BAB 1 . Absen Pertama

Romance Series 20

Saya tidak ingat saya mati kapan.
Serius. 200 tahun itu lama sekali. Lama sampai memori saya seperti HP jadul, terhapus sendiri karena terlalu penuh.

Yang saya ingat hanya satu: setiap jam 12 malam, ada suara bass berat dari arah kuburan tua.
"Kuntilanak Blok C, absen!"

Nadanya perintah. Dingin. Tidak ada tawar-menawar. Kalau tidak jawab "Siap Lapor" dalam 3 detik, gaji bulan ini dipotong doanya. Tidak enak, Komandan.

Lalu saya muncul. Rambut menutupi wajah. Kain putih kusam. Tertawa "he" standar SNI. Sudah bersertifikat MUI alam baka.
Manusia lari. Saya dapat centang biru di papan absen gaib. Gaji akhir bulan: doa.

Doa. Bukan transfer bank. Bukan THR. Bukan saldo DANA. Doa.
"Semoga tenang di alam sana ya, Mbak Kunti."
Tenang bagaimana, pak? Saya kerja shift malam setiap hari. Masuk jam 12, pulang subuh. Libur hanya saat Idul Fitri, pun hanya 3 hari. Satpam alam baka tidak kenal hari raya.

Dulu, 200 tahun lalu, saya bangga jadi hantu. Bangga setengah mati.
Muncul saja orang sudah pingsan. Duduk di pohon pisang, rating menakut-nakuti saya dapat 5 bintang.
Sekarang? Saingan saya banyak sekali.
Ada pocong TikToker, setiap malam live joget "goyang pocong" dapat gift mawar. Ada genderuwo yang jago Minecraft, bikin kuburan versi 3D. Ada kuntilanak lain yang sudah operasi plastik pakai filter IG. Rambutnya ombre, kafannya warna mocca, matanya pakai softlens abu-abu. Modern sekali.

Saya? Masih versi standar pabrik. Rambut lepek, ujungnya bercabang karena tidak pernah ke salon. Kain kafan tidak pernah dicuci. Baunya... ya bau melati campur apek. Kuno sekali. Ketinggalan zaman. Seperti Nokia 3310 di era iPhone 16.

Malam ini saya dapat jadwal shift di ayunan tua pinggir jalan raya. Lokasinya strategis. Dekat kuburan, dekat kosan, dekat warung yang sudah tutup.
Ayunan kayu jati, talinya sudah lapuk, warnanya hijau lumut. Bunyinya "kriiit... kriiit..." setiap saya duduk. Tidak enak didengar, tapi itu musik pengantar tidur saya selama 2 abad.

Romantis? Tidak.
Bosankan? Sangat.
Saya duduk, mengayun kaki pelan, menghitung daun kering jatuh. Satu. Dua. Tiga... mengantuk. Empat. Lima... mengantuk sekali. Enam... zzz.

HP saya tidak ada sinyal. WiFi alam baka lemot. Password-nya "AlFatihah123" tapi tetap saja loading-nya sejam. Buka Pinterest "referensi menakut-nakuti 2026" saja loading bar-nya muter terus. Isinya cuma gambar kuntilanak pakai crop top. Tidak jadi lah.

Saya menggaruk-garuk kain kafan. Gatal. Rasanya seperti ada tungau. Tapi tidak bisa dikupas, nanti dikira tidak profesional. Masa kuntilanak mengupas kulit di depan umum. Malu, Komandan.

"HE..." saya latihan suara. Serak, panjang, ngebass, sampai dada saya yang tidak ada jantungnya ikut bergetar. "HEEEEEE..."
Tidak ada yang dengar. Jalanan sepi. Aspalnya retak-retak. Warung kopi sudah tutup, kursinya ditumpuk. Lampu jalan kelip-kelip seperti mau mati.

Yang ada hanya suara jangkrik dan kipas plafon dari kosan seberang. Iya, kipas plafon. Bunyinya paling seram sedunia. "Tuk... tuk... tuk..." setiap baling-balingnya mau lepas. Sumpah lebih ngeri daripada suara saya.

Saya mengelus ayunan itu. Kayunya dingin. Dinginnya menembus sampai ke kain kafan.
"200 tahun saya begini-begini saja," gumam saya pelan. "Menakut-nakuti orang, dapat doa, tidur di nisan. Kapan saya pensiun dini? Kapan ada HRD alam baka yang mengerti burnout?"

Tidak ada jawaban. Kuburan tidak pernah menjawab kalau ditanya begitu. Yang ada hanya angin malam yang menyentuh rambut saya. Baunya tanah basah + bunga kamboja. Bau lembur.

Jam 12 lewat 15 menit. Masih sepi.
Saya sudah menyiapkan jurus andalan: terbang muter-muter sambil menyanyi dangdut koplo. "Gelandangan... hidupku gelandangan..." Itu biasanya paling ampuh bikin bapak-bapak satpam kompleks berteriak "ya Allah" sambil jatuh ke selokan. Rating 5 bintang lagi.

Tapi langkah kaki malah terdengar dari jauh. Pelan. Tidak lari. Tidak tergesa-gesa. "Tep... tep... tep..." suara sandal jepit bertemu aspal.

Jantung saya? Saya tidak punya jantung. Sudah dikubur 200 tahun lalu. Tapi entah kenapa dada saya hangat. Hangat. Seperti ada yang menyalakan kompor kecil di dalam kain kafan. Aneh.

Seorang cowok muncul dari tikungan. Umur 20-an, kaos oblong warna pudar, celana pendek, sandal jepit swallow. Tangan kirinya membawa kresek Indomie, tangan kanannya memegang senter kecil. Cahayanya redup, seperti iman saya saat ditanya malaikat.

Dia melihat saya. Diam. 3 detik. Matanya tidak melot. Tidak mangap. Tidak langsung baca Al-Fatihah terbalik.
Otak saya sudah menyiapkan skrip SNI: "Dia akan berteriak 'ASTAGFIRULLAH', lari, lalu jatuh ke selokan, lalu saya dapat centang absen, gaji aman. hehehe

Tapi yang dia lakukan? Dia berhenti. Lalu duduk. Sebelah saya. Di ayunan yang sama.
Ayunannya langsung berbunyi "KRIITTT" panjang, seperti mengeluh. Kayu jatinya protes karena beban bertambah. Talinya melar, seolah mau menyerah sekarang juga.

Saya membeku. Kaku. Kain kafan saya saja tidak berani bergerak. Ini tidak ada di buku panduan "Kuntilanak 101". Di halaman pertama, huruf tebal, tulisannya jelas: MANUSIA HARUS LARI. Titik. Tidak ada pilihan "duduk manis sambil buka Indomie".

Saya putar kepala 180 derajat. Pelan. Standar operasional kuntilanak. Rambut saya mengurai, menutupi seluruh wajahnya. Bau melati yang sudah basi 200 tahun + apek langsung menyerbu indra penciumannya. Ini jurus pamungkas. 99% manusia langsung pingsan di detik ke-2.
"HEEEEE..." Saya kerahkan semua tenaga. Suara saya sampai membuat daun kering di tanah berputar-putar.

Dia berkedip. Sekali. Dua kali. Tidak ada rasa takut di matanya. Lalu dia tersenyum. Senyum miring, lelah, tapi tulus. Seperti orang yang sudah terlalu sering begadang dan melihat hal aneh.
"Kursinya saja yang kosong, orangnya tidak ada. Mbak nggak kedinginan duduk di sini tengah malam begini?" tanyanya. Suaranya serak, seperti habis minum air es tapi tetap maksa ngobrol.

Mbak. Dia memanggil saya Mbak.
Bukan "setan", bukan "pergi kamu", bukan "bismillah". Mbak. Seperti pramuniaga Indomaret. Seperti mbak warung nasi. Normal. Terlalu normal untuk ukuran hantu.

Otak saya nge-lag. 200 tahun saya menakut-nakuti manusia. 200 tahun tidak ada satu pun yang menanyakan kabar saya. Yang ada hanya teriakan, lemparan sandal, dan doa-doa cepat. Ini pertama kalinya ada yang peduli saya kedinginan atau tidak. Padahal saya hantu. Saya seharusnya tidak punya rasa.

"Saya... saya Kuntilanak," kata saya. Suara saya malah mengecil. Seraknya hilang. Tinggal sisa suara mbak-mbak SPG yang ditolak customer.
"Iya saya tahu. Bau melati. Tapi Mbak wangi kok. Wangi bunga kamboja," jawabnya santai sambil mengeluarkan mangkuk plastik dari kresek. Uap Indomie rebus langsung mengepul. Wangi kari ayam yang khas jam 12 malam. Wangi yang bisa bikin orang waras jadi lapar.
"Mau? Saya masak dua mangkok. Satu untuk saya, satu untuk Mbak. Lumayan, malam-malam begini perut pasti keroncongan kan?"

Keroncongan. Dia bicara soal perut keroncongan ke makhluk yang sudah tidak punya organ pencernaan selama dua abad.
Saya makan apa? Saya makan doa. Katanya doa itu energi. Tapi doa tidak hangat. Doa tidak mengepul. Doa tidak punya kuah kental yang bisa menghangatkan malam.

Tangan saya tanpa sadar terulur. Tembus. Jari-jari saya melewati mangkuk plastik itu seperti asap. Fisika alam baka memang beda, Komandan. Hantu tidak bisa memegang benda dunia manusia. Sedih.

Lalu dia mengerti. Tanpa saya minta. Dia menggeser mangkuk itu ke atas nisan paling dekat, lalu mendorongnya 10 cm ke arah saya. Jarak aman untuk hantu pencium.
"Kalau tidak bisa makan, hirup saja uapnya. Lumayan bisa menghangatkan," katanya pelan. Lalu dia menyeruput kuahnya sendiri. "Slurrpp... Hah, hangat sekali. Pas buat begadang."

Saya diam. Dia juga diam. Kami berayun bersama. Kriiit... kriiit... Kriiit... kriiit...
Tidak ada jeritan. Tidak ada lari terbirit-birit. Tidak ada senter yang disorot ke wajah saya. Hanya ada dua makhluk paling gabut sedunia di jam 12 malam. Satu manusia UMR, satu hantu gaji doa. Sama-sama shift malam. Sama-sama punya kantong mata.

"Nama Mbak siapa?" tanyanya tiba-tiba. Matanya masih menatap lurus ke jalanan kosong yang gelap. Tidak menoleh. Seolah takut kalau saya menghilang kalau dia berkedip.
"Kunti." Jawab saya singkat. Nama pendek. Nama yang selama ini membuat orang menjerit.
"Nama lengkap?"
"Saya tidak punya KTP, Mas. Mati 200 tahun lalu, KTP-nya ketinggalan di dalam peti. Belum sempat diurus ke Dukcapil alam baka."
Dia tertawa kecil. "Hahaha" Tawanya tidak sinis. Tawanya tidak mengejek. Tawanya seperti teman ngobrol di pos ronda saat ronda sepi.

"Saya Dani. Kerja shift malam juga. Satpam. Gajian tanggal 25, kadang molor sampai tanggal 28 karena bosnya lagi 'lupa'," katanya sambil menyendok mie. "Setiap malam jaga ruko kosong. Sepi sekali. Teman saya cuma tikus sama cicak. Kadang saya ajak ngobrol cicak. Dia tidak pernah jawab sih."

Lalu dia menoleh. Benar-benar menoleh ke arah saya. Menatap wajah saya yang tertutup rambut. Mata dia cokelat. Ada lingkaran hitam di bawahnya. Lingkaran hitam yang sama seperti yang saya rasakan, meskipun saya tidak punya mata.
"Mbak Kunti gajian kapan?"

Saya ingin menjawab "doa". Tapi lidah saya kelu. Malu. Rasanya seperti mengakui kalau saya miskin sekali.
Gajian saya hanya setahun dua kali, saat orang ziarah kubur. Kadang doanya meleset.
"Semoga cepat dapat jodoh ya, Mbak Kunti."
Jodoh. Hantu mau dijodohkan dengan siapa? dengan genderuwo? enggak banget. Genderuwo baunya kemenyan, saya alergi kemenyan.
" saya gajian cuma doa " jawab saya pelan-pelan sekali seperti mengakui dosa.
" ohh... sama dong , saya juga " katanya.
Saya menoleh kaget, rambut saya menyapu wajahnya , namun dia tidak merasa risih.
Lalu dia menyeruput kuah Indomie terakhir "slurrrrppp"
"maksudnya?" tanya saya, 200 tahun tidak pernah penasaran sama manusia.
"ya saya kerja scurity jaga perumahan, gaji UMR jakarta , lembur tidak di bayar, bos bilang "ikhlas ya dan, semoga berkah. Berkah saja tidak bisa buat beli Indomie mbak..

Dia tertawa lagi , tawa yang lelah , tawa orang yang mengerti rasanya di transfer "doa" bukan uang.

Saya diam untuk pertama kalinya selama 200 tahun, sekarang saya merasa tidak sendirian di ayunan ini...

Halo para pembaca! Terima kasih sudah mampir ke "ayunan tua" ini. Cerita ini lahir dari pertanyaan konyol saya: "Kalau kuntilanak burnout, dia ngadu ke siapa?" Ternyata jawabannya: ke scurity shift malam yang sama-sama nggak digaji lembur wkwk. Jadi kalau kamu merasa hidup kamu lagi "shift malam" terus... tenang. Kunti dan Dani nemenin kamu begadang. Dengan Indomie. Dengan tawa. Dengan sedikit air mata. Selamat membaca. Jangan lupa matikan lampu... tapi jangan kaget kalau ada yang duduk di sebelah kamu ya ? .

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience