Completed
193
Seminggu berlalu aku tersadar Adeed pernah menyelipkan sesatu di dalam kantong kemejaku waktu itu. Aku sempat mengambil dan menaruhnya di dalam laci meja belajarku. Dengan menggunakan kursi roda kerana aku masih dalam masa perawatan, aku mengambil kertas itu dan membawanya ke taman. Lalu membacanya di sana.
‘Bandung, 12 Juni 2012’ sontak aku terkejut. Kejadian seminggu yang lewat adalah tanggah 05 Februari 2013. Kerana penasaran aku memutuskan membacanya.
‘Hai, Rian! Kau pasti sekarang sudah sehat ‘kan? Aku tidak tahu kenapa kamu lupa sama aku akhir-akhir ini. Dan sepertinya kau memang lupa kalau kita pernah menjalin hubungan waktu itu. Setahun yang lalu. Aku maklum, kedua orang tua kita tidak boleh menerima semua ini. Bahkan semesta pun demikian. Semuanya. Kerana kita memang tidak seharusnya bersama. Tapi aku cinta. Aku suka dan sayang sama kamu. Lalu, orang yang itu sekarang tidak mengirimiku doa, tidak pernah menabur bunga, kemana dia? Apa cintanya mati setelah aku pergi selamanya?
Rian! Aku selalu menantimu. Menunggumu. Bahkan di dalam kereta itu, aku rela mati agar kamu selamat dan tetap hidup bersama keluargamu. Tapi sekarang, kau memang berubah. Kau sudah melupakanku. Kenapa? Kalau aku rela mati kerana mu, maka sudah seharunya kau juga rela mati kerana ku. Kerana kita berjanji waktu itu, untuk terus bersama. Sekarang, aku menunggumu, Rian! Datanglah untukku. Kekasihmu, Adeed .’
Aneh. Benar-benar aneh, kenapa ini semua terasa aneh. Aku melipat kertas aneh itu dan membuangnya kedalam tong sampah. Adeed menulis surat di tujukan atas nama Rian tahun lalu. Perasaan ini semakin tidak karuan jika mengingat kejadian itu. Berarti, Adeed itu adalah arwah gentayangan? Ahh, apa dia menganggap aku ini Rian kekasih anehnya itu? Atau jangan-jangan surat itu memang untuk Riannya Adeed ? Entahlah. Tapi aku sudah membuang surat itu. Aku lega. Semoga Adeed tidak menggangguku lagi.
Tin….tin…tin… Sontak aku terkejut saat sebuah mobil mewah berusaha membanting stir demi menghindariku yang tanpa kusadari ternyata aku berada di tengah jalan raya. Aku panik dan berusaha mengayuh roda ini dengan cepat. Braaaak. Bagian belakang mobil itu sempat mengenai kursi rodaku dan aku pun tersungkur. Aku tergeletak tak berdaya. Badanku rasanya sakit semua. Mataku terbelalak lebar saat mobil datang dari arah lain kemudian melintas lalu ban kanan depan mobil itu melindas kepalaku. Gletak. Semua terasa gelap.
Share this novel