Series
330
Tak lama kemudian, mereka duduk di meja yang sama, suasana bar yang temaram membungkus mereka dalam cahaya kekuningan. Denting gelas, suara musik pelan, dan percakapan samar dari pengunjung lain membentuk latar belakang yang mengisi keheningan di antara mereka. Pria itu menyandarkan punggungnya, menghela napas sebelum mulai bicara.
"Aku Agir." Dia mengulurkan tangan dengan gerakan yang sedikit kaku, mungkin karena sudah lama tak melakukan gestur semacam itu. Loryan menatapnya sejenak sebelum akhirnya menyambut uluran tangan itu. "Loryan K."
"Loryan? Berapa umurmu? Kenapa namamu terdengar muda?"
"Ah, aku masih 25 tahunan... Bagaimana denganmu?" Loryan menatap lebih dekat. Kini, setelah melihat lebih saksama, ia menyadari bahwa meskipun pria di depannya memiliki aura keras dan tajam, usianya memang tidak terpaut jauh darinya.
"Aku 28 tahun... Dan seperti yang aku bilang... Di umur 18 tahun, aku dipenjara. Beginilah aku berakhir sekarang..." katanya dengan nada datar, seolah hal itu bukan lagi sesuatu yang menyakitkan untuk diucapkan.
"Hm..." Loryan memperhatikan Agir lebih dalam. Rahangnya yang tegas, tatapan mata yang tajam, serta posturnya yang kokoh memang membuatnya tampak mengintimidasi. Namun, ada sesuatu dalam caranya berbicara—sebuah kelelahan yang sulit dijelaskan. "Ini tidak ada masalahnya... Kau terlihat tampan juga, apanya yang salah? Apa karena tatomu?"
Agir tertawa kecil, nyaris sinis. "Hm, sepertinya aku memang harus memulai dari tato, atau mungkin kau ingin tahu seperti apa penjara itu?" tatapnya tajam, seolah ingin memastikan apakah Loryan benar-benar siap mendengar jawabannya.
"Tentu..." Loryan menjawab tanpa ragu, meskipun kini perutnya mulai terasa sedikit mual.
"Di sana sangat mengerikan... Jika kau tidak ingin mereka melakukan sesuatu padamu, kau harus bisa berbaur dengan buruk. Tunjukkanlah dirimu bukan sebagai yang diperkosa..."
"...Diperkosa?" Loryan menatap bingung, dahinya berkerut dalam ketidakpercayaan. "(Jadi... Jadi di penjara!? Para pria lemah di perkosa!? Tidak, tidak... Tidak mungkin kan....)"
"Ya, banyak dari mereka yang memperkosa lelaki sepertimu... Apalagi... Kau terlihat masih muda, tampan, bahkan kulitmu sangat lembut..." Agir menatapnya tajam, suaranya merendah.
Loryan bergidik, merasa tidak nyaman dengan cara pria itu menilainya. "Oh, hei! Itu rasis sekali, ya... Jangan-jangan kau juga gay?"
"Aku memang gay, ini juga bar gay..." kata Agir, membuat Loryan hampir tersedak. Ia langsung melirik sekelilingnya dengan panik, baru sadar bahwa dirinya terlalu terburu-buru masuk tanpa memperhatikan tempat yang ia masuki. Tatapannya terpaku pada dua pasang pria yang berciuman di sudut ruangan. Ia menelan ludah, wajahnya berkerut jijik. "Ugh... Itu menyakitiku..."
Agir hanya mengangkat bahu, seolah sudah terbiasa melihat reaksi semacam itu. "Dengan tubuhmu yang seperti itu, mereka pasti akan mengunci dirimu sebagai mangsa. Banyak binatang buas, iblis, bahkan lebih buruk dari itu..."
"Oh, astaga, itu mengerikan..." Loryan sudah mulai ketakutan, tubuhnya sedikit menegang di kursinya. Dia benar benar tidak tahu lagi harus memikirkan apa untuk menghadapi ancaman itu nantinya. "(Ini benar-benar fakta yang membuatku sangat khawatir sekali...) Itu benar-benar sangat mengerikan!"
Agir terdiam sambil meminum segelas lagi lalu mengatakan sesuatu. "Kupikir karena tubuhmu begitu kau mau pasrah pasrah saja jika kau akan di perkosa.... Karena kelihatan nya kau memang hanya harus menerima keadaan dan di perkosa...." kata Agir dengan mudahnya mengatakan itu.
"Apa?! Hei Man, jangan begitu, aku punya harga diri di sini, memang nya apa enak nya berhubungan lewat belakang! Itu menjijikan...."
"Aku sudah merasakan nya, dan itu sama saja seperti wanita..." kata Agir dengan tenang.
Seketika Loryan terdiam. "Jadi, kau sudah pernah di perkosa?! Apa pantat mu sakit selama seminggu?!"
"Bukan aku, tapi aku yang memperkosanya..." kata Agir dengan tatapan menggoda membuat Loryan terdiam trauma. "(Jadi, kesimpulan nya, dia bukan korban, tapi dia menjadi pelaku dengan mudah.... Antara dia kuat atau apapun itu... Hiii.... Mengerikan...)"
"Jika kau tidak mau diperkosa, maka jadilah yang memperkosa. Hanya itu satu-satunya cara kau bisa menunjukkannya." Tatap Agir dengan wajah serius.
"Ugh, no! Aku tidak akan melakukan itu! Istriku sudah cantik di rumah..." Loryan menatap kesal.
"Kalau begitu, tinggal tunggu kau diperkosa..."
"Akh! Tidak, tunggu, Man! Jangan main-main... Aku meminta saranmu yang lain..."
"Cukup sulit menemukan saran untukmu... Bagaimana jika bergabung dengan sebuah gang atau kelompok? Apa kau rasis?" Tatap Agir.
"Um... Tidak... Tidak terlalu..." kata Loryan dengan ragu.
"Hm, kalau begitu, apa kau Nazi?"
"Tidak...?"
"Kalau begitu, kau Amerika Latin?"
"Tidak juga sebenarnya..."
"Hm... Baiklah, kau memang harus tinggal menunggu diperkosa..."
"Tidak, tidak, Man! Aku... Aku bisa tunjukkan dalam waktu beberapa bulan! Aku... Aku akan jadi rasis!!"
"Oke, itu bagus... Kemudian kau akan bergabung dengan Nazi?"
"Ee... yeah!"
"Baiklah, kemudian kau akan diperkosa mereka..."
"Hei, Man! Jangan bercanda! Kau terus mengatakan tidak ada jalan dari tadi! Apa kau gila?! Kau niat memberiku saran atau tidak?!" Loryan sudah menatap sangat kesal.
"Karena itulah, kau harus bisa bertarung, melawan dirimu, menjaga tubuhmu... Mungkin mulai dengan hal mudah dulu. Kau punya tato?" Agir menatapnya dengan serius.
"Oh, aku punya... Aku besar tanpa orang tua, dan istriku menyarankanku untuk menato namanya di bahuku..." Loryan tanpa ragu melepas kancing kemejanya dan membuka bajunya untuk memperlihatkan bahunya. Cahaya remang-remang bar membuat kulitnya tampak lebih pucat, dan di sana, di bahunya, ada tato yang tidak terlalu kecil bertuliskan "Dieliza." Ia tersenyum kecil, tampak bangga. "Aku tahu, dia wanita yang cantik, haha..."
Agir menatap tato itu lama, ekspresinya sulit ditebak. "Itu kurang meyakinkan... Itu bukan senjata yang tepat..." katanya akhirnya, nadanya terdengar berat.
Seketika Loryan terpucat. "A-Apa? Lalu... lalu bagaimana? Aku tak mau diperkosa... Apa yang harus kulakukan?!"
"Seperti yang kubilang, kau harus lebih kuat dari binatang buas itu..."
"Tapi... Tunggu? Jika mereka melakukan pemerkosaan, bukankah itu tindakan kriminal di dalam penjara?" Loryan menatapnya, baru sadar akan sesuatu.
Agir tertawa pendek, tapi tidak ada humor dalam suaranya. "Sipir di sana tidak peduli... Mereka hanya akan bergerak ketika perkelahian terjadi. Bagi mereka, 'percintaan' di sana bukanlah sebuah penindasan. Mereka berpikir kedua belah pihak senang melakukan itu..."
"Ugh... Aku bisa sakit lagi..." Loryan tampak mual mendengar itu. Tangannya mencengkeram pinggiran meja, wajahnya sedikit memucat. Sepertinya penjara memang neraka sesungguhnya untuknya.
"Tapi...." tatap Agir mencoba mengatakan topik lagi membuat Loryan menatapnya dengan serius menunggu.
"Selama beberapa hal terakhir, tidak hanya kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh banyaknya narapidana tapi juga bagaimana penjara adalah tempat yang kotor bagi kaum finansial, kekuasaan, bahkan banyak informasi yang di jual di sana... Kau tahu bagaimana sipir dunia bekerja sekarang, banyak hal yang membuat mereka dapat mencampuri urusan narapidana, di antaranya adalah keterkaitan dan apapun itu... Jadi intinya, kau tidak hanya di perkosa oleh narapidana seperti setan, tapi juga sipir seperti iblis..." katanya dengan santai membuat Loryan semakin ketakutan bahkan menelan ludah.
"Kau membuat kesimpulan yang mudah di cerna, tapi bisakah kau menjelaskan lebih relevan dengan kata 'sipir'?" tatapnya dengan rasa penasaran.
Agir terdiam berpikir. "Dengar, banyak interaksi dan kenalan dari berbagai sudut di penjara, apalagi jika kau di penjara di tempat paling neraka di dunia, jika kita berbicara soal mafia apalagi orang orang rusia, kau pasti sudah mati di tangan mereka.... Tapi... Bicara soal rusia, kau seperti orang rusia di sisi sudut tertentu..." tatap Agir mencoba melihat wajah Loryan dari sudut tertentu.
"Uh oh... Em... Aku, sebenarnya sih, aku Blasteran, tapi... Aku tak mau mengakui itu..."
"Oh, aku tahu itu... Kau tidak mau mengakuinya karena kau adalah orang rusia yang tidak bisa bertarung, kau memang cocok di perkosa saja..." kata Agir membuat Loryan menatap kesal.
"Sialan, kau dari tadi merendahkan ku saja?! Bukan berarti tampang ku begini aku akan mudah di perkosa! Aku adalah pria kuat di sini.... Dan akan ku buktikan bahwa aku tidak akan di perkosa!" tekad Loryan tampak membara.
Membuat Agir tertawa kecil. "Kekeke, kau benar-benar mempermalukan kaum mu sendiri, harusnya sebelum lahir kau meminta untuk dilahirkan di keluarga yang bukan berdarah rusia, agar kau bisa tenang tanpa harus mengakui bahwa kau tidak bisa bertarung meskipun kau orang rusia..."
"Ck, berhenti mengejek ku man, aku membayar mu untuk membantu ku, bukan mengolok olok ku..." tatap Loryan dengan kesal.
"Well, aku tak ada hal yang ingin di sampaikan lagi, karena dari awal aku sudah merasa bahwa kau tidak akan ada harapan di sini, cukup tunggu saja bagaimana kau nanti di injak injak... Aku tidak tahu banyak soal mu tapi sepertinya bagaimana kau menyebut dirimu bukan orang rusia mungkin itu cukup menarik di sini... Kau punya masalah dengan kehidupan mu apalagi kau di lahirkan sebagai blasteran rusia...?" tatap Agir.
"Apa itu pertanyaan? Karena jika iya maka aku tidak akan menjawabnya..."
"Baiklah, hanya anggap aku bicara dengan angin, intinya... Jika kau bisa bertarung, kenapa tidak mulai dari sekarang... Sudah kubilang jadilah pemerkosanya dan tunjukan pada mereka bahwa kau bagian dari mereka, bukan kelinci yang harus di makan bersamaan... Itu saja..." kata Agir membuat Loryan tak tahu lagi hingga menghela napas panjang. "(Haa... Sudahlah, aku ingin menangis saja...)"
Hingga akhirnya dia pulang. Rumahnya benar-benar seperti mansion yang luas. Ketika ia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya, dia langsung berjalan ke pintu, tapi Dieliza membuka jendela dan mengintip. Dia terkejut melihat Loryan yang tampak kecewa dan sedih.
"Sayang!!?" Dieliza menatapnya.
"Liza!! Aku akan diperkosa!! Huhuhu!!!" teriak Loryan dengan putus asa.
"Sayang?! Kenapa?!" Dieliza tampak menatap tak percaya.
"(Ini mimpi buruk, sangat buruk! Kenapa ini terjadi padaku?! Aku sudah berkali-kali lolos dari pengadilan, tapi kali ini! Aku benar-benar ketahuan menipu orang!! Apa yang membuatku tidak bisa membayar hakim di sini?! Itu karena pengacara sialan itu!!!)"
Share this novel