Series
1218
Adakah air yang menjadi punca , atau aku yang membawa malang ?
Aku bermain - main dengan anak patung kesayanganku di dalam bilik yang disediakan oleh keluarga Arsyad . Patung kesayanganku itu aku peluk erat . Aku duduk di lantai dengan kedua - dua kaki ke belakang berbentuk M/W . Fikiranku mula melayang mengingati abang yang masih terlantar di hospital selama tiga bulan ; koma .
Jujurnya aku sangat merindui abang . Tidak habis dengan pemergian ibu , abang pula yang sakit . Sedikit sebanyak aku menyalahkan diriku . Jika bukan aku yang selalu meminta - minta , pasti kemalangan itu takkan berlaku .
Sedang aku begitu asyik melayan perasaan sehingga tidak tersedar air mataku sedikit mengalir , telingaku menangkap sesuatu . Petikan gitar yang entah datang dari mana kedengaran di telingaku . Begitu menenangkan sekali .
Aku mengesat air mata . Aku masih lagi duduk di lantai bilikku . Telingaku cuba meneliti dari arah bunyi itu . Perasaan ingin tahuku mula membuak - buak . Aku meletakkan anak patungku di atas katil . Perlahan - lahan aku bangun dan melangkah keluar dari bilik , mencari punca petikan gitar itu .
Kakiku hanya berjalan tanpa arah tuju sementara telinga memainkan peranan meneliti arah bunyi . Semakin lama , semakin kuat kedengaran petikan gitar itu . Kini , aku berdiri di hadapan bilik Arsyad . Aku yakin ianya datang dari bilik Arsyad .
Tanpa mengetuk pintu biliknya , aku buka pintu itu sedikit dan mula menjegulkan kepala . Kelihatan Arsyad sedang membelakangiku di hujung katil sambil memandang luar beranda . Keadaan langit yang cerah benar - benar mengenai situasi sekarang . Tenang , dan damai . Terdapat gitar bersaiz kecil di tangannya . Arsyad memetik gitar tanpa mengetahui kehadiranku di dalam biliknya .
Bibirku mengukir senyuman manis . Aku suka melihat orang yang bermain gitar seperti Arsyad . Tidak pula aku sangka Arsyad yang baru berusia 8 tahun mampu bermain gitar .
Aku tersengih - sengih melihatnya . Tiba - tiba , datang Haidhar dari belakang menyergahku .
" Kau mengendap apa hahh ?! " suaranya sengaja dikuatkan sehingga Arsyad yang sedang melayan perasaan bersama gitarnya tersentak . Aku yang disergah Haidhar terkejut sehingga aku terlompat masuk ke dalam bilik . Kerana tindakan dastrik itu , aku terhantuk di pintu yang tadinya terbuka sedikit sahaja .
Wajah Haidhar yang memerah seperti menahan marah aku pandang takut - takut . Kepalaku yang rasanya seperti berbenjol aku usap perlahan . Aku lihat , Arsyad berjalan mendekatiku .
" Kenapa ni ? Fiya okey ke ? " soal Arsyad prihatin . Untuk soalannya , aku mengangguk kecil . Tangan kecilku tidak lepas mengusap kepalaku sendiri .
" Dia mengendap kau main gitar . " Haidhar menerangkan pada Arsyad . Arsyad mengangkat kening .
" Jadi ? "
" Kau selalu kata kau tak suka sesiapa pun tengok kau kalau kau tengah layan perasaan . "
" Aku tak kisah kalau orang tu Fiya . Yang kau tiba - tiba nak marah ni kenapa ? " aku melihat Haidhar menggenggam penumbuk .
" Maaf . Fiya cuma tak sengaja mengendap je . " aku mencelah kerana takut isu itu akan jadi pergaduhan pula . Haidhar menjeling tajam .
" Mengendap pun boleh tak sengaja . " guman Haidhar perlahan dengan nada yang sinis . Aku menunduk .
" Fiya cuma nak tahu siapa yang main gitar . Fiya suka tengok orang main gitar . Fiya suka perhati dorang main alat muzik . " dalam keadaan menunduk aku menerangkan kepada mereka berdua . Takut salah faham pula .
" Tak apa . Arsyad tak kisah pun kalau Fiya nak tengok Arsyad main gitar . " ujar Arsyad bersama senyuman manis . Aku dengar Haidhar mendengus geram .
" Eleh , gitar je pun . Aku pun pandai main . Jangan kata gitar , piano dengan violin pun aku reti . Arsyad tu apalah sangat . Gitar je pandai main . " kata Haidhar berbaur cemburu . Dalam diam , aku menyimpan senyum .
" Tak baik riak dan bangga diri . " Arsyad menegur . Haidhar mengetap gigi . Dia menjeling abangnya tajam .
" Diamlah kau . " Haidhar berlalu pergi . Sempat dia menghadiahkan jelingan yang maha tajam . Aku hanya mampu menelan air liur .
" Tak apa Fiya . Dia memang macam tu . Jangan ambil hati . " Arsyad tersenyum manis . Aku membalas senyumannya .
" Fiya nak turun kejap . Basahkan tekak . " aku meminta diri . Malu mahu berdua dengannya di dalam bilik itu . Dia mengangguk membenarkan .
Arsyad berjalan dan mengambil gitarnya kembali sebelum memetik gitar itu semula . Tubuhnya kembali membelakangkan aku .
" Arsyad ... " panggilku perlahan . Dia memsingkan badan memandangku .
" Hm ? "
" Pandai Arsyad main gitar . Fiya sukalah . Rasa tenang . " aku mula memberi komen . Dia tersenyum lebar .
" Terima kasih . Biasa - biasa saja Fiya . Haidhar lagi pandai main . " dia mula merendah diri . Aku tersengih sebelum meminta diri .
Tujuanku hanya satu , ke dapur rumah itu untuk membasahkan tekak . Dalam aku melangkah , telingaku menangkap satu bunyi . Jika tadinya petikan gitar , kali ini aku dapat teka ini adalah piano yang dimainkan oleh seseorang .
Otakku mula memproses memikirkan siapakah yang sedang bermain piano itu . Terimbas kembali kata - kata Haidhar tadi membuatkan aku yakin kali ini dia pula yang bermain alat muzik itu .
Oh, hush, my dear, it's been a difficult year
And terrors don't prey on
Innocent victims
Trust me, darling, trust me darling
It's been a loveless year
I'm a man of three fears
Integrity, faith and
Crocodile tears
Trust me, darling, trust me, darling
Laju aku melangkah . Perkara yang sama aku buat seperti di bilik Arsyad tadi . Aku menjegulkan kepala melihat di ruangan bilik muzik yang disediakan di dalam rumah keluarga Arsyad . Aku lihat Haidhar mengambil nafas .
So look me in the eyes
Tell me what you see
Perfect paradise
Tearing at the seams
I wish I could escape
I don't wanna fake it
Wish I could erase it
Make your heart believe
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
That I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go (go)
Aku makin berani mengambil langkah setapak memasuki ruangan itu tanpa disedari oleh dia .
Did all my dreams never mean one thing?
Does happiness lie in a diamond ring?
Oh, I've been askin' for
Oh, I've been askin' for problems, problems, problems
I wage my war, on the world inside
I take my gun to the enemy's side
Oh, I've been askin' for
" Trust me, darling . " aku tak sangka bibirku menjadi suara latar . Haidhar sedikit tersentak kemudian memandang ke arahku .
Oh, I've been askin' for
" trust me, darling "
Problems, problems, problems
Matanya kuyu memandangku , seolah - olah ingin menyampaikan sesuatu .
So look me in the eyes
Tell me what you see
Perfect paradise
Tearing at the seams
I wish I could escape
I don't wanna fake it
Wish I could erase it
Make your heart believe
But I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
That I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go
A
ku makin berani mengambil langkah mendekati dia .
I can't breathe, I can't be
I can't be what you want me to be
Believe me, this one time
Believe me
Dan aku pun turut menyanyi .
I'm a bad liar, bad liar
Now you know
Now you know
That I'm a bad liar, bad liar
Now you know, you're free to go
Oh
Please believe me
Please believe me
Keadaan kembali menyepi dengan pandangannya terarah padaku . Aku hanya membatukan diri , sambil membalas pandangannya . Aku tak tahu apa yang aku perlu lakukan ketika ini . Dia berdehem perlahan .
" Pandai juga kau menyanyi eh budak . " pujinya . Aku menggaru pipi .
" Fiya yang patut kata dekat Haidhar macam tu . Pandai Haidhar menyanyi dan main piano . Fiya teringin nak belajar . " Dia memandangku tanpa riak . Tangannya menepuk ruang di bangku kecil yang didudukinya .
" Sini . Duduk . " Dia mengarahkanku supaya duduk di sebelahnya . Aku kelihatan teragak - agak . Perlahan - lahan aku duduk di sebelahnya tanpa memandang Haidhar . Terasa gugup pula .
" Nanti aku ajar kau main piano . " ujarnya apabila aku mendiamkan diri . Aku memusing kepala memandangnya dengan mata yang bersinar - sinar .
" Wahh terima kasih ! " ucapku padanya . Dia memandangku tanpa riak .
" Kau nak aku nyanyi tak ? " soalnya tiba - tiba . Aku mulai teruja .
" NAKK . "
" Shh , perlahan sikit . Kau nak aku nyanyi lagu apa ? " soalnya lagi . Aku menggaru kepala .
" Err tak tahulah . Haidhar nyanyi je lah lagu apa yang sesuai dengan Fiya . Fiya dengar je . " ujarku . Dia mengangguk sebelum memainkan piano semula .
I met you in the dark, you lit me up
You made me feel as though I was enough
We danced the night away, we drank too much
I held your hair back when
You were throwing up
Then you smiled over your shoulder
For a minute, I was stone-cold sober
I pulled you closer to my chest
And you asked me to stay over
I said, I already told ya
I think that you should get some rest
Tangannya berhenti memainkan irama di piano itu. Haidhar memandangku dengan senyuman nakal. Aku terpegun kerana itulah kali pertama dia melihat Haidhar memberi senyuman begitu.
I knew I loved you then
But you'd never know
'Cause I played it cool when I was scared of letting go
Senyuman nakal mula berubah menjadi senyuman lebar yang sungguh manis. Hatiku mula merasakan sesuatu kerana firasatku mengatakan bahawa Haidhar benar - benar memaksudkan lagu itu kepada diriku.
I know I needed you
But I never showed
But I wanna stay with you until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go
I'll wake you up with some breakfast in bed
I'll bring you coffee with a kiss on your head
And I'll take the kids to school
Wave them goodbye
And I'll thank my lucky stars for that night
When you looked over your shoulder
For a minute, I forget that I'm older
I wanna dance with you right now
Oh, and you look as beautiful as ever
And I swear that everyday'll get better
You make me feel this way somehow
Senyuman Haidhar mula bertukar menjadi hambar . Aku mengerutkan dahi melihatkan perubahan itu. Irama musik menjadi semakin perlahan dan kedengaran seperti menyedihkan.
I'm so in love with you
And I hope you know
Darling your love is more than worth its weight in gold
We've come so far my dear
Look how we've grown
And I wanna stay with you until we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go
Air mata Haidhar mula bertakung dan suaranya menjadi lebih perlahan daripada tadi. Tidak sekuat dan ceria pada awal - awal nyanyian. Aku menahan rasa melihat Haidhar yang masih lagi bermain piano bersama air matanya yang hampir melimpah bagaikan empangan itu.
I wanna live with you
Even when we're ghosts
'Cause you were always there for me when I needed you most
I'm gonna love you 'til
My lungs give out
I promise 'til death we part like in our vows
So I wrote this song for you, now everybody knows
Finally it's just you and me 'til we're grey and old
Just say you won't let go
Just say you won't let go
Just say you won't let go
Oh, just say you won't let go
Dan tiba - tiba mata kami bertembung. Satu saat, dua saat, tiga saat . Masih lagi aku mahupun dia tidak mengelak dari bertemu mata. Dia merenung aku lama. Aku memberinya senyuman kekok. Dia yang seolahnya menyedari tingkah lakunya yang merenungku lama mula berdehem sebelum pandangan dialihkan ke arah lain.
" Ak- "
" Fiya! Abang Fiya dah sedar! " belum sempat Haidhar meluahkan kata, Arsyad datang membawa berita gembira.
Berita yang sangat aku nanti - nantikan.
Senyuman lebar mula terukir sebelum laju kakiku berlari meninggalkan Haidhar.
Share this novel