Series
2
Hujan turun deras membasahi kota yang tak pernah benar-benar tidur. Kilatan petir sesekali membelah langit malam, memperlihatkan siluet sebuah mansion megah yang berdiri angkuh di atas bukit.
Rumah itu dikenal sebagai markas keluarga Alvero, penguasa dunia bawah tanah yang namanya disegani di berbagai negara.
Di dalam ruang kerja yang luas, Vittorio Alvero berdiri menghadap jendela sambil memegang segelas anggur.
Wajah pria paruh baya itu terlihat tenang, tetapi sorot matanya menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan. Ia tahu malam ini akan menjadi malam yang menentukan nasib keluarganya.
Di sisi lain mansion, Dante Alvero yang baru berusia dua puluh dua tahun sedang berjalan menuju ruang utama setelah menyelesaikan pertemuan dengan beberapa anak buahnya.
Sebagai putra tunggal keluarga Alvero, ia telah dilatih menjadi penerus organisasi sejak kecil. Namun malam itu, instingnya mengatakan sesuatu yang buruk sedang mendekat.
Belum sempat ia membuka pintu ruang kerja ayahnya, suara ledakan keras mengguncang seluruh bangunan.
BRAKKK!
PYARR!
Kaca-kaca jendela pecah berserakan. Lampu gantung bergoyang hebat sementara alarm keamanan berbunyi nyaring di setiap sudut mansion. Teriakan para penjaga terdengar bersahutan di luar.
“Serangan! Lindungi Tuan Vittorio!”
Puluhan pria bersenjata berpakaian hitam menyerbu dari berbagai arah. Peluru beterbangan tanpa henti, menghancurkan dinding dan perabotan mahal di dalam rumah. Asap mesiu memenuhi udara.
Dante langsung mencabut pistol dari balik jasnya. Dengan gerakan cepat ia menembak dua penyusup yang mencoba memasuki lorong utama. Tubuh mereka jatuh bersimbah darah di lantai marmer.
“Ayah!”
Ia berlari menuju ruang kerja, tetapi langkahnya terhenti saat melihat pintu sudah hancur. Di dalam ruangan, Vittorio berdiri dengan pistol di tangan sambil melindungi istrinya yang ketakutan. Namun semuanya terlambat.
Dor!
Satu tembakan menggema. Tubuh Vittorio ambruk dengan dada berlumuran darah.
“Singkirkan bocah itu!” teriak seseorang dari balik asap.
Dante membeku beberapa detik. Dunia seolah berhenti berputar ketika melihat ayahnya roboh di depan mata. Kemarahan yang selama ini tersembunyi langsung meledak.
Ia menembakkan seluruh isi magazen tanpa ragu. Satu demi satu penyerang tumbang, tetapi jumlah mereka terlalu banyak.
Di tengah kekacauan itu, ibunya menghilang bersama beberapa pelayan yang berusaha menyelamatkan diri. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi.
Ledakan kedua menghancurkan sebagian sayap mansion. Api mulai menjalar ke seluruh bangunan, membuat suasana berubah menjadi neraka.
Salah satu pengawal setia keluarga menarik lengan Dante.
“Tuan muda, kita harus pergi sekarang!”
“Aku tidak akan meninggalkan ayahku!”
“Kalau Anda mati di sini, keluarga Alvero benar-benar tamat!”
Dengan berat hati Dante dipaksa keluar melalui lorong bawah tanah rahasia yang hanya diketahui keluarga inti. Dari kejauhan ia melihat rumah yang selama ini menjadi tempat tinggalnya berubah menjadi lautan api.
Malam itu bukan hanya mansion yang hancur.
Seluruh hidup Dante ikut terbakar bersama kobaran api yang membumbung tinggi ke langit.
Di dalam mobil yang melaju meninggalkan kota, ia menatap kobaran merah di kejauhan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Air hujan bercampur darah mengalir di wajahnya, tetapi sorot matanya berubah dingin. Ia tidak menangis ia tidak berteriak yang lahir malam itu hanyalah kebencian dan dendam.
Dante mengepalkan tangan hingga kukunya menembus kulit sendiri. Dalam hati ia bersumpah akan mencari siapa pun yang berada di balik pengkhianatan tersebut.
Ia akan menghancurkan mereka, merenggut semua yang mereka cintai, dan membuat mereka merasakan penderitaan yang sama.
Malam itu, seorang pewaris muda telah mati bersama keluarganya. Yang tersisa hanyalah sosok baru yang akan tumbuh menjadi legenda paling mengerikan di dunia mafia.
Dan ketika waktunya tiba, seluruh dunia bawah tanah akan mengenal satu nama yang membuat siapa pun gemetar ketakutan. Dante Alvero.
Mobil hitam itu terus melaju menembus hujan tanpa tujuan yang pasti. Jalanan sepi hanya diterangi lampu-lampu kota yang memantul di atas aspal basah.
Tidak ada suara di dalam kabin selain deru mesin dan napas berat para pengawal yang masih tersisa. Semua orang menundukkan kepala, seolah ikut berkabung atas tragedi yang baru saja terjadi.
Dante duduk di kursi belakang dengan tangan yang masih berlumuran darah ayahnya. Tatapannya kosong mengarah ke luar jendela, tetapi pikirannya dipenuhi potongan-potongan kejadian beberapa menit sebelumnya.
Suara tembakan, ledakan, dan jeritan orang-orang yang dikenalnya terus berputar di kepalanya.
“Tuan muda kita sudah kehilangan banyak orang.” ucap pengawal yang mengemudi dengan suara pelan.
Tidak ada jawaban.
Dante hanya mengepalkan tangannya semakin erat hingga darah segar menetes dari sela-sela jemarinya. Rasa sakit di telapak tangannya tidak sebanding dengan luka yang kini menganga di dalam hatinya.
Tak lama kemudian mobil memasuki sebuah gudang tua di pinggir pelabuhan. Tempat itu adalah markas cadangan yang hanya diketahui oleh beberapa orang kepercayaan keluarga Alvero.
Saat pintu besi dibuka, puluhan pria bersenjata langsung memberi hormat kepada Dante.
Mereka semua menunggu perintah.
Namun Dante hanya berdiri diam memandangi wajah-wajah yang dipenuhi kecemasan. Untuk pertama kalinya sejak kecil, ia merasakan kesepian yang begitu dalam.
Ayahnya telah tiada, ibunya menghilang, dan organisasi yang selama puluhan tahun dibangun keluarganya kini berada di ambang kehancuran.
Seorang pria tua berambut putih berjalan mendekat. Namanya Lorenzo, penasihat keluarga yang telah mengabdi sejak masa kakek Dante.
“Kita harus segera mencari siapa dalang di balik semua ini.”
Dante perlahan mengangkat kepalanya. Tatapan matanya yang semula penuh duka kini berubah menjadi dingin.
“Aku tidak ingin hanya mencari mereka.”
Lorenzo terdiam.
“Aku ingin mereka memohon untuk sebuah kematian.”
Kalimat itu diucapkan dengan suara pelan, tetapi cukup membuat seluruh ruangan membeku. Tidak ada seorang pun yang berani menatap mata Dante saat itu.
Mereka menyadari bahwa malam ini telah melahirkan sosok baru yang jauh lebih berbahaya daripada Vittorio Alvero.
Dante melangkah menuju meja besar di tengah ruangan. Di atasnya terdapat peta jaringan mafia dari berbagai kota lengkap dengan nama-nama keluarga yang selama ini menjadi sekutu maupun musuh.
Perlahan ia mengambil sebuah belati dan menancapkannya tepat di tengah peta.
“Aku Dante Alvero bersumpah…” gumamnya.
“Aku akan menghancurkan siapa pun yang terlibat. Tidak peduli berapa tahun yang dibutuhkan, tidak peduli berapa banyak darah yang harus tumpah.”
Hujan di luar semakin deras, seakan menjadi saksi lahirnya dendam yang tak akan pernah padam.
Malam itu bukan akhir dari keluarga Alvero. Malam itu adalah awal dari perang besar yang kelak mengguncang seluruh dunia bawah tanah.
“Mata di balas mata darah di balas darah. Aku tidak akan beri ampun pada kalian semua yang telah berani menghabisi Ayahku dan menyembunyikan keberadaan Ibuku. Kalian semua pantas untukku bakar hidup hidup.” lanjutnya penuh dendam membara.
Share this novel