Prolog — Volume 1

Fantasy Series 0

Cahaya di Tower bagaikan butiran bintang di langit malam ? indah namun hampa. Begitulah kira-kira apa yang dirasakannya, mendaki menara dalam kesendirian tiada akhir.

Tibalah ia diakhir anak tangga yang menuntunnya ke ruangan kosong sepanjang mata memandang. Tidak ada cahaya yang menerangi, dan hanya cahaya redup dari obor yang terpaku didinding pintu masuk tangga yang memecah bayangan.

Ia memperhatikan sekelilingnya dan pandangannya melintasi telapak tangannya yang tertutup Zirah besi hitam yang menyatu bersama tubuhnya. Helm Armet yang memiliki celah adalah cara ia melihat dunia Tower dan menghalangi darah musuhnya mengenai wajahnya. Sebelum menelusuri ruangan itu, ia memperbaiki Selendang biru tua penuh sobekan.

Menghela nafas panjang "..." percuma ia mengeluh, soalnya tidak akan ada yang mendengarkan. Dengan berat hati ia melangkahkan kakinya untuk menelusuri ruangan ini.

Tetapi ada satu hal yang selalu ia keluhkan tiap kali bertarung. Dalam benaknya ia berbicara
"aku, lelah. Ingin membaca, buku..."
bukan tanpa sebab ia mengeluh, karena buku lah yang memberinya ketenangan dari kejinya kondisi Tower, penjaga yang membuatnya tetap waras, salah satu alasan mengapa ia terus bernafas hingga sekarang.

Samar-samar ia merasakan kalau hawa sekitarnya mulai memanas. Dan, instingnya sedari tadi terus-menerus memberitahunya kalau ada seseorang yang memperhatikannya.

Menarik GreatSwordnya. Dari punggunya yang lebar, menghunuskannya dan segera menancapkannya ke lantai ruangan.

"Collapse" ucapnya. Seketika setiap warna diruangan itu luntur. Menyebabkan ia menemukan siapa yang memperhatikannya dari tadi.

Kakinya bagai pilar yang menjulang tinggi, tinggi tubuhnya seakan mampu membelah awan yang mengapung di cakrawala. Dua lengannya menyilang sementara dua lainnya memegang senjata: Tombak yang dapat membelah ruang ? Gungnir (imitasi) ditangan kanannya. Pedang Raja dunia ? Skofnung (imitasi) ditangan kirinya. Masing-masing senjatanya berukuran masif dan memiliki corak guntur berwarna merah tua di gagangnya.

"menarik, GreatSword ? Eclipse, ya. Bagaimana engkau bisa mendapatkannya?" sekali ia berucap, angin berhembus kencang "ya, itu tidak penting sekarang... karena dirimu, wahai makhluk takdir adalah yang pertama menginjakkan kakinya di sini"

Hanya untuk menatap matanya saja membuat lehernya merasa pegal. Tapi yang lebih penting ialah fakta bahwa makhluk di depannya diselimuti energi yang belum pernah ia saksikan sebelumnya.

"Siapa namamu, Wahai makhluk takdir?" tanyanya.

"Kau duluan" Sahutnya.

Mendengarnya memupuk rasa kesal sang Raksasa kepadanya. "Baiklah, Bergembiralah. Wahai makhluk takdir, engkau sedang berdiri di depan, Ymir ? Raja para Jotun yang agung. Sekarang siapa namamu? " ucapnya, sembari melebarkan ke dua kaki raksasanya: membuat guncangan.

"Nama... The Ascent" mungkin" ucapnya pelan.
Dalam benaknya "entah kenapa banyak makhluk yang menyebutku The Ascent... namaku keknya"

"The Ascent, ya. Nama yang... unik, tidak seperti namaku yang indah. Tapi baiklah, The Ascent ya, aku memberimu dua pilihan" sembari tersenyum lebar "pertama ialah engkau akan mendapatkan kekuatan dan kebebasan dengan harga tubuhmu menjadi milikku. Atau dua, berikan tubuhmu secara sukarela demi diriku. Bagaimana? pilihan yang menarik bukan"

Beberapa saat The Ascent terdiam, pilihan yang diberikan Ymir Sang tidak masuk akal. Tapi ada satu kata ang menarik perhatiannya, yaitu "kebebasan". The Ascent menduga-duga kalau Ymir mengetahui cara untuk keluar dari tempat ini.

Sebab tujuannya memanjat menara ini tidak lebih dari sekedar mencari apakah kebebasan itu ada atau hanya sebuah kata. Ia berpikir sesaat,
"Pilihan ketiga. Kau mati dan aku bebas" ujar The Ascent lantang, tanpa rasa takut sedikitpun.

"Baiklah jika itu maumu, biar ku rebut saja tubuhmu itu dari sukmamu. Maka, rasakan lah murkaku, Wahai makhluk Takdir!!" bentak Ymir hingga mengguncang seisi ruangan.

Gungnir berayun cepat dan menusuk The Ascent. Tapi dengan tangkas The Ascent menangkis dengan Eclipse, api memercik, dan The Ascent membalikkan serangan Gungnir.

Klank!

selesai menangkis Gungnir, Ymir menebaskan Skofnung. Tak sempat menarik nafas, The Ascent kembali menangkis. Bentrokan antar kedua senjata membuat lantai bergetar dan hancur.

Brak

Tempat The Ascent berpijak hancur. Membuat titik gravitasinya menjadi tidak sempurna ? akibatnya, The Ascent kalah dalam bentrokan senjata.

Slash

Tubuh The Ascent terkena tebasan telak, ia terlempar amat jauh akibat energi kinetik. Beruntung Zirah besi hitamnya dapat menahan tebasan Skofnung, alhasil ia hanya mendapatkan sedikit goresan.

Ia terpelanting, berguling-guling di lantai dingin menara sambil terus menggengam erat Eclipse.

Ymir tidak memberinya kesempatan beristirahat. Dengan kaki raksasanya, ia menginjak The Ascent yang terbaring. Hanya dengan bobot tubuhnya, ia menciptakan kawah besar di lantai Tower.

Ia mengira kalau The Ascent telah kalah. Namun ia salah besar, dibawah telapak kakinya The Ascent menahan sekuat tenaga.

Ruangan terguncang. Tower bergetar. Tetapi The Ascent belum tumbang.

The Ascent berteriak saat ia mencoba mendorong telapak kaki Ymir agar tidak menghancurkannya. Namun Ymir terus menekan, sehingga lantai ruangan itu semakin hancur.

"DASAR SERANGGA" Ymir menarik kakinya, setidaknya The Ascent dapat bernafas sesaat.

Kakinya bukan mundur, melainkan naik ke atas untuk mencari momentum, saat ia merasa telah cukup, ia menurunkannya. Bak meteor, kakinya mengeluarkan bara api.

The Ascent masih tergeletak, sebelum ia menyaksikan kaki raksasa yang akan membumihanguskannya. Secepatnya ia bersia-

BOOM!!

Tower berguncang sangat hebat.

Tendangan Ymir menciptakan ngarai raksasa, dan The Ascent terbaring tak berdaya di tengah-tengahnya.

"Dasar lemah" Ujar Ymir bangga. Dan mulai beranjak dari sana.

Sekujur tubuhnya penuh rasa sakit, tiap ia menghela nafas darah menetes dari hidungnya.

"Lelah. Kapan, semua ini akan berakhir. Kebebasan... apakah bisa kudapatkan?" Ucapnya lirih. "biarkan aku tidur"

kelopak matanya perlahan tertutup.
Kesadarannya mulai memudar.
Dan visual berbagai kenangannya mulai diputar.

Eclipse tertancap di sampingnya, kilauan Oranye yang menyerupai kelap-kelip bintang bersinar dari bilah hitam yang penuh akan goresan ? Pedang besar itu seakan memanggilnya.

Pandangannya buram, namun sinar Eclipse membantunya meraih dan menggenggam pedang itu sekali lagi. Dengan terhuyung-huyung, ia mencoba berdiri. Membersihkan kotoran dari helmnya dan memperbaiki selendangnya.

Ia berancang-ancang. Eclipse semakin bersinar terang, kekuatan mereka memengaruhi sekitar, membuat angin mulai berhembus. Sehingga selendangnya berkibar layaknya bendera perang.

Brak!!
Ia meloncat tinggi. Dari balik celah helmnya, matanya memancarkan sinar kebiruan.

Ymir mengira kalau The Ascent telah tiada. Tapi sesaat suara keras bergema dari tempat The Ascent terbaring, ia berpaling dengan senyuman yang menampilkan giginya.

"Kau, memang harus jadi tubuh baruku" ujarnya sambil tersenyum lebar.

The Ascent sedikit memiringkan tubuhnya, dan mulai berakselerasi menggunakan ruang yang terkonsentrasi.

Ia meluncur cepat mengarah ke Ymir dengan Eclipse yang bersiap menebas. Masih dengan senyum menjijikkannya, Ymir menusukan tombaknya dan menebaskan pedangnya untuk menangkis serangannya.

Benturan kembali terjadi. Namun kini Ymir lah yang terpukul mundur oleh kekuatan Eclipse. Senjata imitasinya tak kuasa menahan tebasan Eclipse, sehingga retakan mulai terbentuk pada tiap senjatanya.

"AAH" Teriak The Ascent
"Gahh" Teriak Ymir.

Lantai mulai remuk akibat kekuatan keduanya. Tower berguncang sangat hebat, sehingga sesuatu terbangun.

Sedikit dorongan kembali The Ascent kerahkan dan berhasil menghancurkan senjata Ymir ? membuat keduanya terpelanting berjauhan satu sama lain. Asap mengepul diudara dan memenuhi seisi ruangan.

Serpihan senjata Ymir menguap menjadi butiran putih yang melayang-layang lalu menghilang.

"Dasar rendahan. Berani dirimu menghancurkan senjataku, tak bisa dimaafkan!" Bentak Ymir. Ia mencoba menutupi kalau tiap-tiap tulangnya bergetar setelah bentrokan tadi.

Keempat tangannya menghadap langit, membentuk simbol yang melambangkan: Cahaya, api, tanah, angin. Seketika ratusan bulatan cahaya terbentuk di sekelilingnya.

"inilah kekuatan asli ku. Andai engkau menjadi tubuh baruku, kekuatanmu pasti bertambah. Tapi semuanya telah terlambat" Rasakanlah panasnya ratusan api pertama" ujar Ymir penuh kebanggan.

Dari pekatnya asap, The Ascent berdiri. Menyeka debu yang ada di selendangnya.
"Banyak omong. Aku tak ingin kekuatan, aku hanya mau membaca buku"
ujar The Ascent sembari meregangkan kepalanya.

Semakin The Ascent berbicara, rasa kesal Ymir semakin memanas.
"Rasakan ini!!
"Imitation ? First Flame!"
Teriak Ymir.

Ratusan bola api menyala membelah udara, meluncur menuju The Ascent. Ia berdiri tak bergerak?bukan menyerah, melainkan membaca alur paling aman untuk menembus jalan menuju Ymir.
Dan ketika jalur itu terbuka di benaknya, ia menerjang tanpa ragu; takut tak pernah singgah di jiwanya.

Ia berlari, menghindari bara pertama yang beterjangan dan menangkis yang tak terelakkan, setiap langkahnya memahat jarak menuju Ymir.

Begitu jaraknya dengan Ymir semakin dekat, ia melompat dan sekarang beradat didepan mata Ymir.
Ia menebas ? Ymir mengerahkan tinjunya. Ia memadatkan ruang untuk menjadi pijakan kakinya, untuk mendapatkan ancang-ancang demi menerjang Ymir kembali.

Pupil Ymir melebar, jantungnya berdetak semakin kencang, tapi egonya sama sekali belum luntur. Ymir kembali menyerang menggunakan tinjunya, akan tetapi The Ascent dengan mudah menebas kedua lengannya.

Rasa terbakar dari darah yang mengalir menciptakan perasaan baru bagi Ymir. Perasaan aneh yang membuat bulu kuduknya merinding.
Saat The Ascent berada tepat di depan matanya, egonya yang amat besar ciut.

"Apocalypse" Ucap The Ascent. Dari bilah Eclipse, sinar hitam yang melebihi kegelapan muncul.

"Mustahi-"

The Ascent menebas vertikal. Tebasan yang membelah tubuh Raja Jotun itu menjadi dua bagian bersamaan dengan lantai menara yang berubah menjadi ngarai raksasa.

Namun tebasan itu membutuhkan energi yang teramat banyaknya. Sehingga membuatnya kehilangan kekuatannya dan meluncur turun sangat cepat. Selendangnya yang koyak terlepas dari lehernya, sedangkan Eclipse masih di genggamnya erat.

Jaraknya dengan lantai semakin pendek, kematiannya hanya tinggal menunggu waktu. Telinganya berdengung, penglihatannya memudar, dan sekilas ia melihat siluet seorang perempuan berambut putih, mengulurkan tangannya berusaha menyelamatkan dirinya.

Ia berusaha menerima ulurannya, namun lengannya telah kehabisan tenaga. Sehingga ia hanya bisa pasrah, menerima nasibnya.
"Jadi, inilah akhirnya"

Pandangannya menghilang dan raganya kehilangan sukmanya.

Meninggalkan raga kosong yang terbaring tak berdaya di genangan darah yang mengalir bebas.

***

Tanpa sengaja, sukma sang Makhluk Takdir masuk pada raga seorang bayi yang telah kehilangan sukmanya dan ditakdirkan untuk tiada.

Perlahan, ia membuka matanya. Pandangannya buram namun masih dapat melihat sekitarnya; cahaya Oranye menderang mengisi ruangan, garis benang hitam menggantung tepat di depan wajahnya.

Dalam benaknya ia bergumam,
"Dimana ini?".
Ia merasa heran, karena pemandangan disekitarnya rasanya asing dengan kegelapan Tower.

Bebauan wangi mengsisi udara ruangan tempat ia berada, cahaya yang jarang ada kini berada disekitarnya, yang dulunya kesunyian terus menemaninya ?sekarang ada sensasi tak wajar yang mengisi dirinya, sesuatu seakan melunak dalam dirinya. Keadaan yang ia alami berbeda jauh dengan Tower.

Bagaimana bisa disini? dimana ini? mengapa tubuhku terasa ringan?
adalah ragam pertanyaan yang terus ia utarakan dalam benaknya.

Sebelum sempat pertanyaan di kepalanya terjawab, penglihatannya telah kembali seperti semula. Pada saat ini ia menyaksikan... ragam warna, berbeda dengan Tower. Benang hitam tadi juga milik seseorang yang tengah memandanginya dengan tatapan hangat yang mencairkan sanubarinya.

Dalam benaknya ia berbicara,
"Siapa dirimu? Me, mengapa wajahmu bercahaya"

Ia mengulurkan lengannya penuh penasaran, namun tertegun sebab: Zirah yang sebelumnya terikat di dagingnya karena sumpah, telah berubah menjadi lengan berkulit lembut manis kenyal. Ia menganga lebar, kebingungan merajalela pikirannya.

Saat pikirannya di penuhi kebingungan, sentuhan lembut menyentuh pipinya. Ia melirik ke arah sentuhan, telinganya juga mendengar suara irama senandungan indah yang keluar dari bibir orang didepannya.

Sela-sela senandungan orang itu berbicara, "anakku~" sembari tersenyum dengan senyuman yang melampaui indahnya perhiasan manapun.

Seorang wanita berambut panjang, warnanya sehitam malam purnama. Pupil hitamnya seakan memiliki banyak bintang yang berkelap-kelip. Sementara senandungan dan suaranya lebih merdu dari lagu klasik yang pernah ia dengar.

The Ascent perlahan mengulurkan lengannya menuju wajah sang wanita. Dan sambil tersenyum sang wanita menggengam jari-jari lembutnya, sementara tangan yang lain mengelus kepalanya ? memberikan ketenangan dan kebahagian tersendiri bagi The Ascent.

Makhluk yang mengembara dalam kesendirian itu, kini merasakan apa itu kebahagiaan untuk kali pertama.

Air matanya tak kuasa ia tahan.
Ia mencengkram pakaian wanita itu, genggamannya bergetar menandakan ia takut bahwa semua ini hanyalah mimpi semata. Isak tangisnya pecah, setelah semua hal yang ia lalui di Tower.

Tangisan yang memecahkan batu terpadat yang mengganjal dalam dirinya.

Sang wanita kebingungan, ia menyeka air mata yang jatuh ke pipi mungil buah hatinya ? Sambil membalas dengan pelukan dan elusan di kepala.

Prolog pertama ☝

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience