BAB 3 —Tahun yang Mengubah Segalanya

Romance Series 11

Rumah keluarga Ardhana perlahan berubah menjadi tempat yang benar-benar kupanggil rumah.

Hari-hari berlalu begitu cepat.

Musim berganti, kalender terus berganti lembar, dan luka di hatiku yang dulu terasa menganga perlahan mulai tertutup. Meski tidak pernah benar-benar sembuh, setidaknya aku belajar untuk menjalani hidup tanpa terus menangis setiap malam.

Keluarga Ardhana menepati janji mereka.

Mereka tidak pernah memperlakukanku seperti orang asing.

Nyonya Ardhana selalu memastikan aku sarapan sebelum berangkat sekolah. Tuan Ardhana sering mengajakku berbicara tentang pelajaran atau sekadar menanyakan bagaimana hariku. Mereka tidak pernah memaksaku melupakan kedua orang tuaku. Sebaliknya, mereka selalu membiarkanku mengenang mereka dengan caraku sendiri.

Di rumah itu, aku tumbuh bersama empat anak laki-laki yang sifatnya benar-benar berbeda.

Nathan, anak sulung, tetap menjadi sosok yang paling tenang. Ia jarang tersenyum dan lebih banyak menghabiskan waktu belajar atau membantu ayahnya mengurus perusahaan keluarga. Meski terlihat dingin, Nathan selalu diam-diam memperhatikanku.

Jika aku lupa membawa payung, payung cadangan sudah berada di tasku.

Jika aku pulang terlambat karena kegiatan sekolah, mobil keluarga selalu datang menjemput.

Ia tidak banyak bicara.

Namun semua tindakannya selalu membuatku merasa aman.

Kaizen berbeda.

Ia selalu menjadi orang pertama yang bertanya apakah aku sudah makan, apakah aku kelelahan, atau apakah ada teman yang menggangguku di sekolah.

Ia sering membuatkan cokelat hangat ketika aku sulit tidur.

"Kalau hati sedang sedih, minum ini," katanya sambil tersenyum lembut.

Aku selalu menganggapnya seperti kakak yang paling penyayang.

Sementara itu, Revan tetap menjadi Revan.

Ia sulit diam.

Hampir setiap minggu ada saja masalah yang dibuatnya.

Kadang ia pulang dengan luka di pelipis karena berkelahi.

Kadang motornya disita polisi karena balapan liar.

Meski begitu, setiap kali melihatku menangis, ia selalu menjadi orang pertama yang marah kepada siapa pun yang membuatku sedih.

"Siapa yang ganggu kamu?"

Kalimat itu hampir selalu keluar dari mulutnya.

Lalu ada Elzio.

Anak paling kecil di keluarga Ardhana.

Ia tumbuh menjadi anak yang ceria, usil, dan tidak pernah jauh dariku.

Ke mana pun aku pergi, Elzio hampir selalu mengikuti.

Kalau aku membaca buku, ia ikut membaca.

Kalau aku menonton film, ia ikut duduk di sampingku.

Bahkan saat aku membantu Nyonya Ardhana memasak di dapur, Elzio akan sibuk mencuri potongan kentang goreng sebelum matang.

"Kak Aurelia, enak!"

"Itu belum matang."

"Tetap enak."

Jawabannya selalu membuat semua orang tertawa.

Hari-hari itu terasa damai.

Aku benar-benar percaya bahwa kami hanyalah sebuah keluarga.

Namun tanpa kusadari...

Perasaan mereka mulai berubah seiring bertambahnya usia.

---

Beberapa tahun kemudian.

"Aurelia!"

Aku menoleh ketika mendengar suara seseorang memanggil dari gerbang sekolah.

Revan melambaikan tangan dari atas motornya.

"Cepat naik!"

Teman-teman sekelasku langsung berbisik.

"Itu kakaknya Aurelia?"

"Ganteng banget."

"Pantes tiap hari dijemput."

Aku hanya tersenyum canggung sebelum menghampiri Revan.

"Ayo."

Belum sempat aku naik ke motor, sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan kami.

Nathan keluar dari dalam mobil.

"Kamu naik mobil."

Revan mendengus.

"Dia sudah mau naik motorku."

Nathan menatapnya datar.

"Motor bukan tempat yang aman."

"Lebih aman daripada mobilmu yang bikin bosan."

"Kalian..."

Aku menghela napas pelan.

Perdebatan seperti ini sudah sering terjadi.

Dan anehnya...

Selalu tentang aku.

Kaizen yang baru datang hanya tertawa kecil.

"Sudah, jangan ribut."

Ia membuka pintu belakang mobil.

"Aurelia pasti capek."

Revan menggerutu pelan.

Nathan tetap memasang wajah tanpa ekspresi.

Pada akhirnya aku tetap masuk ke dalam mobil.

Aku tidak ingin mereka terus bertengkar.

Dari kaca jendela, kulihat Revan memukul pelan setir motornya dengan kesal.

Aku hanya menganggapnya sebagai pertengkaran biasa antar saudara.

Aku tidak tahu...

Bahwa alasan mereka saling bersaing jauh lebih rumit dari itu.

---

Malam harinya.

Aku sedang duduk di ruang keluarga sambil mengerjakan tugas.

Elzio datang membawa semangkuk es krim.

"Buat Kak Aurelia."

"Terima kasih."

Belum sempat aku mengambilnya, Revan lebih dulu duduk di sebelahku.

"Jangan kebanyakan makan dingin."

"Aku cuma kasih satu."

Nathan yang baru pulang kerja meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.

"Vitamin."

Aku mengerjap bingung.

"Untukku?"

Nathan mengangguk.

"Kamu akhir-akhir ini sering lembur tugas."

Kaizen ikut datang membawa segelas susu hangat.

"Minum ini juga."

Aku memandangi empat orang itu bergantian.

"Kenapa kalian baik sekali?"

Mereka saling menatap.

Lalu...

"Tentu saja."

"Kamu keluarga."

Jawaban itu keluar hampir bersamaan.

Aku tersenyum kecil.

Tidak ada sedikit pun rasa curiga di dalam hatiku.

Bagiku...

Mereka memang keluargaku.

Namun jauh di sudut ruangan...

Nathan diam-diam memperhatikan senyumku.

Tatapannya begitu dalam.

"Jangan pernah tersenyum seperti itu pada pria lain..."

gumamnya sangat pelan hingga tak seorang pun mendengarnya.

Di balkon lantai dua, Revan menggenggam pagar besi erat.

"Aku benci kalau ada cowok yang lihat dia."

Sementara itu, Kaizen menatap cangkir di tangannya.

Senyumnya tetap lembut.

Namun sorot matanya perlahan berubah.

"Kalau semua orang menjauh darinya... dia akan tetap tinggal bersama kami."

Sedangkan Elzio memeluk boneka kelinci lusuh milik Aurelia yang diam-diam ia simpan sejak bertahun-tahun lalu.

Boneka yang menjadi saksi hari pertama Aurelia datang ke rumah itu.

"Aku nggak akan membiarkan Kak Aurelia pergi."

Senyumnya masih sama seperti dulu.

Manis.

Hangat.

Namun kini...

Di balik senyum itu, tumbuh obsesi yang bahkan belum disadari oleh siapa pun.

Sementara Aurelia masih tertawa bersama keluarga yang ia percaya sepenuh hati...

Takdir perlahan mulai menulis kisah yang berbeda.

Kisah tentang cinta yang berubah menjadi rasa memiliki.

Dan obsesi yang akan mengubah kehidupan mereka selamanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience