Aquaphobia | four

Romance Series 1218

Adakah air yang menjadi punca , atau aku yang membawa malang ?

?????

Aku memandang taman di hadapanku dengan pandangan tidak percaya . Nini aku lontarkan ke tepi . Manakala Cik Barbie dan Encik Ken , patung milikku aku peluk kedua - duanya kemudian berlari riang di kawasan taman permainan itu . Aku tak sangka , di hadapan rumah baru aku terdapat taman permainan yang sangat luas ini . Abang hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum nipis melihat telatahku . Sempat dia mengutip Nini yang telah aku campak tadi . Maaf Nini , Fiya terlalu teruja !

Walaupun rumah baruku bukanlah rumah mewah dan semestinya tidak setanding dengan rumah banglo papa , aku tetap menyukainya . Ini kerana di kiri kanan rumah aku terdapat beberapa rumah yang sama sepertiku , kata abang itu adalah rumah jiran - jiranku . Almaklumlah taman perumahan . Tidak seperti rumah banglo papa , terlalu jauh dari kawasan pertempatan , yang terletak di atas bukit .

Sedang aku berlari - lari anak sambil mendepakan tangan , kononnya menikmati angin yang sepoi - sepoi bahasa di petang itu , tiba - tiba terasa seseorang menghempap aku .

Buk !

" Huwaa Sakitt ! " terus aku meraung .

" Aaduhh ! M-maaf . S-saya tak sengaja . " ujar seorang kanak - kanak lelaki yang sedikit tinggi dariku . Wajahnya pucat serta panik melihatku yang sudah sedikit berair mata tambahan pula abang turut menerpa ke arahku . Mungkin , dia takut pada abang .

" Fiya kenapa ni ? Fiya okay tak ? " melihat wajah kanak - kanak lelaki yang sudah pucat tak berdarah membuatkan aku simpati padanya . Aku takut dia dimarahi abang , walaupun abang bukanlah seorang yang cepat naik angin . Namun jika ianya hal berkaitan dengan aku , cepat sahaja barannya mendatang .

" Fiya okey je  . Hehe . " kataku kemudian tersengih .

" M-maaf bang , saya terjatuh tadi . S-saya betul - betul t-tak sengaja . " katanya tergagap - gagap . Abang memandangnya lama sebelum tersenyum manis .

" Tak apa , benda dah berlaku .  Nama apa ? " soal abang , ramah . Kanak - kanak lelaki itu tersenyum nipis .

" Arsyad Hayden . "

" Sedap namanya . Arsyad buat apa atas pokok tu ? " soal abang lembut . Sempat dia memuji namanya .

" Erm , Arsyad main sorok - sorok dengan kawan . Tapi lama sangat dorang tak jumpa Arsyad , Arsyad nak turun . Tak sangka boleh jatuh . Maaf sekali lagi bang . Arsyad tak sengaja . " dia yang perkenalkan diri sebagai Arsyad itu mula menunduk . Aku hanya mendiamkan diri . Abang mengusap kepalanya lembut , sepertimana abang selalu mengusap kepalaku .

" Tak apalah , Arsyad . Umur Arsyad berapa tahun ni ? "

" 8 tahun . "

" Ohh . Arsyad nak kawan dengan Fiya tak ? " abang menyoalnya . Entah mengapa tiba - tiba pipiku terasa kebas .

" Fiya ? " wajahnya jelas menunjukkan yang dia sedang blur .

" Ya , Fiya . Adik abang . Kami baru pindah di sini . Fiya masih tak ada kawan . Arsyad sudi ke jadi kawan Fiya ? " abang mengerlingku yang menyorok dibelakangnya .

" Sudi ! " nadanya mula berubah menjadi teruja kemudian memandangku lama sehingga pipiku kembali kebas seperti tadi . Aku tak tahu mengapa pipi aku terasa begitu , setiap kali aku berasa malu . Dan abang selalu mengusikku . Katanya wajahku begitu memerah sehingga membuatkan dia ingin mencubit - cubit pipiku .

" Ha Fiya , tunggu apa lagi ? Pergila main dengan Arsyad . Main elok - elok ya . " pesan abang sebelum mula mengorak langkah ke arah bangku yang disediakan di taman permainan itu . Aku menggaru pipi , tabiat apabila sedang kekok .

" Hai . " dia sengaja menyapa . Aku teragak - agak ingin menyapanya semula .

" Hai . "

" Jom main . "

" Main apa ? "

" Hmm . Main .... "

???????

Tanah yang berada di genggaman Arsyad itu aku lihat Arsyad meletaknya di tepi longkang kecil di taman permainan itu . Tangannya mula menepuk - nepuk tanah itu . Lalu Encik Ken yang telah mati akibat telah dibunuh oleh Cik Barbie ditanamnya dalam sebuah lubang yang dikorek khas dengan ukuran anak patung aku itu . Tanah yang diletakkan di tepi longkang tadi diambilnya semula sebelum diletakkan di kubur Encik Ken . Tangannya lincah membentukkan tanah itu seperti bonggol . Sempat dia meletakkan batu sebagai batu nisan , dan rumput sebagai bunga yang ditabur di kubur Encik Ken .

Tiba - tiba sahaja aku teringatkan mama yang telah pergi itu . Hatiku sedikit hiba . Sempat aku titipkan doa di dalam hati . Moga , mama tenang di sana .

Dada langit mula berubah kuning kejinggaan . Sebentar lagi , malam akan menjelma . Seorang kanak - kanak lelaki mengayuh basikal laju , sebelum berhenti di tepi taman . Basikal di tongkatnya , pantas dia menerpa ke arah Arsyad yang sedang bermain denganku .

" Wei Hayden ! Baliklah . Dah nak maghrib . " kanak - kanak lelaki itu mencekak pinggang memandang Arsyad yang ralit bermain denganku .

Arsyad tidak menghiraukan lelaki itu . Dia mula mengambil ranting kayu sebelum mula mengacah seperti menikam Cik Barbie . Kemudiannya dia mengorek tanah , mungkin untuk menanam Cik Barbie pula .

Mata kanak - kanak lelaki itu bertembung dengan mataku yang sedang memandangnya pelik . Seketika , aku menundukkan pandangan . Entah mengapa , dia sepertinya sedikit dingin .Tertanya - tanya pula aku , apa hubungan mereka berdua .

" Sabarlah , tunggulah sekejap lagi . " Arsyad mula bersuara .

" Mana boleh tunggu sekejap lagi . Bukan maghrib yang kejar kita , kita yang kejar maghrib ! Cepatlah balik . Nanti mama marah ! " dia mula memarahi Arsyad . Arsyad mula mendecit . Tangannya terhenti dari menanam Cik Barbie .

" Tunggulah sekejap . "

" Kau boleh tak dengar kata sikit ? Nanti mama marah , bukan kau sorang je kena . Aku pun kena sekali . Dengan budak tak kenal pun nak main sampai maghrib . Entah anak siapa dia tu . " sinis sekali kata - katanya di pendengaranku . Dari jauh , aku lihat abang hanya menonton drama mereka .

" Kau sabar sikit tak boleh ke Haidhar ? Mulut tu tak boleh jahat lagi ke ? Dia kecil lagi , tu pun nak sinis sinis . Bukan salah dia sampai maghrib aku masih nak main . Aku yang ajak dia . "

" Yang kau nak back up dia kenapa ? Baru kenal tak sampai sehari , dah berlagak . Aku kata balik , balik jelah ! " Aku lihat dia yang digelar Haidhar mula menggenggam tangan . Wajahku dijeling tajam .

" Fine ! Kau buat aku ni macam adik kau , sedangkan aku tua setahun dari kau . " Arsyad mula membentak . Cik Barbie yang tidak jadi ditanam , dihulur padaku .

" Kalau kau rasa kau abang aku , kau patut bimbing aku , bukan aku yang bimbing kau . Ni bab main pun kalah aku . Aku sebagai adik pun tak main macam kau . " sinis sekali kata - katanya pada Arsyad . Aku hanya mendiamkan diri . Arsyad hanya menjeling lelaki yang bernama Haidhar itu .

" Esok kita main lagi ye , Fiya . " ujar Arsyad bersama senyuman . Aku mengangguk dan menghadiahkannya kembali senyuman lebar . Namun senyumanku mati apabila mataku menangkap Haidhar yang memandangku bagai nak tembus .

Baru jumpa tak sampai 10 minit , dah ada yang membenci . Aku mengeluh .

" Dah jom balik ! " Mataku mengekori mereka yang berjalan ke arah basikal milik Haidhar itu . Aku lihat Haidhar yang membawa basikal , manakala Arsyad di tempat duduk belakang .

Sempat aku tangkap pandangan Haidhar yang memandangku lama . Seketika dia tersedar dan menjelingku . Dia mula mengayuh laju meninggalkan taman permainan .

Hurm sesinis Haidhar itu pun masih nak usha orang ! Aku mencebik .

" Seronok main ? " soal abang yang tiba - tiba muncul di belakangku . Aku memusingkan badan sebelum mendongak memandangnya .

" Seronok ! " ujarku sebelum mengukirkan senyuman lebar .

" Ya Allah , adik abang ni dah tak macam anak orang . Sudah macam anak beruang ! " Matanya membulat memandangku . Tangan menekup mulut . Sengaja ingin mengenakan aku lah tu ! Aku mula mencebik .

" Eiii , abang ! Kenapa pulak anak beruang ? "

" Comot ! Tengok ni . " abang membuka telefon pintarnya sebelum aplikasi camera dituju . Kemudian telefon itu dihala ke arah mukaku . Aku ternganga .

Aku kah itu ? Comotnya ! Mataku mula berair .

" Hm abanggg . Fiya dah tak lawa . Huwaa ! " aku mula meraung sebelum memeluk abang kuat . Sengaja aku menggerakkan kepalaku kiri dan kanan , untuk membuang sisa kotor tanah itu . Abang tergelak kuat .

" Eh mana ada tak lawa ! Fiya tetap lawa , walaupun muka comot macam ni . Sudahlah sayang . Jom masuk rumah . Selepas tu mandi , ya ? " pujuk abang perlahan . Aku hanya mengangguk sebelum memasuki rumah dengan pantas . Abang , Nini , Encik Ken dan Cik Barbie aku tinggalkan di taman . Pandai - pandailah abang kutip hmm .

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience