Series
2
"Naren, mau ke mana malam-malam gini?" sahut seseorang dari belakang.
"oh, cuman ke supermarket di depan. kenapa? " ucapku sekaligus kembali menanya orang yang memanggilku itu.
"mau nitip dong, "
"nitip apaan? "
"hum.. ais krim? satu aja kok" gumamnya perlahan diakhir, tapi aku masih bisa mendengarnya.
"Harsa,elu nyari penyakit apa gimana?"
"malem-malem makan ais krim. Besoknya? yang ada lu sakit lagi kayak dua minggu lalu" omelanku membuatnya langsung terdiam.
"enggak ada ya, yang lain aja titipannya ya" ucapku yang sebenarnya enggak tega ngeliat dia diem begitu.
"Yaudah,terserah deh apa aja gue makan kok. " ucapnya setelah lama diam.
Akhirnya, aku melangkah keluar dari rumah sambil menghela nafas pelan.
"Dasar anak kecil, " gumamku sendiri.
Setelah memastikan pintu rumah Harsa tertutup, aku berjalan menuju supermarket yang berada tepat di seberang jalan.
Pendingin udara langsung menyambutku ketika pintu automatis terbuka. Aku mengambil beberapa barang yang memang kubutuhkan. Saat melewati rak makanan ringan, langkahku terhenti.
"tadi Arsa minta apa ya?"
Bibirku tersenyum tipis mengingat wajah Harsa yang langsung murung saat ku tolak permintaannya.
"Yaudah deh apapun, asal bukan es krim aja"
Tanganku mengambil sekotak puding dingin dan minuman yogurt, lalu memasukkannya ke dalam keranjang belanja.
Sesampainya di rumah Harsa, aku mengetuk pintunya beberapa kali.
Tidak ada jawaban.
"Harsa?"
Masih sepi.
Karena khawatir, aku mencoba memutar gagang pintu yang ternyata belum terkunci.
Begitu masuk, aku langsung mematung.
"..."
Harsa sedang duduk di sofa dengan satu cup es krim di tangannya.
Melihat itu aku langsung menatap tajam Harsa.
"Baru lima belas menit gue pergi."
Harsa cuma nyengir bersalah.
"Kan... cuma satu."
Aku langsung menghela napas panjang.
"Besok kalau demam lagi, jangan mohon-mohon nangis ke gue."
Harsa langsung menaruh sendoknya.
"Maaf..."
Aku mengabaikan permintaan maafnya dan tetap melangkah ke dapur. Untuk meletakkan barang-barang yang ku beli di supermarket tadi.
"Nar, jangan marah dong" rengek Harsa dengan mata berkaca-kaca sembari mengikutiku ke dapur.
Aku menghela nafas pelan dan menoleh ke arahnya perlahan. Aku masih diam. Tidak mengatakan apapun.
"maaf... aku janji ga ngelakuin lagi. " ucapnya meminta maaf.
"udah berapa kali lo janji. Tapi apa? lo tetap ngelakuinnya."
Ujarku dingin tanpa menoleh ke belakang.
Aku menghela nafas pelan sebentar. Lalu akhirnya menyuruhnya masuk kedalam kamar.
"sana, masuk dalam kamar. " perintahku menyuruh nya masuk ke kamar.
Harsa langsung menggelengkan kepalanya menandakan ia tidak mahu.
"maafin dulu aku nya" rengek nya manja. Ia menarik ujung bajuku, mencoba untuk memujukku.
Aku tetap diem.
"Nar..."
Masih diem.
"Naren..."
Masih.
"Aku beneran nyesel."
Aku akhirnya menoleh.
"Yaudah, aku maafin"
Harsa yang mendengar itu langsung menerjangku dari belakang yang hampir membuat ku oleng terjatuh.
"tapi..."
Aku memutarkan badan ku menghadap Harsa yang berada tepat di belakang ku dan Harsa langsung melepaskan pelukannya.
"kalau besok sakit, aku ga bakalan dengerin kamu ngeluh. Faham? "
Harsa langsung menganggukkan kepalanya tanda faham.
"Iya, aku faham kok"
"Yaudah sana, masuk kamar terus tidur ya" ujarku mutlak.
Harsa langsung naik ke atas, aku hanya melihatnya naik dan akhirnya menyusuli nya dari belakang.
aneh ga sih? maapin soalnya baru pertama kali nulis??
Share this novel