Series
26
Sejak kejadian kemarin, aku masih memikirkan sikap Revan.
Kalimatnya terus teringat di kepalaku.
"Jangan terlalu dekat dengannya."
Aku tidak mengerti kenapa dia begitu tidak menyukai Rio.
Rio hanya teman sekelasku.
Kami memang sering mengerjakan tugas bersama, tetapi tidak ada hubungan khusus di antara kami.
Pagi itu, aku turun ke ruang makan seperti biasa.
Nyonya Ardhana sudah menyiapkan sarapan.
Nathan duduk sambil membaca berita di ponselnya.
Kaizen sedang membuat kopi.
Elzio sibuk dengan ponselnya.
Sedangkan Revan duduk diam.
Aku menarik kursi.
"Selamat pagi."
"Selamat pagi," jawab Kaizen.
Aku menoleh kepada Revan.
"Selamat pagi."
"Pagi."
Jawabannya singkat.
Aku mulai makan.
Beberapa menit kemudian, Nyonya Ardhana bertanya,
"Aurelia, hari ini pulang jam berapa?"
"Sepertinya sore. Aku masih ada tugas kelompok."
Revan langsung menatapku.
"Dengan Rio lagi?"
Aku mengangguk.
"Iya."
Wajahnya terlihat tidak senang.
"Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Tidak apa-apa."
"Kalau tidak apa-apa, kenapa wajahmu seperti itu?"
Revan diam.
Nathan kemudian berkata,
"Sudah. Biarkan Aurelia menyelesaikan tugas sekolahnya."
Aku menghela napas.
"Terima kasih."
Setelah sarapan, aku segera berangkat ke sekolah.
Sesampainya di sekolah, aku langsung masuk kelas.
Rio sudah menungguku.
"Aurelia."
Aku menoleh.
"Hm?"
"Jangan lupa tugas kita."
"Iya. Setelah jam pelajaran selesai, kita ke perpustakaan."
Rio tersenyum.
"Oke."
Aku membalas senyumnya.
Hari itu kegiatan belajar berjalan seperti biasa.
Namun saat jam istirahat, aku kembali merasa seperti sedang diperhatikan.
Aku melihat ke arah lorong.
Tidak ada siapa-siapa.
Aku menggeleng.
"Mungkin aku terlalu banyak berpikir."
Aku kembali ke kelas.
Setelah semua pelajaran selesai, aku dan Rio pergi ke perpustakaan.
Kami duduk di meja yang sama.
Buku dan laptop terbuka di depan kami.
"Bagian ini sudah selesai," kata Rio.
Aku melihat layar laptop.
"Berarti tinggal bagian terakhir."
"Iya."
Kami mulai mengerjakan bagian terakhir.
Sesekali kami berbicara dan tertawa.
Aku tidak tahu bahwa dari luar perpustakaan, Revan sedang berdiri memperhatikan kami.
Ia datang untuk menjemputku.
Namun ketika melihat aku bersama Rio, ia memilih menunggu.
Tangannya mengepal.
Ia sebenarnya ingin masuk dan membawaku pergi.
Tetapi ia menahan diri.
"Kenapa aku jadi seperti ini?"
Ia menghela napas.
Ia tahu rasa cemburu itu semakin sulit dikendalikan.
Namun ia juga tahu bahwa aku tidak melakukan kesalahan apa pun.
Setelah beberapa saat, Revan pergi meninggalkan perpustakaan.
Satu jam kemudian, tugas kami akhirnya selesai.
Aku menutup laptop.
"Sudah."
Rio tersenyum.
"Besok tinggal dicetak."
"Syukurlah."
Kami keluar dari perpustakaan bersama.
Saat sampai di gerbang sekolah, aku melihat Revan berdiri di dekat motornya.
Aku sedikit terkejut.
"Revan?"
"Ayo pulang."
Aku berjalan mendekatinya.
"Maaf membuatmu menunggu."
"Tidak apa-apa."
Rio berdiri beberapa langkah di belakangku.
"Sampai besok, Aurelia."
Aku tersenyum.
"Sampai besok."
Revan menatap Rio sebentar.
Namun kali ini ia tidak mengatakan apa-apa.
Aku memakai helm lalu naik ke motor.
Sepanjang perjalanan pulang, kami hanya diam.
Aku akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Revan."
"Hm?"
"Kamu masih marah sama Rio?"
Ia tidak langsung menjawab.
"Sedikit."
Aku tersenyum kecil.
"Kenapa?"
"Karena aku takut."
Aku terdiam.
"Takut apa?"
Revan menarik napas.
"Takut kamu lebih memilih orang lain."
Aku tidak menyangka akan mendengar jawaban itu.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Setelah beberapa detik, aku berkata,
"Revan, kamu tidak perlu takut."
Ia melirikku melalui kaca spion.
"Aku tidak akan meninggalkan kalian hanya karena punya teman."
Revan terdiam.
Aku melanjutkan,
"Rio hanya teman. Kamu tidak perlu cemburu."
Untuk pertama kalinya hari itu, wajah Revan terlihat sedikit lebih tenang.
"Benarkah?"
"Iya."
"Janji?"
Aku tersenyum.
"Janji."
Setelah itu, perjalanan pulang terasa lebih tenang.
Sesampainya di rumah, kami masuk bersama.
Kaizen sedang duduk di ruang keluarga.
Ia melihat kami.
"Sudah pulang?"
"Sudah," jawabku.
Kaizen memperhatikan Revan.
"Kalian tidak bertengkar?"
Aku tertawa kecil.
"Tidak."
Revan hanya menggeleng.
Kaizen tersenyum.
"Bagus."
Aku kemudian duduk di sofa.
Hari ini terasa melelahkan.
Beberapa menit kemudian, Revan duduk di kursi yang tidak jauh dariku.
"Aurelia."
"Hm?"
"Maaf kalau kemarin aku terlalu berlebihan."
Aku menatapnya.
Aku cukup terkejut mendengar permintaan maaf itu.
"Tidak apa-apa."
"Aku cuma terlalu khawatir."
Aku tersenyum.
"Aku mengerti."
Revan mengangguk.
"Terima kasih."
Aku kembali tersenyum.
Masalah itu akhirnya selesai.
Setidaknya untuk hari ini.
Malam datang.
Aku berada di kamar sambil menyelesaikan tugas sekolah.
Pikiranku jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.
Aku akhirnya mengerti bahwa Revan hanya terlalu khawatir.
Mungkin selama ini aku memang salah memahami sikapnya.
Aku meletakkan buku setelah tugas selesai.
Kemudian aku melihat ke luar jendela.
Rumah terasa tenang.
Aku tersenyum kecil.
"Semoga semuanya baik-baik saja."
Aku tidak tahu...
di balik ketenangan itu, masih ada banyak hal yang belum kuketahui.
Namun untuk malam ini, aku memilih tidak memikirkannya.
Aku hanya ingin tidur dan menjalani hari esok seperti biasa.
Aku mematikan lampu kamar.
Menarik selimut.
Dan menutup mata.
Tanpa mengetahui bahwa perubahan kecil dalam hubungan kami sebenarnya belum berakhir.
Tetapi setidaknya...
untuk malam ini, tidak ada pertengkaran.
Tidak ada air mata.
Tidak ada masalah.
Hanya keheningan yang menemani tidurku.
Share this novel