Series
330
Loryan K adalah seorang lelaki sukses dengan bisnis penerbangan yang menghubungkan berbagai wilayah ke Hawaii. Dia tidak hanya seorang direktur yang cakap dalam pekerjaannya, tetapi juga dikenal sebagai pria yang paling tampan di antara kalangan bisnis. Rambut pirangnya selalu tertata rapi, mencerminkan kesempurnaan seorang lelaki yang peduli pada penampilan. Mata birunya seperti kristal es yang terus berputar dan kulit putihnya yang cocok di jas mahal yang selalu ia kenakan dengan penuh kebanggaan.
Banyak wanita yang terpesona olehnya, berusaha mendapatkan perhatiannya, namun sayangnya, harapan mereka pupus. Hanya sebulan yang lalu, Loryan menikahi seorang wanita cantik dan seksi dari Florida. Selain kecantikannya yang menawan, wanita itu juga memiliki keahlian memasak yang luar biasa, membuat pernikahan mereka semakin sempurna di mata orang-orang yang mengenalnya.
***
"Baiklah, nyonya, biar aku perjelas, hm... Jika kau mendapatkan tiket ini, kau bisa berlibur ke pantai yang luar biasa... Rasakan kesegarannya dan bahkan alam yang indah...."
Suara Loryan terdengar tenang namun penuh keyakinan. Dia berbicara dengan percaya diri yang telah terbiasa mempengaruhi orang lain dalam dunia bisnis. Jika dilihat lebih dekat, lelaki tampan itu tampak sedang menjelaskan sesuatu kepada seorang wanita tua yang duduk di kursi roda di kantornya yang bergaya klasik. Loryan bergerak dengan santai, berjalan ke sembarang tempat di dalam ruangan, tangannya bergerak ringan seakan menari saat menjelaskan betapa menyenangkannya liburan ke pantai.
"Kau tahu, banyak hal yang harus dinikmati. Jika aku jadi kau, aku tinggal ganti pakaian pantai, lalu duduk di bawah sinar matahari...." Loryan berhenti sejenak, mengamati ekspresi wanita tua itu sebelum melanjutkan dengan nada lebih menggoda. "Dan terlebih lagi, banyak pria tampan untukmu..."
Dia berkata sambil duduk dengan anggun di mejanya, menyilangkan kaki, menunjukkan kesan santai tapi tetap berwibawa. Namun, wajah wanita tua itu tetap datar. Keriputnya semakin terlihat saat dia menatap Loryan dengan sorot mata yang tak bisa ditebak. Ada ketidakpercayaan yang jelas terpancar dari ekspresinya.
"Keponakanku pernah ke sana... Dia bilang, dia dilecehkan oleh pria di sana... Yang lebih buruk, kulit hitam..."
Seketika mata Loryan sedikit menyipit sebelum akhirnya dia menghela napas panjang, lalu mengangkat bahu dengan sikap seolah hal itu sudah biasa ia dengar.
"Ok, baiklah, kita terkenal dengan negara rasis.... Ini Amerika, jangan dianggap enteng...." ucapnya santai, nada suaranya sama sekali tidak berubah. "Keponakanmu yang mana? Aku tidak pernah mendapatkan seorang.... Wanita?"
"Dia memang wanita!"
"Hm.... Baiklah, dengar, mungkin yang dimaksud itu adalah dia cantik, jadi dia gampang digoda..." Loryan mengangkat bahu sekali lagi, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap wanita tua itu dengan sorot mata tajam namun tetap santai. "Tapi jika kau melihat dirimu sendiri, nyonya, kau tidak perlu peduli pada apa pun, bukan? Maksudku, siapa yang tertarik melihat kulit keriput? Mereka ingin kulit kencang..."
Wanita tua itu tampak hendak membuka mulutnya untuk membalas, tetapi Loryan lebih cepat menyela.
"Tapi... Jika kau ingin dilihat oleh orang-orang tampan, pria dominan di pantai ini.... Aku yakin, jika kau menggunakan gelang emas, cincin bahkan anting, mereka tidak akan segan-segan menggodamu..."
Ekspresi wanita tua itu berubah bingung, seolah berusaha mencerna ucapan Loryan. "Apa maksudmu?"
Loryan menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang sebelum mendekat. Dengan suara yang lebih rendah, hampir seperti bisikan rahasia, ia berkata, "Dengar, aku beri satu fakta... Jika aku tidak punya istri, aku akan melakukan pose seperti anjing sekarang, memohon padamu, menjilatmu bahkan aku akan melakukan apa pun karena aku tahu kau punya uang banyak.... Itu tidak berlaku untukku saja, nyonya... Tapi pria di pantai itu pasti juga begitu. Kau akan senang dihibur pemandangan yang hebat..."
Seketika wajah wanita tua itu berubah cerah, bibirnya yang sebelumnya kaku kini melengkung dalam senyum senang. "Aku pikir itu juga hiburan untuk wanita tua sepertiku."
Loryan tertawa ringan, merasa puas dengan reaksi itu. "Bagus, itu luar biasa... Haha.... Sekarang, tanda tangan di sini..."
Ia menyerahkan pena dan selembar kertas kontrak dengan gerakan percaya diri, memastikan agar wanita itu tidak punya alasan untuk menolak. Namun, sebelum wanita itu sempat menandatangani, tiba-tiba pintu kantor terbuka dengan keras. Dua pria masuk dengan langkah cepat, diikuti seorang wanita yang tampak panik.
"He—hei! Tunggu... Jangan masuk.... Jangan...."
Teriakan wanita itu hampir tertutup oleh suara langkah berat dua pria tersebut yang kini berdiri tegap di hadapan Loryan. Sorot mata mereka tajam dan serius, berbeda dari ekspresi santai lelaki tampan itu. Namun, bukannya panik, Loryan malah tetap duduk santai, bahkan masih tersenyum sambil memandangi wanita tua yang hampir menandatangani kontrak.
Salah satu pria berbicara dengan suara tegas, "Kau Loryan K?"
Loryan memiringkan kepalanya sedikit, masih belum menghilangkan ekspresi percaya dirinya. Sebelum dia sempat menjawab, salah satu pria itu langsung meraih lengannya, menariknya untuk berdiri, lalu dengan cepat memutar tubuhnya sebelum memborgol kedua tangannya ke belakang.
"He... Hei? Apa ini?"
Loryan menatap mereka dengan kebingungan yang tampak lebih seperti ketidakyakinan daripada ketakutan. Dia lalu melirik ke arah wanita cantik itu tadi yang tampak panik. Alih-alih ikut panik, Loryan justru tersenyum menggoda, masih mempertahankan sikap percaya dirinya.
"Hai sayang, bisa jelaskan apa ini?"
Dia bahkan masih bisa bercanda di tengah situasi tegang ini. Namun, wanita cantik itu tampak gemetar, jelas tidak mengerti apa yang terjadi.
"Aku tidak tahu! Mereka terus mengatakan bahwa kau bersalah..."
Salah satu pria yang memborgolnya kemudian menjawab, "Kau ditangkap atas penuduhan penipuan. Nyonya, semua yang ia katakan, meskipun kami tidak dengar, semuanya salah." Pria itu menatap pada wanita tua tadi yang terdiam menatap.
Loryan tetap tenang, matanya berkilat penuh percaya diri meskipun tangannya telah terborgol. Dia kembali menatap wanita tua itu dan berkata dengan nada santai, "Hahaha... Apa yang kukatakan jelas benar untukmu, nyonya. Cepat tanda tangani saja."
Wanita itu tampak ragu sejenak, tetapi akhirnya, dengan semangat yang tak diduga, ia menandatangani kontrak tersebut.
"Yuhu!" seru Loryan, tampak sangat puas. Namun, sebelum ia bisa merayakan lebih jauh, pria tadi menekan bahunya dengan kuat, lalu mendorongnya untuk ikut bersama mereka.
"Ok, man! Jangan dorong dorong, aku punya kaki!"
***
Hari itu, Loryan K dibawa ke pengadilan, memang bukan pertama kalinya dalam hidupnya, dia berdiri sebagai tersangka itu sudah biasa karena itulah dia tampak memasang wajah biasa. Namun, meskipun tangan terborgol, senyumnya tidak sepenuhnya hilang. Baginya, ini hanyalah permainan lain yang harus ia menangkan. "(Jangan khawatir Loryan, pasti aku bisa keluar dari sini....) Oh, yang benar saja... Ini sudah tuduhan ke berapa? Aku juga tidak akan bersalah..." Loryan menatap bosan, menoleh ke pengacaranya dengan mata malas.
"Tunggu, Loryan, kau harus mendengarkan dulu..." Pengacaranya menatapnya dengan sedikit ragu, seolah sudah bisa menebak bagaimana sikap kliennya. Namun, Loryan hanya menghela napas panjang, ekspresinya jenuh seakan ini hanyalah hal kecil yang tidak layak untuk dipikirkan.
Dia lalu melirik ke arah belakang, di mana wanita cantik tadi duduk dengan anggun di bangku penonton. Senyum tipis terukir di wajahnya, seakan menikmati pertunjukan yang sedang berlangsung. Loryan tersenyum menggoda, matanya sedikit menyipit penuh arti. Wanita itu terkikik kecil, menutup bibirnya dengan ujung jari, jelas terhibur dengan sikapnya.
Namun, kesenangan itu terhenti saat hakim berbicara.
"Baiklah, Loryan K, kau harus mendengarkan apa yang dikatakan terdakwa..." Suara hakim bergema di dalam ruangan, menarik perhatian semua orang kembali ke meja persidangan. Hakim menunjuk bagian meja terdakwa, dan seorang wanita penting berdiri dengan sikap percaya diri. Pakaiannya elegan, suaranya lantang, menunjukkan bahwa dia bukan orang sembarangan.
"Ya, Yang Mulia. Loryan K memang bersalah atas tindakannya kali ini.... Dia menipu dengan bisnisnya yang sudah besar..." Kata wanita itu dengan penuh keyakinan.
Loryan, yang semula terlihat santai, kini mendadak membelalakkan mata.
"Hei... Pelacur!!" Ledakan emosinya terdengar tajam di ruangan, membuat beberapa orang terkejut. Pengacaranya buru-buru menarik lengan jasnya, mencoba menenangkannya sebelum situasi semakin buruk.
"Hus.... Loryan...!" bisiknya panik.
Hakim mengetuk palunya sekali lagi, mengembalikan ketertiban di ruangan.
"Baiklah, Loryan K, kau tertuduh atas penipuan, dan itu murni kejahatanmu sendiri. Karena itulah aku akan mengirim mu ke Verilgle selama 3 tahun. Kasus seperti ini paling lama 5 tahun. Kau punya waktu 6 bulan untuk mempersiapkan dirimu..." Nada hakim tegas, tak terbantahkan.
Sementara itu, Loryan tampak menegang.
"P... Penjara?!!!" Suaranya meninggi, kepanikan akhirnya merayap ke wajahnya.
Pengacaranya mencoba mengambil alih situasi. "Baiklah, baiklah, Loryan, tenanglah... Aku bisa mengatasinya... Yang Mulia, hukuman seperti ini tidak pantas dilakukan, apalagi selama maksimal 5 tahun. Lihatlah lelaki ini... Dia tampak tidak berdaya..." ucapnya dengan nada penuh drama, mencoba menarik simpati.
Seketika Loryan menoleh tajam ke arahnya, ekspresi marah mulai tampak di wajahnya.
"Bajingan kau, aku tidak membayar mu untuk itu!" geramnya.
Hakim hanya menghela napas, lalu kembali berbicara. "Baiklah, 3 tahun..."
Ruangan mendadak hening. Loryan terdiam, matanya menyipit, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pengacaranya saja bisa langsung mengurangi hukuman hanya dengan kalimat tidak masuk akal.
Hakim kemudian melanjutkan, "Dalam hal ini, aku ingin kau mengganti dua tahun itu dengan membangun sekolah untuk anak-anak kurang mampu, membantu fasilitas rumah sakit, dan yang lainnya... Terima kasih, Loryan, kau bersikap sangat dermawan."
"Apa?! Tidak!! Aku tidak melakukan itu! Hakim sialan—"
"Loryan, hush..." Pengacaranya buru-buru menahan bahunya, berusaha meredam kemarahannya.
Persidangan pun berakhir. Beberapa orang mulai beranjak dari kursi mereka, sementara suara gemuruh bisikan memenuhi ruangan.
---
"Kau dengar aku, Deshal?! Kau seharusnya membelaku! Kenapa malah menyarankan hal tidak jelas?! Sebenarnya apa yang terjadi?"
Loryan berdiri di kantornya, menatap pengacaranya dengan wajah merah padam. Meja besar di tengah ruangan dipenuhi dokumen yang berantakan, tanda bahwa dia benar-benar kesal. Deshal, pria pengacaranya, hanya menghela napas, sementara seorang wanita duduk santai di sofa, menikmati momen kekacauan ini. Dia adalah Dieliza, wanita yang tadi sempat tertawa kecil di ruang sidang.
"Oh, sayang, aku turut menyesal huhuhu... Kita tidak menang dalam persidangan!" Dieliza berkata dengan nada manja, matanya berkaca-kaca seolah benar-benar terpukul oleh situasi ini.
Loryan segera menghampirinya dan memeluknya erat. "Ini baik-baik saja, sayang. Aku akan berjuang... Jangan khawatir... Kau bisa gunakan kartuku..."
Namun, suara santai Deshal memotong momen itu.
"Dia akan membekukan kartu bankmu ketika kau sudah ada di penjara, Loryan...." Katanya datar, seolah itu bukan masalah besar.
Loryan menatapnya dengan ekspresi penuh kejengkelan.
"Kau ini?! Seharusnya kau menyuap hakim! Hukuman sebesar itu, bagaimana bisa aku bertahan!"
Deshal hanya mengangkat bahu. "Hei, aku tidak pernah menyuap hakim... Itu bukan tuntutan pekerjaanku..."
Loryan menggeram, menatapnya dengan amarah yang mulai memuncak.
"Bagus... Kau tahu apa, Deshal...? Kau dipecat!" bentaknya.
Deshal hanya menatapnya dengan ekspresi malas, lalu mengangkat kedua tangannya dengan santai, seolah ini bukan pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini.
Share this novel