bab 1

Mature Content Series 4

BAB 1: Kuda Besi dan Hierarki Kaca
​Langit Jakarta pagi itu menggantung rendah, memancarkan warna abu-abu kotor oleh polusi yang seolah mewakili suasana hati Atlas. Di pelataran parkir VIP SMA Pelita Harapan Bangsa, sinar matahari pagi memantul dari deretan kap mesin mobil-mobil mewah berharga miliaran rupiah. Di institusi ini, kasta tidak pernah ditentukan oleh deretan nilai A di rapor atau piala olimpiade akademik. Rantai makanan di sini murni ditentukan oleh logo apa yang menempel pada gril kendaraanmu, dan seberapa tebal dompet ayahmu.
​Dan di puncak absolut dari takhta kaca itu, berdirilah Atlas Mahardika.
​Pemuda itu bersandar dengan postur malas yang disengaja di atas kap mesin Ford Mustang Shelby GT500 miliknya. Cat hitam mengilap dengan garis balap perak ganda yang melintang dari ujung depan hingga buritan mobil itu seakan menjadi penanda wilayah kekuasaannya. Atlas mengenakan seragam putih abu-abu yang sengaja dikeluarkan urakannya. Dua kancing teratas kemejanya dibiarkan terbuka, memperlihatkan kaus hitam pekat yang membungkus otot dadanya. Wajahnya—pahatannya rahangnya yang tegas dan sorot matanya yang sering membuat siswi-siswi menahan napas di koridor—kini hanya memancarkan satu emosi: kebosanan yang mematikan.
​Mata elangnya yang tajam dan sarat arogansi menyapu area parkir dengan lambat. Semuanya terasa terlalu mudah. Uang ayahnya yang seolah tak memiliki nomor seri, status sosial yang tak tergoyahkan, hingga tatapan memuja yang selalu ia dapatkan setiap kali memutar kunci kontak... semuanya terasa hambar. Dunia di sekelilingnya terlampau artifisial, terlalu gampang ditebak, dan sangat membosankan.
​Hingga sebuah raungan mesin brutal memecah keheningan stagnan itu.
​Suara itu bukan dengkuran berat mesin V8 khas mobil sport Eropa atau Amerika. Itu adalah lengkingan tajam, memekakkan telinga, dari mesin dua silinder yang dipacu di luar batas kewarasan. Semua kepala di area parkir serentak menoleh.
​Sebuah motor Ducati Panigale V4 R berwarna hitam matte melesat masuk menembus gerbang besi sekolah. Kecepatannya jelas sebuah penghinaan terhadap rambu batas kecepatan area edukasi. Sang pengendara tidak berniat melambat. Dalam hitungan detik, ia menarik tuas rem depan dengan agresif, membuat ban belakangnya berdecit keras, merobek aspal. Ekor motor itu terbuang ke samping dalam manuver drifting yang terlampau mulus dan mematikan, sebelum akhirnya berhenti sempurna tepat di area parkir yang kosong.
​Masalahnya, area aspal itu adalah wilayah khusus yang sudah ditandai. Area parkir sakral milik geng elit Atlas.
​Pengendara itu mematikan mesin. Keheningan yang mengikuti terasa pekat dan tegang. Perlahan, seolah menikmati setiap detik perhatian yang tertuju padanya, sosok berbalut pakaian serba hitam itu melepas helm full-face-nya.
​Bukan seorang pria.
​Rambut hitam legam yang panjang dan sedikit berantakan jatuh membingkai wajah pucat pasi. Tidak ada seragam sekolah. Gadis itu mengenakan jaket kulit hitam usang yang terlihat seperti telah melewati berbagai perkelahian, kaus oblong putih tipis yang mempertegas lekuk tubuhnya, dan celana kargo praktis. Namun, bukan penampilannya yang membuat napas Atlas tertahan sejenak. Melainkan sepasang mata gadis itu.
​Mata itu segelap malam tanpa bintang di tengah laut lepas. Dingin, kosong, dan memancarkan aura membekukan yang membuat kerumunan siswa elit di sekitarnya tampak seperti deretan manekin plastik tak bernyawa.
​Vea Kendoveks telah menjejakkan kakinya di Jakarta.
​Atlas menegakkan tubuh besarnya, otot punggungnya menegang saat ia melipat tangan di depan dada. Kebosanan yang sejak tadi membelenggunya menguap tanpa sisa, digantikan oleh sengatan rasa penasaran yang gelap, bercampur dengan ego pria alfa yang merasa teritorialnya diinjak-injak.
​"Hei, Anak Baru," panggil Atlas. Suara baritonnya tidak perlu diteriakkan, tapi intonasinya cukup mengintimidasi untuk membuat siswa-siswa di sekitarnya mundur teratur, membelah jalan layaknya Laut Merah.
​Langkah Atlas pelan, terukur, dan penuh ancaman. Sol sepatu kets mahalnya bergesekan pelan dengan aspal yang masih mengepulkan sisa panas ban Ducati. Ia berhenti tepat di hadapan gadis itu. "Lo buta huruf atau cuma punya IQ jongkok? Ada tulisan Reserved segede gaban di aspal yang lagi lo injak itu."
​Alih-alih terintimidasi oleh postur Atlas yang menjulang di atasnya, Vea turun dari motornya dengan keanggunan seekor predator. Ia tidak mundur satu sentimeter pun. Jarak mereka kini hanya tersisa kurang dari dua jengkal. Dada Atlas hampir bersentuhan dengan ritsleting jaket kulit gadis itu.
​Bibir Vea perlahan melengkung, membentuk sebuah seringai tipis yang sarat akan penghinaan murni.
​"Gue lihat tulisannya," jawab Vea. Suaranya rendah, serak, dan sangat tenang—terlalu tenang untuk ukuran anak baru yang berhadapan dengan penguasa sekolah. "Gue cuma nggak peduli. Cari tempat lain buat mainan-mainan plastik kalian."
​Gumam amarah mulai terdengar dari teman-teman Atlas di belakang. Atlas hanya mengangkat satu tangannya, sebuah gestur kecil yang seketika membungkam protes mereka. Matanya menatap lekat-lekat ke dalam iris gelap Vea, mencoba mencari setitik saja celah ketakutan, keraguan, atau rasa gugup.
​Nol. Tidak ada apa-apa di sana selain kekosongan absolut yang mengisyaratkan bahaya nyata.
​"Lo sadar lagi ngomong sama siapa sekarang?" tantang Atlas, mencondongkan wajahnya lebih dekat, menginvasi ruang pribadi gadis itu.
​"Seseorang yang butuh diajarin sopan santun di jalan raya?" balas Vea tanpa berkedip sedikit pun. Matanya yang tajam melirik sekilas ke arah kap Mustang milik Atlas. "Mobil yang lumayan. V8, supercharged. Sayang, yang nyetir cuma anak manja yang baru merasa jago kalau ngegas di jalan tol lurus yang sepi."
​Kalimat itu menembus tepat ke ulu hati ego Atlas. Darahnya mendidih seketika. Tidak pernah ada—dalam seumur hidupnya—yang berani menelanjangi harga dirinya seperti ini di depan umum.
​"Buktikan omongan lo," desis Atlas, suaranya kini merendah menjadi geraman berbahaya. Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan. "Nanti malam. Jalur lingkar luar, dari gerbang tol Ancol sampai pelabuhan. Kita lihat, siapa yang malam ini bakal nangis karena cuma bisa ngegas di trek lurus."
​Vea tidak segera menjawab. Dengan gerakan lambat yang sengaja memancing emosi, ia memasukkan kunci motornya ke dalam saku jaket kulitnya. Matanya memindai Atlas dari ujung rambut berantakannya hingga ke ujung sepatu mahalnya. Sebuah penilaian yang terasa menelanjangi.
​"Taruhannya apa, Pangeran?" tanya Vea pelan.
​"Kalau gue menang, lo cuci Mustang gue pakai sikat gigi di depan seluruh sekolah besok pagi. Dan setelah itu, lo enyah dari parkiran ini selamanya," ucap Atlas, bibirnya menarik senyum meremehkan yang sering membuat lawan-lawannya bertekuk lutut. "Kalau lo menang... sebut aja. Apapun yang lo mau."
​Tanpa diduga, Vea melangkah maju, memangkas habis sisa jarak di antara mereka. Wajahnya mendongak, hidungnya kini nyaris menyentuh hidung mancung Atlas. Pemuda itu bisa mencium aromanya—sebuah kombinasi memabukkan dari wangi mint dingin, bau tajam bensin beroktan tinggi, dan aroma kulit usang yang maskulin namun memikat.
​"Kalau gue menang," bisik Vea, suaranya bergetar dengan janji ancaman yang kelam. "Gue ambil Mustang lo."
​Atlas mendengus sinis, tawanya hambar dan penuh keyakinan. "Setuju. Sampai jumpa di neraka, Anak Baru."
​"Jangan telat," balas Vea datar, seakan kesepakatan itu tak berarti apa-apa baginya.
​Gadis itu berbalik dan berjalan santai menuju koridor utama gedung sekolah, membiarkan Atlas berdiri terpaku. Di dalam dada sang Pangeran, jantungnya bergemuruh liar oleh campuran kemarahan yang membakar, ego yang terluka, dan sebuah antisipasi gila yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

happy Reading

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience