Series
4
BAB 2: Garis Akhir yang Bersimbah Darah
Malam itu, pesisir utara Jakarta tidak menawarkan belas kasihan. Angin laut bertiup kencang menembus celah-celah bangunan industri di kawasan Tanjung Priok, membawa serta aroma garam, karat besi tua, dan sisa polusi pabrik. Kawasan ini selalu mati setelah tengah malam. Deretan kontainer yang ditumpuk menjulang layaknya labirin besi dan pabrik-pabrik kosong yang gelap menjadi saksi bisu bagi hukum jalanan yang berkuasa di sini.
Atlas duduk di balik kemudi Mustang-nya. Tangannya mencengkeram setir berbalut kulit alcantara begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, aliran darahnya terpompa kencang oleh adrenalin murni. Di bawah kap mobil, mesin V8 sebesar 5.2 liter itu menggeram rendah, bergetar tak sabar menunggu dilepaskan.
Di sampingnya, dipisahkan oleh jarak aspal lima meter, Vea duduk di atas Ducati-nya. Gadis itu menatap lurus ke depan, posturnya santai namun waspada layaknya predator yang sedang membidik mangsa. Tidak ada teman-teman sekolah yang menyoraki. Tidak ada gadis-gadis berpakaian minim yang mengibarkan bendera. Hanya mereka berdua, deru mesin yang memekakkan telinga, dan lintasan aspal hitam yang dingin.
Di ujung jalan, sebuah lampu jalan tua yang berkedip-kedip akhirnya mati total.
Itu sinyalnya.
NGUUNG!
Kedua monster mesin itu melesat bersamaan, merobek keheningan malam bagaikan guntur. Ban belakang Mustang menjerit panjang, membakar aspal dan meninggalkan jejak asap putih yang tebal. Akselerasinya brutal, gaya gravitasi memukul dada Atlas, menekannya keras ke sandaran kursi balap Recaro-nya. Ia menyeringai tipis. Tidak ada yang bisa mengalahkan tenaga mentah mobil ini di lintasan awal.
Namun, saat ia melirik ke kaca spion kanan, seringainya luntur. Siluet hitam Vea tidak tertinggal. Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menyatu sepenuhnya dengan rangka motornya, membelah angin malam seperti peluru kendali.
Mereka berpacu membelah jalanan kawasan industri yang minim cahaya. Kecepatan di atas seratus lima puluh kilometer per jam terasa memabukkan. Atlas memotong setiap sudut dengan agresivitas penuh, memanfaatkan bobot mati dan tenaga torsi mobilnya untuk mendominasi lebar jalan, mencoba mengintimidasi gadis itu.
Tapi Vea benar-benar gila. Gadis itu seolah tidak memiliki saraf takut. Ia mengambil celah sempit mematikan di antara truk-truk kontainer raksasa yang terparkir sembarangan. Di setiap tikungan tajam, ia memiringkan Ducati-nya pada sudut yang mustahil, lututnya yang berlapis pelindung bergesekan keras memercikkan api pada aspal.
Garis akhir yang mereka sepakati tinggal hitungan detik: sebuah gerbang besi raksasa milik pabrik baja yang telah lama bangkrut, berjarak tak sampai satu kilometer di depan.
Melihat garis lurus terakhir, Atlas menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai dasar mobil. Mesin supercharger itu menjerit melengking. Ia menoleh sekilas ke arah Vea, bersiap melemparkan senyum kemenangan arogan saat moncong mobilnya perlahan tapi pasti mengambil alih posisi.
Namun, senyum itu mati sebelum sempat terbentuk.
Dari arah depan, tepat membelah kegelapan di depan gerbang pabrik, dua buah SUV hitam pekat melesat keluar dari tempat persembunyiannya dan mengerem mendadak, melintang menutup total jalan raya. Lampu sorot LED berkekuatan tinggi dari atap kedua SUV itu menyala serentak, menembak langsung ke arah retina Atlas, membutakannya sesaat.
"Apa-apaan ini?!" umpat Atlas refleks. Kakinya berpindah dari pedal gas, menginjak pedal rem sekuat tenaga.
Sistem pengereman ABS bekerja dengan panik. Ban mobil berdecit panjang dan menyakitkan, menciptakan kepulan asap tebal yang bau karet terbakar. Bobot mobil yang berat membuat momentum tak mudah dihentikan. Mustang itu meluncur liar, terombang-ambing, sebelum akhirnya berhenti secara kasar dalam posisi miring, moncongnya berjarak hanya tiga meter dari barisan ban besar SUV tersebut.
Jantung Atlas berpacu sepuluh kali lipat lebih cepat. Keringat dingin seketika membasahi pelipisnya. Akal sehat remajanya langsung menyimpulkan satu hal: Razia polisi.
Tapi saat ia menoleh ke luar jendela untuk melihat Vea, realitas kelam menghantamnya. Ini sama sekali bukan polisi.
Vea rupanya sudah membaca situasi lebih cepat. Gadis itu mengerem motornya dalam jarak aman, tapi ia tidak mematikan mesin. Ia menendang standar motor, melompat turun dengan gerakan terlatih. Tidak ada kepanikan di wajah pucatnya. Hanya ada kekakuan yang mematikan. Detik itu juga, tangan kanannya menyelusup cepat ke balik bagian belakang jaket kulitnya.
Pintu-pintu SUV hitam itu didobrak terbuka. Enam pria bertubuh masif, mengenakan pakaian taktis serba hitam, rompi kevlar anti-peluru, dan balaclava penutup wajah, berhamburan keluar. Hal yang membuat napas Atlas berhenti di tenggorokan bukanlah penampilan mereka, melainkan benda baja pekat yang mereka genggam erat. Bukan pentungan. Bukan pistol standar. Melainkan senapan mesin ringan Heckler & Koch MP5.
Dunia Atlas serasa kehilangan gravitasinya. Udara di kabin mobilnya mendadak membeku. Senjata api nyata. Di depan matanya.
"Serahkan ledger itu, Kendoveks!" raung salah satu pria berbadan paling besar, yang posturnya lebih mirip beruang kutub. Ia melangkah maju, laras senapannya membidik tanpa ragu tepat ke arah dada Vea. "Atau kami pastikan kau dan bocah tengik teman kencanmu itu mati berdarah di sini sekarang juga!"
Teman kencan?
Pikiran Atlas berputar kacau. Mereka mengira dia terlibat. Mereka mengira dia bagian dari ini.
"Woy! Gue nggak tahu apa-apa!" teriak Atlas dari dalam mobil, suaranya pecah, kombinasi antara amarah dan teror absolut. Ia menendang pintu Mustang-nya hingga terbuka, berniat mengangkat tangan dan menjelaskan bahwa ini semua murni salah paham malam Jumat yang konyol. "Gue cuma—"
"TUTUP PINTUNYA, IDIOT!" jeritan Vea menggelegar, membelah suara mesin yang masih menyala, dipenuhi kepanikan yang tidak ia tunjukkan pada musuhnya.
Tapi semuanya sudah terlambat.
Pemimpin pria berbaju hitam itu menoleh sekilas ke arah Atlas yang tubuhnya setengah keluar dari mobil. Mata pembunuh bayaran itu menyipit dingin. Tanpa ragu sedetik pun, jari telunjuknya menekan pelatuk.
RATATATATA!
Rentetan tembakan brutal memecah malam, suaranya begitu memekakkan telinga hingga membuat gendang telinga berdarah. Kaca depan Mustang kesayangan Atlas hancur berkeping-keping layaknya ledakan kristal. Timah panas merobek jok kulit alcantara bernilai puluhan juta, menghantam dashboard, dan mengoyak interior mobil.
Insting bertahan hidup primitif mengambil alih. Atlas melemparkan dirinya secara kasar kembali ke dalam kabin, tiarap telungkup di lantai kompartemen penumpang. Pecahan kaca tajam menghujani punggung dan rambutnya seperti hujan es mematikan.
Di bawah dashboard, ia meringkuk gemetar. Ia bisa mendengar desir peluru menembus logam tepat di atas kepalanya. Bau bubuk mesiu yang tajam dan panas seketika memenuhi udara kabin, menyesakkan paru-parunya.
"Sialan! Sialan! Sialan!" rutuk Atlas berulang-ulang, menekan kedua telapak tangannya ke telinga dengan putus asa. Ini gila. Ini bukan kehidupannya. Dia anak pengusaha properti, bukan buronan kartel!
Di luar, simfoni kekacauan yang sebenarnya baru saja dimulai.
Saat perhatian para musuh terdistraksi menembaki mobil Atlas selama tiga detik berharga, Vea bergerak. Ia tidak mencari perlindungan. Ia tidak lari. Gadis itu justru berlari maju menerjang barikade mematikan itu. Dari balik punggungnya, sebuah pistol Glock 19 hitam legam tercabut sempurna. Vea menembak dengan kecepatan dan presisi yang sangat mengerikan bagi seorang gadis seusianya.
BANG! BANG!
Dua tembakan pertama menyalak. Vea tidak mengincar dada yang terlindungi kevlar. Ia menembak tepat di celah sempit ketiak dan leher bawah. Dua penyerang paling depan ambruk seketika ke aspal, darah memuncrat mewarnai jalanan hitam.
"Habisi jalang itu sekarang!" teriak sang pemimpin, panik melihat anak buahnya tumbang begitu cepat.
Baku tembak terbuka pecah. Dari celah dashboard yang kini berlubang penuh peluru, Atlas mengintip dengan mata terbelalak lebar. Ia menyaksikan sebuah tarian kematian yang surealis. Vea meluncur mulus di atas kap salah satu SUV panas itu, tubuhnya meliuk menghindari rentetan peluru SMG dengan kelincahan seorang penari balet yang dilatih khusus di neraka. Ia mendarat empuk di sisi lain mobil, memutar tubuhnya, dan melepaskan dua tembakan beruntun.
Dua pria lagi tumbang sambil memegangi paha dan bahu mereka yang hancur.
Tetapi sehebat apa pun Vea, ia kalah jumlah dan persenjataan. Sebuah peluru nyasar akhirnya menemui sasarannya, merobek kulit dan daging di bahu kiri gadis itu. Vea mendesis kesakitan, langkahnya goyah. Ia terhuyung mundur ke belakang salah satu ban belakang SUV raksasa, terpojok.
Sang pemimpin pembunuh dan satu sisa anak buahnya yang menyadari posisi Vea kini perlahan bergerak mengepung mobil tersebut. Senjata mereka terangkat, bersiap melakukan eksekusi jarak dekat.
"Tamat riwayatmu malam ini, Putri Mafia," ejek pemimpin itu, tawanya menggema dingin.
Atlas melihat semuanya. Ia melihat Vea merogoh kantongnya, menyadari senjatanya telah kosong, membuang magazine Glock-nya yang tak berguna ke aspal. Gadis yang begitu arogan, dingin, dan menakutkan di sekolah tadi pagi kini terpojok, menunggu eksekusi mati.
Rasa takut di dada Atlas masih berakar kuat, membuat setiap ototnya lumpuh. Akal sehatnya menjerit, menyuruhnya untuk tetap meringkuk dan berpura-pura mati. Biarkan gadis aneh itu mati. Ini bukan urusannya.
Tapi ada hal lain yang mendidih di dalam darahnya. Sebuah insting purba, ego seorang pria yang menolak membiarkan pembantaian pengecut terjadi di depan matanya sendiri.
Mata Atlas tertuju pada tuas persneling Mustang-nya yang berlumuran pecahan kaca. Mesin V8-nya, meski kapnya bolong tertembus peluru, masih menyala, menderu parut menahan amarah.
Persetan dengan akal sehat, batin Atlas.
Dengan sisa-sisa keberanian terakhir yang memacu adrenalinnya hingga puncaknya, Atlas merangkak naik ke kursi pengemudi. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam di bawah garis kaca jendela agar tak terlihat. Tangan kanannya mencengkeram tuas persneling, menyentaknya kuat ke posisi 'D'. Kaki kirinya menginjak pedal rem penuh, sementara kaki kanannya menginjak pedal gas dalam-dalam hingga menyentuh lantai.
Mesin Shelby GT500 itu menjerit kesakitan, suaranya melengking bak monster yang terluka. Jarum RPM melonjak drastis menyentuh garis merah.
"Hei, Bajingan!" raung Atlas sekencang mungkin dari dalam mobil.
Kedua penyerang yang bersiap mengeksekusi Vea refleks menoleh kaget ke arah mobil sport yang tadinya mereka anggap sudah mati itu.
Atlas melepaskan pedal rem.
Mobil berbobot nyaris dua ton dengan tenaga ratusan tenaga kuda itu melesat maju bagaikan peluru kendali membabi buta. Jarak tiga meter dipangkas dalam sekedipan mata. Moncong baja Mustang menghantam keras dan fatal tepat di bagian tengah lambung SUV, tempat kedua penyerang itu berdiri.
BRAAAAK!
Suara logam tebal yang saling meremukkan dan kaca yang hancur berkeping-keping memekakkan telinga, menciptakan gema panjang di kawasan industri mati itu. Tubuh kedua penyerang itu terjepit sesaat sebelum terpental keras akibat daya hantam kinetik mobil. Mereka terlempar bagai boneka kain sejauh beberapa meter, menghantam aspal dengan bunyi berderak, dan tidak pernah bergerak lagi.
Di dalam kabin, benturan brutal itu membuat sensor keselamatan bekerja. Airbag meledak dari setir, memukul wajah Atlas dengan kekuatan penuh pukulan petinju kelas berat. Kepalanya terentak ke belakang, pandangannya berkunang-kunang dihiasi bintang, sementara darah segar seketika mengalir deras dari hidungnya.
Atlas terbatuk-batuk hebat, menghirup asap putih bedak penyebar airbag. Kepalanya pening luar biasa, telinganya berdenging kencang menulikan suara di sekitarnya. Dengan pandangan kabur, ia memaksakan tubuhnya yang remuk untuk menendang pintu mobilnya yang penyok hingga engselnya lepas. Ia merangkak keluar, jatuh berlutut di atas aspal malam yang dingin dan kasar.
Sambil mendengus menahan sakit di dadanya, Atlas mendongak.
Melalui tabir asap tebal dari radiator mobilnya yang hancur lebur, ia melihat siluet itu mendekat. Vea. Gadis itu berjalan perlahan, tangan kanannya menekan kuat bahu kirinya yang terus mengucurkan darah segar. Matanya yang gelap tak berdasar menatap sisa-sisa Mustang GT500 kebanggaan Atlas yang kini hanya berupa rongsokan besi berasap.
Lalu, tatapan Vea turun, mengunci manik mata Atlas yang berlutut di aspal dengan wajah berlumuran darah dan napas memburu.
Tidak ada senyum mengejek kali ini. Tidak ada tantangan arogansi anak SMA. Hanya tatapan dingin, kosong, namun mengikat, yang membawa realitas dunia bawah tanah yang kelam.
"Lo baru aja ngebunuh orang malam ini, Pangeran," ucap Vea pelan, suaranya datar nyaris tanpa intonasi. "Selamat datang di duniaku. Sekarang bangun dan jalan. Teman-teman mereka pasti sudah menelepon bantuan."
Malam itu, di bawah keremangan lampu jalan pesisir yang mati, Atlas Mahardika akhirnya menyadari satu hal yang mengubah hidupnya secara permanen. Taruhan konyol Mustang melawan Ducati adalah kesalahan paling fatal yang pernah ia buat. Ia tidak hanya kehilangan mobil kebanggaannya. Ia baru saja menjual jiwanya secara cuma-cuma, terseret jatuh ke dalam jurang perang dunia bawah tanah Jakarta yang bahkan tak pernah ia ketahui eksistensinya.
Dua remaja itu, yang satu pewaris takhta kaca dan yang lainnya putri berlumur darah mafia, kini terikat dalam dosa yang sama. Tanpa sadar, mereka mulai melangkah berdampingan menjauh dari rongsokan baja, perlahan ditelan oleh bayang-bayang gelap ibukota. Menuju sebuah gudang tua. Menuju pelarian tanpa akhir yang akan membakar mereka berdua.
happy Reading
Share this novel