BAB 01: Dikejar Hutang 100 Juta

Romantic Comedy Series 28

"Sial! Bisa-bisanya tuh lintah darat, nyuruh bodyguard nongkrong di depan kontrakan gue?!" lirih Tania nyaris tak terdengar di depan lorong kontrakan.

"Enggak bisa! Gue, enggak bisa pulang sekarang. Tunggu preman-preman galak itu pergi dulu. Yang bener aja? Tuh, lintah darat sampe nyuruh bodyguard speak preman Tanah Abang, buat nagih utang, baru juga 2 tahun. Mana bunganya lebih gede dari utang gue lagi?!" Wanita itu berjalan mundurmengendap-endap, bersiap untuk kabur.

Satu langkah ...

Dua langkah ...

Tiga langkah mundur kebelakang ...

KREK!!!

Taniagadis itu menginjak sebuah botol plastik bekas saat ingin kabur, menimbulkan suara yang menarik perhatian mereka.

'Mampus aku! ' batinnya panik. Ia terdiam kaku dengan kedua tangannya naik keatas, setara dengan telinganya. Jantungnya berdetak kencang bagaikan musik DJ.

Kedua preman yang sudah menunggu kedatangannya. Mereka menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara di lorong kontrakan.

"Itu dia!" pekik salah satu preman itu. Menunjuk gadis itu yang masih mematung.

Tania tersenyum kaku. 'Gawat-gawat! Kenapa harus nginjek botol ini sih? Apes banget dah, hari ini.

"Mau kemana kamu gadis kecil? Cepat bayar hutang mu, sekarang!" pinta preman itu, sambil berjalan mendekat.

"Enggak, kok!" sahut Tania cemas.

Gadis itu menegakkan tubuhnya. Bersiap untuk berlari dalam hitungan detik.

Sementara preman suruhan rentenir itu semakin dekat. Dengan wajah sangar dan garang dan penuh dengan tato di kulit mereka. Membuat Tania semakin gemetar.

"Aduh! Gimana ini? Bisa-bisa ginjal gue dijual lagi sama mereka?" bisiknya gemetar nyari tak terdengar.

Tania mulai menghitung mundur.

'Satu ...'

'Dua ...'

'Tiga ...'

"KABURRRR!!!" teriaknya langsung berlari terbirit-birit keluar dari lorong kontrakan. Ia berlari tanpa arah tujuan.

"WOI! Jangan lari, Lo!" teriak preman itu. Mereka langsung mengejar gadis yang berhutang 100 juta kepada majikan mereka.

Wanita muda itu berlari-lari sekencang mungkin tanpa menoleh kebelakang. Napasnya tersengal-sengal menuju pasar A.

"Minggir-minggir ...." pintanya kepada orang yang menghalangi jalan.

"Haa! Sue' ... mereka masih ngejar lagi." Ia terus berlari kedalam pasar malam.

Suasana pasar malam, sangat ramai dan dipenuhi oleh pengunjung.

"Woi Jangan lari loh!" ancam seorang preman yang mengejarnya.

Sialnya Gadis itu berlari sangat lincah,sampai mereka kehilangan jejaknya .

Gadis itu terus berlari sambil ngos-ngosan. Tanpa sadar ia berada di jalan raya.

"Huh! Semoga aja mereka nggak nyampe ke sini ngejar gue ... gila! gue cuma punya utang 2 juta udah kayak punya utang 100 juta aja?" ucapnya sambil terengah-engah.

Sambil mengambil napas panjang. Tania semakin cemaskhawatir jika dia kembali ke kontrakannya, para preman itu menunggunya lagi di depan kontrakannya.

"Aduh! Pusing pala gue! Gue yakin preman-preman itu pasti nungguin gue di depan kontrakan. Mana ada yang ngejar-ngejar gue kayak ngejar copet lagi," pikirnya panik.

"Waduh. Gawat! Gue enggak bisa pulang lagi malam ini? Gue tidur dimana malam ini? Haaa ... haaa ..." rengeknya seperti anak kecil di tepi jalan raya yang sangat ramai.

Di kejauhan, dua orang preman yang mengejarnya mulai terlihat di belakang. Seketika Tania kembali berlari.

"WOIII! MAU KABUR KEMANA LO!!!" teriak preman itu dari belakang.

"Ha-is! Sialan! Kenapa mereka terus ngejar gue sih? Capek gue lari." gadis itu kembali berlari secepat kilat.

Mereka saling kejar-kejaran. Tania bagaikan tikus yang sedang di buru.

Stamina gadis itu seakan tidak pernah habis. Ia terus berlari dari satu tempat dan bersembunyi.

Tepat di tikungan tiga arah. Para preman itu kehilangan jejak gadis yang sedang melarikan diri.

"SIAL!!! Kemana gadis itu perginya?" dengus salah satu preman itu. "Lo, cari kesana. Gue cari kesini. Inget jangan sampe lolos, bisa-bisa gaji kita dipotong."

"Oke!" sahut Preman satunya lagi. "Gadis gendeng! Kalo sampe ketangkap tak pateni ira (Gadis gila! Kalau sampai tertangkap aku bunuh kamu)."

Mereka berpencar mencari Tania yang sedang bersembunyi di dalam sebuah tong sampah di pinggir jalan raya.

'Gila bau banget! Kalo bukan karena mereka ogah bener gue masuk, kedalam sini...' batinnya tak kuasa menahan bau sampah yang sangat menyengat di lubang hidungnya.

Saat suara kedua preman itu tidak lagi terdengar. Tania keluar dari persembunyiannya. Kepala sedikit keluar dari dalam tong sampah.

Tangannya masih memegang tutup tong sampah. Ia celingak-celinguk menengok ke segala arah. Lalu mengambil napas lega.

"Hush! Kayaknya udah aman! Sumpah bau banget, kayak bau t*i aki-aki ... huek ... huek ..." gadis itu mual menghirup aroma semerbak yang menembus uluh hati.

Merasa sudah aman Tania segera keluar dari dalam tong itu. Sebegitu nya, ia bersembunyi dari kejaran anak buah rentenir.

Gadis berusia mungil itu, membersihkan sisa kotoran yang menempel di bajunya. Merasa sangat jijik, ia tidak berhenti mual.

"Huek! Sumpah baru kali ini gue, sembunyi dari rentenir sampe bergulat sama pampers t*i aki-aki," dengusnya kesal.

Wajahnya begitu merah seperti tomat. Bagaimana tidak kesal? Seumur hidupnya ini adalah pertama kalinya ia bersembunyi dari kejaran rentenir sampe bergulat dengan t*i aki-aki?

Baru saja menghela napas lega. Tiba-tiba ...

PLEK!

Seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Membuatnya tubuhnya langsung melonjak naik ke atas.

"HAAA!!!" teriaknya kaget.

"Gadis, gendeng! Mau kabur kemana lagi ente?" preman itu memegang baju Tania dengan cara di jinjing.

"BAHLIL! Sini Lo! Gadis gendeng ini udah gue tangkep," panggil preman itu kepada kawannya.

"He-yah! Biasa aja Lo! Wowo," pekiknya. Berjalan menghampiri mereka.

Gadis itu tampak gemetar. 'Sialan! Gue udah sembunyi lama juga, ni orang masih aja nungguin gue!' batinnya kecewa.

"Gadis gila! Sekarang bayar utang Lo. BAYAR!" bentak preman yang bernama Bahlil. Tangannya menunjuk tepat ke wajah gadis itu. "Lo bayar sekarang. Kalo enggak"

"Iya! Gue bayar sekarang! Tapi tolong lepasin dulu," potong Tania dengan suara keras dan wajah memelas.

"Mana duit Lo? Sekali lagi Lo, bohong! Gue jual ginjal Lo ke Kamboja!" ancam preman yang bernama Wowo.

"Beneran! Om-Om ganteng, dan baik hati ..." Tania mengacungkan kedua tangannya dengan dua jari teracung. "gue enggak bohong kali ini."

Kedua preman itu saling melirik.

"Awas aja Lo, kalo sampe Lo kabur lagi, Lo pasti bakalan mati," ancam preman itu dengan tegas.

Tania tersenyum nyengir penuh dengan niatan untuk kabur. "Sumpah, Om! Kalo gue berani kabur lagi. Gue bakalan ketabrak mobil sampe mokad."

"Yaudah! Lepasin Wo!" suruh si Bahlil, namun ia tetap siaga seketika gadis itu ingin melarikan diri.

Tania akhirnya di lepaskan. Ia berpura-pura merogoh kantong celananya untuk mengambil dompet. Sebuah ide brilian muncul di benaknya.

'Preman tolol. Mau aja Lo, gue tipu.' batinnya tersenyum licik.

"Eh! Ada Bu Sari!" panggilnya berpura-pura menyapa majikan mereka. Tangannya menunjuk ke depan. Tepat di belakang kedua preman itu.

Keduanya menoleh.

"Bu Sari?"

Kesempatan berharga itu tidak mungkin dilewatkan oleh Tania. Saat keduanya lengah. Ia langsung berlari sekencang-kencangnya menuju jalan raya.

"HA-HA-HA ... dasar bodoh." Ia terus berlari sambil menoleh kebelakang. Tanpa sadar ia sudah berapa tepat di tengah-tengah jalan raya.

Seketika cahaya lampu mobil yang melintas menyilaukan matanya. Suara klakson terdengar keras.

TINNNN!

TINNNN!

Gadis itu langsung membatu, ia terkesima sehingga lututnya tidak bergerak sama sekali. Sampai akhirnya ...

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience