bab 5 "Penetapan bunga berjalan sebesar lima

Romance Series 27

"Penetapan bunga berjalan sebesar lima belas persen per bulan secara sepihak tanpa adendum yang disetujui pihak debitur adalah bentuk eksploitasi finansial yang jelas-jelas cacat hukum," lanjut Pak Wisnu dengan nada lugas dan tidak berbelit-belit. "Kedua, penyerahan sertifikat tanah dan rumah utama keluarga Maya sebagai jaminan tambahan dilakukan tanpa persetujuan sah dari Ibu Maya selaku ahli waris resmi. Dan ketiga... seluruh sisa pokok utang sebesar delapan ratus juta rupiah sebenarnya sudah dijamin oleh polis asuransi usaha yang premi bulannya selalu dilunasi oleh almarhum semasa hidupnya."

Penjelasan mendetail dari Pak Wisnu membuat Maya terpaku di tempat duduknya. Dadanya bergemuruh hebat, bercampur antara rasa kaget, marah, dan lega yang luar biasa. Selama bertahun-tahun, Davin selalu membayang-bayangi hidupnya dengan ancaman utang membengkak hingga miliaran rupiah serta ancaman pengusiran dari rumah peninggalan sang ayah. Ternyata, seluruh jerat finansial yang selama ini mencekik keluarganya hanyalah manipulasi hukum yang sengaja dirancang Davin untuk mengunci kebebasan Maya.

Wajah Davin seketika berubah merah padam. Ia menggebrak meja rapat kayu jati itu dengan telapak tangannya hingga cangkir kopi di dekatnya bergetar keras.

"Bicara apa pengacaramu ini?!" bentak Davin, matanya menatap tajam ke arah Pak Wisnu sebelum beralih menatap Rian dengan kemurkaan yang tak lagi bisa disembunyikan. "Itu cuma penafsiran sepihak! Saya yang menopang hidup mereka saat perusahaan ayahnya hancur! Kalau bukan karena saya, keluarga Maya sudah terlunta-lunta di jalanan sejak tiga tahun lalu!"

Rian tidak terkecilkan sedikit pun oleh gebrakan meja maupun bentakan Davin. Ia tetap duduk tegap dengan postur tenang, menatap lurus ke arah Davin dengan tatapan dingin dan penuh kendali.

"Kamu bukan menopang mereka, Davin," sahut Rian, suaranya pelan namun menusuk ulu hati. "Kamu sengaja menyembunyikan pencairan klaim asuransi itu dari Ibu dan Maya. Kamu memanfaatkan ketahuankasihan dan ketakutan mereka, membiarkan mereka merasa terlilit utang phantom, supaya kamu bisa memaksakan kehendakmu dan menjadikan Maya sebagai tawanan atas kekuasaanmu."

Rian memberikan kode anggukan kecil kepada Pak Wisnu. Dengan cekatan, pengacara itu mengeluarkan sebuah cek bilyet resmi berstempel perusahaan investasi milik Rian, lalu meluncurkannya secara perlahan di atas meja mengilap hingga berhenti tepat di hadapan tempat berdiri Davin.

"Di atas meja itu ada cek sebesar delapan ratus juta rupiah pelunasan seluruh sisa pokok utang murni almarhum ayah Maya," tegas Rian tanpa ragu sedikit pun. "Bersamaan dengan cek ini, tim hukum kami sudah menyusun draf surat laporan dugaan penipuan, penggelapan klaim asuransi, serta pemerasan yang akan langsung kami daftarkan ke Polda Jawa Tengah pagi ini juga... jika kamu tidak menyerahkan seluruh sertifikat dan dokumen asli milik keluarga Maya dalam waktu sepuluh menit."

Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu mendadak menjadi sangat senyap. Davin terpaku kaku, matanya menatap bergantian antara cek di meja dan berkas laporan kepolisian yang dipegang oleh tim hukum Rian. Seluruh benteng intimidasi yang ia bangun selama bertahun-tahun dengan memanfaatkan uang dan kekuasaan seketika hancur berkeping-keping.

Davin mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, bernapas memburu menahan ketakutan dan rasa malu yang luar biasa. Pria yang selama ini mengendalikan nasib orang lain kini sadar bahwa ia telah masuk ke dalam sudut pertempuran hukum yang sama sekali tidak bisa ia menangkan.

Maya memandang sosok Rian yang berdiri di sampingnya dengan binar mata berkaca-kaca. Keberanian dan keteguhan pria itu bukan sekadar kata-kata manis di bawah naungan pohon pinus semalam, melainkan bukti nyata atas janji yang ia bawa setelah tujuh tahun berpisah.

"Bagaimana, Davin?" tanya Rian dingin, memecah kesunyian ruangan. "Waktumu berjalan."

Dengan tangan yang gemetar menahan amarah, Davin akhirnya berbalik menuju brankas kecil di balik lukisan dindingnya. Ia memutar kode kunci, mengambil sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang berisi sertifikat asli rumah serta surat-surat berharga keluarga Maya, lalu menghempaskannya ke atas meja rapat di hadapan Rian.

Rian mengambil map tersebut, membukanya seraya memeriksa kelengkapan dokumen di dalamnya bersama Pak Wisnu. Setelah mendapat konfirmator anggukan dari pengacaranya, Rian merapikan berkas itu dan menggandeng tangan Maya untuk berdiri.

"Urusan kita selesai di sini, Davin," ucap Rian mantap. "Mulai detik ini, kamu tidak punya hak sedikit pun untuk mendekati Maya atau keluarganya lagi."

Rian memutar tubuhnya, menuntun Maya melangkah keluar dari ruangan rapat tersebut dengan kepala tegak. Di belakang mereka, Davin hanya bisa berdiri membisu tanpa mampu membalas sepatah kata pun.

Pintu kaca ganda ruang rapat itu tertutup rapat dengan denting halus, mengunci Davin bersama kekalahan telaknya di dalam sana. Langkah kaki Maya terasa amat ringan saat menyusuri koridor berlantai marmer Gedung Graha Mahardika. Rasanya seperti baru saja keluar dari sebuah penjara bawah tanah yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.

Genggaman tangan Rian di jemarinya terasa begitu hangat dan nyata. Saat mereka berjalan berdampingan menuju lift bersama Pak Wisnu dan tim hukumnya, Maya menoleh ke arah pria di sampingnya itu. Wajah Rian yang tegas dan tenang kini memancarkan kelegaan yang amat mendalam.

"Kita berhasil, May," bisik Rian pelan ketika mereka berada di dalam lift yang bergerak turun menuju lobby utama.

Maya tidak mampu menahan genangan air mata yang sejak tadi mengumpul di pelupuk matanya. Kali ini, air mata itu menetes bukan karena kesedihan atau rasa takut, melainkan karena kelegaan yang membuncah luar biasa. Map kulit cokelat yang berisi sertifikat rumah dan dokumen berharga keluarganya kini mendekap erat di dadanya.

"Aku... aku masih serasa mimpi, Yan," kata Maya dengan suara bergetar menahan haru. "Bertahun-tahun aku dan Ibu hidup di bawah ancaman dia. Setiap hari aku cuma mikirin gimana caranya nyelamatin rumah dan usaha Ibu... Dan hari ini, semuanya selesai cuma dalam waktu beberapa menit."

Rian menghentikan langkahnya saat mereka melintasi pintu kaca utama lobby dan keluar menuju pelataran gedung yang disinari terik matahari pagi. Ia berbalik membelakangi sinar matahari, menatap Maya dengan sepasang mata cokelat gelapnya yang sarat akan kasih sayang. Pak Wisnu dan rekannya berpamitan sopan untuk kembali ke kantor hukum mereka, meninggalkan Rian dan Maya dalam ruang pribadi mereka.

"Itu bukan mimpi, May," ujar Rian lembut, menjangkau kedua pipi Maya dan menyapu sisa air mata wanita itu menggunakan ibu jarinya. "Beban itu udah hilang. Kamu dan Ibu udah bebas dari cengkeraman Davin. Mulai sekarang, enggak ada lagi yang bisa mengintimidasi atau mengatur hidup kamu."

Maya mendongak, menatap wajah pria yang tidak pernah berhenti mencintainya walau terpisah oleh waktu dan jarak selama tujuh tahun. Perasaan hangat yang pernah tertidur di dalam dadanya kini berkobar begitu terang, menerangi setiap sudut jiwanya yang sempat redup.

"Makasih ya, Rian..." bisik Maya tulus. "Makasih udah menjaga janji kamu... makasih udah kembali buat aku."

Rian tersenyum manis—sebuah senyuman lepas yang sudah sangat lama tak pernah Maya lihat. Ia merengkuh tubuh Maya ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif. Maya membalas pelukan itu dengan merapatkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya di dada bidang Rian yang berdetak teratur. Di tengah hiruk-pikuk pusat kota Wonosobo pagi itu, mereka berdua seolah menemukan kembali poros dunia mereka yang sempat hilang.

"Ayo kita pulang," bisik Rian di atas kepala Maya, mengusap rambut wanita itu dengan penuh kelembutan. "Ibu pasti udah nungguin kabar baik ini di rumah."

Maya melepaskan pelukannya perlahan, mengangguk dengan ulasan senyum paling bahagia yang pernah terukir di wajahnya. Mereka berjalan menuju mobil sedan biru gelap milik Rian. Saat Rian membukakan pintu untuknya, Maya menyadari bahwa babak penderitaan dalam hidupnya telah resmi ditutup. Badai telah berlalu, dan kini, di bawah naungan janji yang tak pernah padam, mereka siap melangkah bersama menyongsong masa depan baru yang penuh dengan harapan.

Perjalanan mobil menyusuri jalanan kota Wonosobo menuju rumah Maya terasa begitu menenangkan. Sinar matahari pagi memantul hangat di kaca depan, menembus sisa-sisa kabut tipis perbukitan yang mulai beranjak naik. Suara deru mesin sedan biru milik Rian mengalun lembut, membelah hiruk-pikuk aktivitas warga yang mulai memadati pinggir jalan.

Di kursi penumpang, Maya mengusap permukaan map kulit cokelat di pangkuannya. Di dalam map itu terbaring sertifikat asli rumah serta seluruh dokumen jaminan keluarga yang bertahun-tahun disandera oleh Davin. Setiap inci lembaran kertas di dalamnya bukan lagi ancaman, melainkan simbol kemerdekaan atas hidup mereka.

"Kamu siap kasih kabar ini ke Ibu?" tanya Rian seraya menoleh sekilas, menyunggingkan senyum hangat yang selalu sanggup meluruhkan sisa kecemasan Maya.

"Sangat siap, Yan," jawab Maya dengan binar mata bahagia yang tak lagi tertutup duka. "Ibu pasti bakal menangis haru. Bertahun-tahun Ibu merasa bersalah sama aku karena menganggap dirinya beban. Hari ini, aku mau tunjukkan ke Ibu kalau semua ketakutan itu udah berakhir."

Rian memutar roda kemudi menuju gang perumahan tempat tinggal Maya. Tak butuh waktu lama, mobil itu berhenti tepat di depan pagar rumah yang semalam menjadi saksi bisu konfrontasi sengit mereka. Pintu rumah kayu yang hangat itu langsung terbuka bahkan sebelum Rian mematikan mesin. Ibu Maya berdiri di ambang pintu dengan wajah cemas yang tertahan, jemarinya meremas kain sarung yang ia kenakan.

Maya keluar dari mobil lebih dulu, dilanjutkan oleh Rian yang membawa tas dokumennya. Maya berlari kecil menaiki anak tangga teras dan langsung memeluk ibunya erat-erat.

"Ibu... semuanya udah selesai," bisik Maya dengan suara bergetar bahagia di pundak sang ibu.

Maya mengurai pelukan dan membuka map kulit cokelat itu di depan mata ibunya. Wanita setengah baya itu membelalak kaget, mengenali betul bentuk dan warna sertifikat tanah milik almarhum suaminya yang sudah bertahun-tahun pindah tangan ke brankas Davin.

"Ini... ini sertifikat rumah kita, May?" suara Ibu menyuarakan ketidakpercayaan yang mendalam. Matanya berkaca-kaca saat jemarinya yang gemetar menyentuh lembaran dokumen tersebut.

"Iya, Bu," Rian melangkah mendekat, memberikan penghormatan penuh kesopanan. "Davin sudah menandatangani pembatalan klausul dan pengembalian seluruh jaminan. Semua utang almarhum Bapak sudah lunas secara sah lewat jalur hukum. Davin enggak punya hak satu sen pun lagi atas rumah atau usaha Ibu."

Ibu Maya memegang dadanya, lalu meneteskan air mata kebahagiaan yang membuncah. Ia merengkuh Rian dan Maya sekaligus ke dalam pelukannya, mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga atas keajaiban yang dibawa oleh pria muda itu. Kehadiran Rian bukan sekadar melunasi utang materi, melainkan memulihkan martabat dan kedamaian keluarga yang sempat hancur.

Siang itu, teras rumah yang biasanya dicekam hawa dingin ketakutan berganti menjadi tempat berkumpulnya tawa dan kehangatan. Di bawah naungan atap rumah yang kini sepenuhnya milik mereka kembali, Maya duduk di samping Rian di bangku kayu teras, menikmati teh melati hangat yang disajikan oleh sang ibu.

"Setelah ini... apa rencana kamu selanjutnya, Yan?" tanya Maya pelan, menatap profil wajah Rian yang kini terlihat jauh lebih santai.

Rian menoleh, memandang Maya dengan tatapan dalam yang sarat akan keseriusan dan kasih sayang. "Aku bakal buka kantor cabang perusahaan investasiku di Wonosobo, May. Aku enggak mau pergi jauh lagi dari kamu."

Desir hangat kembali membakar dada Maya. Kata-kata Rian mengunci seluruh keraguan yang pernah singgah di hatinya selama tujuh tahun berpisah.

"Dan aku," lanjut Rian seraya menggenggam erat tangan Maya di atas meja, "mau minta izin sama Ibu buat menata masa depan bareng kamu. Tanpa ada rahasia, tanpa ada ancaman dari siapa pun."

Maya tersenyum manis, membalas genggaman tangan Rian dengan kehangatan yang sama. Perjuangan panjang mereka melewati malam-malam pekat dan intimadasi kini membuahkan hasil yang manis. Cinta pertama yang pernah terkubur di bawah dinginnya Hutan Pinus Wonosobo kini telah mekar kembali, siap menemani setiap langkah mereka mengarungi babak baru kehidupan yang dipenuhi cahaya harapan.

Genggaman tangan Rian di jemari Maya makin erat, seolah menegaskan bahwa masa-masa penuh ketakutan dan perpisahan telah sepenuhnya menjadi bagian dari masa lalu. Sinar matahari siang yang menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman rumah terasa begitu hangat, memantulkan pendar cahaya di mata mereka berdua.

Dari dalam rumah, Ibu keluar membawa nampan berisi camilan pisang goreng hangat dan meletakkannya di atas meja kayu teras. Angin sepoi-sepoi khas perbukitan Wonosobo berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan teh melati yang menenangkan.

"Ibu senang banget melihat kalian berdua seperti ini lagi," ujar Ibu dengan senyuman tulus yang sudah sangat lama tak pernah tampak di wajah cantiknya. Raut lelah yang biasanya membingkai wajah wanita setengah baya itu seolah menguap tanpa bekas. "Dulu, waktu Rian harus pergi ke Jakarta, Ibu sempat berpikir hubungan kalian sudah benar-benar selesai. Tapi ternyata takdir punya jalannya sendiri."

Rian tersenyum menatap Ibu dengan penuh rasa hormat. "Rian pernah janji sama diri Rian sendiri, Bu. Rian enggak akan pernah kembali ke Wonosobo sebelum punya kekuatan untuk melindungi Maya dan Ibu. Maaf kalau Rian butuh waktu sampai tujuh tahun untuk menepati

lanjut

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience