Series
3
Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Raka bangun dengan tubuh terasa berat, seperti semalaman tidak tidur—padahal ia yakin sempat tertidur beberapa jam setelah lampu kamarnya padam.
Hal pertama yang ia lihat adalah pintu kamarnya yang masih tertutup rapat. Tidak ada tanda rusak, tidak ada jejak apa pun. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
Namun ponselnya berkata lain.
Ada satu file baru di galeri.
Tanpa nama. Tanpa tanggal.
Saat dibuka, video itu menampilkan lorong sekolahnya—yang seharusnya kosong pada malam hari.
Kamera bergerak sendiri, seperti seseorang sedang berjalan sambil merekam. Suara langkah terdengar jelas, tapi tidak ada bayangan pemegang kamera.
Di ujung lorong, ada sosok berdiri menghadap dinding.
Sosok itu… Raka.
Namun Raka yang di dalam video tidak bergerak seperti manusia biasa. Kepalanya sedikit miring, terlalu pelan, terlalu tidak alami. Lalu perlahan, ia menoleh ke arah kamera.
Dan tersenyum.
Raka langsung menjatuhkan ponselnya.
“Bukan aku…” katanya panik, meski tidak ada orang di kamarnya.
Namun cermin di lemari tiba-tiba memantulkan sesuatu yang berbeda.
Refleksi Raka tidak sedang berdiri. Ia sedang duduk di lantai, menatap ke atas… seolah menunggu sesuatu jatuh dari langit kamar.
Raka menutup matanya sekuat mungkin.
Saat ia membukanya lagi, refleksinya sudah kembali normal.
Tapi ada satu hal yang berubah.
Di lehernya, kini ada tanda hitam kecil—seperti cap hangus berbentuk simbol yang tidak ia kenali.
Dan dari balik pintu kamar, suara itu kembali terdengar.
Lebih dekat.
“Sekarang kau sudah tercatat.”
Raka mundur perlahan.
Namun kali ini, ia sadar sesuatu yang lebih buruk—
suara itu tidak datang dari luar kamar.
Share this novel