BAB 2

Thriller Completed 193

Entah sekedar mimpi atau ilusi, aku merasa ada sebuah kecupan basah mendarat di bibirku ini, cukup lama. Sontak aku terbangun dan melihat Adeed yang ternyata terlelap dalam tidurnya di sebelahku. Ahh, aku kembali berbaring. Tanpa sengaja aku melihat bayang-bayang wajah Adeed yang tersenyum dan tampak jelas dari jendela kaca kereta ini. Anjrrit. Jadi benar, dia menciumku. Sontak aku berbalik dan sempat aku melihat dia pura-pura terlelap.

“Bangun!” lirihku mencubit pipinya. Dia tidak bergeming.

“Bangun… atau aku akan menyirammu…” kelakarku kesal. Adeed malah membalikkan badannya. Menguap. Berkali-kali aku tidak juga berhasil membuatnya menyerah. Aku memutuskan pindah kursi bekas tempat dimana Adeed duduk. Kereta semakin kencang. Hujan di luar masih menderu. Warna gelap langit terasa menggelapkan hati ini. Sesaat aku masih teringat dengan keluargaku, kenapa perasaanku jadi tak enak. Kepirikan terus sama ibu.

Di Stesen Bekasi, Adeed banyak berceloteh ria tentang dirinya meski aku tidak meminta. Katanya, aku mirip sekali dengan mantannya dulu. Mendengar penuturan itu aku jadi shock. Boleh -boleh nya dia. Dan dan pacarnya sempat pacaran dua tahun. Lalu putus kerana hubungan itu tidak mendapat tempat. Adeed yang kecewa akhirnya memutuskan hijrah ke Jakarta, dia ingin melupakan masa lalu dengan melanjutkan kuliahnya. Tapi, semenjak dia bertemu denganku, kembali dia teringat masa lalunya. Aku jadi kurang enak dengan semua ucapannya itu. Gerogi.

“Terus, pacarmu sekarang, di mana?” tanyaku yang entah kenapa mau menanggapi ceritanya. “Dia sudah meninggal. Setahun yang lalu…”

“Ohh..” lirihku bersungut-sungut “ka-kalau boleh tahu meninggalnya kerana apa?”

“Nanti kau juga akan tahu..” lirihnya melempar pandangan keluar.

“Ma-maksudmu?” tanyaku kurang mengerti.

“Aku tidak boleh cerita, nanti kamu takut lagi.”

“Ahh, kenapa aku harus takut. Aku bukan pengecut.” Adeed mendesah lalu menatap mataku dalam. Iapun berbicara lirih.

“Dia meninggal kerana kemalangan saat menaiki kereta ini. Kereta yang sama. Jam yang sama. Suasana yang sama. Dan…”

“Apa?!” tanyaku menyentak.

“Katanya tak takut…” ledeknya mengedipkan mata padaku. Ich, menyebalkan sekali orang ini. Dia pikir aku ini abnormal apa?

“Aku mencintaimu. Di atas ini, dalam keretapi ini.” Lirihnya lantas laju dia mencium keningku. Seraya itu aku naik pitam dan bengang. Adeed berani-beraninya mencium keningku di depan umum. Di-dia pikir aku siapa? Hah! Mereka yang melihatku di cium pedofil itu hanya geleng-geleng kepala. Wajahku memerah kerana malu. Aku memaki hamunnya dengan sumpah seranah. Tiba-tiba…

Braaaaakkkk! Sontak tubuhku membentur Adeed saat kereta ini berguncang yang sepertinya menabrak sesuatu. Aku dan semua penumpang termasuk Adeed tersungkur. Suara ribut seketika riuh bak lebah keluar dari sarangnya. Banyak orang terjepit kursi dan tertimpa tas dan koper. Kaca-kaca jendela pecah. Kereta terus melaju dan menabrak benda keras di sepanjang rel beberapa menit lamanya. Darah mengalir dimana-mana. Air hujan masuk kedalam kereta dan mengguyur tubuhku ketika kaca jendela di sebelahku pecah dan sempat melukaiku. Adeed pun memelukku erat, dia menyempatkan memasukkan sebuah kertas kedalam kantong kemejaku. Aku terduduk di sebelah kursi dalam pelukannya itu. Lambat laun kepalaku rasanya pusing. Darah berbau amis mengucur dari keningku. Semua wajah terlihat panik. Aku juga panik. Kepalaku semakin pusing. Gelap.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience