Pergi Dari Desa

Mystery Series 0

Hujan tak kunjung reda ketika langkah kaki Raka menjauhi batas luar Desa Karangsewu. Lumpur tebal berulangkali menyedot telapak kakinya yang tanpa alas, berusaha menahan geraknya seolah bumi sendiri enggan melepaskannya pergi dari penderitaan.

Namun, setiap kali tubuhnya goyah, bayangan kobaran api yang melahap gubuknya serta gelak tawa Maya dan warga desa kembali menepis rasa lelahnya.

Darah dari luka di pelipisnya telah mengering, meninggalkan bekas lengket di pipi kiri yang bercampur dengan sisa air hujan.

Dada Raka terasa sesak bukan hanya karena hawa dingin yang menusuk paru-paru, melainkan karena gejolak panas di dalam tubuhnya yang semakin menjadi-jadi.

Kilatan emas di matanya yang tadi sempat muncul kini memberikan rasa hangat yang aneh di sepanjang pembuluh darahnya, seolah ada energi asing yang terbangun dari tidur panjangnya.

Raka terus berjalan menembus kegelapan Jalur Hutan Pegunungan Menoreh, sebuah kawasan hutan lindung yang jarang dilalui warga biasa pada malam hari.

Konon, hutan itu dihuni oleh binatang buas dan kerap menyesatkan para pengembara yang berniat buruk. Namun bagi Raka, kegelapan hutan tidak ada apa-apanya dibandingkan kegelapan hati orang-orang yang pernah ia anggap sebagai tetangga.

Setelah hampir tiga jam berjalan tanpa arah, kekuatan fisik Raka akhirnya mencapai batas. Pandangannya membayang, dan lututnya menyerah pada gravitasi.

Pria muda itu jatuh berlutut di bawah sebongkah batu cadas besar yang membentuk ceruk alami. Di bawah naungan batu tersebut, tanahnya relatif kering dari gempuran hujan.

Raka bersandar pada dinding batu yang dingin, napasnya terengah-engah. Saat dadanya naik turun dengan tidak teratur, ia merasakan sesuatu yang keras dan runcing menekan pinggang bagian belakangnya.

Dengan jemarinya yang gemetar dan bernoda tanah kotor, Raka meraih benda tersebut. Itu adalah kotak besi tua milik mendiang Nenek Asih satu-satunya orang tua angkat yang pernah memberinya sedikit kehangatan sebelum wanita tua itu wafat sepuluh tahun yang lalu.

Raka tersentak. Bagaimana mungkin kotak ini ada di sakunya Ia teringat sebelum gubuknya dibakar, saat ia dipukuli di atas tanah berlumpur, tangannya sempat menggapai-gapai secara refleks ke arah dalam gubuk dan meraih kotak kecil tersebut, memasukkannya ke dalam saku celana kerjanya yang longgar sebelum warga menyeretnya keluar.

Kotak besi itu berukuran tak lebih besar dari telapak tangan pria dewasa. Permukaannya dipenuhi ukiran garis-garis rumit bersudut tajam yang membentuk pola teratai melingkar.

Meskipun telah tertimbun lumpur dan bertahun-tahun disimpan di bawah papan tempat tidurnya, kotak itu tidak menunjukkan tanda-tnah berkarat sedikit pun.

"Nenek..." bisik Raka lirih, mengingat sosok wanita tua renta yang dulu memungutnya dari pinggir sungai saat ia masih balita.

Nenek Asih tidak pernah bercerita tentang asal-usul kotak ini. Ia hanya berpesan singkat sebelum menghembuskan napas terakhir.

“"Buka kotak ini hanya jika kau sudah ditolak oleh seluruh dunia, Raka."

Kala itu Raka tidak paham maksud kalimat tersebut. Namun malam ini, setelah seluruh desa meludahi, memfitnah, dan mengusirnya tanpa sisa tempat bernaung, Raka sadar bahwa kata-kata sang nenek adalah ramalan masa depannya.

Gembok kecil yang mengunci kotak itu sudah lama hilang. Raka mencoba mencongkel penutupnya dengan kuku telunjuknya yang kotor. Namun penutup besi itu tidak bergeming.

Seolah-olah dua sisi kotak tersebut tersambung secara utuh tanpa celah.

Raka menghela napas panjang. Rasa frustrasi menyelimuti jiwanya. Apakah di saat-saat puncaknya seperti ini, warisan terakhir neneknya pun akan menolaknya.

Tiba-tiba, menetes cairan merah segar dari telapak tangannya yang terluka akibat goresan batu kasar tadi. Tetesan darah itu jatuh persis di atas ukiran teratai di pusat kotak besi.

“Ssshh...”

Suara desisan halus terdengar ketika darah Raka terserap masuk ke dalam permukaan besi seolah-olah benda itu adalah spons yang aus.

Ukiran teratai di permukaan kotak seketika bergetar pelan, memancarkan cahaya keemasan yang redup namun memikat persis seperti kilatan yang muncul di mata Raka beberapa saat lalu di batas desa.

Dengan bunyi klik yang renyah, penutup kotak terlepas dengan sendirinya.

Raka menahan napas. Matanya terbelalak melihat isi di dalam kotak besi tersebut. Tidak ada tumpukan perhiasan emas, tidak ada uang kertas berlembar-lembar, dan tidak ada sertifikat tanah.

Di dalam kotak berlapis kain beludru hitam yang masih utuh itu, terdapat dua buah benda.

Pertama, sebuah cincin perak tebal berukirkan kepala naga bermata batu akik merah darah yang tampak sangat elegan dan kuno.

Kedua, gulungan kulit binatang berukuran kecil yang diikat dengan pita sutra hitam.

Dengan hati-hati, Raka meraih cincin tersebut.

Begitu jari manis tangan kanannya menyentuh permukaan cincin, timbul reaksi instan. Cincin itu seakan memiliki kesadaran sendiri ukurannya menyusut pas menyesuaikan lingkar jari manis Raka, lalu batu akik merah di atasnya berkedip sekali seolah menyapa pemilik barunya.

Raka merinding. Rasa hangat yang tadi mengalir di pembuluh darahnya kini berpusat di jari manisnya, lalu menyebar ke seluruh organ tubuhnya.

Rasa sakit dari memar di dada dan rasa perih dari luka di wajahnya perlahan-lahan mengendur, digantikan oleh sensasi segar yang luar biasa.

Raka kemudian mengambil gulungan kulit tersebut dan melepas pita pengikatnya. Saat gulungan dibuka, tulisan tangan bergaris tegas dengan tinta emas muncul di atas lembaran kulit kuno tersebut.

Tulisan itu bukan menggunakan aksara Jawa kuno maupun bahasa Indonesia modern, melainkan tulisan simbolis yang secara ajaib dapat dimengerti oleh pikiran Raka secara langsung.

Judul Kitab itu. “Leluhur Pemikat Seni Penguasa Jiwa dan Rasa"

Raka membacanya kalimat demi kalimat dengan cermat di bawah pendar cahaya keemasan yang keluar dari cincin naga di jarinya.

"Bagi keturunan darah murni Asmorodono yang terbuang..." begitu bunyi baris pertamanya.

"Jika kau membaca lembaran ini, artinya darahmu telah dibasahi oleh air mata pengkhianatan dan kehinaan. Garis keturunan kita tidak diciptakan untuk berlutut di hadapan manusia. Kita adalah pembawa pesona abadi, penguasa dahaga jiwa, dan pemikat yang ditakdirkan membengkokkan kehendak mereka yang sombong."

Napas Raka tertahan. Garis keturunan Asmorodono? Siapa mereka? Apakah ini ada hubungannya dengan orang tua kandungnya yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya?

Gulungan itu melanjutkan penjelasannya.

"Dunia ini dinilai berdasarkan rupa, harta, dan wibawa. Wanita yang sombong akan tunduk pada pesona yang tak terjangkau. Pria yang jahat akan hancur oleh nafsu dan kesombongannya sendiri. Cincin Naga Asmara yang kini melingkar di jarimu adalah wadah dari Inti Energi Pemikat (Aura Charm). Melalui olah napas dan penyaluran energi ini, setiap kata yang kau ucapkan akan menjadi titah, setiap tatapan matamu akan menjadi pancingan jiwa, dan setiap sentuhanmu akan menanamkan benih kerinduan yang tak terobati."

Raka mengepalkan tangannya. Sebuah tawa dingin dan hampa keluar dari tenggorokannya.

"Pria miskin sampah tak punya asal-usul..." Raka mengutip kembali kata-kata makian Maya dan Bu Ningsih yang masih bergema di telinganya.

"Mereka menganggapku tak berharga karena aku tidak punya harta. Maya menggunakan kecantikannya untuk memfitnahku, Siska memanfaatkan kepolosanku, dan Lani menjadikanku tumbal martabat keluarganya. Kalian semua menganggap wanita adalah makhluk suci yang tak tersentuh oleh pria miskin sepertiku..."

Raka memandangi cincin naga di jarinya. Matanya menyipit penuh dendam yang kini terarah dan terstruktur.

"Jika dunia ini dikendalikan oleh pesona dan martabat, maka aku akan menjadi penguasa dari kedua hal itu."

Raka melanjutkan membaca petunjuk dasar di dalam gulungan tersebut. Kitab itu mengajarkan teknik pertama yaitu Teknik Pembersihan Jiwa dan Aura Dasar Asmara Tahap satu.

Teknik ini memanfaatkan penderitaan, rasa sakit fisik, dan emosi negatif seperti dendam untuk dilebur menjadi energi aura pemikat yang murni. Semakin dalam dendam dan rasa sakit yang dirasakan sang pemilik, semakin cepat pembentukan Aura Pemikat dalam dirinya.

Tanpa membuang waktu, Raka melipat kakinya dalam posisi bersila di atas tanah ceruk batu tersebut. Ia menutup matanya, membiarkan deru suara hujan di luar menjadi latar belakang mediasinya.

Ia mulai menarik napas dalam-dalam sesuai petunjuk kitab. Saat menarik napas, ia membayangkan seluruh rasa sakit akibat pukulan warga, rasa dingin lumpur, dan sengatan api yang melahap rumahnya ditarik menuju ke pusat dadanya.

Saat menghembuskan napas, ia membayangkan energi hitam kepahitan itu disaring oleh Cincin Naga Asmara di jarinya, diubah menjadi benih energi emas yang hangat dan mengalir kembali ke seluruh kulit, wajah, dan suara jarinya.

Proses itu tidak mudah. Keringat dingin bercampur minyak kotor keluar dari pori-pori kulitnya. Rasa panas seperti terbakar menyelimuti struktur tulang dan ototnya.

Namun, Raka tidak merintih sedikit pun. Gemeretak giginya menahan rasa sakit adalah bukti keteguhan hatinya yang sudah membatu.

Satu jam dua jam hingga akhirnya hujan deras di luar perlahan mereda menjadi gerimis tipis saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

Ketika Raka membuka matanya kembali, kilatan cahaya emas di pupil matanya kini tidak lagi meredup, melainkan menyatu sempurna dengan manik hitam matanya, memberikan kedalaman tatapan yang sangat hipnotis dan misterius.

Raka berdiri. Ia melihat ke arah genangan air hujan yang jernih di ceruk batu dekat kakinya untuk melihat pantulan dirinya. Perubahan pada fisiknya begitu nyata meski baru menempuh tahap awal.

Kulitnya yang tadinya kusam, kasar, dan penuh noda kotor kini tampak bersih, kencang, dengan warna eksotis yang sehat.

Struktur rahangnya yang tegas kini terlihat lebih simetris dan menawan. Postur tubuhnya yang semula membungkuk karena terbiasa memikul beban berat kini berdiri tegak lurus, memancarkan wibawa alami yang sukar dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan suara napasnya terdengar lebih berat dan berkarisma.

Bekas luka di pelipisnya telah hilang tanpa menyisakan goresan sedikit pun. Raka tersenyum tipis sebuah senyuman dingin yang mampu membuat siapa saja yang melihatnya merasa terpesona sekaligus gentar.

"Tahap pertama selesai.” gumam Raka dengan suara bariton yang lebih dalam dan halus dari sebelumnya.

Ia menyimpan kembali gulungan kulit kuno itu ke dalam kotak besi, lalu memasukkannya dengan aman ke balik pakaiannya. Cincin naga di jarinya kini memancarkan pendar redup yang menyatu dengan warna kulitnya sehingga tampak seperti perhiasan kuno yang menyatu dengan tubuhnya.

Raka melangkah keluar dari ceruk batu. Cahaya fajar pertama menerpa wajahnya. Di bawah sana, jauh di lembah pegunungan, Desa Karangsewu masih diselimuti kabut pagi yang tenang.

Penduduk desa mungkin saat ini sedang terbangun dari tidur nyenyak mereka, merasa puas karena berhasil membuang sampah desa mereka ke tengah hutan.

Mereka berpikir Raka telah mati membeku atau tewas diterkam binatang buas. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa tindakan kejam mereka justru telah membangunkan seekor naga yang tertidur.

"Nikmatilah kemenangan singkat kalian, warga Karangsewu.” ucap Raka perlahan, sambil menatap lurus ke arah pemukiman di bawah sana.

"Lani yang sekarang hidup nyaman dengan modal kebohongan. Siska yang membangun lapak dagangnya di atas keringatku. Dan Maya yang tertawa puas di atas abu gubukku."

Raka memutar cincin naga di jari manisnya.

"Aku tidak akan kembali sebagai pengemis yang meminta keadilan. Aku akan pergi ke kota, membangun kerajaanku sendiri, menguasai kekayaan dan pengaruh yang tak pernah sanggup kalian bayangkan. Dan saat waktunya tiba..."

Raka jeda sejenak, membiarkan angin pagi berhembus menerpa rambut hitamnya yang kini tertata rapi secara alami.

"Aku akan kembali untuk mengambil semua yang kalian banggakan. Kalian sendiri yang akan berlutut dan memohon di hadapanku."

Dengan langkah yang mantap, tidak ada lagi rasa ragu atau ketakutan dalam jiwanya, Raka membalikkan badan. Ia melangkah menuju jalan raya antarkota yang terletak di sebalik pegunungan menuju Kota Yogyakarta, tempat di mana takdir barunya sebagai Pemikat akan dimulai.

Langkah kaki pemuda itu ringan namun penuh tekanan, meninggalkan jejak pertama dari sebuah legenda pembalasan dendam yang akan mengguncang kehidupan orang-orang yang pernah merendahkannya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience