BAB 5. |Jangan Dekati Dia|.

Romance Series 26

Pagi itu, suasana rumah keluarga Ardhana terasa sedikit berbeda.

Aku tidak tahu apa penyebabnya.

Atau mungkin... hanya perasaanku saja.

Sejak bangun tidur, aku merasa beberapa pasang mata terus memperhatikanku.

Saat aku turun ke ruang makan, Nathan sudah duduk di tempat biasanya.

Kaizen sedang menuangkan susu ke dalam gelas.

Elzio memainkan ponselnya.

Sedangkan Revan berdiri di dekat jendela sambil menatap halaman.

Aku menarik kursi.

"Selamat pagi."

"Selamat pagi," jawab Kaizen.

Nathan hanya mengangguk.

Elzio tersenyum kecil.

Namun Revan tidak mengatakan apa-apa.

Aku menatapnya beberapa detik.

"Revan?"

"Hm?"

"Kamu kenapa?"

"Tidak apa-apa."

Jawabannya terlalu singkat.

Aku menghela napas lalu mulai menyantap sarapan.

Beberapa menit kemudian, ponselku bergetar.

Sebuah pesan masuk.

Dari Rio.

Aurelia, jangan lupa nanti kita lanjut diskusi tugas. Aku sudah cari beberapa bahan.

Aku tersenyum kecil.

Tanpa sadar, senyum itu membuat seseorang di seberang meja berhenti makan.

Revan.

Tatapannya tertuju pada layar ponselku.

"Kamu masih berhubungan sama dia?"

Aku mengangkat wajah.

"Rio?"

"Iya."

"Ya. Kami satu kelompok."

"Harus setiap hari chat?"

Aku mengernyit.

"Memangnya kenapa?"

Revan tidak menjawab.

Nathan meletakkan cangkir kopinya.

"Revan."

Satu kata.

Namun cukup membuat Revan terdiam.

Kaizen meliriknya.

"Kalau itu tugas sekolah, biarkan saja."

Revan mendecak.

"Aku cuma bertanya."

Aku tersenyum kecil.

"Kalian terlalu khawatir."

Aku kembali menatap ponsel.

Tanpa kusadari, tangan Revan mengepal di bawah meja.

..ΩΩΩΩΩ..

Di sekolah, aku berusaha melupakan kejadian pagi tadi.

Aku duduk bersama Rio dan anggota kelompok lainnya di perpustakaan.

Buku-buku terbuka di atas meja.

Laptop menyala.

Kertas-kertas memenuhi meja.

"Aurelia, bagian ini kamu yang kerjakan?"

"Iya."

Rio menggeser kursinya sedikit lebih dekat.

"Kalau kesulitan, bilang saja."

Aku mengangguk.

"Terima kasih."

Kami kembali mengerjakan tugas.

Sesekali Rio membuat lelucon kecil yang membuatku tertawa.

Aku tidak menyadari bahwa seseorang berdiri di luar perpustakaan.

Revan.

Ia datang untuk menjemputku.

Namun langkahnya berhenti ketika melihat pemandangan di dalam.

Rio duduk terlalu dekat.

Terlalu nyaman.

Dan Aurelia...

tersenyum kepadanya.

Tatapan Revan berubah.

Ia menggenggam tali tasnya erat.

"Kenapa harus dia?"

Seseorang di belakangnya tiba-tiba bersuara.

"Kalau tidak suka, masuk saja."

Revan menoleh.

Kaizen berdiri beberapa langkah darinya.

"Kamu ngikutin aku?"

"Tidak."

Kaizen tersenyum tipis.

"Aku hanya ingin memastikan kamu tidak melakukan sesuatu yang akan kamu sesali."

Revan kembali melihat ke dalam.

"Aku tidak suka dia."

"Rio?"

"Iya."

Kaizen diam.

"Dia tidak melakukan apa-apa."

"Itulah masalahnya."

Revan menatap Aurelia.

"Dia mulai membuat Aurelia nyaman."

Kaizen menghela napas.

"Revan."

"Apa?"

"Jangan sampai perhatianmu berubah menjadi sesuatu yang membuat Aurelia takut."

Revan tidak menjawab.

Karena jauh di dalam dirinya...

ia tahu Kaizen benar.

Namun ia juga tahu satu hal.

Ia tidak ingin kehilangan Aurelia.

..ΩΩΩΩΩ..

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.

Aku memasukkan buku ke dalam tas.

Rio menghampiriku.

"Aurelia."

"Hm?"

"Mau pulang bareng?"

Aku hendak menjawab ketika suara lain terdengar.

"Tidak perlu."

Aku menoleh.

Revan berdiri di dekat pintu.

Aku mengedipkan mata.

"Revan?"

"Aku yang jemput."

Rio tersenyum canggung.

"Oh. Oke."

Ia menatapku.

"Sampai besok, Aurelia."

Aku tersenyum.

"Sampai besok."

Revan langsung berbalik.

Aku buru-buru mengejarnya.

"Kenapa kamu datang lebih cepat?"

"Tidak boleh?"

"Bukan begitu."

Kami berjalan menuju parkiran.

Aku memperhatikan wajahnya.

"Revan."

"Apa?"

"Kamu marah sama Rio?"

Langkahnya berhenti.

Ia menatapku.

"Tidak."

"Tapi wajahmu kelihatan seperti orang marah."

"Aku memang sedang tidak suka sesuatu."

"Apa?"

Revan menatapku cukup lama.

"Kamu."

Aku terdiam.

"Aku?"

"Iya."

Dadaku berdebar.

Namun sebelum aku sempat bertanya lebih jauh, Revan kembali berjalan.

"Ayo."

Aku mengikutinya dengan pikiran penuh tanda tanya.

..ΩΩΩΩΩ..

Malam harinya.

Aku sedang berada di kamar ketika suara ketukan terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

"Masuk."

Pintu terbuka.

Kaizen muncul sambil membawa sebuah buku.

"Belum tidur?"

"Belum."

Ia duduk di kursi dekat jendela.

"Besok ada tugas?"

"Ada."

"Masih satu kelompok sama Rio?"

Aku menatapnya.

"Kenapa semua orang bertanya tentang Rio?"

Kaizen tersenyum.

"Tidak ada apa-apa."

"Kalian aneh."

Aku kembali membaca buku.

Namun Kaizen tidak langsung pergi.

Ia justru memperhatikanku dalam diam.

"Aurelia."

"Hm?"

"Kalau ada seseorang yang membuatmu tidak nyaman, bilang kepada kami."

Aku mengangguk.

"Baik."

"Jangan sembunyikan apa pun."

Aku tersenyum.

"Kenapa tiba-tiba serius?"

"Karena kamu penting bagi kami."

Aku terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Tetapi entah mengapa...

ada sesuatu yang membuatku merasa tidak nyaman.

Kaizen berdiri.

"Selamat malam."

"Selamat malam."

Pintu tertutup.

Aku kembali menatap buku.

Namun pikiranku tidak lagi berada di sana.

..ΩΩΩΩΩ..

Di lantai bawah.

Nathan sedang berdiri di ruang kerja.

Laptopnya terbuka.

Sebuah foto terpampang di layar.

Foto Aurelia dan Rio.

Nathan menatap foto itu tanpa ekspresi.

Pintu terbuka.

Revan masuk.

"Kamu masih melihat foto itu?"

Nathan menutup laptop.

"Ya."

"Dia tidak punya niat apa-apa."

"Belum tentu."

Revan terdiam.

Nathan berdiri.

"Kita tidak tahu siapa Rio."

"Dia hanya teman sekolah."

Nathan menatapnya.

"Dan kamu yakin?"

Revan tidak menjawab.

Kaizen masuk beberapa detik kemudian.

"Berhenti."

Nathan menoleh.

"Berhenti apa?"

"Memikirkan Rio seolah-olah dia ancaman."

Revan tertawa kecil.

"Kalau bukan ancaman, kenapa kita semua merasa terganggu?"

Keheningan memenuhi ruangan.

Tidak ada yang bisa menjawab.

Karena masing-masing dari mereka memiliki alasan sendiri.

Nathan takut Aurelia memilih orang lain.

Kaizen takut Aurelia perlahan menjauh.

Revan tidak suka melihat Aurelia tertawa bersama laki-laki lain.

Dan Elzio...

Elzio bahkan tidak ingin membayangkan Aurelia meninggalkan rumah itu.

..ΩΩΩΩΩ..

Di kamar lain.

Elzio duduk di atas tempat tidur.

Ponselnya berada di tangan.

Ia membuka akun media sosial Aurelia.

Satu per satu unggahan Aurelia terlihat.

Tidak ada yang aneh.

Sampai ia menemukan foto kegiatan kelompok sekolah.

Rio berdiri di samping Aurelia.

Elzio menatap layar cukup lama.

Senyumnya perlahan menghilang.

"Dia lagi..."

Ia mengunci ponselnya.

Kemudian membuka laci.

Boneka kelinci kecil itu masih berada di sana.

Elzio mengambilnya.

"Kak Aurelia..."

Ia memeluk boneka itu.

"Jangan pergi."

Suaranya sangat pelan.

Seolah takut ada seseorang yang mendengarnya.

..ΩΩΩΩΩ..

Keesokan harinya.

Aku sampai di sekolah lebih pagi.

Rio sudah menungguku di depan kelas.

"Aurelia."

Aku tersenyum.

"Kenapa?"

"Aku mau kasih sesuatu."

Ia menyerahkan sebuah flashdisk.

"Ini semua bahan tugas yang kemarin."

"Oh, terima kasih."

Aku menerima benda itu.

Saat itulah sebuah suara terdengar dari belakang.

"Aurelia."

Aku menoleh.

Revan.

Ia berdiri beberapa meter dariku.

Tatapannya berpindah dari wajahku...

ke Rio...

lalu ke flashdisk di tanganku.

"Revan?"

"Ikut aku."

Aku mengerutkan kening.

"Kenapa?"

"Sebentar saja."

Aku melihat Rio.

"Maaf, nanti kita lanjut."

Rio mengangguk.

Aku mengikuti Revan.

Namun baru beberapa langkah berjalan, Revan berhenti.

"Aku mau bilang sesuatu."

"Apa?"

Ia menatapku.

"Aku tidak suka Rio."

Aku terdiam.

"Kenapa?"

"Karena dia terlalu dekat denganmu."

Aku tertawa kecil.

"Dia cuma teman."

"Aku tahu."

"Lalu?"

Revan menatapku tajam.

"Kalau begitu..."

Ia menarik napas panjang.

"Jangan terlalu dekat dengannya."

Aku terdiam.

"Revan..."

"Aku serius."

Untuk pertama kalinya...

aku melihat sesuatu dalam tatapan Revan yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Bukan sekadar perhatian.

Bukan sekadar rasa khawatir.

Ada ketakutan.

Ada kecemburuan.

Dan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Aku tidak tahu harus menyebutnya apa.

Revan kemudian berjalan meninggalkanku.

Aku berdiri sendirian di lorong.

Memandangi punggungnya yang semakin jauh.

Tanpa kusadari...

kalimatnya terus terngiang di kepalaku.

Jangan terlalu dekat dengannya.

Aku tidak tahu bahwa itu baru permulaan.

Karena setelah hari itu...

batas antara perhatian dan kepemilikan mulai menghilang.

Dan seseorang yang awalnya hanya dianggap sebagai teman...

perlahan akan menjadi alasan mengapa seluruh rumah keluarga Ardhana berubah menjadi tempat yang penuh rahasia.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience