Completed
12
"Assalamualaikum, Jaka." Bu Farhah menyapa
"Waalaikum salam, Bu Farhah. Cantik banget pagi ini."
"Apa ihh, gombal-gombal. Gak suka ah." kata Bu Farhah tersipu malu.
"Kenapa bu?"
"Nanti setelah jam mengajar kamu tolongin saya bisa gak, Jak?"
"Tolong apa?"
"Tolong bantu masukin nilai UH1-3 sama UTS."
"Nanti sore?"
"Iyaa."
"Oke dehh."
Gw pun meninggalkan Bu Farhah di depan kelas 4. Lalu Gw penasaran, bagaimana keadaan Bu Nisa setelah kejadian kemarin. Setelah dia merasakan pipis enak karena Gw mainin memeknya.
"Assalamualaikum, Bu."
"Waalaikum salam, Jak."
"Anak-anak pada kemana, Bu?"
"Lagi istirahat, Jak. Palingan pada ke kantin."
"Oohh. Ibu tetap masih mau saya anterin pulang kan?"
"Ya masih doong. Malah saya mau dianterin kamu terus."
"Serius, Bu?"
Bu Nisa hanya menjawab dengan mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.
Ternyata, hal itu malah membuat Bu Nisa semakin dekat dengan Gw.
__--__
"Saya yang masukin ya." kata Gw.
"Iya. Tapi pelan atau cepet nih." tanya Farhah.
"Sedang saja. Takutnya nanti gimana gitu."
"Okedeh. Mulai nih?"
"Iya."
"80, 78, 92, 91, 79, 87, 88, 95, ... "
Seperti perjanjian kami tadi, Gw membantu Bu Farhah memasukkan nilai ke Excel. Setelah anak-anak pulang, kami memulai pekerjaan kami. Guru-guru sudah banyak yang pulang, bergelut dengan urusannya yang lain. Pak Hendra dan Bu Sinta sepertinya belum pulang, tapi yang saya tau mereka sudah tidak pernah ngentot lagi. Bu Sinta yang bercerita kepada Gw. Bukan karena Pak Hendra yang tidak mau, tetapi Bu Sinta yang sudah berani menolaknya.
"Assalamualaikum." Bu Nisa mengucapkan salam saat memasuki ruang guru.
"Walaikum salam." jawab kami berdua.
"Kalian lagi apa?" tanyanya.
"Ini, saya minta tolong Jaka buat masukin nilai ke Excel. Ini udah rapih tinggal saya hitung pake rumus." jawab Bu Farhah.
"Ohh, gitu. Abis ini kamu mau langsung pulang, Far?" tanya Bu Nisa.
"Iya bu, selesai ini langsung pulang."
"Yaudah deh saya tungguin dulu, biar bareng kita pulangnya."
"Boleh, deh. Aku juga takut sendirian disini. Hehehe."
Lalu Bu Nisa duduk disebelah Gw. Bu Farhah yang sedari awal duduk di depan Gw pun tetap melanjut pekerjaannya.
Lalu karena iseng, gw mulai melakukan permainan itu lagi. Dengan pelan, tangan gw bergerak menuju memek Bu Nisa. Karena sadar, Bu Nisa melotot kaget ke Gw. Tetapi Gw masih tetap melanjutkannya.
Tangan Gw sudah berada di dalam CD Bu Nisa, Gw sudah merasakan garis lipatan memek Bu Nisa di jari tengah Gw. Perlahan Gw meraba-raba memek itu hingga jari Gw bisa masuk ke dalamnya. Bu Nisa terlihat menggigit jari tengahnya. Nafasnya mulai tidak teratur.
Karena takut dicurigai, Bu Nisa menidurkan kepalanya di atas meja. Setelah menemukan benjolan kecilnya, Gw memaju mundurkan jari Gw di dalam memek Bu Nisa. "Mphh .. " Bu Nisa mendesah pelan.
"Ehh, Bu Nisa kenapa, Jak?" tanya Bu Farhah.
"Ngantuk mungkin." jawab Gw sambil tetap menggesek-gesek jari Gw di dalam memek Bu Nisa.
"Ihh, kenapa enggak pulang aja. Enggak enak aku sama kalian."
"Enggak apa-apa. Lagi pula kalo kami pulang nanti kamu disini sama siapa? Nanti kamu takut." kata Gw sambil membenamkan seluruh jari tengah Gw ke dalam memek Bu Nisa.
"Ihh, kamu baik banget sih. Yaudah ini hampir selesai."
Lalu Gw menggerakkan jari Gw masuk dan keluar memek Bu Nisa dengan cepat. Hingga Bu Nisa bisa pipis enak lagi. Gw tau itu karena Gw merasakan ada air hangat yang keluar dari dalam memek Bu Nisa. Dan juga Bu Nisa merapatkan kedua pahanya dengan kencang.
Gw pun mengeluarkan tangan Gw dari dalam CD Bu Nisa. Lalu mengelap jari Gw yang basah ke celana Bu Nisa. Melihat hal itu, dia mencubit paha Gw. Lalu dia pura-pura sudah bangun tidur.
"Ehh, udah bangun, Bu?" tanya Bu Farhah
"Enggak tidur sih sebenernya, cuma memejamkan mata. Hahaha."
"Aku udah rapih nih. Pulang yuk, atau masih mau disini?"
"Ayo pulang bu, kangen rumah saya." ajak Gw ke Bu Nisa
"Ayo deh."
Udah dua kali Gw membuat Bu Nisa merasakan kenikmatan seperti itu. Dan ternyata dia sangat menyukai itu. Tapi, apakah Gw bisa meminta Bu Nisa untuk menikmati tubuhnya dia? Gw masih perjaka, belum pernah merasakan itu semua. Jadi Gw harap Bu Nisa bisa membuat Gw jadi tau semuanya.
"Kamu naik ojol, Far?" tanya Bu Nisa.
"Iya, ibu sama Jaka kan?"
"Jadi ojek saya nih Jaka sekarang. Hahaha."
"Itu ojol aku. Aku duluan ya Bu, Jak."
"Iyaa." jawab kami bersamaan.
Gw mengantarkan Bu Nisa ke rumahnya seperti biasa. Tetapi si tengah perjalanan, Bu Nisa bilang ...
"Jak, kamu udah bikin aku orgasme dua kali."
"orgasme itu apa bu?"
"Pipis enak gitu."
"Ohh. Terus kenapa bu? Saya salah ya? Maaf ya bu, maaf."
"Enggak kok. Malah, saya yang merasa salah karena belum ngasih apa-apa ke kamu."
"Jadi ibu mau traktir saya lagi?"
"Bukan gitu maksudnya. Kita ke hotel yuk?"
"Hah? Terserah ibu deh. Hotel mana?"
"Yang deket-deket sini aja. Pintu Merah deket sini."
Gw enggak nyangka Bu Nisa ngomong kayak gitu. Dengan blak-blakan Bu Nisa mengajak Gw buat check in untuk membalas perbuatan Gw.
"Dimana bu?" tanya Gw.
"Kamar nomer 3. Itu."
Kami pun masuk ke dalam kamar yang kami sewa. Aku tidak tahu harus berbuat apa selain duduk-duduk grogi di kasur. Dan Bu Nisa pun membuka obrolan.
"Aku ngajak kamu kesini untuk membalas kebaikan kamu, Jak. Selain kamu bantuin aku dalam hal kerjaan, kamu juga bantuin aku dalam hal syahwat. Udah lama aku enggak ditiduri sama suami aku, dia selalu aja judi dan mungkin uangnya digunakan untuk mabuk sama ngentot dengan lonte."
"Jadi, biarkan aku yang ngelayanin kamu ya, Jak." lanjut Bu Nisa.
Lalu Bu Nisa membuka pakaiannya satu per satu. Dimulai dari jilbabnya, ikat rambutnya dilepas sehingga rambutnya jatuh menjuntai sepunggung. Lalu kancing kemejanya dicopot satu persatu hingga semuanya terbuka. BH ungu bercoraknya terlihat jelas, Gw tidak tahu ukurannya berapa. Yang pasti Gw suka ukuran toket segitu. Lalu Bu Nisa membuka celananya dan memperosotkannya kebawah. Perlahan Bu Nisa menghampiri Gw. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Gw untuk berbisik.
"Sisanya kamu yang buka, yah."
Lalu gw bangun dan memeluk Bu Nisa. Gw cium lehernya, dadanya, lalu Gw membuka kaitan BH nya. Jatuhlah benda penutup itu ke lantai dan terpampang jelas toket indah itu dihadapan Gw. Gw pegang dengan kedua tangan Gw dan menciuminya satu persatu.
"Kamu suka, Jak?"
"Iyaa."
Gw jilatin pentil coklatnya yang mengacung itu. Seperti seorang anak yang kehausan meminta susu kepada ibunya.
"Kamu belum pernah kayak gini yah, Jak?"
"Iyaa bu."
"Kamu mainin pakai lidah, Jak. Terus gigit-gigit kecil."
Gw pun menurut. Gw gerakkan lidah Gw ke atas dan ke bawah lalu memutari pentil Bu Nisa. Lalu sedikit Gw gigit dan Gw tarik diikuti desahan Bu Nisa.
"Aahhhh, iya Jaka, begitu. Mpphhhh,, ahhhh."
Lalu tanpa disuruh, Gw melorotkan CD Bu Nisa ke bawah. Bu Nisa pun mengangkat kakinya lalu menendang CD nya itu entah kemana. Sambil menyedot-nyedot toket Bu Nisa. Tangan Gw kembali memainkan memek Bu Nisa. Kali ini Gw masukin jari tengah dan telunjuk Gw kedalam memek Bu Nisa.
"Iyaaa Jakkk. Enakk banget ihhhh."
Lalu Gw ciumi wajah Bu Nisa. Dari pipinya, lalu hidungnya, dagunya, lalu lehernya. Gw enggak bisa pindah dari lehernya Bu Nisa. Aromanya dan rasanya lebih enak dari yang lain.
"Jak, kamu udah nemuin G Spot akuuu."
"G spot itu apa, Bu?"
"Daerah di tubuh yang paling bikin nikmat."
"Bukannya di memek, Bu?"
"Iyaa, tapi di tempat lain ada. Dan setiap manusia beda-beda G-Spot nya."
Dengan begitu gw kembali menciumi leher Bu Nisa. Dengan tangan kanan mengobok-obok memek Bu Nisa dan tangan kiri meremas-remas toket Bu Nisa. Dia pun memeluk Gw dengan mata terpejam dan mulut terbuka.
"Nikmat banget, Jak."
Lalu Bu Nisa mengeraskan pelukannya dan menyandarkan kepalanya ke bahu Gw.
"Aaahhhhhhh, aku keluar Jak."
Gw pun melepaskan tangan Gw dari memek dan toket Bu Nisa. Bu Nisa menatap Gw sambil tersenyum. Lalu entah kenapa Gw mencium keningnya.
Bu Nisa kaget, lalu dia tersenyum sambil meneteskan air mata.
"Jaka, tau gak?"
"Kenapa Bu?"
"Kamu telah melakukan kesalahan. Kamu cium kening aku, aku jadi cinta sama kamu Jak."
Gw kaget. Ternyata Bu Nisa suka sama Gw.
"Aku juga cinta sama ibu. Tapi sayang ibu udah punya suami."
"Sekarang aku lagi enggak punya suami."
"Jadi aku bisa milikin ibu?"
"Iyaaaaa."
Lalu Bu Nisa mencium bibir Gw, tidak lupa dengan permainan lidahnya.
"Sekarang giliran aku yang puasin kamu." kata Bu Nisa sambil membuka kancing baju Gw.
"Ajarin aku ya, Bu. Saya belum pernah beginian soalnya."
"Kalo dosa kenapa kamu lakuin, Jak?" lanjut Bu Nisa membuka kaos Gw.
"Karena nikmat dan aku melakukannya sama ibu."
"Ibu kamu?" tanya dia bercanda. Lalu Bu Nisa menjilati dan menyedot pentil Gw.
"Bukan. Tapi Ibu Annisa Putri."
Bu Nisa mulai berlutut. Dia membuka gesper Gw. Lanjut dengan celana serta kolor Gw.
"Kamu enggak pake CD, Jak?"
"Enggak suka, Bu."
"Tuh kan bener, gede."
"Apanya, penis aku bu?"
"kontol, Jak. Kontol."
"Iya, Bu. kontol aku gede?"
"Iyaa. Lebih besar dari rata-rata kontol orang lain."
"Emang ibu pernah ngeliat kontol siapa aja?"
"Baru suami aku sama kamu doang. Tapi dari bokep-bokep asia, kontol kamu lebih besar."
Lalu Bu Nisa berdiri dan melangkah maju untuk menuntun Gw agar tiduran di kasur.
"Di kasur aja, Jak."
Gw pun naik ke kasur dan merebahkan diri. Bu Nisa berlutut di atas Gw dan menciumi bibir Gw.
"Kita mulai ya, Jak."
Share this novel