Series
27
Hujan tidak pernah bertanya pada bumi, apakah ia siap untuk basah.
Begitu pula cinta. Ia datang tanpa izin, lalu menetap seperti luka yang pelan-pelan tumbuh indah.
Aku, Nayesha Elvania Mahesa, adalah gadis yang percaya bahwa dunia ini hanya berisi warna-warna cerah. Papi selalu bilang aku adalah mataharinya. Mami selalu bilang aku adalah dunianya. Aku hidup dalam dekapan kasih sayang yang begitu tebal, hingga aku lupa bahwa di luar sana, ada dingin yang bisa membekukan jiwa.
Sampai aku melihatnya.
Satu minggu yang lalu. Didepan sebuah kafe tua di sudut Jakarta.
Seorang laki-laki berdiri di bawah rintik hujan. Tanpa payung. Hanya mengenakan jaket hitam dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, saat ia mendongak untuk menatap langit, duniaku seolah berhenti berputar.
Rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan tatapan matanya terlalu dingin untuk seseorang seusianya.
Mata itu... hitam pekat, tajam, dan menyimpan rahasia yang tidak bisa kubaca. Dia tidak tersenyum. Dingin. Seperti es yang enggan mencair meski matahari tepat di atas kepala.
Hanya sepuluh detik. Dia masuk ke dalam mobil, dan menghilang. Tapi sepuluh detik itu cukup untuk membuat jantungku berdetak dengan ritme yang tidak wajar.
"Nay! Fokus dong, malah bengong!"
Suara cempreng Cessa membuyarkan lamunanku. Aku mengerjap, kembali ke realitas. Di depanku, SMA Argenzhi. Sekolah para orang elit. Tempat di mana masa depan dipertaruhkan, dan di mana kasta sosial terlihat dari merek tas yang disandang.
"Lo denger nggak sih, Nay?" kali ini Keina yang bicara, sambil membetulkan kacamatanya. "Hari ini pengarahan kakak kelas 12," kata Keina buru-buru. "Jangan telat, Nay."
"Iya, iya, bawel," sahutku sambil tertawa kecil.
Kami bertiga berjalan melewati koridor. Zeline berjalan di sampingku, ia merangkul lenganku dengan manis.
"Nay, lo kenapa? Dari tadi pagi kayak orang linglung," tanya Zeline lembut. Suaranya selalu menenangkan, seperti melodi indah. "Ada yang ganggu pikiran lo?"
Aku menatap Zeline. Sahabat terbaikku sejak kecil. "Aku... kayaknya aku ketemu malaikat pencabut nyawa, Zel," bisikku pelan.
Zeline tertawa, tapi genggamannya di tanganku tiba-tiba mengerat.
"Malaikat pencabut nyawa atau pangeran berkuda putih?"
"Nggak tau. Tapi dia ganteng banget. Dan dingin banget."
Kami sampai di aula besar. Ratusan siswa sudah berkumpul. Di atas panggung, beberapa pengurus OSIS kelas 12 sedang berdiri dengan angkuh.
Lalu, jantungku berhenti berdetak.
Di sana. Di barisan paling depan para kakak kelas.
Sosok itu.
Jaket hitamnya sudah berganti dengan seragam putih abu-abu yang sangat rapi. Namun aura dinginnya tetap sama.
Kavian Athares. Namanya tertulis jelas di name tag di dadanya. Dia berdiri tegak, tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Tatapannya lurus ke depan, mengabaikan teriakan histeris siswi-siswi yang memuja ketampanannya.
Duniaku kembali kehilangan warna, berganti dengan satu fokus: Kavian.
"Itu dia..." bisikku tanpa sadar.
"Siapa? Kak Kavian?" Cessa menyahut cepat. "Nay, lupain. Dia itu Kutub Utara SMA Argenzhi. Nggak ada yang pernah berhasil dapet senyumnya. Dia itu... berbahaya buat hati."
Aku tidak mendengar ucapan Cessa.
Aku hanya melihatnya.
Tiba-tiba, mata tajam itu bergerak.
Dia menoleh.
Satu detik.
Dua detik.
Mata hitam pekat itu bertemu dengan mataku.
Dingin.
Kosong.
Seolah aku hanyalah butiran debu yang tak sengaja lewat di hadapannya. Namun anehnya, tatapan sedingin itu justru membuat dadaku berdebar semakin kacau.
Deg
Sakit. Tapi candu. Ada sesuatu yang menusuk dadaku, namun aku justru ingin merasakannya lagi.
"Nay, lo kenapa?" Zeline bertanya, tangannya menggenggam tanganku erat.
Aku tidak melihat kilat aneh di mata Zeline saat ia menyadari ke mana arah pandanganku. Aku tersenyum lebar, senyum yang biasanya membuat Papi luluh. "Zel... aku tau apa yang aku mau sekarang."
Zeline memiringkan kepalanya. "Apa?"
"Aku pengen kenal dia," bisikku pelan.
Atau mungkin...
Aku hanya ingin sekali saja dilihat oleh mata sedingin itu.
Di barisan depan, Kavian membuang muka. Ia terlihat muak, seolah keberadaanku di ruangan itu adalah polusi.
Aku belum tahu saja.
Bahwa saat itu, aku baru saja mengetuk pintu neraka yang paling dalam.
Aku belum tahu, bahwa mata indah itu adalah api yang akan membakarku sampai habis. Bagi Kavian, aku adalah luka yang lupa ia obati.
Dan bagi duniaku yang sempurna...
Ini adalah awal dari segalanya yang akan terlambat untuk diperbaiki?
Too Late.
---
Prolog tamat sampai sini...
Share this novel