Series
2
Hujan turun sejak senja menyentuh lereng Pasundan.
Bukan hujan yang datang dengan amarah petir atau angin besar, melainkan hujan panjang yang perlahan menguasai hutan sedikit demi sedikit. Air jatuh dari langit seperti tirai tipis yang tidak pernah selesai diturunkan. Daun-daun besar bergetar pelan setiap kali titik hujan menghantam permukaannya. Dari sela pepohonan tinggi, kabut putih mulai bergerak turun, menggantung rendah di antara akar dan semak belukar.
Udara terasa lembap.
Dingin.
Saat seseorang menarik napas di tempat itu, aroma tanah basah langsung memenuhi dada. Bau kayu lapuk, lumut tua, dan dedaunan yang membusuk bercampur menjadi aroma khas hutan yang hidup terlalu lama.
Suara alam terdengar jelas malam itu.
Gemercik sungai kecil. Jangkrik yang bersahutan. Ranting yang patah entah karena angin atau sesuatu yang bergerak dalam gelap.
Hutan Pasundan bukan tempat yang ramah bagi manusia.
Penduduk desa percaya ada sesuatu yang menjaga hutan itu sejak zaman leluhur. Sesuatu yang tidak suka diganggu. Sesuatu yang hanya muncul saat malam terlalu sunyi.
Seekor lutung hitam.
Namun bukan lutung biasa.
Matanya berwarna emas.
Dan konon? ia menangis seperti manusia.
Di tengah hutan yang gelap itu, seekor makhluk sedang duduk diam di atas cabang pohon besar.
Tubuhnya tinggi dan kekar untuk seekor lutung. Bulunya hitam pekat hingga hampir menyatu dengan malam. Air hujan mengalir perlahan melewati pundaknya lalu menetes dari ujung lengannya.
Ia tidak bergerak.
Hanya matanya yang perlahan mengikuti jatuhnya hujan.
Mata emas itu tampak kosong.
Sunyi.
Seperti seseorang yang terlalu lama kehilangan tempat untuk pulang.
Angin malam bertiup melewati wajahnya. Aroma hujan membuat ingatannya kembali bergerak.
Tentang langit.
Tentang cahaya.
Tentang dirinya? sebelum semuanya berubah.
Dahulu, sebelum hutan mengenalnya sebagai Lutung Kasarung, ia bernama Guruminda.
Putra kahyangan.
Di dunia para dewa, namanya dikenal sebagai sosok yang cerdas dan memiliki rupa paling tampan di antara penghuni langit lainnya. Rambutnya hitam panjang. Tatapannya tenang. Setiap langkahnya selalu membuat orang menoleh kagum.
Kahyangan tempat ia tinggal tidak seperti bumi.
Langitnya selalu berwarna keemasan saat pagi dan biru terang menjelang malam. Tidak ada lumpur. Tidak ada dingin yang menggigit tulang. Sungai-sungai di sana memancarkan cahaya lembut seperti kristal cair.
Taman-taman kahyangan dipenuhi bunga aneh yang tidak pernah layu.
Udara selalu hangat.
Damai.
Namun kedamaian sering membuat seseorang lupa bahwa dirinya hanyalah bagian kecil dari kehidupan.
Dan Guruminda mulai berubah perlahan.
Awalnya hanya hal kecil.
Ia mulai menikmati pujian terlalu dalam. Mulai merasa dirinya lebih penting. Mulai memandang rendah mereka yang dianggap tidak setara.
Kesombongan itu tumbuh tanpa suara.
Seperti akar yang diam-diam merusak pondasi batu.
Suatu malam, kahyangan mengadakan pesta besar.
Cahaya lentera langit memenuhi istana. Musik kecapi terdengar lembut mengalun bersama suara tawa para penghuni langit. Meja-meja panjang dipenuhi makanan dan minuman bercahaya.
Guruminda duduk di kursi utama para bangsawan muda.
Pakainya berwarna putih keemasan. Mahkota kecil menghiasi rambutnya.
Beberapa penghuni kahyangan memujinya malam itu.
?Pangeran Guruminda benar-benar pantas menjadi pewaris langit.?
?Tidak ada yang setara dengannya.?
Pujian demi pujian membuat senyum Guruminda semakin tinggi.
Sampai seorang pelayan tua berjalan melewati mejanya sambil membawa kendi kristal.
Tangan lelaki tua itu gemetar.
Langkahnya tidak stabil.
Dan?
PRANG!
Kendi itu jatuh tepat di depan Guruminda.
Air dingin membasahi pakaian kebesarannya.
Ruangan mendadak sunyi.
Pelayan tua itu langsung berlutut panik.
?Maafkan saya? maafkan saya??
Namun Guruminda berdiri perlahan dengan wajah dingin.
Tatapannya menusuk penuh jijik.
?Kau bahkan tidak pantas berada di dekatku.?
Pelayan itu gemetar semakin hebat.
?Saya tidak sengaja??
?Lihat apa yang kau lakukan.? Guruminda menarik ujung pakaiannya yang basah. ?Orang sepertimu hanya membawa kotoran.?
Beberapa penghuni kahyangan mulai saling memandang.
Suasana berubah tidak nyaman.
Namun Guruminda tidak peduli.
Ia terlalu sibuk menjaga harga dirinya.
Pelayan tua itu menunduk sangat dalam.
Dan saat itulah sesuatu berubah.
Angin dingin tiba-tiba berembus memasuki aula.
Lampu-lampu mulai berkedip.
Langit di luar mendadak gelap.
DUARRR!
Petir menyambar begitu keras hingga seluruh istana bergetar.
Semua orang terdiam.
Pelayan tua tadi perlahan berdiri.
Namun kini tubuhnya bercahaya.
Keriput di wajahnya memudar tertutup cahaya putih. Matanya memancarkan wibawa yang membuat seluruh ruangan terasa berat.
Guruminda membeku.
Ia baru sadar.
Pelayan itu bukan manusia biasa.
Melainkan penjaga hukum kahyangan yang menyamar.
?Kau lupa pada asalmu,? suara lelaki itu menggema memenuhi aula.
Guruminda menelan ludah.
?Saya hanya berkata jujur.?
?Tidak.?
Tatapan penjaga langit itu terasa menusuk jiwa.
?Kau hanya terlalu sibuk memuja dirimu sendiri.?
Angin mulai berputar di sekitar tubuh Guruminda.
Jubahnya berkibar keras.
?Apa maksudmu???
?Kesombonganmu telah melukai keseimbangan.?
Langit di luar kembali bergemuruh.
Petir menyambar berkali-kali.
Para penghuni kahyangan mundur perlahan.
Ketakutan mulai muncul di wajah Guruminda.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya?
Ia merasa kecil.
?Tolong?? suara Guruminda mulai goyah.
Namun semuanya sudah terlambat.
Penjaga langit mengangkat tangan.
Cahaya putih langsung memenuhi aula.
AAAAARGHHH!!
Tubuh Guruminda terasa seperti dihancurkan dari dalam.
Tulang-tulangnya berbunyi keras.
KRAKKK!
Lengannya memanjang secara tidak normal. Kukunya berubah tajam. Kulitnya ditumbuhi bulu hitam.
Ia jatuh sambil menjerit kesakitan.
Namun suara manusia itu perlahan berubah menjadi geraman liar.
?Tidak? tidak?!?
Ia mencoba meraih wajahnya sendiri.
Tetapi yang disentuhnya hanyalah moncong seekor hewan.
Tangisnya berubah raungan.
Matanya dipenuhi ketakutan.
Para penghuni kahyangan memalingkan wajah.
Mereka tidak tahan melihat perubahan itu.
?Kau akan hidup di bumi,? suara penjaga langit menggema berat. ?Hingga hatimu memahami arti ketulusan.?
Tanah aula retak.
Pusaran cahaya muncul di bawah tubuh Guruminda.
Dan detik berikutnya?
Tubuhnya jatuh.
Turun menembus langit.
Angin menghantam tubuhnya keras. Awan-awan gelap berputar di sekelilingnya. Petir menyambar di dekat tubuhnya.
Ia terus jatuh sambil menjerit.
Namun tidak ada yang datang menolong.
Lalu?
DEBUUUMMM!
Tubuhnya menghantam tanah hutan Pasundan.
Tanah retak. Burung-burung beterbangan. Daun gugur seperti hujan.
Tubuh Guruminda terbaring di lumpur.
Hujan turun perlahan di atasnya.
Napasnya memburu.
Tangannya gemetar saat menyentuh wajah sendiri.
Bulu hitam.
Taring.
Moncong.
Matanya membelalak penuh ngeri.
Dan malam itu?
Raungan kesedihan seekor makhluk buangan menggema ke seluruh hutan.
Hari-hari pertama di bumi terasa menyiksa.
Tubuh barunya terasa asing.
Ia tidak bisa lagi berbicara seperti manusia. Setiap kali mencoba mengucapkan kata, yang keluar hanyalah suara serak seekor hewan.
Ia marah.
Sangat marah.
BRAKKK!
Batang pohon besar patah saat dihantam tangannya.
Hewan-hewan hutan lari ketakutan mendengar raungannya.
Namun kemarahan tidak mengubah apa pun.
Saat malam datang, rasa sepi mulai menyerang.
Hutan terasa sangat dingin.
Kabut turun sampai menyentuh tanah. Suara hewan liar terdengar dari kejauhan. Kadang auman harimau menggema dalam gelap.
Guruminda duduk sendirian di atas pohon sambil memandangi bulan.
Ia teringat kahyangan.
Teringat hangatnya cahaya istana.
Dan untuk pertama kalinya?
Ia menangis.
Air matanya jatuh pelan ke bulu hitam di pipinya.
Namun tidak ada yang melihat.
Waktu berlalu perlahan.
Tahun demi tahun.
Hutan mulai mengubah dirinya.
Ia belajar bertahan hidup. Belajar mengenali suara angin. Belajar memahami bahasa alam.
Kesombongan yang dulu memenuhi dadanya perlahan runtuh digantikan kesunyian panjang.
Namun luka di hatinya tidak pernah benar-benar hilang.
Sampai suatu malam?
Saat bulan purnama menggantung besar di langit?
Ia mendengar suara tangisan.
Pelan.
Rapuh.
Suara itu datang dari tepi sungai.
Guruminda bergerak pelan di antara pepohonan.
Daun-daun basah menempel di lengannya saat ia mendekat.
Dan di sana?
Ia melihat seorang perempuan muda berjalan sempoyongan.
Pakaiannya lusuh. Kakinya penuh lumpur. Wajahnya pucat karena lelah menangis.
Namanya Purbasari.
Dan malam itu?
Takdir mulai mempertemukan dua jiwa yang sama-sama dibuang dunia.
Berambung
selamat menikmati
Share this novel