Series
27
Happy Reading guyss
***
Pagi itu gerbang SMA Argenzhi sudah ramai.
Suara klakson mobil bercampur dengan teriakan seorang siswa yang berlari terbirit-birit karena hampir terlambat.
"WOI TUNGGUIN PAK! JANGAN DIKONCI DULU!"
Cowok itu melompat masuk sebelum gerbang ditutup. Untungnya mamang Ucup selaku satpam yang sudah mengabdi di SMA Argenzhi memiliki hati nurani yang sebesar harapannya.
"Bangsat. Hampir aja gue disuruh hormat bendera sendirian," gumam cowok itu. Lega.
"Emang anjeun pahlawan?"
"Minimal tokoh utama pak."
Tidak semua orang berangkat ke sekolah dengan perasaan yang sama.
Ada yang datang karena terpaksa.
Ada yang datang demi nilai. Ada juga yang datang karena seseorang.
Dan Nayesha Elvania Mahesa termasuk kategori terakhir.
Dengan senyum lebar dan sebuah kotak makan di tangannya, gadis itu turun dari mobilnya.
"PAGIIII DUNIAAAA!" teriaknya.
Seorang siswa yang sedang minum langsung keselek mendengar suara cempreng membahana itu. "Dia minum obat apa sih pagi-pagi?"
"Nay!"
Seorang siswi kelas sebelas melambai dari seberang taman.
"Pagiii!" Nayesha langsung membalas lambaian itu dengan semangat.
"Pagi juga!"
Belum sempat ia melangkah jauh, seorang siswa lain ikut menyapa.
"Eh Nay, thank you ya catatan matematika kemarin!"
"Sama-sama!"
Begitu Nayesha berlalu, kedua siswa itu saling pandang.
"Dia beneran mau nembak Kak Kavian hari ini?"
"Katanya sih gitu."
"Berani banget."
"Kalau gue sih mending mundur dulu."
"Nay! Lo bawa apaan tuh?"
Cessa muncul entah dari mana lalu langsung menyambar lengan Nayesha.
Disusul Keina yang seperti biasa dengan kacamata yang bertengger di hidungnya.
Karena kaget, Nayesha hampir menjatuhkan kotak makan di tangannya.
"Heh!"
"Jawab dulu." Cessa menyipitkan mata curiga ke arah kotak biru pastel itu.
"Bekal spesial."
"Untuk?"
"Untuk Kak Kavian."
Hening.
Cessa menoleh ke Keina.
Keina menoleh ke Cessa.
Lalu keduanya menghela napas bersamaan.
"Kita kehilangan dia."
"Turut berduka."
"Nay, lo serius? Ini baru hari ketiga kita di kelas sebelas. Dan lo mau langsung nyerahin diri ke kandang singa?" Keina menatap Nayesha dari bingkai kacamata nya.
"Bukan singa, Kei." Jawab Nayesha sambil menangkup kedua pipinya.
"Tapi pangeran."
"Oh, dia udah parah."
Dibelakang nya, Cessa langsung membuat tanda salib di udara.
Bibirnya bergerak tanpa ada suara yang keluar dan seolah mengatakan
'Semoga cepat sadar.'
Hening sejenak.
Keina cuma bisa menghela napas. Dari awal, ia sudah merasa semua ini tidak akan berjalan semudah yang Nayesha bayangkan.
"Kavian itu beda, Nay. Dia nggak kayak cowok-cowok yang biasanya muja muja lo. Dia... dia punya tembok yang terlalu tinggi untuk dipanjat."
Tapi Nayesha hanya mengedipkan mata.
"Kalau gitu aku bakal jadi orang pertama yang berhasil deket sama dia."
Di sudut lain, tak jauh dari mereka, Zeline Kaisha Adrevi berdiri mematung.
Rambut pirangnya yang tertata rapi tertiup angin.
Ia memperhatikan interaksi itu dengan senyum tipis-senyum yang bagi siapa pun terlihat sangat tulus dan mendukung.
"Biarkan aja, Kei," suara Zeline lembut, sangat manis. Ia merangkul bahu Nayesha.
"Nayesha itu pejuang. Kalo dia suka, dia pasti dapet. Kan ada gue juga yang bakal selalu bantu Nayesha. Iya kan, Nay?"
Nayesha mengangguk mantap, lalu memeluk Zeline erat.
"Zeline emang yang paling ngerti aku!"
Zeline membalas pelukan itu. Dagunya bertumpu di bahu Nayesha.
Jemarinya mengusap pelan punggung sahabatnya itu.
Hangat.
Lembut.
Persis seperti yang selalu ia lakukan selama bertahun-tahun.
Namun saat Nayesha memejamkan mata dalam pelukannya, senyum Zeline perlahan memudar.
Mata gadis itu mengikuti arah pandang Nayesha.
Ke arah Kavian Athares.
Lalu untuk sesaat...
ada sesuatu yang sulit dijelaskan melintas di wajahnya. Sesuatu yang bahkan Zeline sendiri tidak ingin menamainya.
***
"Nay, serius nanya."
Cessa berjalan mundur di depan Nayesha sambil menatap sahabatnya itu curiga.
"Apalagi?" tanya Nayesha.
"Lo semalam tidur jam berapa?"
"Jam sembilan."
"Terus bangun jam berapa?"
"Jam empat."
Langkah Cessa langsung terhenti.
Matanya membelalak tidak percaya.
"DEMI CINTA?!"
"Demi sandwich."
Cessa mengusap wajahnya kasar, "Anjir."
Keina yang berjalan di samping mereka ikut menggeleng pelan.
"Orang waras nggak bangun jam empat buat cowok yang bahkan nggak tahu dia ada."
"Tapi sekarang Kak Kavian tahu aku ada," bantah Nayesha cepat.
Gadis itu mengangkat dagunya sedikit seolah sedang membela harga dirinya.
"Kagak."
Cessa menjawab tanpa ragu sambil memasukkan kedua tangan ke saku rok.
"Belum," koreksi Keina datar.
Tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang sedang dibawanya, gadis berkacamata itu mengangkat satu jari telunjuk.
"Nah itu."
Cessa langsung menunjuk Keina setuju.
Nayesha hanya bisa mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya terkekeh sendiri.
Mereka bertiga berjalan melewati taman tengah sekolah yang mulai ramai.
Beberapa siswa sedang duduk di bangku taman sambil mengerjakan PR yang baru mereka ingat pagi itu.
Di dekat kantin, sekelompok murid laki-laki terlihat panik menyalin tugas matematika.
"Cepetan woy!"
"Cepetan-cepetan! Ini tulisan lo kayak resep dokter bajingan!"
"Yang penting niat."
"Guru matematika bisa kena stroke bacanya."
Cessa langsung menunjuk mereka.
"Itu manusia-manusia yang bikin guru cepat tua."
"Bukannya lo juga begitu?" tanya Keina.
"Itu fitnah."
"Lo kemarin nyalin PR gue."
"Itu kerja sama akademik."
Keina memejamkan mata. "Nggak ada harapan."
Tawa Nayesha langsung pecah.
Suasana pagi terasa ringan.
Sampai seorang siswi dari kelas sebelah tiba-tiba menghampiri mereka.
"Nay!"
Nayesha menoleh.
"Hm?"
"Bener nggak sih lo mau ngasih bekal ke Kak Kavian?"
Cessa langsung menutup wajah. Malu.
dalam hati: 'bukan temen gue sumpah!"
"Nah. Gosipnya udah nyebar."
"HAH?!"
Nayesha hampir tersedak ludahnya sendiri.
Kotak makan di tangannya sampai bergeser karena saking kagetnya.
Siswi itu mengangguk antusias.
"Iya. Anak IPS udah pada tahu."
"IPS?"
Mata Nayesha membulat. Kali ini ia benar-benar berhenti berjalan.
Cessa yang berada di belakangnya hampir menabrak punggung gadis itu.
"Woy jalan!"
"Bentar!"
Nayesha menoleh tidak percaya ke arah siswi itu.
"Kenapa seluruh sekolah tahu?!"
Siswi itu hanya mengangkat bahu santai.
"Gue juga nggak tau. Tiba-tiba aja semua orang ngomongin. Bahkan anak kelas dua belas juga," ujarnya.
Langkah Nayesha langsung goyah.
"Bentar."
Gadis itu sampai berhenti berjalan dan memegang bahu Cessa untuk menjaga keseimbangan.
Cessa yang melihat reaksinya justru ngakak duluan. Dasar teman nggak ada akhlak.
"Selamat ya." Cessa mengacungkan jempol dengan cengiran lebar. "Lo viral sebelum jadian."
Nayesha langsung memegang dadanya dramatis.
"Aku belum siap terkenal."
"Lo anak Mahesa Group."
Cessa mengangkat sebelah alisnya seolah ucapan Nayesha barusan sangat tidak masuk akal.
"Itu beda." Nayesha menggeleng cepat.
"Aku terkenal karena nilai, bukan karena sandwich."
"Mulai hari ini karena sandwich." Cessa menjawab santai sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
"CESSA!"
Nayesha protes keras sampai beberapa siswa di dekat mereka ikut menoleh.
Bukannya merasa bersalah, Cessa malah tertawa makin kencang.
Di samping mereka, Keina hanya menghela napas panjang sambil mendorong kacamatanya naik.
"Jujur aja, gue juga lebih inget sandwichnya."
"KOK LO JUGA?!"
Tawa mereka bertiga langsung pecah memenuhi koridor.
Tak jauh dari sana, beberapa siswa memang terlihat melirik ke arah Nayesha sambil berbisik-bisik.
Sebagian penasaran. Sebagian terhibur.
Sebagian lagi cuma ingin tahu seperti apa akhir cerita cewek ceria kelas sebelas yang tiba-tiba nekat mengejar Kavian Athares.
Dan tanpa disadari Nayesha...seluruh sekolah sedang menunggu hasilnya.
"Nay." Panggil Cessa.
Cessa menyamai langkah Nayesha sambil melirik kotak makan yang sejak tadi dipeluk erat oleh sahabatnya itu.
"Hm?" Nayesha menoleh sekilas.
"Lo yakin?"
Pertanyaan itu membuat langkah Nayesha melambat. Ia menunduk menatap kotak makan di tangannya.
Lalu membuka tutupnya sedikit.
Memastikan sandwich di dalamnya masih rapi.
Setelah itu ditutup lagi.
Lima detik kemudian dibuka lagi.
Cessa yang memperhatikan dari tadi langsung memijat pelipisnya.
"Nay."
"Hm?"
"Itu sandwich nggak bakal kabur."
"Aku cuma cek kok."
Nayesha tersenyum canggung sebelum kembali mengintip isi kotak makan itu.
Cessa menatapnya tidak percaya.
"Lo udah ngeceknya tujuh kali."
Nayesha tampak berpikir sebentar. Sebelum kemudian mengatakan; "Delapan."
Cessa langsung mendongak ke langit.
"Ya Tuhan."
Tak lama kemudian, bel pertama akhirnya berbunyi.
Suara langkah siswa mulai memenuhi koridor saat semua orang bergegas menuju kelas masing-masing.
Nayesha sempat mengikuti pelajaran seperti biasa.
Atau setidaknya berusaha.
Karena selama dua jam penuh, pikirannya terus melayang pada satu orang.
Kavian Athares.
Bahkan saat guru matematika menjelaskan materi di depan kelas, Nayesha lebih sibuk menatap kotak makan di dalam lacinya.
Sampai akhirnya...
Bel istirahat pertama berbunyi.
Dan ketika bel istirahat akhirnya berbunyi ia langsung menjadi orang pertama yang berdiri dari kursinya.
"Nay."
Suara Zeline membuat Nayesha menoleh.
"Hm?"
Zeline tersenyum kecil sambil merapikan pita seragam yang sedikit miring di kerah Nayesha.
"Gugup ya?"
Nayesha langsung mengembuskan napas panjang.
"Kelihatan?"
"Banget."
Cessa yang melihat itu langsung menyahut.
"Dia udah buka kotak sandwichnya delapan kali."
"Sembilan," koreksi Keina tanpa mengangkat kepala dari bukunya.
"YA TUHAN."
Tawa kecil keluar dari bibir Zeline, ia kemudian menepuk pelan bahu Nayesha.
"Tenang aja." Tatapan matanya lembut.
"Kalau gagal, dunia nggak bakal kiamat hari ini."
Nayesha terdiam sebentar, lalu tersenyum lebar.
"Kalau berhasil?"
"Kalau berhasil..." Zeline pura-pura berpikir.
"...gue traktir lo sebulan."
Mata Nayesha langsung berbinar seketika.
Tubuhnya bahkan refleks maju setengah langkah ke arah Zeline.
"SERIUS?!" tanyanya tidak percaya.
Zeline mengangguk santai sambil menyelipkan rambut pirangnya ke belakang telinga.
"Serius."
"AKU JADI MAKIN SEMANGAT!"
Nayesha mengepalkan kedua tangannya di depan dada seperti atlet yang baru mendapat suntikan motivasi.
Melihat itu, Cessa langsung menunjuk Zeline dengan wajah menuduh.
"Nah kan." Ia menggeleng pelan. "Dia makin nggak bisa dihentikan sekarang.
"Lo yang nyulut semangatnya," tambah Keina datar sambil mendorong kacamatanya naik.
Zeline hanya mengangkat kedua bahunya seolah tidak bersalah.
"Gue kan cuma kasih dukungan."
"Bahaya kalau dukungan jatuh ke tangan orang halu," sahut Cessa.
"CESSA!"
Tawa mereka kembali pecah memenuhi koridor.
Di tengah tawa mereka, Nayesha akhirnya berpamitan dan berjalan menuju tangga.
Cessa masih menggeleng-geleng kepala.
Keina kembali membuka bukunya.
Sementara Zeline hanya berdiri diam memperhatikan punggung sahabatnya yang semakin menjauh.
Senyum tipis masih terpasang di wajahnya.
Namun matanya perlahan mengikuti langkah Nayesha menuju lantai atas.
Ke arah yang sama.
Ke arah Kavian Athares.
***
Koridor lantai atas sedang ramai saat Nayesha datang.
Beberapa siswa kelas dua belas bersandar di pagar koridor sambil membahas pertandingan basket minggu depan.
Di dekat jendela, dua siswi sibuk berfoto untuk diunggah ke Instagram sekolah.
Sementara itu, suara tawa dari kelas 12-IPA 2 sesekali terdengar sampai ke ujung lorong.
Namun begitu Nayesha terlihat membawa kotak makan dan berjalan ke arah kelas 12-IPA 1, beberapa kepala mulai menoleh.
"Eh, itu Nayesha kan?"
"Iya. Anak Mahesa Group."
"Dia mau ke kelas Kak Kavian nggak sih?"
"Cieee... berani juga."
"Berani atau nekat?"
Bisik-bisik kecil mulai mengikuti langkah Nayesha sepanjang koridor.
Sayangnya, Nayesha terlalu sibuk mengatur napasnya sendiri untuk menyadarinya.
Koridor kelas 12 lantai atas terasa mencekam.
Semakin dekat ia ke kelas 12-IPA 1, semakin cepat jantungnya berdetak.
Di depan kelas 12-IPA 1, sekelompok cowok sedang berkumpul.
Salah satunya-Nathanael Zidane yang sedang tertawa keras sambil sesekali mengumpat, dan Davin Elkar yang hanya diam menyandar di dinding sambil memainkan ponselnya.
Dan di sana, ada Kavian Athares-cowok yang akhir-akhir ini terus memenuhi pikiran Nayesha, duduk di tengah-tengah temannya.
Ia sedang membaca buku, mengabaikan kebisingan di sekitarnya.
Wajahnya tampak begitu tenang, namun auranya membuat siapa pun enggan mendekat dalam jarak dua meter.
Nayesha menarik napas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri melangkah maju. Jemarinya mencengkeram kotak makan itu sedikit lebih erat.
"Permisi... Kak Kavian?" panggilnya pelan.
TBC
Maksihh ya udah baca cerita ini, semoga kalian betah ya❤️?
Share this novel