bab 2 Rian berbalik, memegang kedua bahu Maya

Romance Series 27

Rian berbalik, memegang kedua bahu Maya dengan lembut namun sangat tegas. Ia memaksa Maya untuk mendongak dan menatap matanya.

"May, dengar aku baik-baik," kata Rian penuh keyakinan yang hangat, menatap lurus ke dalam sepasang mata Maya yang mulai berkaca-kaca. "Tujuh tahun aku bertahan hidup di luar sana cuma buat nunggu hari ini. Aku tahu situasi kamu nggak mudah, tapi kali ini aku nggak bakal biarkan kamu hadapin semuanya sendirian. Mau seberat apa pun ancaman Davin, aku bakal tetap di sini. Cinta aku ke kamu nggak pernah padam, May... dan kali ini, aku bakal buktikan itu sampai akhir."

Maya menatap sepasang mata cokelat gelap itu, mencari keraguan atau rasa gentar yang mungkin tersembunyi di baliknya. Namun, tidak ada. Yang terpancar dari Rian hanyalah ketulusan yang sama persis seperti tujuh tahun lalu sebuah ketulusan yang pernah menjadi satu-satunya alasannya merasa aman di dunia ini.

Rian perlahan menurunkan tangannya dari bahu Maya, lalu menggenggam kedua jemari wanita itu yang masih terasa dingin. Ia membawanya naik dan mengecup punggung tangan Maya dengan lembut, lama dan penuh penghayatan, seolah sedang mengikat kembali janji yang sempat terputus oleh waktu.

"Kamu percaya sama aku, kan?" bisik Rian pelan di antara embusan angin malam Wonosobo.

Maya menelan ludah, dadanya bergemuruh oleh campur aduk antara rasa haru, kerinduan yang membuncah, dan ketakutan akan masa depan. Namun, saat merasakan kehangatan dari genggaman Rian yang begitu nyata, perlahan ketakutan itu terkikis.

Maya mengangguk pelan, seulas senyum tipis akhirnya terukir di bibirnya yang gemetar. "Aku percaya, Yan."

Di bawah naungan pohon pinus yang kini sepenuhnya diselimuti kegelapan malam, dengan latar belakang lampu-lampu taman yang mulai menyala redup, dua hati yang sempat terpisah itu akhirnya berdiri berdampingan lagi. Mereka tahu perjuangan melawan pengaruh dan ancaman Davin tidak akan mudah. Namun malam ini, di atas jalan setapak saksi perpisahan mereka dulu, percakapan itu menjadi awal dari babak baru sebuah janji bahwa kali ini, mereka tidak akan membiarkan siapa pun memadamkan rasa yang pernah ada.

Genggaman tangan Rian makin erat, seolah menegaskan bahwa kalimat terakhirnya bukanlah sekadar obral janji di bawah langit malam. Udara Wonosobo makin menggigit, membawa aroma tanah basah dan desir daun pinus yang bergesek pelan. Kabut yang tadinya tipis kini mulai menebal, membungkus mereka berdua dalam keheningan yang janggal setelah kepergian Davin.

"Ayo, aku antar kamu pulang," suara Rian memecah kesunyian. "Lampu jalan di setapak ini udah mulai menyala redup, udara makin dingin."

Maya menggeleng pelan, ada rasa enggan yang mendadak menahan langkahnya. "Rumahku... bukan tempat yang menyenangkan lagi sekarang, Yan. Sejak Ayah meninggal dan usaha Ibu terancam bangkrut, Davin sering datang ke sana. Pria itu bertindak seolah dia pemilik rumah kami."

Rian menatap Maya dengan raut wajah yang meredup, penuh keprihatinan. Ia menarik napas dalam, merasakan sesak yang sama di dadanya. "Ibumu... gimana keadaannya?"

"Sakit-sakitan," jawab Maya lirih. Matanya menerawang menatap jalan setapak batu di bawah kaki mereka. "Setiap kali Davin datang bawa dokumen utang atau janji suntikan modal, kondisi Ibu selalu drop. Ibu merasa bersalah karena menganggap dirinya beban buat aku, dan itu bikin aku nggak punya pilihan selain turutan kemauan Davin."

Rian menggertakkan rahangnya pelan. Nama Davin kembali memicu amarah yang berusaha ia tahan sejak tadi. Namun, Rian sadar, emosi tidak akan menyelesaikan masalah yang sudah telanjur rumit ini.

"May," Rian memiringkan tubuhnya, menatap Maya dari dekat. "Davin pikir dia punya segalanya cuma karena uang. Tapi dia nggak tahu kalau alasan aku balik ke Wonosobo bukan cuma buat nemuin kamu dengan tangan kosong."

Maya mendongak, alisnya bertautan bingung. "Maksud kamu?"

"Tujuh tahun di luar kota bukan cuma buat bayar kesalahan atau lari dari masalah," lanjut Rian dengan nada tenang yang memancarkan rasa percaya diri baru. "Aku kerja keras, May. Aku bangun bisnisku sendiri dari nol bareng rekan kerja yang mau percaya sama aku. Aku punya posisi, dan aku punya cukup sumber daya buat selesaikan masalah finansial keluargamu."

Mata Maya membelalak kaget. "Rian... kamu nggak usah sampai segitunya. Itu utang keluarga aku, bukan tanggung jawab kamu

"Tanggung jawab aku adalah menjaga kamu," potong Rian cepat tanpa ragu. "Aku udah pernah gagal sekali karena terpaksa pergi tujuh tahun lalu, dan aku nggak bakal biarkan uang Davin jadi alasan kamu terpaksa mengorbankan hidupmu."

Lampu taman di tepi jalan setapak mendadak berkedip sekali sebelum akhirnya menyala makin terang, memantulkan pijar keemasan di antara embun yang menempel pada dahan pinus. Maya menatap sosok pria di depannya ini dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Rian yang berdiri di hadapannya bukan lagi remaja delapan belas tahun yang rapuh dan tak berdaya. Pria ini telah menjelma menjadi sosok pelindung yang tangguh.

"Kamu serius, Yan?" tanya Maya, suaranya hampir menyerupai bisikan.

"Sangat serius," Rian tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang membakar sisa-sisa rasa dingin di hati Maya. "Mulai besok, kita hadapi Davin bareng-bareng. Aku nggak bakal biarkan pria itu menyentuh atau mengancam kamu lagi."

Kehangatan merayap pelan di dada Maya. Di tengah rimba tebal dan ancaman yang mengintai di depan mata, ia akhirnya menemukan kembali rumah tempatnya bersandar. Jalan setapak yang dulu menjadi saksi bisu kehancuran hatinya kini resmi berubah menjadi titik awal perjuangan mereka yang baru.

Sore yang kian larut kini sepenuhnya menyerahkan diri pada kepekatan malam. Angin perbukitan berembus makin kencang, menggoyangkan pucuk-pucuk pohon pinus hingga menjatuhkan sisa-sisa embun sore ke atas kepala dan bahu mereka. Namun, dingin yang menyerbu dari luar tak lagi mampu menembus hangat yang baru saja menyala di dada Maya.

Rian melepaskan kemeja luar berwarna hijau zaitun yang ia kenakan, menyisakan kaus putih polos yang membungkus tubuh tegapnya. Tanpa menunggu persetujuan, ia menyampirkan kemeja tebal itu ke bahu Maya, merapatkannya perlahan agar wanita itu terlindung dari terpaan angin malam yang makin menusuk.

"Nanti kamu kedinginan, Yan," ujar Maya pelan, tangannya refleks memegang kerah kemeja Rian yang masih menyimpan sisa kehangatan tubuh pria itu.

"Aku udah terbiasa sama dinginnya malam, May," Rian tersenyum tipis, matanya menatap Maya dengan binar yang tak pernah meredup. "Yang nggak bisa aku tahan itu cuma dinginnya sikap kamu kalau kamu berusaha nanggung semua beban ini sendirian lagi."

Maya menggigit bibir bawahnya. Ada rasa haru yang teramat sangat menyelusup ke relung hatinya, bercampur dengan penyesalan karena sempat meragukan Rian selama bertahun-tahun. Kemeja hijau zaitun itu tidak hanya menghalau dingin udara Wonosobo, tapi juga seolah menjadi benteng pertahanan pertama yang dibangun Rian untuk melindunginya dari kenyataan pahit yang menunggunya di rumah.

"Kita berjalan pelan-pelan ke parkiran, ya?" ajak Rian lembut sambil mengulurkan tangannya. "Motor atau mobil kamu di mana?"

"Aku... aku tadi diantar pakai mobil kantor, Yan. Supir kantor udah pulang duluan," aku Maya ragu. Sebenarnya, Davin yang sengaja mengatur agar supir kantor melepas tugasnya sore ini, membuat Maya tidak punya pilihan selain menumpang mobil Davin sebuah taktik licik yang biasa pria itu gunakan untuk mengontrolnya.

Rian terkekeh pelan, seolah bisa membaca apa yang terjadi tanpa Maya perlu menjelaskan lebih detail. "Berarti takdir emang mau aku yang mengantar kamu pulang sore ini. Mobilku di dekat gerbang masuk taman."

Maya menyambut uluran tangan Rian. Jemari mereka saling bertaut erat, mengisi celah-celah kosong yang telah terbiarkan dingin selama tujuh tahun lamanya. Setiap langkah yang mereka ambil menapak jalan setapak batu terasa begitu mantap. Kabut pekat yang menyelimuti area Hutan Pinus Wonosobo seolah tak lagi menjadi penghalang yang menakutkan, melainkan latar belakang indah bagi kembalinya dua jiwa yang sempat tersesat.

Di sepanjang jalan menuju gerbang luar, Rian tidak melepaskan genggaman tangannya sedikit pun. Ia berjalan agak pasang badan, memastikan Maya melangkah aman di sampingnya. Bayang-bayang ancaman Davin, risiko kebangkrutan usaha sang ibu, dan kerumitan surat utang yang membelit keluarganya masih ada di sana berdiri tegak seperti jurang yang siap menelan mereka kapan saja.

Namun, Maya tidak lagi merasa berjuang sendirian. Saat ia menoleh ke samping dan melihat profil wajah Rian yang tegas disinari remang lampu taman, rasa takut itu perlahan menguap. Ia tahu besok akan ada badai besar saat Davin menyadari bahwa cengkeramannya pada keluarga Maya mulai goyah. Pria itu pasti akan menggunakan segala kekuasaan dan uangnya untuk menghancurkan Rian.

Meski begitu, di balik bayang-bayang pepohonan pinus yang menjulang tinggi, sebuah tekad baru telah terpatri. Cinta pertama yang mereka simpan dalam-dalam ternyata tidak pernah padam oleh waktu maupun jarak. Perjalanan di depan mereka memang akan penuh duri dan rintangan, tetapi malam ini, di bawah naungan langit Wonosobo yang membeku, Maya dan Rian telah siap untuk melangkah bersama mengarungi babak baru kehidupan mereka.

Setibanya di dekat gerbang luar taman, lampu sorot dari sebuah mobil sedan hitam terparkir di bawah papan petunjuk arah menyilaukan pandangan mereka. Rian membukakan pintu penumpang depan dengan gerakan yang sangat natural, persis seperti yang selalu ia lakukan saat mereka masih berada di bangku sekolah dulu.

Maya masuk ke dalam kabin mobil yang langsung menyambutnya dengan kehangatan pendingin udara yang telah disesuaikan. Aroma wangi kopi dan kayu manis khas Rian memenuhi seluruh ruangan, seketika membuat ketegangan di pundak Maya yang terkumpul sejak kedatangan Davin perlahan terurai.

"Masih suka aroma kopi?" tanya Rian santai seraya mengitari bagian depan mobil dan duduk di kursi kemudi.

Maya mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang nyaman. "Nggak pernah berubah, Yan. Kopi selalu mengingatkan aku sama kamu."

Rian tersenyum lembut, lalu menyalakan mesin mobil. Suara deru mesin yang halus mulai terdengar saat mobil bergerak perlahan meninggalkan area parkir Hutan Pinus Wonosobo, membelah kabut tebal yang kini makin pekat menutupi jalanan berliku menuju pusat kota.

Selama perjalanan, keheningan yang melingkupi mereka sama sekali tidak terasa canggung. Ada kenyamanan luar biasa yang bertahun-tahun hilang kini kembali hadir di antara mereka. Maya memperhatikan profil Rian dari samping rahang yang tegas, jemari yang lihai mengendalikan roda kemudi, serta tatapan mata fokus yang memancar tenang. Pria ini telah benar-benar bertransformasi dari seorang remaja yang terpuruk menjadi pria dewasa yang bisa diandalkan.

"Kamu mau langsung pulang ke rumah, May?" tanya Rian memecah kesunyian, matanya tetap tertuju pada jalanan menanjak yang berkabut.

"Iya, Yan. Aku harus lihat kondisi Ibu. Aku takut Davin mampir ke rumah setelah dari hutan tadi dan bikin Ibu kepikiran," jawab Maya dengan nada khawatir yang tak bisa disembunyikan.

Rian menjangkau tangan kiri Maya yang bertengkurap di atas paha, mengusap punggung tangannya dengan ibu jari untuk menenangkan. "Jangan takut. Kalau Davin ada di sana, aku yang bakal hadapi dia. Kamu cuma perlu fokus nemenin Ibu."

"Tapi Rian... Davin itu nekat. Dia punya banyak koneksi di Wonosobo. Bisnis yang dia jalankan bareng almarhum Ayah dulu bikin dia pegang semua dokumen penting keluarga kami," bisik Maya lirih, rasa cemas kembali mencoba merayap masuk ke pikirannya.

"Dan aku punya bukti serta legalitas buat mematahkan itu semua, May," potong Rian tenang namun penuh penekanan. Ia menoleh sekilas ke arah Maya sebelum kembali fokus mengemudi. "Tujuh tahun aku di Jakarta bukan cuma kerja biasa. Perusahaan investasi yang aku bangun bareng rekan-rekanku fokus pada akuisisi dan penyelamatan aset. Aku tahu persis celah hukum dari permainannya Davin. Dia pikir dia bisa menekan kamu pakai utang lama? Dia salah besar."

Mata Maya berbinar mendengar penjelasan Rian. Ada rasa lega yang begitu tebal membuncah di dadanya. Beban berat yang selama ini memhimpit pundaknya seolah terangkat sebagian besar hanya dengan mendengar keyakinan dari suara Rian.

Mobil terus melaju membelah hawa dingin malam Wonosobo, melewati deretan toko dan rumah warga yang mulai menutup pintunya. Pijar lampu jalanan menimpa kaca depan mobil, menciptakan bayangan dinamis yang bergerak seiring perjalanan mereka.

Saat mobil Rian makin mendekati kawasan perumahan tempat tinggal Maya, jantung Maya kembali berdegup kencang. Di kejauhan, terlihat sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengilap terparkir tepat di depan pagar rumahnya. Lampu depan mobil itu masih menyala terang, memancarkan aura dominasi yang amat dikenal Maya.

Davin sudah ada di sana, menunggu mereka dengan kesabaran yang beracun.

Rian memperlambat laju mobilnya, menghentikan kendaraan persis di seberang jalan rumah Maya. Ia tidak menunjukkan rasa terkejut atau gentar sedikit pun. Justru, Rian menatap mobil Davin dengan tatapan dingin yang tajam dan siap bertarung.

"Dia benar-benar datang," gumam Maya dengan napas tertahan.

Rian melepaskan sabuk pengamannya, lalu menoleh ke arah Maya dengan senyuman paling hangat yang ia miliki. Ia meraih kedua tangan Maya dan menggenggamnya erat.

"Ingat janji aku tadi, May," ucap Rian penuh ketegasan yang menenangkan. "Malam ini adalah malam terakhir kamu merasa takut sama

Makasih udah baca Bab 1! Gimana menurut kalian sama kemunculan Davin? Geregetan banget gak sih sama sikapnya? ? Kalau kalian di posisi Maya, kalian bakal milih jujur sama Rian atau milih ngalah demi keluarga? Yuk, tulis pendapat kalian di kolom komentar! Jangan lupa klik Love dan masukin ke Library kalian ya biar gak ketinggalan Bab 2!

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience