bab 6 "Maaf kalau Rian butuh waktu sampai

Romance Series 27

"Maaf kalau Rian butuh waktu sampai tujuh tahun untuk menepati janji itu," lanjut Rian dengan nada suara yang bergetar menahan haru. Matanya menatap Ibu penuh dengan penyesalan yang mendalam atas waktu-waktu sulit yang harus dilewati keluarga ini tanpa kehadirannya.

Ibu mengusap air mata bahagia yang menetes di pipinya, lalu menggelengkan kepala pelan. "Tujuh tahun itu tidak pernah sia-sia, Nak Rian. Ibu tahu perjuangan di perantauan itu berat. Yang paling penting, kamu pulang bukan cuma membawa keberhasilan buat dirimu sendiri, tapi juga membawa kedamaian buat kami. Kamu sudah mengembalikan rumah ini, mengembalikan martabat keluarga kami yang sempat diinjak-injak."

Maya hanya bisa membisu, menyerap setiap kata yang terucap di antara dua orang yang paling ia sayangi itu. Rasa hangat mendadak mengalir deras membasahi relung hatinya. Bayangan masa-masa kelam saat ia harus menahan tangis sendirian di kamar, meratapi nasib keluarga yang berada di ujung tanduk akibat kelicikan Davin, kini menguap begitu saja diterpa angin siang yang berembus lembut.

"Ibu cuma bisa berdoa," sambung Ibu seraya meraih tangan Rian dan Maya, menggenggam keduanya dalam satu lingkar kehangatan. "Semoga niat baik Rian di kota ini dilancarkan, dan hubungan kalian berdua selalu dijaga dari orang-orang yang berniat jahat."

"Amin, Bu. Terima kasih banyak atas restunya," jawab Rian mantap.

Tak lama kemudian, Ibu pamit masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah kaki yang terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Keheningan yang menenangkan kembali menyelimuti teras depan rumah itu.

Maya memindahkan pandangannya dari balik pintu rumah menuju sosok Rian yang kini menyandarkan punggung ke kursi kayu tebal. Pria itu tampak begitu santai, melonggarkan sedikit ikatan dasinya dan membuka satu kancing atas kemejanya, memperlihatkan sisi kasual yang amat dirindukan Maya.

"Kamu beneran mau menetap di sini, Yan?" tanya Maya pelan, ingin memastikan sekali lagi bahwa keberadaan pria itu di sampingnya bukanlah sekadar persinggahan singkat untuk menyelesaikan masalah hukum semata.

Rian menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang memamerkan lesung pipi di wajahnya. "Aku sudah menyiapkan tim untuk mengurus pembukaan kantor cabang di sini, May. Wonosobo punya potensi besar untuk sektor investasi yang sedang aku kembangkan. Tapi yang paling penting... aku enggak punya alasan lagi untuk pergi ke mana-mana."

"Tapi pekerjaan kamu di Jakarta?"

"Jakarta cuma tempat aku menempa diri," potong Rian lembut seraya meraih jemari Maya, mengusap punggung tangan wanita itu dengan ibu jarinya secara perlahan. "Rumahku... ada di sini. Di kota ini, di rumah ini, di samping kamu."

Pipi Maya merona hangat mendengar kalimat itu. Kata-kata Rian mengunci seluruh keraguan yang sempat singgah di hatinya. Rasa trauma akibat manipulasi dan tekanan Davin selama bertahun-tahun kini benar-benar lenyap, tergantikan oleh rasa aman yang begitu kokoh.

"Aku sempat takut kalau semua ini cuma mimpi," bisik Maya jujur, menatap manik mata cokelat gelap milik Rian. "Takut kalau besok pagi aku bangun, Davin masih ada di depan rumah dan kamu masih jauh di tempat yang enggak bisa aku jangkau."

Rian melepaskan genggaman tangannya sebentar, hanya untuk mengusap lembut helai rambut Maya yang terurai diterpa angin. "Mulai sekarang, mimpi buruk itu udah selesai, May. Davin enggak akan pernah bisa menyentuh hidup kamu lagi. Sekarang saatnya kita fokus menata apa yang sempat tertunda."

Maya mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman paling tulus dan lepas yang tak pernah terukir di wajahnya selama bertahun-tahun. Di bawah naungan langit siang Wonosobo yang bersih dan cerah, dua jiwa yang pernah terpisah oleh jarak dan cobaan hidup kini kembali menyatu, siap mengarungi babak baru perjalanan mereka dengan keyakinan yang tak tergoyahkan.

Matahari mulai bergeser ke arah barat, memancarkan pendar cahaya keemasan yang menembus celah-celah rimbunnya dedaunan di halaman rumah. Hawa dingin khas perbukitan Wonosobo yang biasanya terasa menusuk kini menyapa kulit mereka sebagai belaian yang menenangkan. Maya dan Rian masih duduk bersisian di bangku kayu teras, menikmati momen kedamaian yang terasa begitu berharga setelah badai besar yang baru saja berlalu.

Rian memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke arah jalanan depan rumah yang kini sepi. Pemandangan di depannya tidak lagi menghadirkan bayang-bayang ketakutan akan kehadiran sedan hitam milik Davin.

"May," panggil Rian pelan, memecah keheningan yang hangat di antara mereka.

"Iya, Yan?" Maya menoleh, memperhatikan profil wajah Rian yang tersinari cahaya sore.

"Setelah semua dokumen resmi pengembalian aset dari Davin dipegang Pak Wisnu, besok kita tinggal menyelesaikan beberapa formalitas di balik nama sertifikat rumah ini," tutur Rian dengan suara berat yang menenangkan. "Aku sudah minta tim hukumku untuk mengurus semuanya sampai tuntas, jadi kamu sama Ibu enggak perlu repot bolak-balik ke kantor pertanahan."

Maya menatap pria di sampingnya itu dengan binar mata yang dipenuhi rasa haru. Kejelian Rian dalam menyelesaikan masalah tidak hanya sebatas menggertak Davin di meja perundingan, tetapi juga memastikan perlindungan hukum yang menyeluruh hingga ke detail terkecil.

"Kamu selalu memikirkan segalanya sampai sejauh itu ya, Yan?" gumam Maya tipis, meremas jemari Rian yang masih berada dalam genggamannya. "Padahal masalah keluarga kami ini sangat rumit dan penuh risiko."

Rian terkekeh pelan, menggelengkan kepalanya seraya membalas remasan tangan Maya. "Tujuh tahun di Jakarta mengajarkan aku kalau niat baik saja enggak cukup buat melindungi orang yang kita sayangi, May. Kita butuh strategi, keberanian, dan persiapan yang matang. Dulu aku terpaksa pergi karena aku enggak punya tiga hal itu. Tapi sekarang, aku enggak akan biarkan siapa pun mengambil apa yang seharusnya jadi milik kamu."

Kalimat itu meluncur dari bibir Rian tanpa keraguan sedikit pun, menegaskan betapa besar penyesalan dan tekad yang telah menempa dirinya selama bertahun-tahun di perantauan. Maya merasakan getaran kehangatan melingkupi dadanya. Luka lama akibat perpisahan di Hutan Pinus Wonosobo bertahun-tahun lalu kini terobati sepenuhnya.

"Terima kasih, Rian," ucap Maya tulus. "Bukan cuma buat sertifikat rumah atau uang pelunasan itu... tapi buat keberanian kamu yang bikin aku percaya lagi kalau kita layak buat bahagia."

Rian tersenyum lembut, meraih tangan kiri Maya dan mendekatkannya ke dada bidangnya, membiarkan wanita itu merasakan detak jantungnya yang teratur namun kuat. "Kita memang layak bahagia, May. Dan perjalanan kita baru saja dimulai."

Dari dalam rumah, aroma harum masakan Ibu mulai tercium hingga ke teras, menyebarkan kehangatan khas suasana rumah yang sudah lama hilang. Suara langkah kaki Ibu yang menyiapkan makan malam terdengar riang, menjadi latar belakang paling merdu bagi sore mereka.

Maya menyandarkan kepalanya perlahan ke bahu Rian, meresapi kehangatan kaus putih dan keharuman khas pria itu yang selalu membuatnya merasa aman. Rian mengusap lembut lengan Maya, membiarkan wanita itu bersandar dan melepas seluruh rasa lelah yang terkumpul selama bertahun-tahun.

Di bawah naungan langit sore Wonosobo yang perlahan berganti warna menjadi jingga keunguan, tak ada lagi keraguan yang tersisa di antara mereka. Bayang-bayang Davin dan jerat ancamannya telah musnah dihantam keadilan dan keteguhan hati Rian. Maya dan Rian kini berdiri di ambang pintu masa depan yang baru sebuah masa depan yang akan mereka bangun bersama dengan cinta yang tak pernah padam.

Malam kembali merayap di atas kota Wonosobo, membawa pendar bintang yang bertebaran di langit cerah tanpa kabut pekat yang biasa menutupi. Di dalam rumah sederhana itu, meja makan yang biasanya terasa sepi dan penuh ketegangan kini riuh oleh tawa kecil. Ibu menyajikan hidangan simpel kesukaan Rian sewaktu SMA—sayur lodeh hangat, tempe kemul khas Wonosobo, dan sambal terasi yang aromanya menggugah selera.

Maya memperhatikan bagaimana Rian makan dengan begitu lahap, berbincang hangat dengan ibunya seolah waktu tujuh tahun tak pernah memisahkan mereka. Senyum di bibir ibunya terlihat begitu lepas, tanpa ada lagi beban tersembunyi yang biasanya membayangi raut wajah wanita tua itu.

"Tambah lagi nasi sama tempenya, Rian," ujar Ibu antusias, menyodorkan piring saji ke arah Rian. "Kamu di Jakarta pasti jarang makan tempe kemul yang rasanya persis kayak gini, kan?"

Rian tertawa pelan, menerima sodoran piring itu dengan sopan. "Enggak ada yang bisa mengalahkan tempe kemul buatan Ibu di Jakarta, Bu. Di sana rasanya beda, enggak ada bumbu hangat khas masakan rumah ini."

Maya terkekeh melihat kepiawaian Rian menyenangkan hati ibunya. Di tengah suasana hangat itu, dadanya dipenuhi rasa bersyukur yang melimpah. Keputusan Rian untuk bertindak cepat dan tegas menghadapi Davin tadi pagi tidak hanya menyelamatkan aset fisik keluarga mereka, tetapi juga mengembalikan nyawa dan keceriaan di rumah ini.

Seusai makan malam dan membantu ibunya membereskan dapur, Maya menemani Rian yang berdiri di teras depan sebelum pria itu pamit pulang ke rumah sewaannya. Angin malam berembus lembut, membawa kesegaran udara perbukitan yang tak lagi terasa mengintimidasi.

"Kamu beneran mau ke Jakarta minggu depan buat urus kepindahan kantor cabang?" tanya Maya seraya menyandarkan tubuhnya pada tiang teras.

Rian menoleh, merapikan kemeja kasualnya yang tertiup angin. "Cuma tiga hari, May. Aku harus koordinasi langsung sama tim inti di sana buat penyesuaian berkas dan penunjukan kepala operasional baru di Wonosobo. Setelah itu, aku bakal sepenuhnya beroperasi dari sini."

"Tiga hari ya..." gumam Maya pelan, ada sedikit nada berat di suaranya yang tak bisa ia sembunyikan.

Rian tersenyum tipis, melangkah mendekat hingga berjarak hanya satu jengkal dari Maya. Ia menjangkau kedua tangan wanita itu, menggenggamnya erat di dalam hangat jemarinya.

"Tujuh tahun aja aku sanggup menjaga hati aku cuma buat kamu, May," bisik Rian dengan suara rendah yang amat menenangkan. "Tiga hari di Jakarta enggak bakal mengubah apa-apa. Sekarang aku punya tujuan yang jelas untuk selalu pulang: kamu dan rumah ini."

Maya mendongak, menatap matanya yang memancarkan kejujuran tanpa keraguan. Kata-kata Rian mengunci seluruh ketakutan masa lalu yang pernah mengendap di relung hatinya. Ia tahu, pria yang berdiri di depannya ini adalah sosokan yang memegang teguh janji dan komitmennya.

"Aku percaya sama kamu, Yan," balasku lembut, membalas genggaman tangannya. "Hati-hati selama di jalan dan di Jakarta nanti."

"Aku berangkat lusa pagi. Besok aku bakal luangkan waktu seharian penuh buat menemani kamu dan Ibu ngurus pembersihan berkas di bank lokal," tutur Rian penuh perhatian.

Rian mengecup dahi Maya sekali lagi—sebuah kecupan perpisahan malam yang hangat dan penuh rasa hormat—sebelum akhirnya melangkah menuju mobil sedan birunya yang terparkir di seberang jalan. Maya berdiri di teras, melambaikan tangan hingga lampu belakang mobil Rian menghilang di ujung gang perumahan.

Saat memasuki rumah dan mengunci pintu, Maya berjalan menuju kamarnya. Ia membuka jendela sedikit, membiarkan pendar cahaya bulan masuk menyinari ruangan kecilnya. Di atas meja belajar, amplop cokelat tua berisi surat perpisahan Rian tujuh tahun lalu masih tergeletak di sana. Maya mengambilnya, merapikan surat itu, lalu menyimpannya di dalam kotak kayu kenangan—bukan lagi sebagai lambang duka atau penyesalan, melainkan sebagai pengingat akan keteguhan cinta yang berhasil bertahan melewati ujian waktu.

Perjuangan mereka memang belum sepenuhnya usai; dunia bisnis dan dinamika kehidupan mendatang tentu akan membawa tantangan baru. Namun, dengan fondasi kepercayaan yang makin kokoh, keadilan yang telah ditegakkan, dan genggaman tangan yang tak akan saling melepaskan, Maya menyandarkan tubuhnya di atas kasur dengan senyuman bahagia. Babak baru hidup mereka telah resmi dimulai, dipandu oleh kehangatan cinta yang tak pernah padam.

Maya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kehangatan perasaan itu meresap ke dalam tiap jengkal jiwanya. Kasur empuk yang menyangga tubuhnya malam ini terasa jauh lebih nyaman daripada malam-malam sebelumnya. Tidak ada lagi bayang-bayang ketakutan akan ancaman eksekusi rumah, tidak ada lagi bayangan wajah Davin yang menuntut dan mengintimidasi, dan tidak ada lagi rasa bersalah mendalam yang menyiksa hatinya setiap kali melihat raut cemas sang ibu. Semua beban berat itu telah meluruh, tergantikan oleh kedamaian yang hadir bersama kepulangan Rian.

Ketika fajar menyingsing di keesokan harinya, sinar matahari pagi memancarkan pendar keemasan yang menembus celah-celah tirai kamar Maya. Udara Wonosobo pagi itu terasa begitu bersih dan menyegarkan. Maya terbangun dengan napas yang ringan dan perasaan yang penuh akan semangat baru.

Ia beranjak dari kasur, merapikan kamar dengan cekatan, lalu melangkah ke dapur. Di sana, sang ibu sedang menyeduh kopi hangat dan menyiapkan sarapan. Tidak ada lagi raut lelah atau tatapan kosong yang biasa menghiasi wajah ibunya. Sebaliknya, senyum tulus mengembang saat wanita tua itu menoleh ke arah Maya.

"Selamat pagi, Maya. Tidurmu nyenyak semalam?" tanya Ibu lembut.

"Nyenyak banget, Bu. Ibu sendiri gimana?" jawab Maya seraya mendekat dan memeluk bahu ibunya dari belakang.

"Ibu juga tidur nyenyak sekali, Nak. Rasanya sudah bertahun-tahun Ibu tidak merasakan ketenangan seperti semalam," sahut Ibu dengan suara bergetar haru. "Semua ini berkat Rian. Ibu benar-benar bersyukur dia kembali."

Maya tersenyum manis, mengangguk setuju. Sebelum mereka sempat melanjutkan perbincangan, suara ketukan pintu depan yang

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience