Chapter 2 No Child!

Action Series 330

Malam itu, di sebuah restoran mewah yang diterangi cahaya lampu gantung keemasan, aroma steak panggang memenuhi udara. Loryan duduk di meja bundar dengan taplak putih bersih, menikmati setiap potong steaknya dengan lahap. Di hadapannya, Dieliza tampak anggun dengan gaun merah elegan, menyantap salad hijau segar dengan tenang. 

"Sayang, kau harus pelan-pelan... Kau bisa tersedak..." katanya dengan nada lembut, matanya yang teduh memperhatikan Loryan yang sedang mengunyah dengan terburu-buru. 

Loryan berhenti sejenak, tapi tetap mencoba menelan semua makanan yang ada di mulutnya sekaligus. "Aku tidak bisa... Aku harus makan semua ini. Mereka bilang makanan di penjara seperti sampah..." 

"Aw sayang, aku turut berdukacita...."

"Ha.... Ini benar-benar sangat menjengkelkan bukan... Apa itu penjara? Semua orang juga sudah tahu penjara itu buruk, hampir semua penjara lebih buruk dari apapun... Lelaki yang tampan dan berani seperti ku saja bisa masuk penjara berkat pengacara tak berguna itu, harusnya aku membayar pengacara yang lebih mahal untuk ini... Sial, andai saja... Tidak kah kau mau lebih berduka akan hal ini sayang?" Loryan menatap putus asa.

Dieliza menatapnya, senyumnya tetap melekat di bibirnya meski ada sedikit kesedihan yang tersirat di matanya. "Tapi, aku senang kau diberikan waktu enam bulan sebelum pergi..." 

"Hm mm..." Loryan hanya mengangguk, mengalihkan pandangannya ke piring, lalu kembali menyuapkan steak ke mulutnya. 

"Aku pasti akan kesepian tanpamu..." lanjut Dieliza, suaranya terdengar lebih pelan. 

Loryan menghela napas sebelum menjawab, tatapannya masih terarah ke piringnya. "Aku tahu, sayangku. Aku juga pasti akan kesepian tanpamu... Hei, mungkin aku bisa mengajukan jam kunjungan suami-istri. Mungkin satu bulan sekali atau bahkan lebih. Aku akan mengurusnya," katanya, mencoba menenangkan istrinya. 

Dieliza langsung tersenyum senang, matanya berbinar seolah ada secercah harapan. "Sungguh? Tapi... Apa kau tahu apa yang aku inginkan lebih dari itu?" 

Loryan akhirnya mengangkat kepalanya dan menatapnya. "Hm... Mm, apa itu?" tanyanya sambil tetap mengunyah. 

"Mungkin kita bisa melakukan sesuatu yang menyenangkan, dengan begitu aku tidak akan kesepian..." 

Loryan menelan makanannya dengan cepat dan menatapnya dengan bingung. "Selingkuh?" tebaknya asal, tanpa ragu sedikit pun. 

Dieliza langsung terkejut. "Tidak, sayang! Aku tidak akan selingkuh..." 

"Lalu apa?" 

"Aku ingin bayi!" Dieliza mengatakan itu dengan antusias, matanya berbinar penuh harapan. 

Seketika, suara dentingan pisau dan garpu jatuh terdengar di meja mereka. Loryan menatapnya dengan ekspresi tercengang, seolah kata-kata itu terlalu berat untuk dicerna. "Oh, Liza! Apa kau gila?" Nada suaranya berubah, terdengar lebih serius dan terbebani. "Kita sudah sepakat sebelum menikah, kita tidak akan punya bayi sebelum menikmati waktu kita... Bahkan baru sebulan kita menikah. Aku sibuk mengurus pekerjaan. Sejujurnya, setelah ini aku memang ingin liburan bersamamu, tapi karena semua ini, aku terpaksa harus menolak permintaanmu..." 

"Tapi... Tapi, aku tidak akan kesepian dengan seorang bayi..." 

"Liza, aku pergi selama tiga tahun, maksimal lima tahun. Lelaki brengsek macam apa aku ini jika meninggalkan istriku sendiri untuk merawat seorang anak? Lagipula, jika punya anak, kehidupanmu akan kacau. Kau tidak bisa bersenang-senang, waktu kita akan terbuang untuk merawat mereka... Pikirkan bagaimana kita berdua sekarang dan pikirkan bagaimana hidup kita akan berubah dengan menjadi orang tua..." Loryan menghela napas, nadanya mulai terdengar lebih lembut, mencoba membuat Dieliza mengerti. "Kau tahu kan, aku tidak pernah tumbuh besar dengan orang tua. Menurutku, itu terlalu berat..."

Dieliza menunduk, mengaduk-aduk saladnya dengan garpu tanpa benar-benar menyuapkannya ke mulut. "Jangan bahas itu lagi..." katanya dengan kecewa.

"Oh sayang, maafkan aku, tapi ini lah caraku agar kau tidak bertanya terus... Kau tahu istilah di luar sana kan? Anak anak yang tumbuh tanpa orang tua maka dia besar tanpa anak, okey? Jangan buat aku mengingat kesepakatan kita lagi soal membicarakan ini..." Loryan mencoba memberitahunya baik baik.

Tapi Dieliza tampak merengek. "Oh ayolah, sayang! Aku hanya ingin bayi, masalah lainnya biarkan saja... Aku hanya ingin bayi..." 

"Hei, dengarkan aku. Aku punya satu fakta, sayang. Mereka itu terkadang menjengkelkan. Mereka memecahkan barang, mereka menangis sepanjang hari, dan banyak hal lainnya..." Loryan mencoba tetap bersikap tenang, tapi penolakannya tetap tegas. 

Seketika, Dieliza memasang wajah sedih. Ia mendorong kursinya ke belakang dan berdiri. "Aku hanya ingin kau tidur denganku... Dengan kesenangan yang lebih baik! Kau tahu? Lupakan saja!!" Dia langsung berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Loryan yang terdiam. 

"Oh ayolah, Liza! Hei... Kau boleh punya anjing!" seru Loryan dari tempatnya, tapi Dieliza sudah pergi, meninggalkan keheningan di meja mereka. 

Tak lama, seorang pelayan datang membawa makanan tambahan. "Steak Anda selanjutnya, Tuan..." 

Loryan menatap piring itu tanpa minat, lalu mengambil gelas minumannya dan meneguknya dalam diam. Saat ia meletakkan gelasnya kembali, tahu-tahu ia sudah berada di dalam mobilnya, melaju perlahan di tengah hujan deras. 

Ia mengingat bagaimana Dieliza menginginkan seorang bayi. Membuat Loryan menatap kesal. "Bayi huh! Anak huh! Aku bisa membelikan anjing, atau kucing! Bahkan gajah sekalipun kecuali kau meminta anak...! Bahkan anak dari ku.... Aku tak suka bayi, aku tak suka anak anak..." ia tampak menggerutu, belum di ketahui pasti kenapa dia tidak suka hal semacam itu.

Tapi ia mencoba tersadar dari ke egois nya, dia menghela napas panjang lalu mengambil ponsel dan menghubungi Dieliza.

Hingga kemudian Dieliza mengangkat panggilan itu. "Beb...." Panggil Loryan dengan lembut. "Apa kau menangis? Jangan mengelak, aku tahu kau menangis.... Dengar, sekarang dengarkan aku... Aku minta maaf okey, jangan menangis begitu... Aku tahu aku memang tidak mengizinkan mu membuat bayi tapi, kau juga harus tahu perasaan ku... Kau mengerti, Liza?" Loryan mencoba membujuk, tapi detik berikutnya ekspresinya kesal seperti Dieliza mengatakan sesuatu padanya.

"Baiklah! Baiklah terserah kau saja! Lihat saja bagaimana aku akan bercerita bahwa aku akan menderita di penjara dan kau juga akan menderita di rumah...! Tunggu saja!" katanya lalu menutup ponselnya dan kembali menghela napas panjang. "(Haa... Astagaaaa, dia mengatakan bahwa aku tidak berguna, aku bukan suami yang baik dan dia hanya ingin melakukan pekerjaan rumah dengan baik.... Haaa.... Sial.....)" ia tampak putus asa.

Lampu jalan memantulkan bayangan basah di aspal saat mobil mewahnya berhenti di depan sebuah bar. Dari luar, cahaya neon berkedip samar, memberi kesan misterius dan mengundang.

Loryan turun dari mobil, mengenakan jaketnya, lalu berjalan masuk ke dalam bar yang penuh dengan pria-pria berpesta. Musik bass yang berdentum rendah bercampur dengan suara gelas beradu dan tawa keras dari sudut ruangan. 

Loryan melangkah mendekati meja bartender, duduk di salah satu kursi tinggi sambil memutar gelasnya dengan jari. Seorang pria dengan kulit sawo matang dan tato yang menghiasi lengan dan bahunya sedang mengelap gelas di balik meja. Pria itu tampak berotot, wajahnya keras, tapi ada sorot mata yang tenang saat ia melihat Loryan datang. 

"Bisa aku bantu?" tanyanya dengan suara dalam. 

Loryan mengulurkan gelasnya. "Berikan aku alkohol yang sama..." Masih ada sisa alkohol dalam gelasnya tadi, tapi pria itu mengangkat alis, tampak sedikit ragu sebelum menawarkannya sesuatu yang lain. 

"Kami punya anggur dan minuman lain jika kau mau?" 

"Tidak, isikan saja..." 

"Baiklah... Itu akan jadi 75," ujar pria itu sambil menuangkan alkohol ke dalam gelas. Loryan mengeluarkan dompetnya dan tanpa berpikir panjang, menyerahkan 100 dolar. 

"Ambil kembaliannya..." 

"Oh, terima kasih..." Pria itu menerima uang itu dengan sedikit anggukan, lalu kembali mengelap gelas, sementara Loryan mulai meneguk minumannya dengan lambat. 

Tatapannya menyapu ruangan yang dipenuhi pria berbadan kekar, beberapa tertawa keras, beberapa terlihat mabuk, sementara yang lain hanya berbicara pelan di sudut-sudut gelap bar itu. Namun, akhirnya, pandangannya kembali pada bartender di depannya. Matanya tertuju pada tato di bahu pria itu, menatapnya lebih lama dari yang seharusnya, sampai akhirnya pria itu menyadarinya dan ikut menatap balik. 

Loryan tersentak, sedikit canggung ketika pria itu berbicara. 

"Kau punya masalah?" tanyanya dengan nada datar, meletakkan gelas yang tadi sedang ia lap. 

"Uh, oh... Tidak. Aku hanya menatap tatomu. Kau... pernah di penjara?" tanya Loryan dengan nada penasaran. 

Pria itu mempersempit matanya, seakan mencoba membaca niat Loryan. "Sepertinya kau memang punya masalah, ya?" 

"Oh, tidak, maksudku... Aku juga akan masuk penjara sebentar lagi. Aku mencoba mencari cara atau saran tentang bagaimana rasanya di sana..." 

Pria itu hanya tetap tenang dengan wajah datarnya. "Hidupmu pasti buruk... Itu memang benar. Aku memang pernah di penjara... Saat usiaku 18 tahun." 

"Astaga, Man! 18 tahun?! Bagaimana kau menghidupi dirimu?! Oh, jika kau berkenan, aku ingin mengobrol saja... Aku butuh berbicara dengan mantan narapidana... Aku akan membayar mu 100 dolar." Loryan kembali mengulurkan uang, jari-jarinya sedikit gemetar saat menyodorkannya. 

Pria di depannya menatap uang itu dengan ragu, matanya yang tajam menyoroti Loryan dengan penuh selidik, seolah menimbang apakah ini semacam jebakan atau tidak. "Kau yakin? Hanya untuk mengobrol? Uang sebanyak itu?" tatapnya, nadanya terdengar penuh skeptisisme. 

"Ke... Kenapa? Apakah kurang? Baiklah..." Loryan buru-buru merogoh saku jaketnya untuk mengambil dompetnya lagi, tetapi pria itu menghentikan gerakannya dengan satu anggukan kecil. 

"Baiklah, 100 saja cukup..." katanya, akhirnya menerima tawaran itu membuat Loryan menatap senang.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience