BAB 1

Thriller Completed 193

Decit suara kereta terdengar memekik di gendang telingaku. Beberapa orang terlihat turun dari mulut pintu gerbong di depanku dan beberapa lagi naik dari pintu gerbong lainnya. Aku menarik koper sesaat setelah berpamitan pada Ayah, Ibu, juga kakaku. Mereka melambaiakan tangan mengiringi langkahku saat menapaki satu persatu anak tangga kereta ini. Sungguh, ini saat-saat yang sulit. Berpisah dengan keluarga untuk beberapa lamanya. Boleh setahun, dua tahun, tiga tahun. Bahkan bertahun-tahun. Berat hati ini berpisah dari keluargaku bukan kerana aku tergolong anak manja yang suka merengek atau tidak boleh hidup jauh dari mereka. Tetapi ini akan menjadi pengalaman pertamaku yang awesome, mungkin. Kalau diriku hanya pergi lalu tinggal di kota sebelah yang masih satu wilayah dalam provinsi, itu masih tergolong wajar, sebulan sekali aku boleh pulang. Atau aku tinggal di pulau lain di Indonesia ini, itu masih tidak perlu di khawatirkan, kapan aku mau aku juga boleh pulang. Tapi ini berbeda, aku akan hijrah ke negeri orang untuk melanjutkan pendidikan. London. Alhamdulillah, beasiswa S1 Hubungan Internasionalku di terima. Dan aku akan belajar di negeri Harry Potter itu sampai selesai Strata pertamaku di sana. Di depan tangga aku membalikkan badan dan menatap dalam wajah orang-orang yang selama ini menemaiku. Ku lemparkan senyum semangat pada mereka. Meski hatiku ketar-ketir dan tidak menentu. Mereka tersenyum.

The Train

Ku masukkan koper menjorok agak kedalam di bagasi atas kereta. Lalu memilih duduk di kursi mengharap searah dengan laju kereta. Tiga bangku masih kosong. Syukurlah. Semoga sampai Jakarta akan begini. Aku boleh lebih nyaman. Aku orang yang cenderung lebih suka sendiri, atau suasana tenang, kerana dengan tenang suasana hatiku juga akan demikian. Boleh kebayang ‘kan? Kalau seandainya dua kursi di depanku dan satu kursi lagi di sebelah kiriku di tempati ibu-ibu atau tante-tante cerewet yang suka ngerumpi. Sumpah, mungkin aku akan menderita sepanjang perjalanan kelak. Aku tidak suka wanita cerewet.

Ku lirik keluargaku yang masih duduk setia menatapku dari kursi tunggu itu. kakakku melebarkan senyumnya tatkala mata kami berpautan. Dia memang cantik, baik, dermawan, andai aku boleh memiliki hati seperti dia. Selang sedetik seorang lelaki muda memakai pakaian kasual tampak menempati kursi di depanku. Untuk sesaat mata kami berpandangan sejenak. Ia tersenyum padaku seiring memasukkan ranselnya ke atas bagasi persis di sebelah koperku.

“Boleh duduk di sini, ‘kan?” lirihnya tersenyum. Perlahan aku mengangguk. Punya hak apa aku melarang? Pikirku dalam hati. Lelaki muda itu pun duduk di kursi di hadapanku.

“Mau kemana?” lanjutnya lagi.

“Jakarta!”

“Sendirian?” lagi-lagi ia tersenyum.

“Menurutmu?”

Lelaki itu terkekeh. Bunyi pluit panjang pertanda kereta segera berangkat. Dengan mata agak berkaca-kaca ku tatap wajah-wajah familiar di sana. Aku melambaikan tangan seiring laju kereta perlahan meninggalkan stesen Bandung ini.

“Mereka keluargamu?” tanya lelaki yang sepertinya masih berusia dua puluh tahunan itu saat aku melambaikan tangan pada ayah, ibu dan kak Maya. Aku mengangguk. Goyangan demi goyangan terjadi saat decitan kereta terdengar menderu. Kereta melaju seiring meninggalkan stesen ini. Pemandangan di sepanjang rel mulai terlihat. Atap-atap rumah penduduk, pohon, jalan raya di seberang sana, hingga pertokoan. Kereta semakin melaju. Sejak kali pertama aku dan pemuda itu bertatapan mata, aku merasa ada sentuhan lembut di hati ini. Sejuk. Dan menentramkan. Wajahnya bersih rupawan. Bibirnya tipis menawan. Rambutnya spike dan terlihat cool. Mata kami sejenak kembali bertautan. Cesss. Lagi-lagi aku merasa debar jantung ini semakin menjadi-jadi. Aku tidak tahu arti tatapan matanya itu. Kembali dia tersenyum dengan tatapan matanya yang teduh.

“Mau?” lirihnya menyodoriku sekaleng minuman berkarbonasi. Awalnya aku ragu, pemuda itu mengangguk meyakinkan kalau itu adalah ucapan salam perkenalan. Aku belum yakin. Takut ada udang dibalik batu.

“Apa mukaku mirip dengan penculik?” Aku pun menerimanya di sertai senyuman. Menghilangkan rikuh ku tatap view dari balik jendela. Rumah-rumah yang tadi kulihat kini telah berubah menjadi hamparan padang rumput yang luas. Ceples. Suara penutup kaleng itu terdengar jelas saat aku membukanya. Dan kacauanya aku, saat seperempat bagian dari isinya tumpah di atas karpet. Aku panik. Pemuda itu memberiku sapu tangannya yang berwarna biru tua.

“Pake ini aja…” lirihnya menatapku dalam. Sumpah, aku salah tingkah jadinya. “So-sory, celanamu jadi agak basah…” kataku melihat bagian lutut jeansnya ikut tersiram. “It’s Okay. Never mind.”

Aku mengelap bagian bawah kemeja yang ku pakai. Pemuda itu tersenyum melihatku yang sepertinya kewalahan. Mata kami lagi-lagi bertautan.

Beberapa saat kemudian seorang pramusaji datang dan meletakkan beberapa box berisi menu makan siang di meja kami. “Terima kasih…” ucap pemuda di depanku tersenyum pada pramusaji itu yang kemudian berlalu menuju gerbong selanjutnya. Butuh beberapa saat kami pun terlibat dalam obrolan ringan dan akhirnya saling mengenal satu sama lain. Tidak ku sangka pemuda yang aku kira pendiam itu ternyata tergolong humoris. Namanya, Adeed . Usianya baru 23 tahun. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Paramadina semester 6 tahun ini. “Kamu anaknya, lucu yah…” lirihnya dengan nada menggoda. Dahiku mengkerut.

“Apanya yang lucu?” tanyaku seraya mengunyah. Mata kami bertautan kesekian kalinya, cukup lama. Adeed melihatku dengan tatapan yang hanya membuatku semakin GR. Dia ini… Tuhan, jangan kau uji aku dengan dia, aku tidak akan sanggup. Tahu begini aku lebih baik duduk bersama tante-tante atau ibu-ibu arisan.

“Kamu mau kuliah, tapi badanmu masih kayak anak SMP!” lirihnya terkekeh. Sontak darahku rasanya mendidih, kepalaku mau meledak. Kurang ajar, baru kenal sudah menghina. Dasar pedofil. Aku menatapnya dengan wajah seperti udang di rebus. Marah.

“Memangnya kenapa? Kalau badanku masih kecil? Hah.”

“Eith, sabar. Bukan bermaksud menyinggungmu.” Lirih Adeed sok bijak. “Tapi, kalau di lihat-lihat, kau memang lebih manis saat cemberut seperti sekarang ini. Aku suka jadinya…” ia mencolek daguku.

“Apaaaaa?!” teriakku mengejutkan beberapa penumpang lain. Tatapan orang heran langsung menghujat kami. Aku dan Adeed berlagak cuek. Ku habiskan sisa makan siangku. Menatapnya kesal.

“Kamu membuat orang jadi ngeliatin kita…” seloroh Adeed padaku.

“Salah siapa?” aku bertanya.

“Memangnya salah ya, kalau aku suka sama kamu?”

“Ka-kamu.” Aku berdiri lalu mengambil koperku setelah itu beranjak dari kursiku mencari tempat lain.

“Kau mau kemana?” tanya Adeed kecewa.

“Menjauhimu, Tuan pedofil!” Tidak peduli dengan tatapan orang, aku berjalan mencari kursi kosong meski aku tahu kecil kemungkinan masih akan ada yang kosong. Aku berputar-putar membawa koper itu seiring mataku mencari tempat. Bahkan beberapa kursi di belakang sana tampak penuh semua. Sial. Dengan wajah kesal, aku kembali ke kursiku semula dan Adeed menyambutku dengan sejuta tawa. Keparat. Sial. Umpatku tak henti-hentinya.

“Sepertinya kita memang berjodoh.” Kelakarnya membuatku gatal seperti ada ratusan ulat bulu menempel di tubuhku ini. Aku diam tidak menggubris. Ku letakkan kembali koper ke tempat semula lalu menjatuhkan bokongku di atas kursi. Beberapa orang melihatku tertawa, termasuk Adeed sialan itu. Mataku ku lempar menatap jendela. Hujan turun membasahi dinding kaca dan membuat suasana dingin menyeruak basah. Ku sematkan sweater berwarna abu-abu di tubuh ini. Hangat seketika terasa menjalar dan memelukku. Adeed menatapku dengan mengangkat alis kanannya. Menyebalkan.

“Mau lebih hangat, sini duduk di sebelahku…” lirihnya menepuk kursi di sebelah kanannya. Aku diam.

“Atau aku yang duduk di sebelahmu.” Tukasnya hendak beranjak. Aku masih diam. Adeed pun bangkit dan mengambil posisi seperti yang ia mau. Aku tidak peduli lagi. Sepertinya dia akan terus menggangguku jika aku banyak komentar dan melawan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience