Completed
193
“Rian…” lirih suara perempuan yang ku kenal di telinga kiriku. Mataku perlahan terbuka seiring cahaya lampu menyorot silau. Aku mengerjap beberapa kali. Ku lihat ibu, ayah dan kakakku berdiri mengelilingiku di sebuah ruangan bercat warna biru.
“Kamu sudah sadar sayang…” tukas ibu tersenyum seiring air matanya menetes. “Ibu, ak-aku dimana?”
“Kamu di rumah sakit, dek.” sambung kakakku tersenyum. Ayah perlahan mendekat dan mengecup keningku. Begitu ibu dan juga kakakku.
“Cuma kamu yang selamat!” sambung ayah membuat mataku membulat.
“Yang lainnya?” tanyaku kaget. Ayah menggelengkan kepalanya pelan. Shock. Bagaimana dengan Adeed ? Kenapa aku jadi kepikiran sama dia? Adeed ! Kenangan itu datang menyelubungi hati dan pikiranku. Perjalan singkat yang ku lalui bersamanya perlahan terasa membekas di dalam ingatanku. Candanya. Senyumnya. Parasnya. Perawakannya. Ahh, entahlah. Yang jelas sekarang aku kehilangan dia. Pemuda yang menjadi teman perjalananku di kereta itu. Meski aku tidak suka saat dia banyak menggodaku dan menganggap aku adalah kekasihnya dulu, tetapi ada beberapa kejadian yang membuatku mengingat selalu wajahnya. Saat dia memberiku sekaleng minuman, saat dia maaf mencium keningku, saat dia memberikan jaketnya guna menghangatkan badanku walau aku telah memakai sweater, dan saat dia menjagaku dengan memeluk agar aku tidak tertimpa serpihan kaca. Meski singkat. Tapi kejadian itu terasa begitu melekat. Terendap indah di hati.
Share this novel