Series
0
Hujan deras mengguyur Desa Karangsewu dengan hempasan angin kencang yang membenturkan daun-daun jendela kayu.
Di tengah gemuruh petir yang menyambar langit malam, sesosok pemuda terjerembap di atas tanah berlumpur. Pakaiannya yang lusuh dan robek di bagian bahu kini basah kuyup, melekat pada tubuhnya yang kurus namun tegap.
"Enyah kau dari sini, Raka! Jangan pernah injakkan kaki busukmu lagi di desa ini!"
Suara teriakan itu membelah gemuruh hujan.
Pak RT, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan sarung tertambat di bahunya, meludah ke arah Raka.
Di belakangnya, puluhan warga desa berdiri menyemut membawa obor dan bambu runcing. Wajah-wajah mereka dipenuhi kebencian yang mendalam, seolah Raka adalah wabah penyakit yang harus dimusnahkan.
"Pria miskin tak tahu diri!" jerit seorang wanita bertubuh gemuk dengan perhiasan emas imitasi menempel di lehernya. Dialah Bu Ningsih, janda kaya di desa itu. “Sudah tidak punya orang tua, tidak punya sanak saudara, hidup cuma bisa menumpang di tanah warga! Sekarang kau berani-beraninya menggoda anak gadis saya?"
Raka menyapu darah yang mengalir dari sudut bibirnya akibat pukulan warga beberapa saat lalu. Manik matanya yang tajam menatap wanita itu dengan dingin.
"Saya tidak pernah menggoda anak Ibu. Dia sendiri yang datang ke rumah reot saya dan minta dibelikan perhiasan, lalu saat saya tolak, dia berteriak seolah saya ingin melecehkannya!"
"Bohong! Jaga mulutmu, Raka!" teriak seorang gadis muda berbaju merah yang berdiri di samping Bu Ningsih. Dialah Maya, gadis yang baru saja disebut Raka. Maya memasang wajah menangis yang dibuat-buat di depan ibunya dan para warga.
“Mana mungkin aku sudi mendekati pria melarat seperti kamu? Kamu yang memaksa memegang tanganku! Kamu yang hampir merobek bajuku! Warga sekalian, dia bohong! Raka cuma pemuda mesum yang iri karena tidak ada wanita yang mau dengannya!"
Sorakan makian dari warga kembali pecah. Bebatuan kecil mulai berterbangan, mengenai dahi dan dada Raka.
Raka mengepalkan jemarinya hingga buku-buku jarinya memutih, menancap dalam-dalam ke dalam lumpur dingin. Rasa sakit fisik dari lemparan batu dan pukulan kayu itu sama sekali tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit yang membakar dadanya.
Lagian ini bukan pertama kalinya. Sejak kecil, Raka tidak pernah merasakan hangatnya kasih sayang orang tua. Ia tidak tahu siapa ayah dan ibunya.
Tidak ada paman, bibi, apalagi kakek nenek yang mengakuinya sebagai darah daging. Ia tumbuh besar sebagai 'anak haram' atau bocah buangan di mata warga Desa Karangsewu.
Untuk bertahan hidup, sejak usia tujuh tahun Raka harus memulung barang bekas, menjadi kuli panggul di pasar, hingga memakan sisa-sisa makanan dari hajatan warga yang dibuang ke tempat sampah.
Namun, yang paling menyayat hatinya adalah perlakuan para wanita di desa ini. Karena kondisinya yang miskin dan tak berharta, Raka kerap dijadikan alat kambing hitam. Saat Lani, anak lurah setempat, ketahuan hamil di luar nikah dengan pemuda kaya dari kota, Lani justru menunjuk Raka sebagai pelakunya agar nama baik keluarga Lurah terselamatkan.
Warga yang membenci Raka tanpa berpikir panjang langsung menyeret Raka muda ke balai desa, memukulinya hingga pingsan, dan memaksanya mengaku meski tes dan bukti sama sekali tidak mendukungnya.
Lalu ada Siska, wanita penjual jamu yang pernah memanfaatkan kebaikan Raka untuk mengangkut barang dagangannya setiap pagi.
Namun begitu bisnisnya sukses, Siska menyebarkan fitnah bahwa Raka sering mencuri uang di lapaknya dan bermaksud jahat padanya setiap malam.
Dan malam ini, giliran Maya. Gadis yang berpura-pura baik padanya hanya demi memanfaatkan tenaga Raka untuk memperbaiki atap rumahnya, kini mencoreng nama baiknya di depan seluruh penduduk desa hanya karena Raka menolak menyerahkan uang tabungan kecilnya yang hendak dipakai untuk berobat.
Nama baik Raka tidak pernah ada. Dari lahir hingga dewasa, namanya selalu dicoreng, diinjak-injak, dan dilemparkan ke dalam kubangan hinaan oleh wanita-wanita murahan yang merasa derajat mereka lebih tinggi hanya karena Raka miskin.
"Kenapa kalian diam saja?!" berteriak Pak RT seraya mengacungkan pentungan kayunya. "Bakar rumah reotnya! Biar dia tahu diri dan tidak punya tempat kembali lagi!"
Beberapa pemuda desa berlari membawa obor ke arah gubuk kayu lapuk yang berada beberapa meter di belakang Raka. Dalam hitungan detik, api menyambar atap jerami yang kering di bagian dalam.
Kobaran api jingga meraung-raung di tengah guyuran hujan, melahap satu-satunya tempat Raka berteduh dari terik dan dinginnya malam. Gubuk reot yang ia bangun sendiri dengan keringat dan darahnya kini berubah menjadi abu.
Harta bendanya yang tak seberapa pakaian ganti, perabotan kayu bekas, dan sebuah kotak besi tua milik mendiang nenek angkatnya yang dulu sempat merawatnya sebentar semuanya luluh tak berbekas.
"Hahaha! Lihat pria melarat itu! Sekarang kau benar-benar jadi gelandangan!" tawa Maya membahana, terdengar sangat culas di tengah deru angin malam. “Ingat ya, Raka! Pria miskin dan tidak punya asal-usul seperti kamu itu tidak layak hidup di antara manusia! Kamu cuma sampah!"
"Bagus! Ayo pergi, biarkan dia mati kelaparan di jalanan!" seru Pak RT.
Satu per satu warga mulai berbalik arah, melangkah kembali ke dalam kehangatan rumah mereka sambil tertawa puas dan meludahi tanah.
Maya melirik Raka untuk terakhir kalinya dengan tatapan jijik dan senyum kemenangan sebelum menghilang di balik kegelapan malam bersama ibunya. Suasana perlahan menjadi hening. Hanya menyisakan suara hujan yang menimpa reruntuhan gubuk yang masih mengepulkan asap hitam.
Raka masih terdiam di atas tanah. Darah dari keningnya mengalir melewati mata kirinya, menetes perlahan ke tanah. Udara malam yang merasuk hingga ke tulang tak mampu mendinginkan darahnya yang bergejolak panas.
Pria itu perlahan bangkit berdiri. Lututnya gemetar, namun tubuhnya berdiri tegak seperti karang yang dihantam ombak. Ia tidak menangis. Airmata Raka sudah lama mengering sejak puluhan tahun lalu saat ia menangisi cacing-cacing tanah yang menjadi santapannya ketika tak ada makanan.
Ia memandangi deretan rumah warga yang kini tertutup rapat. Matanya menyapu setiap sudut desa yang menyimpan kenangan kepahitan, rasa lapar, dan penderitaan tak berujung.
"Kalian pikir kalian bisa menghancurkanku?" suara Raka keluar dari celah giginya yang mengatup rapat. Suaranya rendah, dingin, dan bergetar hebat oleh dendam yang merayap dari dasar jiwanya.
"Kalian mencoreng namaku kalian memfitnahku kalian mengusirku seolah aku ini binatang..." Raka menengadahkan wajahnya ke langit malam, membiarkan air hujan membasuh wajah dan darahnya.
Jemarinya mengepal begitu kuat hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangan, mengalirkan darah segar yang menyatu dengan air hujan.
Di dalam dadanya, ada sesuatu yang patah, namun sekaligus ada kekuatan besar yang baru saja terbangun. Sebuah tekad hitam yang tak teroyahkan.
"Ingat hari ini, Karangsewu," bisik Raka dengan tatapan mata yang mendadak berubah menjadi berkilat aneh sebuah kilatan emas magis yang tak pernah ia ketahui ada di dalam dirinya. "Akan ku ingat wajah wanita-wanita yang sudah menghinaku."
"Maya... Siska... Lani... Bu Ningsih... dan seluruh wanita di tempat ini." Raka menarik napas panjang, meresapi rasa sakit di dadanya sebagai bahan bakar untuk hidupnya mulai detik ini.
"Kalian merendahkanku karena aku miskin. Kalian menginjakku karena aku tidak punya siapa-siapa. Tapi dengarkan ini baik-baik..." Raka berbalik, memunggungi desa yang melahirkannya dan membuangnya.
"Suatu hari nanti, aku akan kembali. Aku tidak akan lagi menjadi Raka yang kalian injak. Aku akan menjadi pria yang paling kalian inginkan, namun tak akan pernah bisa kalian miliki."
"Aku akan membuat setiap wanita yang pernah menghinaku berlutut di kakiku, mengemis cinta dan perhatianku sambil menangis air mata darah. Aku akan mengambil semua kebanggaan kalian, menghancurkan martabat kalian, dan membuat kalian bertekuk lutut di bawah bayang-bayangku!"
Sumpah dendam itu terucap mantap, membelah kegelapan malam dan guruh yang menyambar. Seolah alam semesta merespons keputusasaannya, sebuah kilat menyambar pohon tua di pinggir desa, menerangi figur Raka yang melangkah mantap meninggalkan batas desa Karangsewu.
Ia tidak punya harta. Ia tidak punya keluarga. Ia tidak punya tempat kembali. Namun di dalam badannya yang memar, terpatri satu tujuan tunggal yang akan mengubah takdirnya selamanya. Raka Sang Pemikat Wanita telah lahir dari ceceran lumpur dan api dendam. Dan dunia harus bersiap menerima pembalasannya.
Share this novel