Series
2728
Salsa berdiam diri di dalam kamarnya menatap sebuah surat perjanjian yang membuat ia muak. Ingin sekali menyobek kertas itu membuangnya jauh jauh dari pandangan matanya. Tapi kini nasib keluarganya ada di tangannya membuat ia tak bisa berkutik lagi.
Dengan terpaksa ia mulai membaca surat perjanjian itu satu persatu. Selesai membaca. Ia mengehela nafas sejenak mengumpulkan semua keberaniannya untuk segera menandatangani.
Salsa meraih bolpoin di meja kecil samping ranjangnya untuk menandatangani perjanjian itu dengan segera. Selseai ia melemparkan ke ranjang sampingnya.
Tak lama Devid datang membuka pintunya membuat ia sontak terkejut. " Kenapa kamu lama sekali" Pungkas Devid menatap tajam ke arah Salsa dengan berjalan perlahan menuju ke arahnya.
" apa yang akan kamu lakukan" Salsa beranjak berdiri untuk melindungi dirinya sendiri dari perlakuan mesum Devid nantinya.
" Jangan mendekat" ucapannya tak di gubris oleh Devid. Ia meraih tangan nya menjatuhkan ke ranjang empuk miliknya.
" tinggal menghitung hari kita menikah. Tapi sebelum kamu di sentuh orang lain makan aku akan menyentuhmu lebih dulu" Ucap Devid mulai menindih tubuh mungil Salsa membuatnya tak bisa berkutik apa apa. Kini ia merasakan dekapan hangat seorang lelaki di depan pandangan matanya ity.
" Lepaskan aku. Kalau kamu gak mau bisa melaporkanmu ke polisi nantinya" Ucap Salsa mencoba mengancam Devid. Ia mendorong tubuh kekar Devid namun apalah daya tubuhnya yang mungil tak bisa mengimbangi kekuatan tubuh Devid. Yang masih menindihnya kuat.
Ia mengunci tangan salsa di atas kepalanya. " lepaskan aku" Ucap salsa masih mencoba meronta ronta. Devid tetap tak perdulikan itu semua.
Ia dengan sigap melumat bibir kenyal milik Salsa membuat nya tak bisa berkutik. Devid memainkan bibirnya sangat kasar.
Permainannya berhenti sejenak merobek helaian kain hang menutupi tubuh mungil milik calon istrinya itu. Ia menatap jelas apa yang di miliki istrinya itu tubuh yang datar mungil membuatnya berpikir dua kali untuk menjajahinya.
Namun hasratnya tak bisa di pungkiri lagi. Ia tak bisa menahannya saat menatap itu semua. Dengan sigap ia menciumi tubuh mungil itu dengan ganasnya.
" Apa yang kamu lakukan" Salsa terus meronta ronta. Berkali kali ia memukul dada bidang Devid namun sama sekali tak membuahkan hasil.
" Diamlah" Bentak Devid membuat Salsa terdiam seketika.
Devid menciumi sekujur tubuh Salsa membuat nya hanya diam tak bisa melawan apa yang Devid perbuwat padanya saat ini.
" Tuan jangan lakukan ini" Devid tak menggubris apa yang di ucapkan Salsa ia terus mendekap erat tubuh Salsa menciumi lehernya hingga nafas berat terasa mengendus di lehernya.
Ia tak bermain sampai di situ tangan Devid bergerak licah memainkan kedua benda bulat milik nya membuatnya berdesah menikmati apa yang di lakukan Devid.
" tuan tolong hentikan" ucap Salsa mencengkram erat sprei di bawahnya. Ia tak kuasa menahan kenikmatan yang baru ia rasakan.
Belum sempat memasukan Devid beranjak berdiri merapikan pakaiannya lagi. Beranjak membalikkan badannya membiarkan Salsa berdiam diri terlentang di ranjangnya.
" Cepat pakai baju aku tunggu kamu di bawah" Ucap Devid dengan nada dinginnya beranjak pergi.
Suara pintu tertutup membuatnya bernafas lega harus terhindar dari lelaki mesum itu.
Entah apa yang ada dalam bayangannya ia harus masuk ke dalam kehidupan seperti ini. Ia tak menyangka ibunya diam diam mendaftarkan dia untuk jadi mempelai wanita tuan muda itu.
Kehidupan bahagia yang ia rasakan di rumah kecil. Semua hilang ketika ia harus masuk ke rumah besar bahkan seperti penjara membuatnya bergidik ketakutan. Semua orang di dalamnya memandangnya sebelah mata. Ia tidak begitu suka dengan dirinya dari kalangan rendahan.
Terlintas di benaknya ia terbayang dengan ibunya. Membuatnya harus meneteskan air mata.
" Ibu tapi jika ibu bahagia aku akan melakukan semua ini untuk ibu" Ucap Salsa yang masih terbaring di ranjangnya.
Ia menyeka air mata dengan punggung tangannya.bergegas bangkit dari ranjangnya menuju lemari. Entah ada baju untuknya atau tidak di dalam lemari besar di depannya itu. Karena memang sebelumnya ia tidak membawa satu pun helai baju hanya pakaian yang menutupi tubuhnya.
Salsa menatap takjub begitu banyak baju yang tertata rapi di dalam lemari. " aku harus pakai apa sekarang" Gumam Salsa memilih baju di antara beberapa baju lainnya.
" Apa ini cocok" lanjutnya.
Tanpa pikir panjang lagi ia segera memakai baju itu. Ia tahu pasti Devid sudah menunggunya lama. Jika dia marah entah apa yang terjadi padanya nanti. Dia gak bisa bayangkan itu. Kejadian tadi membuatnya harus berhati hati lagi pada Devid lelaki mesum itu.
Salsa menatap dirinya di depan kaca. Ia menyisir rambut panjangnya yang terurai panjang sepunggung. Dengan tatapan tertuju pada kaca di depannya. Ia terus melihat betapa cantiknya dia dengan senyum manis yang menunjukan lesung pipi sebelah kirinya.
Tak mau berlama lagi ia segera merapikan rambutnya dengan jemari tangan lentiknya dengan terburu buru. Ia bergegas keluar dari kamarnya berlari menuruni tangga.
Salsa mengatur nafasnya sejenak.
" Maaf tuan menunggu lama" ucap Salsa dengan nafas masih ngos ngosan.
" Ayo pergi"
Tak begitu perduli dengan Salsa ia melangkahkan kakinya berjalan lebih dulu. Salsa mencoba mengikuti langkah kaki Devid yang begitu cepat.
" Brukkk." Alhasil Ia menabrak punggung Devid membuatnya tersenyum simpul menatap devid yang menoleh ke belakang dengan tatapan tajam ke arahnya.
" apa yang kamu lakukan" Pungkas Devid dengan tatapan tajamnya.
Salsa menarik bibirnya sedikit membentuk seyuman tipis. " aku hanya mengikuti langkah tuan" ucap Nya lirih menundukkan kepalanya.
Devid mengela nafas sejenak.
" Baiklah cepat jalan duluan dan masuk dalam mobil" devid mempersilahkan Salsa jalan duluan di depan. Agar tidak terus menabraknya membuatnya semakin kesal oleh ulahnya seperti anak anak.
Salsa segera masuk dalam mobil yang sudah terpakir di depan pintu rumah Devid. Tanpa menunggu nya yang masih berdiri di belakangnya.
Tak lama Devid berjalan menyusul Salsa masuk dalam mobil. Ia duduk di samping salsa membuatnya terdiam seketika. Perasaan gugup, ragu dan canggung jadi satu ia tak berani menatap Devid di sampingnya.
" Cepat jalan" Ucap Devid pada sopir di depannya.
" Baik tuan" Jawab sopir yang mulai melaju santai keluar dari halaman rumah megah milik keluarga Morgan.
" Apa yang harus aku lakukan" Batin salsa mencengkram erat rok panjangnya. Untuk menghilangkan rasa takut yang menjalar dalam tubuhnya. Ia sesekali melirik ke arah Devid yang hanya diam bersandar dengan pandangan terarah pada ponsel di tangannya.
" Kamu??" Ucap Devid tanpa menatap ke arah Salsa.
Salsa terdiam mengehela nafas sejanak. " Ia tuan" Ucap nya penuh keraguan dan rasa gugup yang menggebu gebu.
" kenapa kamu sekarang diam" ucap Devid. " Apa sudah tak berani melawan lagi" lanjut Devid melirik ke arah salsa sejenak.
" ee...itu... ee.. anu... itu" ucap salsa gugup. Entah apa yang ia rasakan tubunya bergetar seketika. Seolah mulutnya tak sanggub berbicara sempurna.
" itu anu apa?" Pungkas Devid menatap wajah salsa di sampingnya.
Sopir di depan mendengar ucapan salsa hanya ertawa kecil melirik ke arahnya.
Salsa sontak menundukan kepalanya tak mau melihat wajah Tampan Devid di depannya. Membuat nya seketika mati jantungan jika harus berhadapan langsung. Hatinya dag dig dug membuatnya tak bisa mengeluarkan suara.
Share this novel