
"Kamu..." gumam Davin pelan, menatap Rian dengan tatapan yang kini dipenuhi kewaspadaan baru.
"Aku bukan lagi Rian yang tujuh tahun lalu bisa kamu gertak dengan mudah," bisik Rian mantap. "Mulai malam ini, kamu berurusan denganku, bukan dengan Maya lagi."
Keheningan yang mencekam kembali menyelimuti halaman rumah Maya. Kalimat Rian menggantung di udara malam yang dingin, meninggalkan dampak yang begitu nyata pada raut wajah Davin. Pria berjas hitam itu meremas kartu nama di tangannya hingga sedikit terlipat, berusaha keras menguasai kembali ekspresi wajahnya agar tidak tampak goyah di hadapan Rian dan Maya.
"Pengambilalihan utang?" Davin terkekeh, meski kali ini tawanya terdengar hampa dan dipaksakan. "Kamu pikir masalah aset dan perjanjian bisnis keluarga ini semudah itu diselesaikan hanya dengan menyetor uang, Rian? Kamu tidak tahu seberapa dalam benang kusut yang ditinggalkan almarhum ayahnya Maya."
"Aku tahu persis, Davin. Dan aku juga tahu celah hukum dari perjanjian yang kamu buat saat keluarga Maya sedang dalam posisi paling rapuh," sahut Rian tanpa mengedipkan mata sedikit pun. "Tim pengacaraku sudah mempelajari salinan dokumen yang sempat kamu serahkan ke Ibu bulan lalu. Kamu memasukkan klausul jebakan yang tidak sah secara hukum. Jadi, jangan pura-pura tidak paham kenapa besok pagi timku akan datang ke kantormu."
Davin mengepalkan tangannya rapat-rapat di samping tubuh. Tatapan matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. Selama bertahun-tahun, ia terbiasa mengendalikan jalan hidup Maya dan ibunya menggunakan ancaman finansial. Tidak pernah sekalipun ada orang yang berani berdiri tegak memotong jalannya, apalagi membawa ancaman legal yang nyata seperti yang dilakukan Rian saat ini.
"Kita lihat saja sejauh mana permainanmu ini bertahan, Rian," bisik Davin dengan suara rendah yang sarat akan nada ancaman. Ia berpaling menatap Maya, memberikan tatapan dingin yang sarat akan manipulasi. "Dan kamu, Maya... jangan berpikir kalau keberadaan pria ini bisa langsung menyelesaikan semua masalahmu. Jangan lupa siapa yang membiayai perawatan ibumu di rumah sakit bulan lalu."
"Uang perawatan itu juga sudah masuk ke dalam rincian perhitungan pengembalian yang akan diproses timku besok pagi, Davin," potong Rian cepat, kembali mengalihkan fokus Davin ke arahnya. "Kamu tidak punya alasan lagi untuk berada di sini malam ini."
Davin menatap Rian tajam selama beberapa detik, seolah sedang menimbang risiko jika ia memaksakan kehendaknya lebih jauh di tempat ini. Akhirnya, dengan hembusan napas kasar, Davin memutar tubuhnya dan melangkah kembali ke sedan mewahnya. Sebelum membuka pintu mobil, ia menoleh sekilas ke belakang.
"Besok jam sembilan pagi di kantorku," kata Davin dingin. "Bawa tim hukummu, Rian. Jangan sampai kamu cuma membual di depan wanita ini."
Tanpa menunggu balasan lagi, Davin masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin. Deru mobil sedan hitam itu membelah kesunyian malam sebelum akhirnya melaju kencang meninggalkan halaman rumah Maya, melesat menembus kegelapan jalanan Wonosobo yang sepi.
Begitu lampu belakang sedan hitam itu menghilang di belokan jalan, ketegangan di udara perlahan terangkat. Maya menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dadanya. Kedua kakinya terasa lemas, seolah seluruh energi dalam tubuhnya baru saja terkuras habis oleh konfrontasi tersebut.
Rian segera berbalik dan meraih bahu Maya, menahannya agar tidak limbung. "Kamu enggak apa-apa, May?" tanya Rian penuh kecemasan.
Maya menatap Rian, matanya berkaca-kaca oleh emosi yang tak tertahankan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, rasa takut yang selalu menghantuinya setiap kali melihat mobil Davin terparkir di depan rumahnya benar-benar memudar. Kehadiran Rian di sisinya bukan lagi sekadar impian atau kenangan manis masa lalu, melainkan sebuah pelindung yang nyata.
"Aku enggak apa-apa, Yan," bisik Maya dengan suara bergetar. Seulas senyum lega akhirnya terukir di wajahnya yang pucat. "Makasih... makasih banyak udah berdiri di depan aku tadi."
Rian tersenyum lembut, mengusap bahu Maya dengan jemarinya yang hangat. "Aku udah janji, May. Ini baru langkah awal. Besok pertempuran kita yang sebenarnya dimulai, tapi malam ini kamu bisa tidur dengan tenang tanpa perlu takut sama ancaman dia lagi."
Maya mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan Rian ke dalam dadanya yang kini terasa jauh lebih lapang. Kehangatan usapan tangan Rian di bahunya seolah meluruhkan sisa-sisa trauma dan beban berat yang selama bertahun-tahun ini mengimpit pundaknya sendirian.
"Masuk yuk, aku antar sampai depan pintu," bisik Rian lembut sambil mengarahkan langkah Maya menuju teras rumah yang diterangi pendar lampu kuning redup.
Mereka berjalan bersisian melewati deretan pot tanaman hias kesayangan ibu Maya. Udara malam Wonosobo yang kian menusuk tulang tak lagi terasa menyiksa. Di teras depan, Maya memutar tubuhnya, menatap Rian yang kini berdiri selangkah di bawah tangga teras.
"Kamu... malam ini menginap di mana, Yan?" tanya Maya, baru menyadari bahwa Rian baru saja kembali ke kota ini dan mungkin belum sempat mencari tempat tinggal yang nyaman.
Rian tersenyum tipis, merapikan sedikit rambutnya yang teracak angin malam. "Aku sudah sewa satu rumah kecil di dekat area alun-alun untuk beberapa bulan ke depan, May. Semua perlengkapanku sudah di sana. Jadi kamu enggak perlu cemas."
"Beneran enggak apa-apa? Kalau mau, kamu bisa—" Maya menghentikan kalimatnya sendiri, merasa canggung jika harus menawarkan Rian menginap di rumahnya saat kondisi sang ibu sedang tidak stabil dan situasi mereka baru saja memanas akibat ulah Davin.
Rian terkekeh pelan, seolah paham dengan keraguan di dalam pikiran wanita di hadapannya itu. Ia melangkah naik satu anak tangga, menyejajarkan posisinya dengan Maya, lalu meraih salah satu tangan Maya dan menggenggamnya hangat.
"Aku mengerti, May. Malam ini fokus kamu cuma satu: masuk ke dalam, temani Ibu, dan istirahat yang cukup. Aku enggak mau lihat kamu pucat lagi kayak tadi," ujar Rian dengan nada bicara yang amat protektif namun menenangkan. "Masalah Davin dan semua urusan hukumnya, biar aku dan timku yang selesaikan besok pagi."
"Tapi Rian... Davin itu licik," sela Maya dengan raut cemas yang kembali membayang di matanya. "Dia punya banyak kenalan di pemerintahan dan kepolisian lokal. Aku takut dia pakai cara kotor buat ngejebak kamu besok."
Rian menatap dalam-dalam ke sepasang mata bulat milik Maya. Ditatapnya wanita yang menjadi alasan utamanya untuk berjuang habis-habisan selama tujuh tahun di rantau orang. Ada kilat ketegasan dan rasa percaya diri yang amat kuat memancar dari manik matanya.
"May, tujuh tahun di Jakarta mengajarkan aku satu hal penting: orang kayak Davin cuma kuat kalau korbannya merasa takut dan sendirian," tutur Rian tegas. "Begitu kita berdiri tegak dan bawa bukti hukum yang sah, gertakan dia cuma bakal jadi angin lalu. Percaya sama aku. Dulu aku memang terpaksa lari karena enggak punya kekuatan apa-apa, tapi Rian yang berdiri di depan kamu sekarang enggak bakal membiarkan siapa pun menyakiti kamu lagi."
Mendengar keteguhan dalam suara Rian, perlahan benteng kecemasan di hati Maya benar-benar runtuh. Ia menghembuskan napas panjang, mengangguk pasrah seraya mengukir senyuman tulus yang sudah sangat lama tidak pernah terlihat di wajahnya.
"Makasih ya, Yan... buat semuanya malam ini," ucap Maya lirih, suaranya sedikit bergetar menahan haru.
"Sama-sama, May. Ini baru permulaan," Rian mendekatkan wajahnya sedikit, mengecup dahi Maya dengan lembut dan hangat selama beberapa detik—sebuah kecupan singkat yang sarat akan rasa rindu, penghormatan, dan janji perlindungan yang tak terucapkan.
Saat Rian menarik diri kembali, pipi Maya merona merah di bawah pendar lampu teras. Rian tersenyum manis melihat reaksi wanita itu, reaksi yang sama persis seperti saat mereka masih duduk di bangku sekolah dulu.
"Masuklah, aku bakal tunggu di sini sampai kamu kunci pintu," kata Rian halus.
Maya mengangguk, memutar kunci pintu depan dan mendorongnya pelan. Sebelum benar-benar melangkah masuk ke dalam rumah, ia menoleh sekali lagi ke arah Rian yang berdiri tegap di teras, melambaikan tangan kecil padanya. Rian membalas lambaian itu dengan senyuman terhangatnya.
Pintu rumah tertutup rapat, disusul suara selot kunci yang terpasang. Di dalam kegelapan lorong rumahnya, Maya menyandarkan punggung ke balik pintu kayu. Dadanya bergemuruh hebat, namun bukan lagi karena ketakutan atas ancaman Davin, melainkan karena perasaan hangat yang kini membuncah memenuhi jiwanya. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, Maya akhirnya bisa menarik napas lega dan siap menyambut esok hari tanpa rasa takut.
Langkah kaki Maya terasa jauh lebih ringan saat ia berjalan menyusuri lorong rumahnya yang remang-remang. Suara detak jarum jam dinding di ruang tamu seolah berdetak lebih ramah dari biasanya. Di kamar utama, pintunya sedikit terbuka. Maya menggeser pintu kayu itu secara perlahan, berusaha tak menimbulkan decit sedikit pun yang bisa mengganggu tidur sang ibu.
Di atas tempat tidur, sosok wanita setengah baya
Makasih udah baca Bab 1! Gimana menurut kalian sama kemunculan Davin? Geregetan banget gak sih sama sikapnya? ? Kalau kalian di posisi Maya, kalian bakal milih jujur sama Rian atau milih ngalah demi keluarga? Yuk, tulis pendapat kalian di kolom komentar! Jangan lupa klik Love dan masukin ke Library kalian ya biar gak ketinggalan Bab 2!
Share this novel