Series
20
Seharian gue nggak tidur.
Iya, hantu tidur. Tidurnya di peti, selonjoran, sambil dengerin dangdut koplo dari kuburan sebelah.
Tapi malem ini gue nggak merem sama sekali.
Otak gue error. Isinya cuma satu: "Dani dateng nggak ya? Dani dateng nggak ya?"
200 tahun gue nggak pernah mikirin manusia sampe segininya.
Dulu kalo manusia lari, gue ketawa. Sekarang kalo manusia nggak dateng, gue yang mau nangis.
Padahal gue nggak punya air mata. Ribet banget jadi hantu bucin.
Jam 11 malem gue udah duduk di ayunan.
Ayunan kayu, tali lapuk, bunyi "kriiit... kriiit..." kayak ngatain gue.
"Jomblo.....jombloo..." gitu kira-kira.
Taman komplek ini emang sepi. Lampunya cuma satu, kuning, kedip-kedip kayak mau pensiun dini.
Bangku beton di sebelah gue masih kosong. Bekas uap Indomie semalem udah ilang.
Gue elus bangku itu. Dingin. Kayak hati mantan.
Jam 12 lewat 10. Nggak ada Dani.
Gue mulai panik. Apa dia cuma iseng semalem? Apa dia ketiduran? Apa dia... nikah sama temennya sendiri juga?
"Hiikk....iiiikkkk...iiiikkkk...iiiiikkkkrrr..." gue latihan suara. Seraknya udah nggak niat.
Yang ada malah kayak suara ibu-ibu ketiduran depan TV.
Jam 12 lewat 25. Gue ngelus rambut sendiri.
"Ya udah Kunti. Dia kan manusia. Punya kerjaan. Punya hidup. Masa iya tiap malem nemenin hantu gabut," gue ngomong sendiri.
Kedengeran sedih banget. Untung nggak ada yang denger.
Terus... langkah kaki.
Pelan. Nggak buru-buru. Sandal jepit "srek... srek..."
Gue langsung tegak. Rambut gue rapiin pake tangan tembus. Percuma sih.
Dani muncul. Bawa kresek Indomie lagi. Plus... bawa jaket?
Dia liat gue. Senyum. Senyum yang sama kayak semalem.
"Sorry Mbak, telat. Tadi ada maling ayam di Blok D. Gue kejar sampe ke kali," katanya sambil duduk sebelah gue.
Ayunan bunyi "KRAAAAK" lebih keras. Gue hampir jatuh.
"Gue kira Mbak udah nggak di sini," katanya lagi.
Gue mau jawab "gue juga kira lu nggak dateng". Tapi malu.
Jadi yang keluar cuma "He." Pelan. Kayak kucing pilek.
Dani ketawa. Dia buka kresek. Aroma Indomie kari ayam nyebar.
"Gue bawain dua lagi. Sama telor. Tadi gue nambahin boncabe. Mbak suka pedes nggak?"
"Gue nggak makan, Dan". Tapi gue angguk aja. Masa iya gue bilang "gue nggak punya lidah". Wkwkwk
Dia taruh mangkoknya di atas bangku beton sebelah ayunan. Kayak semalem.
"Uapnya Mbak hirup aja. Lumayan anget. Taman sini dingin banget malem-malem," katanya sambil nyeruput.
Kita diem lagi. Ayun bareng. Kriiit... kraaak... kriiit...
Nggak ada teriak. Nggak ada lari. Cuma dua makhluk capek yang ngumpul.
"Mbak Kunti kok nggak nanyain gue kenapa telat?" tanya Dani tiba-tiba.
"Karena gue nggak berhak," jawab gue jujur.
"Berhak dong. Kita kan... temen shift malem," katanya.
Temen. Kata itu nusuk. 200 tahun gue nggak punya temen.
Pocong lain ngatain gue "kuno". Genderuwo ngatain gue "bau apek".
Ini pertama kalinya ada yang bilang "temen" ke gue.
"Kerja jadi satpam capek nggak, Dan?" tanya gue balik.
"Capek. Apalagi kalo ronda malem. Sepi. Kadang denger suara-suara aneh," dia noleh ke gue. "Tapi sejak ketemu Mbak, suaranya jadi nggak serem lagi. Malah lucu."
"Lucu?" gue nunjuk diri sendiri pake jari tembus.
"Iya. 'HE' Mbak itu kayak suara pintu kosan gue. Seret banget. Tiap malem gue denger, jadi nggak kaget lagi," dia ketawa.
Gue mau marah. Tapi ujungnya gue ikut ketawa. "Hehe."
Ketawa beneran. Pertama kali setelah 200 tahun. Suaranya cempreng, tapi anget.
"Mbak pernah nggak ngerasa hidupnya gitu-gitu aja?" tanya Dani sambil nyolek telor.
Gue diem. Terus angguk.
"Gue 200 tahun gini-gini aja, Dan. Muncul, nakutin, dapet doa, balik ke peti. Bosen. Tapi nggak bisa resign."
"Gue 23 tahun gini-gini aja. Bangun, jaga ruko, gajian telat, tidur. Bosen. Tapi nggak bisa berhenti," jawabnya.
Kita sama-sama ngelus ayunan. Kayu tua, catnya ngelupas.
"Jadi kita sama-sama hantu ya, Dan?" kata gue pelan.
Dia ketawa. "Iya. Mbak hantu beneran. Gue hantu lemburan."
Malam itu obrolan kita ngalor-ngidul.
Dani curhat soal bosnya yang pelit minta ampun. Parkiran motor karyawan dipungut 2 ribu per hari.
Gue curhat soal satpam alam baka yang galak. Pernah gue telat absen 5 menit, gajian gue dipotong 1 doa.
"Zolim banget," kata Dani.
"Zolim banget," gue setuju.
Jam 2 pagi. Dani berdiri. Kresek Indomie udah kosong.
"Gue balik jaga lagi ya Mbak. Besok gue bawa Indomie rasa soto. Mbak mau nggak?"
Gue angguk cepet. Padahal gue nggak makan. Tapi kalo yang nawarin dia, gue mau uapnya aja.
"Mbak besok di sini lagi kan?" tanyanya sebelum pergi.
Gue angguk lagi. Lebih cepet dari anggukan pertama.
"Oke. Deal. Kita shift malem bareng," katanya sambil ngacungin jempol.
Terus dia jalan pergi. Nggak lari. Jalan santai sambil bersiul.
Siuulan lagu
Share this novel