Pertengkaran Sepele

Romance Series 2728

Keesokan Harinya kicauan burung berterbangan di keuar jendela yang nampak jelas. Matahari pagi yang menembul langsung ke dai balik kaca yang terbuka tanpa selamu di sampingnya.

Salsa membuka matanya perlahan mengusapnya berkali kali untuk menghilangakn kotoran di matanya. ia menatap sekelilinya melihat hanya ada seorang lelaki di sampingnya yang hanya telanjang dada tanpa helaian kain menutupi tubuhnya.

Wanita itu membuka selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Ia melihat tak ada helaian kain menutipi tubuhnya.

" kemana bajuku" Gumam Salsa mencengkram erat selimut di dadanya.

Matanya memutar melihat sekelilingya . Terlihat bajunya berserakan di lantai putih di bawahnya. Bra miliknya menyangkut di meja kecil samping ranjangnya.

" Apa yang kemarin aku lakukan. Baju aku berterbangan kemana-mana" Gumam Salsa lirih ia mencoba bangkit dari tidurnya di ranjang.

Namun tubuhnya masih terdiam kaku di ranjangnya bahkan dia tak bisa bergerak sama sekali. Lelaki itu masih tidur pulas di sampingnya. Dan masih merengkuh pinggangnya sangat erat. Desiran nafas ringannya terasa di belakang lehernya di sela helaian rambut tipis di belakang lehernya membuat bulu kuduknya merinding.

" gimana caranya aku bisa pergi? Aku sudah gak tahan lagi mau ke toilet" Gumam Salsa melirik sekilas ke arah lelaki di sampingnya itu yang masih tertidur lelap di dadanya seperti seorang bayi baru lahir. Terlihat lucu dan manjanya. Wajah yang semula terlihat dingin dan kaku berubah menjadi sosok bayi dewasa yang sangat menggemaskan. Membuat Salsa tersenyum tipis menatap ketampanan lelaki itu.

" Lucu sekali !" wanita itu menyentuh hidung  mancung milik Devid. Membuat Devid tiba-tiba menggaruk hidungnya yang terasa gatal karena sentuhan Salsa.

Salsa mencoba mengangkat tangan Devid dari pinggangnya. Tetapi lelaki itu menggerakan badannya semakin merengkuh erat pinggang Salsa seperti boneka besar kesayangannya.

" Hmmzz" Gumam Devid merengkuh erat lagi dengan tubuh masih berbalut selimut.

" Apa yang aku lakukan kemarin benar-benar gila" Gumam Salsa menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya dengan semua yang terjadi pada mereka berdua. Baru beberapa jam berlalu hingga Devid tertidur lelap di sampingnya. Gawangnya di bobol begitu saja dengan calon suami sementara nya itu bahkan ia menikmati permainannya begitu saja.

" Salsa gimana kalau semua orang tahu kalau kamu sudah tidak perawan lagi. Apa mereka akan menghinamu. Aku tak habis pikir" Gumam Salsa mengacak acak rambutnya.

Ia melihat sekilas tubuhnya di balik selimut tebal Jemari Devib bergerak perlahan nakal.

Ia membalikkan badannya ke kiri menvoba menghindari permainan nakal jemari Devid. Dengan manatap jendela kaca yang tak tertutup selambu.

Tiba-tiba hembusan nafas berat lelaki di sampingnya membuat ia merasakan sebuah peringatan. Ia menvium lembut belakang lehernya membuat Salsa sedikit bergairah.

" Tetaplah seperti ini saat kita menikah nanti" Bisik Devid dengan suara lembutnya

" Ternyata dia sudah bangun" Gumam salsa Lirih ia masih pura-pura tertidur agar Devid  tak mengganggunya lagi.

Jemari tangan Devid bergerak nakal menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mengusap dada Salsa berkali kali. Lelaki itu berniat untuk membuat Salsa bergairah hebat lagi. Ia ingin menikmati lagi tubuh mungil Calon istrinya itu.

Ia mengusap lembut dada tubuh Salsa membuatnya geli. Meski sempat ingin menolak tapi tubuhnya seakan menginginkan belaian lembut jemari Devid.

" Apa kamu masih mau melanjutkan" Bisik Devid lirih.

Salsa hanya berdiam tak berkutik tubuhnya merasa  sudah tak bisa lagi menahan ingin buang air kecil sudah mau melanjut lagi. Tak berani berkata pada Devid wanita itu masih pura-pura tidur tak menggubris bisikan Devid padanya. Tubuhnya menahan hgairah yang semakin hebat sekaligus menahan ingin buang air kecel. Hingga keringat dingin bercucuran keluar dari wajah cantik Salsa.

Seolah menerima penolakan dari tubuh Salsa devid beranjak dari tidurnya. Ia meraih kemeja di ranjangnya dan segera memakai kemeja putih bintik hitam lengan panjang miliknya. Salsa melihat tubuh kekar milik Devid dari pantulan kaca di depannya seakan membuat matanya tak bisa berkedip.

Jemarinya mulai mengancing satu benik kemejanya mulai dari bawah sampai ke atas, melipat lengannya sedikit membuat penampilannya terlihat sangat cool. Ia melangkah pergi tanpa suntai kata keluar dari mulutnya.

Mendengar suara pintu tertutup Salsa menarik nafas lega. Ia beranjak berdiri membalut tubuh mungilnya dengan selimut berlari menuju ke kamar Mandi.

" Kamu mau kamana?" Ucap Devid yang tiba-tiba berdiri di belakangnya.  Belum sempat membuka kamar Mandi Salsa masih memegang gagang pintu berwarna perak itu. Perlahan menoleh ke belakang dengan senyum semringai .

" Hehe.. mau ke toilet" Ucap Salsa dengan senyum tipisnya.

" Minggir aku mau ke toilet dulu" Ucap Devid menarik tangan Salsa menjauh dari depan pintu.

Entah datang dari mana lelaki itu tiba-tiba masuk tanpa suara pintu terbuka membuat ia terkejut seakan jantungnya mau copot.

Wanita itu hanya diam mengedi-ngedipkan matanya dengan tangan terus mencengkram erat selimut yang membalut tubuhnya. tubuhnya seakan menari nari terasa sudah di ujung tak tertahan lagi.

" Eh. Tu--tuan aku dulu" Pungkas Salsa dengan nada gugup manarik kembali tangan Devid.

" Aku duluan" Ucap Devid dengan nada semakin meninggi.

" Tuan muda yang datang belakangan jadi antri dong" Ucap Salsa mencoba membernaikan diri membalas ucapan Devid.

" Ini rumahku terserah aku" Jawabnya dengan nada menantang mendorong tubuh Salsa dengan tubuhnya.

" Gak pokoknya aku duluan" Ucap Salsa mendorong kembali tubuh Devid dengan tubuhnya.

" Kamu berani melawanku" Devid mulai mengancam Salsa . Namun tak membuat ia takut ia balik menegaskan pada Devid dengan nada semakin tinggi.

" Lagian kamu yang datang belakangan. Kenapa minta duluan. Lagian masih banyak tuh kamar mandi di luar" 

" sudah gak usah banyak bicara. Aku duluan!"  Ucap Devid tegas.

Merasa capek berdebat dengan Devid Salsa sudah tak bisa menahannya lagi. Ia mendorong keras tubuh lelaki itu hingga terpental menjauh darinya. Dengan segera ia membuka pintu kamar mandi dengan langkah terburu-buru.

" Sialan!"

" Buruan keluar !"Ucap Devid menggedor pintu kamar Mandi tak henti hentinya. Namun Salsa sangaja tak kunjung keluar dari kamar Mandi.

" Kalau kamu gak keluar, aku dobrak pintunya" teriak Devid. Salsa yang mendengar pura-pura tuli tak menghiraukan ucapan Devid yang semakin keras.

" Buka gak!" Teriak Devid dengan nada semakin meninggi membuat gaduh sediri di kamar mewah Salsa.

Dengan santainya Salsa membuka pintu kamar mandi tanpa rasa bersalah . Ia hanya senyum tipis menatap Devid di depannya.

" Sialan minggir" Ucap Devid mendorong tubuh Salsa yang masih di pintu kamar mandi keluar.

" Perasaan rumah sebesar ini toilet juga banyak. Kenapa ia harus ke sini lagi" Gumam  Salsa berdecak kesal menendang keras pintu kamar Mandi.

Aw... sakit juga ternyata.

Ia memegang kakinya senyum semringai menahan sakit. Merasa sudah mendingan ia beranjak pergi menuju lemari mencoba memilih baju untuk ia kenakan nanti. Tak mau di bilang kuper dan gadis desa ia mencoba mencari beberapa baju yang bagus untuknya. Tak ada baju hanya beberapa gaun tergantung di lemarinya.

" Kenapa gaunya kelihatanya tipis" Pungkas Salsa mengambil salah satu gaunnya mengangkatnya ke atas.

" Sepertinya ini bagus juga" Gumam Salsa mengedip kan matanya berkali-kali menatao gaun yang begitu cantik itu.

" Apa yang kamu lakukan?" Ucap Devid mengejutkan dirinya.

Salsa menileh ke belakang seketika.
" Terserah aku mau ngapain aja" Ucaonya dengan nada mengejek berjalan dengan langkah cepat menuju kamar mandi untuk memakai gaun berwarna pink itu.

" Baru sehari tinggal di sini tapi sudah berani melunjak" Gumam Devid beranjak pergi dari kamar Salsa dengan terus bergumam tak jelas.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience