Bab 4 | Retakan Pertama |

Romance Series 26

Aku tidak pernah menyangka bahwa perubahan besar sering kali datang dari hal-hal kecil.

Senyum yang terlalu lama.

Tatapan yang sulit dijelaskan.

Dan perhatian yang mulai terasa berbeda.

Pagi itu, seperti biasa, aku turun ke ruang makan dengan rambut yang masih sedikit basah sehabis mandi.

"Aurelia, sini sarapan."

Suara Nyonya Ardhana terdengar hangat.

Aku mengangguk lalu duduk di kursi yang sudah menjadi tempatku sejak bertahun-tahun lalu.

Nathan sedang membaca koran sambil menikmati kopi hitam.

Kaizen membantu menyiapkan roti panggang.

Revan datang tergesa-gesa dengan seragam sekolah yang belum rapi.

Sedangkan Elzio sibuk memainkan ponselnya.

Suasana itu terasa begitu biasa.

Sampai sebuah pesan masuk ke ponselku.

Selamat pagi, Aurelia. Jangan lupa tugas kelompok hari ini.

Pesan itu berasal dari Rio, teman sekelasku.

Aku hanya membalas singkat.

Iya, terima kasih sudah mengingatkan.

Tanpa kusadari, Revan melihat layar ponselku.

"Rio siapa?"

Aku mengangkat kepala.

"Teman sekelas."

"Laki-laki?"

"Iya."

Revan langsung mengernyit.

"Ngapain dia chat pagi-pagi?"

"Itu cuma soal tugas."

Nathan yang sedari tadi diam akhirnya berbicara.

"Kalau urusan sekolah, tidak masalah."

Nada suaranya datar, tetapi tatapannya tidak pernah lepas dari ponselku.

Kaizen mencoba mencairkan suasana.

"Sudahlah. Aurelia juga butuh teman."

Revan mendecak pelan.

"Teman perempuan masih banyak."

Aku hanya tertawa kecil.

"Kalian ini aneh."

Bagiku, semua itu hanyalah bentuk perhatian.

Aku sama sekali tidak menyadari bahwa udara di ruang makan berubah menjadi sedikit lebih dingin.


-----

Di sekolah, kegiatan belajar berlangsung seperti biasa.

Saat jam istirahat, Rio menghampiriku bersama beberapa teman kelompok.

"Aurelia, nanti setelah pulang kita ke perpustakaan, ya?"

"Boleh."

Kami mulai berdiskusi mengenai tugas yang harus dikumpulkan minggu depan.

Tanpa sadar, aku tertawa ketika Rio melontarkan lelucon.

Tawa itu terdengar ringan.

Tulus.

Namun dari balik pagar sekolah, sepasang mata memperhatikan semuanya.

Revan.

Ia datang lebih awal untuk menjemputku.

Tatapannya mengeras ketika melihat Rio berdiri terlalu dekat denganku.

Tangannya mengepal.

"Berani juga..."

gumamnya pelan.


-----

Sore harinya, aku berpamitan kepada teman-teman setelah selesai belajar di perpustakaan.

Ketika keluar dari gerbang sekolah, Revan sudah menunggu di atas motornya.

"Ayo."

Aku tersenyum.

"Maaf bikin nunggu."

Revan hanya mengangguk.

Sepanjang perjalanan, ia hampir tidak berbicara.

Biasanya ia selalu bercerita tentang balapan, teman-temannya, atau hal-hal konyol.

Hari itu berbeda.

Ia diam.

Sangat diam.

Sesampainya di rumah, ia langsung masuk tanpa menungguku.

Aku memiringkan kepala.

"Aneh..."


-----
Malamnya, hujan turun cukup deras.

Aku sedang membaca buku di ruang keluarga ketika Kaizen datang membawa secangkir cokelat hangat.

"Minum dulu."

"Terima kasih."

Kaizen duduk di seberangku.

"Aurelia."

"Hm?"

"Tadi pulang sama Revan?"

"Iya."

"Dia marah?"

Aku menggeleng.

"Nggak tahu. Dari tadi diam."

Kaizen tersenyum tipis.

"Dia memang seperti itu."

Meski berkata santai, sorot matanya menunjukkan sesuatu yang sulit kuartikan.

Seolah-olah ia sudah mengetahui penyebab perubahan sikap Revan.


-----

Di balkon lantai dua.

Nathan berdiri memandangi hujan.

Ponselnya menampilkan sebuah foto.

Foto yang diam-diam diambil seseorang.

Aurelia sedang tertawa bersama Rio di perpustakaan.

Nathan menatap foto itu cukup lama.

Rahangnya mengeras.

"Aku tidak suka..."

Suara langkah kaki terdengar dari belakang.

Kaizen menghampiri.

"Kamu juga dapat fotonya?"

Nathan mematikan layar ponselnya.

"Siapa yang mengambil?"

"Entahlah."

Keheningan menyelimuti keduanya.

Hujan semakin deras.

"Apa menurutmu dia mulai tertarik pada laki-laki lain?"

tanya Kaizen pelan.

Nathan tidak langsung menjawab.

"Belum."

"Tapi kalau suatu hari nanti..."

Nathan memotong kalimat itu.

"Itu tidak akan terjadi."

Nada suaranya tenang.

Namun justru ketenangan itulah yang terdengar mengerikan.


-----

Di garasi rumah.

Revan sedang memukul samsak tinju sekuat tenaga.

Bug!

Bug!

Bug!

Setiap pukulan dipenuhi emosi yang sulit ia kendalikan.

"Apa hebatnya Rio itu?"

Ia mengusap keringat di dahinya.

"Kenapa dia bisa bikin Aurelia ketawa seperti tadi?"

Semakin dipikirkan, dadanya terasa semakin sesak.

Perasaan itu asing.

Namun perlahan mulai menguasainya.


-----

Di kamar.

Elzio membuka laci meja belajarnya.

Di dalamnya masih tersimpan boneka kelinci lusuh milik Aurelia.

Ia tersenyum kecil.

"Aku janji bakal jagain Kak Aurelia."

Tangannya mengusap boneka itu dengan hati-hati.

"Jadi... jangan dekat sama orang lain, ya."

Kalimat itu terdengar seperti doa.

Atau mungkin...

Sebuah permohonan.


-----

Sementara itu, aku sama sekali tidak mengetahui semua yang terjadi.

Aku hanya berdiri di depan jendela kamar, menikmati suara hujan sambil memikirkan tugas sekolah yang belum selesai.

Bagiku...

Hari ini hanyalah hari biasa.

Aku tidak tahu bahwa sebuah retakan kecil mulai muncul di antara hubungan kami.

Retakan yang perlahan akan membelah kepercayaan.

Dan suatu hari nanti...

Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan kehancurannya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience