Bagian 2 : |Rumah Baru END|

Romance Series 11

Hujan turun tanpa henti.

Langit sore tampak kelabu, seolah ikut berduka atas kepergian kedua orang tuaku. Rintik hujan menghantam jendela rumah sakit, menciptakan suara yang membuat suasana terasa semakin sunyi. Aku duduk diam di kursi ruang tunggu sambil memeluk boneka kelinci lusuh pemberian Mama. Mataku sembab karena menangis terlalu lama, tenggorokanku terasa sakit, tetapi air mata seolah tidak mau berhenti mengalir.

Semalam...

Aku masih memiliki keluarga yang utuh.

Mama masih sempat memelukku sebelum berangkat. Papa bahkan berjanji akan mengajakku membeli es krim sepulang kerja.

Hari ini...

Aku benar-benar sendirian.

Duniaku runtuh hanya dalam satu malam.

Aku terus menatap lantai, berharap semua ini hanyalah mimpi buruk. Namun aroma obat-obatan, suara langkah para perawat, dan kesunyian yang menyelimuti rumah sakit membuatku sadar bahwa kenyataan tidak akan berubah.

Suara langkah kaki mendekat membuatku mengangkat kepala perlahan.

Seorang pria paruh baya dengan wajah teduh berhenti di depanku. Di sampingnya berdiri seorang wanita yang tersenyum lembut, meski kedua matanya tampak memerah karena menangis.

"Aurelia..." panggil pria itu dengan suara pelan.

Aku hanya menatapnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

"Aku Ardhana. Sahabat ayahmu."

Baru saat itulah aku mengingat wajahnya. Beliau pernah beberapa kali datang ke rumah kami saat aku masih kecil. Papa selalu menyambutnya dengan senyum hangat.

Tuan Ardhana berlutut hingga sejajar denganku.

"Mulai hari ini, ikutlah bersama kami."

Aku menundukkan kepala.

"Ayah dan ibumu pernah berkata... kalau suatu hari nanti mereka tidak bisa menjagamu, kamilah yang akan melanjutkannya."

Tanganku mengepal erat.

Aku ingin menolak.

Aku ingin menunggu Mama dan Papa pulang.

Namun jauh di dalam hati, aku tahu...

Mereka tidak akan pernah kembali.

Dengan langkah kecil dan hati yang masih dipenuhi duka, aku mengikuti pasangan itu keluar dari rumah sakit.

Mobil hitam yang kami tumpangi berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar. Gerbang besi terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas yang dipenuhi taman bunga berwarna-warni. Bangunan megah itu tampak seperti rumah dalam dongeng yang sering Mama bacakan sebelum tidur.

"Mulai sekarang, ini rumahmu juga," ucap Nyonya Ardhana sambil menggenggam tanganku dengan hangat.

Aku hanya mengangguk pelan.

Pintu rumah terbuka.

"Papa sudah pulang?" terdengar suara seorang laki-laki dari lantai atas.

Seorang pemuda bertubuh tinggi menuruni tangga dengan langkah tenang. Wajahnya tampan, tetapi sorot matanya terlihat dingin dan sulit ditebak.

"Ini Nathan," kata Tuan Ardhana. "Anak pertama kami."

Nathan mengangguk singkat.

"Selama tinggal di sini, kalau ada yang mengganggumu, bilang padaku."

Nada suaranya datar, tetapi entah mengapa membuatku merasa sedikit aman.

Tak lama kemudian, seorang pemuda lain datang sambil membawa kotak P3K.

"Wah, jadi ini Aurelia?" Senyumnya hangat. "Aku Kaizen."

Tanpa ragu, ia berjongkok di depanku.

"Lututmu terluka."

Dengan sangat hati-hati ia membersihkan luka kecil di kakiku dan menempelkan plester.

"Mulai sekarang kita berteman, ya?"

Aku mengangguk malu.

Brumm...

Suara motor terdengar dari luar rumah.

Seorang pemuda berjaket hitam masuk sambil melepas helm.

"Siapa dia?" tanyanya singkat.

"Namanya Aurelia," jawab Tuan Ardhana.

Pemuda itu mengacak rambutnya sendiri sebelum tersenyum tipis.

"Revan."

Hanya satu kata.

Namun senyum kecil itu cukup membuat kesan pertamaku padanya terasa hangat.

"Eh! Kalian pulang tanpa nunggu aku?"

Suara riang memenuhi ruangan.

Seorang anak laki-laki berlari masuk sambil membawa sekotak cokelat. Ia berhenti tepat di depanku dengan mata berbinar.

"Wah... cantik."

Nathan langsung menepuk pelan kepalanya.

"Jangan sembarangan bicara."

Anak itu hanya tertawa.

"Hehe... namaku Elzio. Mulai sekarang kita teman, ya?"

Ia menyodorkan cokelat itu kepadaku.

"Ini buatmu."

Untuk pertama kalinya sejak kehilangan kedua orang tuaku...

Aku tersenyum.

Aku tidak pernah menyangka bahwa rumah yang kini menjadi tempat tinggalku akan mengubah seluruh hidupku.

Dan aku sama sekali tidak menyadari...

Empat anak laki-laki yang berdiri di hadapanku hari itu, kelak akan tumbuh menjadi empat pria yang rela melakukan apa pun demi memilikiku...
bahkan jika mereka harus menghancurkan dunia demi satu orang yang sama.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience