Series
14
Ponsel di tangan liora tiba-tiba bergetar, memecah kesunyian perjalanannya. Dia melirik sekilas, layar menyala menampilkan satu notifikasi—pesanan hotel dari Liam. Jantung liora seketika berdegup kencang, bukan karena senang, melainkan karena perasaan gelisah yang tiba-tiba menyergap. Ada sesuatu yang tidak beres, bisik hatinya. Pesan itu singkat, tapi nada dan waktunya membuat rasa curiga merayap naik. Bukan dia tidak percaya Liam, tapi insting seorang pacar seakan tak pernah salah.
Tanpa pikir panjang, dia pun mengubah arah langkah. Dia tahu di mana Liam berada—sebuah hotel cukup mewah di tengah kota. Hatinya menyuruhnya pergi, dan dia menurutinya.
Sesampainya di lobi hotel, liora langsung menuju meja resepsionis. Wajahnya tenang, padahal hatinya sedang berkecamuk.
"Saya mau minta kunci cadangan kamar Tuan Liam," kata liora langsung kepada petugas resepsionis itu.
Pria itu menggeleng sopan namun tegas. "Maaf non, Kami tidak bisa memberikan kunci atau membocorkan informasi pribadi tamu kami. Itu adalah kebijakan privasi kami."
Liora menarik napas dalam, menatap mata pria itu dengan mantap. "Saya mengerti aturan Anda. Tapi saya istrinya. Saya harus masuk ke kamar itu sekarang. Ini urusan rumah tangga, dan saya punya hak untuk tahu apa yang terjadi." Liora sengaja berbohong tentang status mereka.
Suasana di meja resepsionis hening sejenak. Petugas itu tampak ragu-ragu, tapi melihat keteguhan di wajah liora, akhirnya dia luluh. Dia mengambil kunci cadangan dari rak, lalu menyerahkannya kepada liora dengan ragu. "Terima kasih," ucap liora singkat, lalu bergegas menuju lift.
Sesampainya di depan pintu kamar, tangan liora sedikit gemetar. Dia memasukkan kunci ke lubangnya, memutarnya perlahan. Terdengar bunyi 'klik', pintu pun terbuka sedikit. Dia mendorong pintu itu pelan-pelan... dan dunia seakan berhenti berputar saat itu juga.
Di hadapan matanya, Liam sedang berangkulan mesra dengan wanita lain, melakukan hal yang seharusnya hanya dilakukan untuk status suami isteri. Pemandangan itu cukup membuat seluruh tenaga di tubuh liora seakan lenyap. Kunci di tangannya terlepas, jatuh berdentang di lantai, memecah keheningan kamar itu.
Liam tersentak, seketika sadar akan kehadiran liora. Dia segera bangkit, menjauhkan tubuhnya dari wanita itu, wajahnya berubah pucat pasi. Tanpa mempedulikan wanita yang masih berada di atas kasur itu, dia segera menghampiri liora yang sudah menangis terisak di tempat dia berdiri.
"Liora...a-aku" suaranya terdengar panik dan gemetar, tangannya terulur hendak menyentuh bahu pacarnya.
Tapi dengan cepat, liora menepis tangan itu dengan kasar. Tatapannya penuh luka dan jijik. "Gausah sentuh aku!" pekiknya lirih namun penuh amarah, lalu berbalik dan berlari keluar dari kamar itu dengan langkah yang lunglai, seakan seluruh tenaganya telah disedut habis.
Dia bersandar lemah di dinding lorong yang tidak jauh dari situ, bahunya terangkat menahan tangis yang semakin pecah. Liam menyusul keluar dalam keadaan tergesa-gesa, tubuhnya hanya berbalut tuala mandi di pinggang. Dia mencoba mendekat lagi, berusaha menenangkan liora.
"Liora tolong... dengar penjelasan aku dulu..."
Liora mengangkat kepalanya, menatapnya dengan pandangan yang penuh kebencian dan rasa muak. Dia menggeleng kuat, menjauhkan badan setiap kali Liam mencoba mendekat. "Tidak ada lagi harus didengarkan. Adegan barusan sudah memberi penjelasan yang cukup" suaranya pecah di akhir kalimat, air matanya terus mengalir tanpa henti.
*****
Dengan sisa tenaga, liora berjalan lemah menuju apartemennya. Apartemen yang setahun lalu liam hadiahkan untuknya. Apartemen itu menjadi saksi hari-hari mereka yang dipenuhi kebahagiaan.
Untuk apa lagi semua ini? 3tahun berpacaran, apakah tidak ada artinya untuk seorang liam ethan carter. Apakah selama ini, kebahagiaan itu hanya satu kebohongan untuk menutupi kebusukkannya.
Liora membuka pintu kamar perlahan, lalu dia membaringkan tubuhnya di atas kasur. Adegan demi adegan kebersamaanya bersama liam melintas diingatannya.
Baru kemarin dia merasakan hangat dan bahagianya bersama liam, bahkan mereka sempat menghabiskan waktu bersama di apartemen itu dengan melakukan segala hal layaknya berpacaran. Tapi kini, bahagia itu runtuh tanpa pamit.
"Liora "
Liora menoleh, ada liam disitu.
"Ngapain kamu kesini?" Tanya liora lalu bangun dari kasur. Dia memalingkan wajah, tidak mahu melihat pria itu
Perlahan, liam mendekati liora, lalu dia duduk disamping gadis itu.
"Aku minta maaf" hanya itu yang keluar dari mulutnya. Kenyataan yang sudah terbukti jelas tidak mampu dia patahkan. Liora sudah melihat itu, dan dia tahu, liora pasti sangat membencinya sekarang.
"Sejak kapan?" Tanya liora
"Liora aku minta maaf, aku janji ga ulangin itu lagi"
"Sejak kapan!!!" Tanya liora ketus lalu berdiri menjauh dari liam
"Maaf" suara liam tersekat. Dia tidak mampu merungkai kata-kata panjang saat itu. Jelas bahawa dia memang salah, tapi untuk mengakuinya, dia tidak mampu, dia takut menyakiti hati gadis itu lebih dalam
"Udah lama? Setahun? Dua tahun? Oh atau sejak awal kita pacaran? Jawap liam!!"
"Dua tahun"
Liora ketawa diiringi dengan tangisnya. 2 tahun liam membohongi dan memanipulasinya dengan iming-iming bahagia. Dan selama 2tahun itu, dia menunggu liam akan melamarnya. Tapi pria itu seperti menutup mata. Harusnya sejak awal dia sedar bahawa liam tidak punya niat untuk menikahinya. Peristiwa di hotel tadi bahkan sudah menjelaskan.
"Dua tahun aku nunggu kamu lamar aku, dua tahun kamu bohongin aku, aku kurangnya dimana liam? Pernah ga sihkamu tulus ke aku?"
"Aku mengaku aku salah. Aku pernah tulus ke kamu, tapi sejak kamu menolak aku untuk tidak melakukan hubungan dewasa, aku mulai ragu"
Liora tertawa pahit. Hanya karena alasan itu, liam sanggup melakukan hal tidak pantas dibelakangnya.
"Harusnya kamu nikahin aku kalau memang kamu mahu melakukan itu. Bukan begini caranya liam. Atau kamu cuman mau tubuhku?"
"Maaf, aku belum bersedia untuk punya isteri"
Sekali lagi liora menelan pahit kenyataan. Jadi selama ini, hanya dia yang berusaha memikirkan masa depan bersama liam, sedangkan liam tidak pernah. Dan bahkan liam hanya mau mencicipi tubuhnya.
"Keluar kamu. Aku gamau liat muka kamu lagi. Keluar!!!"
Liam berdiri, perlahan dia menghampir tubuh liora. Lalu dia menarik lengan liora tanpa peringatan. Jika hari ini hubungannya bersama liora akan berakhir, dia harus melakukan hal itu terlebih dahulu.
3tahun dia menunggu gadis itu memberinya secara rela, tapi hari ini, dia tidak mahu menunggu lagi. Sebelum liora pergi, dia harus mencicipi tubuh itu terlebih dahulu. Setidaknya, dia tidak merasa rugi untuk penantian 3tahun tersebut.
Liora berontak. Dia tahu liam mahu melakukan sesuatu. Seketika bibir liam mendarat dibibirnya. Pria itu menciumnya secara paksa. Semakin kuat liora berontak, semakin kuat pegangan tangan liam. Lalu liam mendorong tubuhnya di dinding kamar. Bibirnya sibuk melumat setiap sudut bibir. Seakan saat itu liam benar-benar tidak memberi ruang untuk dia menolak.
Liora menangis. Kencang.
Dia belum siap memberi sesuatu yang sudah dia jaga dari separuh hidupnya untuk seorang bajingan seperti liam. Sekalipun liam tidak melakukan hal buruk dibelakangnya, dia tetap akan mempertahankan hal itu sehingga benar-benar sah menikah.
Seketika liam tersedar dari perbuatannya. Lalu dia melepaskan tubuh liora perlahan. Dia mengusap wajahnya kasar. Melihat liora menangis sesengukkan membuat hatinya remuk seketika. Liora bersimpuh memeluk tubuhnya sendiri. Dia sangat takut saat itu. Takut jika liam kembali melakukan hal bejat seperti tadi
Liam keluar kamar tanpa pamit. Jika dia tetap berlama disitu, dia khawatir jika niatnya datang kembali. Lalu dia menaiki mobilnya dan begegas meninggalkan gedung apartemen.
Terima kasih karna membaca bab pertama ini. Jangan lupa vote dan komen ya. Saya masih pemula, jadi mohon jika ada kata-kata yang tidak sesuai, harap dimaklumi
Share this novel