Aquaphobia | one

Romance Series 1218

Adakah air yang menjadi punca , atau aku yang membawa malang ?

?????????

Aku memandang abang yang tertidur di sebelahku . Perlahan - lahan , tubuh kecilku menuruni katil tanpa membuat sebarang bunyi . Nini yang berada di sisi abang aku capai sebelum kakiku mula melangkah keluar dari bilik .

Aku turun ke bawah . Seketika , kakiku terhenti melangkah . Aku terlihat papaku bersama seorang perempuan yang sangat muda , mungkin  hampir sebaya dengan abang yang baru mencecah 18 tahun itu  .

Wajah papa yang tersenyum - senyum memandang perempuan itu aku renung tajam . Aku lihat papa dengan selamba mencium pipi perempuan itu , seperti mana mama selalu mencium pipiku ketika aku mahu tidur . Seketika , otakku mengimbas kembali peristiwa itu . Peristiwa di mana papa telah membuatkan mama tidur buat selama - lamanya , atau lebih tepat peristiwa di mana mamanya telah mati .

Tanpa aku sedar , kakiku mara padanya . Tangan kecilku menolak tubuhnya kuat . Namun sikit pun dia tidak berganjak .

" Kau kenapa ?! " papa mula menjerkah . Perempuan di sebelahnya memandangku jijik . Aku memandang papa marah .

" Papa jahat !  Papa bunuh mama Fiya ! Papa buat mama tidur lama - lama ! Papa buat mama mati ! Papa jahatt , papa pembunuh ! " aku memarahinya dengan cecair jernih yang mula membasahi pipi . Papa kelihatan berang . Tangannya mula diangkat .

Pangg !

Kepalaku mula terteleng ke tepi . Sakit aku rasakan di pipiku ini . Tangisanku mula bergema .

" Hiks . Hiks . Papa jahat ! Papa bunuh mama . Papa dah tak sayang mama . Papa pembunuh ! " aku menjerit kuat padanya . Wajahnya mula memerah .

" Kau diamlah anak sial !! " tangannya kembali diangkat . Aku memejam mata .

" Fiya ! " terasa lenganku ditarik ke belakang . Perlahan - lahan , aku membuka mata . Aku lihat abang sedang menahan tangan papa bersama muka yang memerah . Rahangnya kelihatan bergerak - gerak . Matanya jelas kemerahan . Aku kini berada di belakang tubuh abang .

" Tak cukup ke apa yang kau buat dekat mama ?! " aku terkejut mendengar abang yang memanggil papa sebegitu . Papa hanya mendiamkan diri .

" Aku tanya , TAK CUKUP KE APA YANG KAU DAH BUAT DEKAT ISTERI KAU ?! SAMPAI ANAK SENDIRI JADI MANGSA !? " bahuku sedikit terhinjut . Suara abang bergema di setiap inci rumah itu . Perempuan yang bersama papa tadi kelihatan pucat wajahnya .

" Siapa anak aku ? Dia ni ? " soal papa bersama ketawa . Jari ditunding padaku . Dada abang mula berombak .

" Dia ni anak aku ? Oh tolonglah . Mak kau tak pernah cerita ke dia ni  -- "

" MASALAHNYA DIA ANAK KAU ! BENIH KAU LAH SIAL ! " abang mula mencekak kolar baju papa . Papa mencengkam leher abang membuatkan aku terjerit kecil .

Papa mula menumbuk perut abang sehingga abang tertunduk . Mulutnya memuntahkan cecair merah . Kesempatan itu papa ambil dengan menendang perutnya bertubi - tubi . Abang menghalang tendangan itu dan mula bertumbuk dengan papa . Suasana mulai bising dengan bunyi barang yang pecah .

Tanganku mula menggeletar . Aku takut jika abang tercedera parah , kemudiannya tidur dalam masa yang lama , atau abang tidur sehingga selama - lamanya .

Mataku mencari barang . Pasu perhiasan di meja aku capai . Nini aku letakkan di sofa . Aku mara ke arah papa yang menindih abang dan menumbuk abang bertubi - tubi . Pasu itu aku angkat tinggi sebelum ?

Pakk !

Aku menghentak kuat kepalanya . Papa memegang kepalanya sebelum mula terjatuh di sisi abang . Dia mulai tidur akibat hentakan aku tadi . Biarlah jika dia ingin tidur buat selama - lamanya . Biarlah jika dia mati bertemu mama . Biar mama seksa dia jika dia jumpa mama di alam sana nanti .

Abang mulai bangkit . Tubuhku ditarik dalam pelukannya .

" Fiya tak apa - apa ? "

" Fiya okey je . Abang yang tak okey . " aku membalas pertanyaannya .

" Abang akan okey selagi Fiya okey . " kata abang sayu . Pelukan dileraikan .

" Kau tunggu apa lagi ?! Nak jadi macam jantan ni jugak ke ?! " abang menjerkah perempuan tadi . Segera perempuan itu mencapai beg tangannya lalu melarikan diri . Sempat dikerling papa yang sedang tidur  itu .

_____

Mataku tekun memandang abang yang membersih luka di bibirku .

" Abang sayang Fiya ? " soalku memandangnya sayu .

" Mestilah abang sayang . Kenapa Fiya tanya ? "

" Kenapa abang sayang Fiya , papa tak sayang Fiya ? Kenapa papa selalu pukul Fiya ? Kenapa papa benci mama ? Apa salah mama ? " soalku bertubi - tubi . Tangan abang terhenti . Dia memandangku sayu . Namun begitu , bibirnya masih lagi terkunci .

" Kalau abang sayang Fiya , abang janganlah tinggalkan Fiya . Fiya dah tak ada sesiapa lagi dekat sini . Abang janji eh , jangan tinggalkan Fiya ? " aku mengangkat jari kelinking . Dia tersenyum sebelum menyatukan jarinya .

" Abang janji . Mungkin , mungkin abang akan tinggalkan Fiya , " jeda .

" tapi abang tetap dalam hati Fiya . " jarinha ditunjuk pada dadaku .

" Dan Fiya , tetap dalam hati abang . " tanganku diraih dan ditekap pada dadanya . Matanya sedikit berair . Aku tersenyum memandangnya .

" Sudah , tidurlah . Esok Fiya sekolah , kan ? " soalnya . Aku mengangguk . Mataku mulai terpejam bersama tanganku yang sengaja dipaut dengan tangan abang .

" Andai Fiya tahu , abang bukanlah abang kandung Fiya , dan Fiya bukanlah adik kandung abang . Kita hanyalah adik beradik tiri . " kata - katanya yang perlahan itu hanya aku dengar tanpa memberikan balasan kerana kantuk yang kian menghantui .

" Dan andai Fiya tahu , sayang abang pada Fiya , mungkin melebihi sayang seorang abang kepada adiknya . " gumamnya perlahan . Terasa , dahiku dikucup lembut olehnya .

Tanpa sedar , aku mulai terlena .

_____

Aku menunggu abang di bangku yang disediakan di hadapan taskaku . Jam dgital di pergelangan tangan aku kerling lama . Mulutku terkumat - kamit membaca nombor pada jam itu .

Sudah pukul 2 petang . Aku mengeluh . Sudah dua jam abang terlewat . Taska pun sudah mulai tutup sedari tadi .

Selalunya abang akan mengambilku pada pukul 2:30 kecuali pada hari Isnin dan Rabu , pukul 3 dan pukul 5 . Abang masih bersekolah di tingkatan 6 . Katanya ingin mengambil sijil STPM . Kadang - kadang , abang berkerja apabila ada waktu terluang untuk menyimpan wang simpanan buat dirinya . Tetapi kata abang , papanya selalu memberi abang wang yang banyak sekali setiap bulan .

Aku tak faham . Papa abang tu , papa aku juga la kan ? Papa yang dah bunuh mama tu , kan ? Tetapi kenapa aku tidak pernah lihat papa memberi abang wang walaupun sepuluh sen pun .Bercakap dengan papa pun abang tidak pernah , kecuali semalam . Mungkin kerana amarah apabila papa ingin menamparku .

Aku mulai kebosanan . Beg aku yang berat mengalahkan batu , aku tinggalkan di bangku itu . Aku berdiri dan mengeliat . Terasa tulanh belakangku sedikit lega kerana sedari tadi hanya duduk di bangku itu . Aku melihat di seberang jalan , ada seorang pakcik sedang menjual aiskrim dan berteduh di bawah pokok dengan motor buruknya .

Tangan menyeluk poket , dan dikeluarkan semula . Hanya ada RM1 yang selalu diberi oleh abang padaku setiap hari . Cukuplah , janji aku mampu membeli aiskrim itu sementara menanti abang .

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience