Series
2
Gudang tua di pinggir pelabuhan itu dipenuhi aroma besi berkarat, asap rokok, dan darah yang belum sempat dibersihkan.
Hujan di luar masih turun tanpa henti, menghantam atap seng hingga menimbulkan suara berisik yang membuat suasana semakin mencekam.
Puluhan pria bersenjata berdiri berjajar dengan kepala tertunduk. Tidak ada yang berani mengeluarkan suara. Mereka semua menunggu keputusan dari pewaris keluarga Alvero yang kini berdiri di depan meja besar dengan pakaian masih berlumuran darah.
Dante Alvero terlihat jauh berbeda dibanding beberapa jam sebelumnya. Wajah mudanya masih menyisakan kesedihan, tetapi tatapan matanya telah berubah menjadi dingin dan tajam.
Seolah seluruh emosi dalam dirinya telah mati bersama kobaran api yang melahap mansion keluarganya.
Di atas meja terbentang peta jaringan organisasi Alvero yang selama puluhan tahun menguasai berbagai wilayah. Namun kini sebagian besar wilayah itu telah diberi tanda silang merah.
Salah seorang pria melangkah maju dengan raut wajah pucat.
“Tuan muda kita kehilangan tiga gudang senjata, lima kasino, dan dua pelabuhan ilegal. Semua direbut malam ini.”
Dante tidak menjawab. Ia hanya menatap peta itu tanpa berkedip.
Pria itu kembali melanjutkan dengan suara bergetar.
“Lebih dari setengah pasukan kita gugur. Sisanya menghilang. Banyak yang melarikan diri setelah mendengar kabar Tuan Vittorio telah meninggal.”
Ruangan kembali sunyi. Tidak ada yang berani mengangkat kepala.
Semua orang tahu organisasi sebesar Alvero tidak mungkin runtuh hanya karena satu malam penyerangan. Jika semuanya bisa hancur secepat ini, berarti seseorang telah menyiapkan semuanya sejak lama.
Lorenzo, penasihat tua keluarga Alvero, berjalan perlahan mendekati Dante. Wajahnya terlihat lelah.
“Ada sesuatu yang tidak beres.”
Dante akhirnya memalingkan wajah.
“Maksudmu?”
Lorenzo menarik napas panjang.
“Sistem keamanan mansion hanya diketahui oleh keluarga inti dan beberapa petinggi organisasi. Penyerang bisa masuk tanpa kesulitan. Mereka bahkan tahu letak lorong rahasia.”
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Beberapa pria saling berpandangan dengan wajah tegang. Dante perlahan mengepalkan tangannya.
“Artinya ada pengkhianat.”
Seketika hawa di ruangan berubah semakin dingin. Tatapan Dante beralih kepada semua orang yang berdiri di hadapannya. Satu per satu wajah mereka diperhatikan tanpa ekspresi.
Tidak ada yang sanggup menatap balik. Bahkan suara hujan di luar terasa lebih keras daripada napas mereka sendiri.
“Aku ingin semua pintu ditutup.”
Perintah itu diucapkan pelan, tetapi cukup membuat para pengawal bergerak cepat.
Pintu besi gudang langsung dikunci rapat.
Tidak ada yang boleh keluar. Dante berjalan perlahan di antara para anak buahnya.
Langkah sepatunya menggema di lantai beton yang lembap.
Ia berhenti tepat di depan seorang pria bertubuh besar yang telah bekerja untuk keluarga Alvero selama bertahun-tahun.
“Di mana kau saat mansion diserang?”
Pria itu menelan ludah. “Saya menjaga gudang timur, Tuan.”
“Siapa yang memerintahkanmu pindah ke sana?”
“Sekretaris Tuan Vittorio.”
Dante mengangguk pelan lalu melanjutkan langkahnya menuju orang lain.
Pertanyaan yang sama terus diulang. Jawaban yang didapat berbeda-beda. Semakin lama wajah Lorenzo semakin muram. Semua pengawal ditempatkan di lokasi yang tidak semestinya malam itu.
Seolah ada seseorang yang sengaja mengosongkan pertahanan mansion sebelum serangan dimulai.
Dante kembali berdiri di depan meja. Sorot matanya kini dipenuhi kemarahan. “Musuh kita bukan hanya di luar. Musuh kita berdiri di antara kita.”
Ucapan itu membuat beberapa orang berkeringat dingin. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari luar.
Seorang anak buah masuk sambil terengah-engah. “Tuan muda!”
Semua mata langsung menoleh.
“Pria itu membawa sebuah tas hitam yang terlihat basah karena hujan.
“Kami menemukan ini di dekat reruntuhan mansion.”
Tas itu diletakkan di atas meja. Lorenzo membukanya perlahan. Isi di dalamnya membuat seluruh ruangan terdiam.
Terdapat puluhan dokumen rahasia organisasi, daftar transaksi, rute penyelundupan dan nama para sekutu.
Hingga identitas seluruh anggota inti keluarga Alvero. Semua data yang seharusnya dirahasiakan kini berada dalam satu tas.
Dante mengambil salah satu berkas itu. Matanya menyipit. Di pojok kanan terdapat stempel pribadi Vittorio Alvero.
Mustahil dokumen itu keluar tanpa izin orang dalam. Lorenzo menatap Dante dengan wajah serius.
“Pengkhianatan ini sudah direncanakan sejak lama.”
Dante menutup map itu dengan keras. Suara benturannya menggema di seluruh ruangan.
“Aku ingin semua petinggi diperiksa. Tidak peduli siapa mereka. Kalau perlu bunuh yang melawan.”
Para pengawal langsung mengangguk. Perintah itu menjadi awal pembersihan terbesar dalam sejarah organisasi Alvero.
Namun sebelum mereka bergerak, lampu gudang tiba-tiba padam. Suasana langsung kacau.
Beberapa orang refleks mengangkat senjata.
Suara logam beradu terdengar dari berbagai arah.
Lima detik kemudian listrik kembali menyala.
Semua orang terkejut. Seorang pria sudah tergeletak di lantai dengan leher tergorok.
Darah mengalir deras membasahi beton. Di dadanya tertancap sebilah pisau kecil.
Lorenzo segera mengambil pisau itu. Di gagangnya terdapat ukiran seekor ular hitam.
Wajah pria tua itu langsung berubah pucat.
Dante memperhatikan simbol tersebut. “Apa itu?”
Lorenzo terlihat ragu beberapa saat sebelum menjawab. “Itu lambang organisasi yang sudah lama menghilang.”
“Dulu mereka dikenal sebagai kelompok pembunuh bayaran paling kejam. Mereka tidak pernah gagal menjalankan misi. Namanya Black Serpent.”
Nama itu membuat beberapa anggota lama langsung bergidik. Konon organisasi tersebut telah dibubarkan bertahun-tahun lalu setelah perang besar antar keluarga mafia.
Tidak ada yang tahu siapa pemimpinnya. Tidak ada yang tahu markas mereka. Mereka hanya muncul ketika seseorang membayar dengan harga yang sangat mahal.
Dante mengambil pisau itu lalu menatap ukiran ular hitam di gagangnya. Tatapan dinginnya semakin dalam.
“Kalau begitu…Aku akan memburu mereka sampai ke ujung dunia.”
Belum sempat suasana kembali tenang, suara tembakan terdengar dari luar gudang.
Dor!
Dor!
Dor!
Seluruh pengawal langsung berlindung. Seorang anak buah berlari masuk dengan wajah penuh darah.
“Tuan muda!”
“Kita diserang lagi!”
Belasan mobil hitam berhenti di luar. Puluhan pria bersenjata turun sambil memberondong gudang tanpa ampun.
Kaca-kaca pecah berhamburan. Dinding beton dipenuhi lubang peluru. Asap mesiu kembali memenuhi udara.
Dante mencabut pistolnya. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya. Dengan langkah tenang ia berjalan menuju pintu utama.
Lorenzo mencoba menahan. “Jangan keluar! Jumlah mereka terlalu banyak!”
Namun Dante terus melangkah. Begitu pintu dibuka, hujan deras langsung membasahi tubuhnya.
Di depan gudang berdiri puluhan pria bertopeng dengan senjata lengkap.
Pemimpin mereka mengenakan mantel hitam panjang. Wajahnya tertutup topeng perak. Pria itu menatap Dante dari kejauhan.
Lalu mengangkat tangan. Seluruh anak buahnya berhenti menembak. Suasana mendadak sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar di antara kedua kelompok. Pria bertopeng itu tertawa pelan.
“Jadi kau masih hidup.”
Dante mengarahkan pistol ke arahnya. “Siapa kau?”
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya melemparkan sebuah benda ke tanah. Benda itu menggelinding hingga berhenti tepat di depan kaki Dante.
Sebuah cincin emas. Lambang keluarga Alvero terukir jelas di permukaannya. Itu adalah cincin yang selalu dipakai Vittorio Alvero. Tatapan Dante langsung membeku.
Pria bertopeng itu berkata pelan sebelum berbalik pergi. “Kalau ingin tahu siapa pembunuh ayahmu…”
“Jadilah monster yang lebih mengerikan daripada ayahmu sendiri.” Konvoi mobil hitam itu kemudian menghilang di balik derasnya hujan tanpa sempat dikejar.
Dante masih berdiri memandangi cincin di tanah. Tangannya perlahan mengambil benda itu.
Untuk pertama kalinya sejak tragedi malam tadi, napasnya terdengar berat. Namun bukan karena kesedihan. Melainkan amarah yang semakin membara.
Ia menggenggam cincin itu erat hingga telapak tangannya berdarah. Sorot matanya berubah begitu gelap.
Di bawah hujan yang seolah tak pernah berhenti, Dante Alvero akhirnya memahami satu hal.
Malam berdarah di mansion bukanlah akhir dari tragedinya. Itu hanyalah pembuka dari perang yang jauh lebih besar.
Dan mulai detik itu, ia tidak lagi hidup untuk mencari kebahagiaan. Ia hidup hanya untuk satu tujuan balas dendam.
Srekk….Srekkk….Srekkkk….
Suara orang lari dari kejauhan terdengar kembali, “Tuan Muda, Nyonya Sekar di sekap di…..”
Share this novel