BAB 2 ORANG DALAM

Romance Series 23

"Kamu."

Penolong berkacamata itu mengerjap. "S-saya?"

"Masuk."

Dia tidak bergerak. Asmara melangkah ke arahnya, pistol sudah disarung tapi tangan kanan masih di pinggang, dan sesuatu dalam cara dia bergerak membuat lelaki itu mundur selangkah sebelum berhenti sendiri?seolah dia sedar mundur pun salah.

"Nama."

"Rivan. Rivan Kusuma. Saya asisten pribadi Pak Arsalan?"

"Sejak kapan."

"Dua tahun?"

"Siapa yang tahu jadwal hari ini."

Rivan membuka mulut. Menutupnya. Di belakang Asmara, bunyi Arsalan bangkit dari lantai?kayu bergeser, nafas berat, kemeja mahal yang kini berdebu di siku. Serpihan kaca masih berselerak di permaidani. Jam dinding terus berdetik. Entah kenapa bunyi itu yang paling kuat sekarang.

"Jawabannya." Asmara tidak naikkan suara. Tidak perlu.

"Banyak yang tahu jadwal harian Pak Arsalan?saya, tim sekretariat, kepala keamanan, beberapa direktur?"

"Berapa orang tahu dia akan ada di bilik ini jam sembilan pagi."

Rivan menelan. Perlahan. "Saya. Sekretaris utama, Bu Laras. Dan... Pak Arsalan sendiri."

"Tiga orang."

"Ya."

Asmara berpaling ke Arsalan. Lelaki itu sedang menepuk debu dari lengannya dengan cara orang yang marah tapi tidak mahu kelihatan marah. Ada goresan kecil di dahi kirinya?kaca mungkin, atau permaidani, atau kedua-dua. Dia tidak menyentuhnya.

"Kenapa kamu tidak tanya izin sebelum menendang pintu kamar saya."

"Kenapa kamu masih berdiri dan bukan berlutut berterima kasih."

Arsalan berhenti menepuk lengannya.

"Kamu?"

"Duduk." Asmara menoleh ke Rivan. "Kamu juga."

Rivan duduk di kerusi tepi dinding. Asmara berdiri. Arsalan tidak duduk?dia pergi ke meja, mengambil cawan kopi yang entah bagaimana masih tidak tumpah, dan minum. Tangan kirinya stabil. Tangan kanan, yang dia letak di meja, jarinya mengetuk sekali. Dua kali. Berhenti.

Asmara catat itu.

"Rivan." Dia mengeluarkan telefon, buka aplikasi rakaman. Letak di meja antara mereka. "Semalam malam, kamu di mana."

"Di rumah?"

"Jam berapa kamu tidur."

"Mungkin jam dua belas?"

"Jam berapa kamu bangun."

"Enam?"

"Kamu drive sendiri ke sini atau ada yang antar."

Rivan mengedip. Pertukaran cepat itu?soalan demi soalan tanpa jeda?memang dirancang untuk itu. Bagi otak yang menyembunyikan sesuatu, irama cepat itu mematikan masa untuk menyusun pembohongan.

"Drive sendiri."

"Nombor plat kereta."

Rivan sebut. Asmara hafal. "Siapa yang kamu hubungi pagi ini sebelum sampai sini."

"Tidak ada?telepon saya ada di laci meja, saya bisa tunjukkan?"

"Saya akan periksa sendiri nanti."

Arsalan meletakkan cawan dengan lebih keras dari perlu. "Rivan sudah dua tahun dengan saya. Kalau kamu pikir?"

"Dua tahun cukup lama untuk tahu jadwal. Juga cukup lama untuk buat hutang yang salah." Asmara tidak berpaling dari Rivan. "Kamu ada masalah keuangan."

Bukan soalan.

Rivan membeku.

Asmara sudah baca fail semalam. Semua fail?bukan sahaja tentang Arsalan. Penolong kanan yang baik selalu ada dalam fail. "Cicilan apartemen kamu naik dua bulan lalu. Tiga kartu kredit hampir di limit. Dan bulan lalu kamu jual satu jam tangan?merek yang sama dengan yang Pak Arsalan berikan ke semua tim senior tahun lalu sebagai bonus."

Rivan melihat ke Arsalan. Gerakan reflex. Salah.

"Saya tidak?itu bukan?masalah keuangan tidak berarti saya?"

Telefon Asmara bergetar.

Hendra.

Dia angkat. "Ya."

"Kami sudah kepung bangunan." Suara Hendra datar. "Bilik dua tujuh. Penembak sudah tidak ada. Kabur lewat tangga darurat?rekaman CCTV di dua lantai bawah rusak sejak kemarin malam."

"Sengaja dirusak."

"Kelihatannya begitu."

"Ada yang ditinggalkan."

Hendra berhenti sekejap. "Iya. Tim saya baru masuk. Ada beberapa hal yang perlu kamu lihat sendiri."

Asmara tutup telefon. Dia melihat ke Arsalan. Untuk pertama kalinya sejak dia masuk ke bilik ini, Arsalan tidak berkata apa-apa. Dia hanya berdiri dengan cawan kopi di tangan dan mata yang sedang mengira sesuatu yang tidak kelihatan di udara.

"Jangan keluar dari tingkat ini," kata Asmara. "Mana-mana dari kalian berdua."

Bangunan seberang. Tingkat dua puluh tujuh. Bilik kosong yang sepatutnya dalam proses sewaan baru?Asmara dapat tahu dari cat dinding yang masih bau dan karpet plastik pelindung yang belum diangkat.

Tripod masih ada. Lipat kemas di sudut. Bukan ditinggalkan dalam tergesa?diletakkan. Sengaja.

Selongsong peluru satu biji di atas tingkap. Juga sengaja.

Tim Hendra ada tiga orang dalam bilik. Seorang sedang ambil gambar. Seorang periksa dinding. Seorang berdiri di tepi, muka yang tahu ada sesuatu yang tidak kena.

"Di sini." Hendra menunjuk ke meja di tepi kiri.

Asmara mendekat.

Di atas meja?bukan surat, bukan nota, bukan ugutan bergaya dramatik?ada satu foto. Dicetak pada kertas biasa, bukan kertas foto. Seperti di-print dari printer pejabat biasa.

Gambar itu: lobi Zafran Corp. Semalam. Jam tujuh pagi.

Asmara masuk dari pintu utama. Koper kecil. Jaket kelabu.

Dia sendiri. Dari sudut kamera yang tidak sepatutnya ada di luar bangunan.

Di bawah foto, satu nombor ditulis tangan dengan pen hitam.

Hari ke-1.

Asmara berdiri diam selama empat saat.

Lima saat.

Mereka bukan sahaja tahu tentang Arsalan.

Mereka tahu tentang dia.

Rivan disoal siasat. Telefonnya diperiksa. Satu nama muncul—bekas kekasih di firma keselamatan swasta. Satu lagi nama muncul dalam fail Hendra—Brigjen Santoso Wibowo, orang yang luluskan misi ini. Dan di bangunan seberang, penembak tinggalkan tripod, selongsong peluru... dan foto Asmara.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience